Lewati ke konten
Absolute Regression

95 – Absolute Regression Chapter 95

Translator: FenrirTL

Editor : TheBattleSage

Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis

Murim Term Consultant: Kopke

========================

< Bab 95: Itu Sudah Cukup >

Dengan provokasi yang kulakukan, udara di sekitar menjadi berat dan menyesakkan. Energi iblis yang terpancar dari Iblis Tersenyum Jahat mengambil alih area tersebut.

Energi iblis miliknya begitu istimewa. Alasan mengapa ia mendapatkan julukan “Iblis Tersenyum Jahat” justru karena energi iblis ini, yang disebut “Hati Iblis Tersenyum.”

Hati Iblis Tersenyum membangkitkan kekerasan fundamental pada diri manusia.

Saat terpapar Hati Iblis Tersenyum, jantung seseorang akan berdetak kencang, dipenuhi dengan hasrat untuk membunuh seseorang. Mereka yang memiliki kekuatan bela diri lemah bahkan akan mencabut pedang mereka dan menikam orang di sebelah mereka.

Bahkan para ahli dengan kekuatan internal tinggi pun merasa kesulitan untuk bertarung secara normal di bawah pengaruh Hati Iblis Tersenyum.

“Ada dua wajah di balik topeng ini. Jika wajah yang satu lagi bangkit, selain dari wajah yang telah kau lihat sejauh ini, bahkan aku pun akan merasa kesulitan untuk mengendalikannya. Itulah mengapa melepas topeng ini sangat sulit.”

Jika wajah yang ia tunjukkan selama ini adalah Iblis Tersenyum, maka wajah yang satunya lagi pastilah Jahat.

“Aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan kepadamu, Iblis Tersenyum. Hanya saja, bagiku, seorang teman seharusnya adalah seseorang yang dapat dilihat tanpa halangan, baik mereka memiliki dua atau tiga wajah. Jika aku bersikap kurang ajar, mohon maafkan aku.”

Aku pernah terpapar Hati Iblis Tersenyum ini sebelum regresiku. Waktu itu, karena aku belum mempelajari Teknik Pelindung Tubuh Iblis Surgawi, aku hampir tidak sanggup menahannya.

Namun sekarang, situasinya berbeda.

Teknik Pelindung Tubuh Iblis Surgawi aktif secara alami, memblokir Hati Iblis Tersenyum miliknya. Meskipun teknikku belum sepenuhnya sempurna, itu sudah cukup untuk memblokir Hati Iblis Tersenyum tingkat saat ini.

Iblis Tersenyum Jahat, alih-alih meningkatkan energi iblisnya, justru menariknya kembali secara perlahan. Matanya yang tadinya tertawa di balik lubang topeng perlahan-lahan berubah menjadi dingin. Senyumnya yang memudar berarti ia telah meredakan amarahnya.

“Seperti yang kuduga, kau memang luar biasa, Tuan Muda Kedua. Kau sama sekali tidak terpengaruh oleh Hati Iblis Tersenyum milikku.”

“Aku telah dilatih dalam kedengkian dan racun sejak kecil. Kau tahu itu, kan? Kakakku sangat keras padaku.” 2

Iblis Tersenyum Jahat tertawa terbahak-bahak. Seolah ketegangan itu tidak pernah ada, ia kembali ke penampilan seperti saat pertama kali kami bertemu.

“Sungguh, Tuan Muda Kedua, kau adalah orang yang menarik. Sayang sekali kita tidak bisa menjadi teman.”

“Kalau begitu, aku akan pamit.”

Saat aku membuka pintu untuk pergi, Iblis Tersenyum Jahat berbicara.

“Aku tetap berpendapat bahwa kaