Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 97: Kenapa Kamu Begitu Terobsesi dengan Topengku? >
Iblis Tersenyum Jahat datang menemuiku lagi keesokan harinya.
“Kupikir kau tidak akan datang lagi.”
“Bagaimana mungkin aku tidak datang, ketika kau memegang kekuasaan atas hidup dan matiku?”
Menanggapi ucapannya yang bernada mengejek tentang mengampuni nyawanya kemarin, ia menjawab dengan caranya sendiri.
“Silakan tunggu sebentar. Aku harus mengurus sesuatu yang mendesak.”
“Jangan pedulikan aku, ambillah waktumu.”
Meskipun aku bisa menunda pekerjaanku, aku membiarkannya menunggu demi menjaga momentum.
Saat ia berjalan menghampiri jendela, Iblis Tersenyum Jahat bertanya,
“Aku tidak melihat bunga dari kemarin itu.”
Aku menjawab sambil mencap sebuah dokumen.
“Penyidik Seo mungkin membawanya keluar untuk menyiramnya.” 1
Aku memeriksa dokumen lain, lalu mencapnya lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Bosan melihat ke luar jendela, Iblis Tersenyum Jahat akhirnya bertengger di atasku mejaku.
Ia mengawasiku bekerja dengan tatapan yang seolah berkata, ‘Karena kau membuatku menunggu, terimalah tingkat kekasaran ini’.
“Kenapa membuat ini begitu rumit? Bunuh saja mereka semua.”
Aku tersenyum kepadanya dan berkata,
“Hidupmu terlalu mudah, Soma-nim.” 2
Iblis Tersenyum Jahat tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kataku. Seseorang tidak boleh terkecoh oleh sikap yang tidak waspada ini. Mereka yang meremehkan Soma akhirnya mati, sementara hanya mereka yang tetap waspada yang selamat dari ekstremnya keadaan.
“Aku sudah selesai.”
Saat aku mencap dokumen terakhir dan mendongak, Iblis Tersenyum Jahat berbicara secara tak terduga.
“Jika kau benar-benar menjadi penerus, apakah kau akan mengampuniku?”
Tentu saja, aku tidak bisa dibodohi oleh kata-kata ini juga. Apakah ia benar-benar datang ke sini untuk memohon nyawanya?
Ia menikmati seluruh proses ini. Soma ingin melihatku hancur pada akhirnya, untuk menertawakan dan mengejekku pada saat itu.
Aku menarik garis di atas meja dengan sebuah belati.
“Aku akan mengampunimu. Tapi…”
Aku menarik garis vertikal sedikit ke sebelah kanan dari tengah. 3
“Kau harus datang sejauh ini untuk bertahan hidup.”
Mata Soma berkilat penuh minat.
“Apa ini?”
“Luasnya rasa sayangnya.”
“Oh! Begitukah?”
“Kau harus melewati titik tengah untuk bertahan hidup. Sekalipun kita berteman, seorang teman tanpa rasa sayang tidak ada bedanya dengan orang asing. Teman sekadar nama akan mati.”
“Sulit untuk bertahan hidup.”
“Kau harus melewatinya entah bagaimana.”
“Menurutmu di mana posisiku sekarang?”
Aku menarik garis vertikal sedikit melewati titik awal.
“Hanya itu?” 4
“Kau sudah sampai di sini.”
Iblis Tersenyum Jahat melirik sekilas ke arah garis itu, lalu kembali kepadaku, lalu ke garis itu lagi.
Ia tidak bisa mengelak untuk tertarik ke dalam hubungan ini.
Tidak hanya ia diperlakukan dengan keras, tetapi dariku, ia bisa merasakan secercah keadilan dan kehormatan yang tidak akan pernah bisa ditemukan di sekte utama. Itu akan menjadi bumbu yang paling menggairahkan bagi Iblis Tersenyum Jahat.
“Tuan Muda Kedua, bagaimana pendapatmu tentang Pemimpin Sekte?”
Ia mungkin bertanya karena ia curiga aku melakukan ini dengan dukungan ayahku. Atau mungkin ia berpikir aku telah menerima perintah rahasia darinya.
“Aku tidak terlalu memikirkan ayahku. Aku hanya mencoba merasakan segala sesuatu apa adanya. Ayahku bukan seseorang yang bisa kupahami hanya dengan memikirkannya. Itu hanya akan membuatku lelah tanpa alasan.”
Soma tertawa, sepertinya setuju dengan kata-kataku.
“Jika kau sudah selesai bicara, ayo bangkit. Sudah waktunya bagiku untuk makan.”
“Kau harus makan. Ayo pergi.”
Aku meninggalkan kantor bersama Iblis Tersenyum Jahat. Saat kami keluar dari gedung, ia mengikutiku dari dekat.
“Di mana kau akan makan?”
“Hari ini, aku berpikir untuk makan di Desa Maga.”
“Ayo pergi bersama.”
Berpura-pura terkejut, aku bertanya kepadanya,
“Apakah itu tidak apa-apa bagimu?”
Karena ia tidak pernah melepas topengnya, aku belum pernah mendengar tentang ia makan malam dengan siapa pun.
“Tidak apa-apa. Aku akan duduk saja sementara kau makan, Tuan Muda.”
“Aku tidak bertanya tentangmu, Soma-nim. Maksudku Desa Maga. Apakah itu tidak apa-apa?”
Baru saat itulah ia menyadari candaanku tentang tidak membuat masalah atau membunuh siapa pun, dan ia tertawa terbahak-bahak.
Di sisi lain, Seo Daeryong, yang memegang pot bunga di dadanya, mengawasi kami dengan cemas saat kami menyeberangi lapangan latihan dan menuju ke luar. 5
Tepat sebelum memasuki Desa Maga, Iblis Tersenyum Jahat berbicara.
“Tahukah kau? Aku belum pernah ke Desa Maga. Kapan pun aku harus pergi ke luar, aku hanya lewat begitu saja. Ini adalah pertama kalinya aku berjalan melalui tempat ini.”
“Bukankah itu sebuah keberuntungan bagi penduduk Desa Maga?”
Ia tertawa mendengar candaanku.
“Apakah tidak apa-apa bagiku berjalan di sini?”
“Jika kau khawatir orang-orang akan ketakutan dan lari, jangan.”
“Kenapa begitu?”
“Kau akan melihatnya.”
Dan begitu saja, kami memasuki Desa Maga. Saat kami berjalan, orang-orang lewat tanpa banyak kekhawatiran. Beberapa orang yang mengenaliku menundukkan kepala untuk menyapa, tetapi tidak ada yang tampak ketakutan pada Iblis Tersenyum Jahat yang berdiri di sebelahku.
“Kenapa tidak ada yang takut padaku?”
“Itu karena tidak ada yang mengira kau adalah Iblis Tersenyum Jahat.”
“Mereka seharusnya mengenaliku dari topeng ini.”
“Lihat ke sana.”
Aku menunjuk ke seberang jalan ke arah seorang penjual. Kios itu menjual segala macam barang yang berkaitan dengan Sekte Ilahi Iblis Surgawi.
“Lihat, ada topengmu, Soma-nim.”
Iblis Tersenyum Jahat terkejut.
Benar saja, topeng-topeng yang digunakan oleh Pendekar Tanpa Wajah digantung di sana. Ada topeng putih, bahkan ada beberapa yang berwarna dan dicat.
“,”Barang-barang ini!”
Saat ia mengangkat tangannya, siap untuk melenyapkan mereka, aku menarik lengan bajunya.
“Kau mungkin membutuhkan tangan itu di sana.”
Tepat pada saat itu, di seberang jalan, seorang anak yang memegang tangan ayahnya melambaikan tangan dengan penuh semangat kepada Iblis Tersenyum Jahat, mengenakan topeng yang sama.
“Biayanya tidak ada, jadi tolong lambaikan tangan balik.”
Saat aku mengguncang lengan bajunya dengan ringan, Iblis Tersenyum Jahat dengan enggan melambaikannya kembali.
Anak itu, mungkin berpikir bahwa dialah satu-satunya orang yang pernah dibalas lambaian tangannya oleh Iblis Tersenyum Jahat, melewati kami tanpa beban.
“Jangan terlalu terkejut. Ini sudah cukup umum.”
Di sebelah penjual itu, penjual lain sedang menjual figur kayu, termasuk yang dimodelkan setelah Buddha Iblis dan bahkan Iblis Surgawi itu sendiri.
Melihat figur Iblis Surgawi itu, Iblis Tersenyum Jahat benar-benar heran.
“Apakah ini benar-benar diizinkan?”
“Di mana lagi kau akan menjual barang-barang seperti itu jika bukan di desa dekat Sekte Ilahi Iblis Surgawi? Kau tidak bisa benar-benar menjualnya di depan Aliansi Murim, kan?”
“Sebaliknya, mereka bisa menjualnya di depan Aliansi Murim tapi tidak di sini.”
“Kedermawanan ayahku sangat luas. Ia mengizinkan mereka untuk membuat dan menjual ini sebanyak yang mereka suka. Sejak hari itu, produk-produk yang berkaitan dengan ayahku dan Penguasa Iblis telah membanjiri pasar. Kau pikir orang-orang akan terlalu jijik untuk membuatnya, namun kekuatan menghasilkan uang itu sangat perkasa.”
“Ini benar-benar menggelikan.”
Soma akhirnya tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang lewat meliriknya tetapi tidak ada yang mengira ia adalah Iblis Tersenyum Jahat dan hanya berlalu begitu saja.
“Baik kau maupun aku mungkin tampak seperti karakter utama ketika kita melangkah keluar di sini, tetapi dunia ini adalah milik orang-orang ini. Mereka mungkin menundukkan kepala karena takut ketika mereka mengenali kita, tetapi yang penting bagi mereka adalah kehidupan mereka sendiri. Mereka perlu menghasilkan uang untuk makan, menemui orang, dan membesarkan anak-anak mereka. Desa Maga adalah tempat seperti itu.”
“Menarik. Bagaimana kau tahu banyak tentang ini, Tuan Muda Kedua?”
“Sejak aku masih kecil, aku biasa menyelinap keluar dari sekte dan berkeliaran di Desa Maga. Tempat ini adalah duniamu.”
Aku mengatakan ini padanya sebagai alasan. Ia tidak akan percaya padaku jika aku mengklaim telah berkeliaran jauh dan luas, tetapi Desa Maga tampak masuk akal.
Tatapan Iblis Tersenyum Jahat kembali ke arah para penjual yang menjual topeng dan figur Iblis Surgawi.
Ia tidak ragu untuk melepaskan aura iblisnya, keterampilan unik Iblis Tersenyum Jahat. Para penjual yang menjual barang bergidik dan memegangi dada mereka, seolah-olah kehabisan napas.
“Penjual itu akan segera mengenakan salah satu topeng yang dijualnya dan menikam orang di sebelah hingga mati. Jika mereka mati, itu karena kau, Tuan Muda Kedua. Bagaimanapun juga, kaulah orang yang membawaku ke sini.” 6
“Jangan konyol. Kaulah yang mengikutiku dengan mengatakan ingin makan. Orang yang membunuh adalah kau, Soma-nim. Dan ada satu hal yang harus kau ketahui.”
“Dan apa itu?”
“Melakukan pembunuhan di depan Penguasa Paviliun Dunia Bawah akan berujung pada eksekusi. Cobalah menukar hidup mereka dengan hidupmu, jika kau bisa.”
Saat aku mulai berjalan pergi, aku menambahkan,
“Kau boleh menyentuh figur ayahku, tapi kau jangan mengusik mata pencaharian orang-orang yang sedang berusaha untuk bertahan hidup.”
Aku bisa merasakan Iblis Tersenyum Jahat menarik kembali auranya di belakangku. Ia berniat melihat reaksimu alih-alih benar-benar membunuh siapa pun.
Ia menganggap bermain-main denganku itu menyenangkan. Semakin ia mengalah, semakin ia mengantisipasi kepuasan yang luar biasa dari membunuhku pada akhirnya.
Kami tiba di Kedai Angin Berhembus.
“Kita sampai, tempat langgananku.”
“Tempat ini cukup kumuh. Kenapa di tempat ini dari semua tempat?”
“Aku sering datang ke sini sampai rasanya sedikit monoton, tapi aku menyukai pemiliknya. Dialah satu-satunya yang benar-benar tahu bahwa kau adalah Iblis Tersenyum Jahat.”
Jo Chunbae, sang pemilik, keluar dan menyambutku dengan hangat seperti biasa.
“Selamat datang, Penguasa Paviliun.”
Tatapannya beralih ke Iblis Tersenyum Jahat.
Untuk sesaat, Jo Chunbae tersentak dan menunjukkan ekspresi ketakutan.
“Orang ini benar-benar tahu siapa aku.”
“Karena kau datang bersamaku. Ia tahu bahwa yang asli telah tiba.”
Aku tersenyum kepada Jo Chunbae dan berkata,
“Kau benar tentang siapa yang kau pikirkan. Untungnya, hanya aku yang makan, jadi kau tidak perlu terlalu khawatir.”
“Ya!”
Meskipun demikian, tekanan dari Iblis Tersenyum Jahat tampak bahkan lebih besar daripada dari ayahku. Iblis Tersenyum Jahat yang terkenal itu dikenal membunuh orang tanpa alasan apa pun.
“Dari semua tamu yang kubawa, kau tampaknya menjadi yang paling ditakuti, bahkan lebih dari ayahku.”
“Pemimpin Sekte pernah ke sini juga?”
“Ya.”
“Itu mengejutkan.”
“Setiap orang memiliki pengalaman pertama.”
“Sepertinya setiap orang mengalami pengalaman pertama mereka denganmu, Tuan Muda Kedua.” 7
Aku tersenyum tipis, dan ia sudah terbiasa mengikutinya.
Kali ini, aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya.
“Pernahkah kau makan di kedai seperti ini sebelumnya?”
“Aku pernah saat aku lebih muda.”
“Dengan siapa?”
Ia tidak menjawab.
Tetapi aku bisa menebak siapa itu. Sebelum ia menjadi murid Iblis Tersenyum Jahat yang sebelumnya, ia pernah mengatakan bahwa ia pernah makan di pasar bersama ayahnya. Itu adalah satu kenangan yang terukir bagaikan sebuah gambar di dalam pikirannya.
Tiba-tiba aku membayangkan adegan itu—seorang anak kecil memasuki kedai, memegang tangan ayahnya.
Soma mengklaim bahwa ia telah bergelimang pembunuhan sejak masa kanak-kanak, tetapi apakah benar demikian? Apakah anak itu, yang memasuki kedai, memiliki niat membunuh di matanya? 8
Sementara itu, makanan kami disajikan.
Jo Chunbae, mungkin berpikir bahwa satu kesalahan saja benar-benar bisa merenggut nyawanya, sangat berhati-hati, bahkan dengan napasnya.
Matanya, saat ia meletakkan makanan dengan aman dan mundur, seolah-olah berkata: ‘Berkat kau, aku telah mencapai kesuksesan besar sebagai pemilik kedai ini hari ini’.
Aku menyampaikan dengan mataku: ‘Itu tidak pasti, Jo Chunbae. Siapa yang tahu posisi apa lagi yang mungkin diciptakan’.
Saat aku mengambil sumpitku, aku dengan sopan bertanya kepada Soma,
“Apakah kau ingin makan bersama?”
“Topengku tidak memiliki lubang untuk mulut. Bagaimana aku bisa makan?”
“Bagaimana kalau sedikit mengangkat topeng dan makan dari bawah?”
“Itu akan terlihat tidak bermartabat, bukan?”
“Kalau begitu tidak ada cara lain.”
“Aku tidak lapar, jadi jangan pedulikan aku dan makan saja.”
“Baiklah, kalau begitu aku makan duluan.”
Sungguh, aku makan sendirian. Iblis Tersenyum Jahat hanya mengawasiku. Beberapa orang mungkin mengatakan itu gila, tapi aku sedang menyelesaikan tugas sulit berupa makan sendirian di depan Iblis Tersenyum Jahat.
“Bukankah melelahkan terus mengenakan topeng?”
“Mungkin lebih melelahkan bagimu, Tuan Muda Kedua.”
“Bagiku?”
“Tanpa topeng, kau harus membuat beberapa ekspresi berbeda dalam sehari, bukan?” 9
“Ah, itu mungkin benar.”
Dimulai dari topik itu, aku membagikan berbagai cerita kepadanya.
Aku membagikan cerita tentang ketika Iblis Pedang Surga Darah, Penguasa Pedang Satu Tebasan, dan Buddha Iblis pernah mengunjungi tempat ini. Aku juga berbicara tentang cuaca dan betapa larisnya topeng putih jika dijual di depan markas besar Aliansi Murim. Ia mendengarkan cerita-ceritaku dalam diam.
Ketika aku selesai makan dan meletakkan sumpitku, Iblis Tersenyum Jahat berbicara secara tak terduga.
“Tuan Muda Kedua, aku punya permintaan.”
“Silakan, katakan saja.”
“Bisakah kau meminta Pemimpin Sekte untuk mencabut pembatasanku?”
Aku terkejut. Namun, ketika ia menyebutkan sebuah permintaan, aku telah mengantisipasi permohonan ini. Biasanya, ia akan meminta kepada saudaraku, tetapi sekarang setelah nasib kami berubah, ia malah memintanya kepadaku.
“Itu bukan tugas yang mudah.”
“Itulah sebabnya aku memintamu, Tuan Muda Kedua. Entah bagaimana, aku percaya kau bisa mengatasinya.”
“Jika aku mencabut pembatasanmu, apa yang akan kau lakukan untukku?”
“Sebutkan saja. Apa yang kau inginkan? Apakah kau menginginkan dukungan penuh dariku?”
Saudaraku menginginkan itu. Tapi aku memiliki rencana yang lebih besar di dalam pikiranku.
“Tidak.”
“Kau tidak ingin dukunganku?”
“Dukungan paksaan hanya akan mengganggu persatuan di antara para pendukungku.”
“Lalu apa yang kau inginkan?”
Menatap ke dalam matanya melalui topeng, aku berkata,
“Lepaskan saja topengmu saat kita sedang berdua saja.”
Suasana langsung membeku.
“Kenapa kau begitu terobsesi dengan topengku?”
“Bukan topeng itu yang membuatku terobsesi.”
“Lalu apa?”
“Jika kita akan menjadi teman, aku ingin kita menjadi teman sejati.”
Setelah beberapa saat terdiam, Iblis Tersenyum Jahat bertanya dengan dingin,
“Bisakah kau menghadapiku tanpa topeng?”
Menatap langsung ke dalam kedengkian mentah dan primitif yang memancar melalui lubang kosong pada topengnya, aku dengan tenang bertanya sebagai balasan,
“Bisakah kau menghadapiku tanpa topeng itu?” 10
1 : Selamatkan bunga itu, Seo!!!!
2 : Ia menjalani kehidupan seperti bom: Jika ragu, bunuh semua orang.
3 : Manis sekali~~~ ^^
4 : Dan itu sudah memperhitungkan kehidupan masa lalumu.
5 : Alih-alih Jo Hyang, ia punya cinta baru, yaitu bunga-bunga!!!! XDXDXD
6 : Kawan, jangan begitu, biarkan mereka sendiri.
7 : Yah, itulah artinya membuka hati para iblis, mereka terus menguncinya sepanjang hidup mereka.
8 : Mungkin itu justru sekumpulan gagak pembunuh? *masukkan tepuk tangan di sini*
9 : Mirip dengan bagaimana orang menulis ‘LOL’ secara online sementara wajah mereka datar di dunia nyata.
10 : *BGM tegang dimulai*
————————————————————
—
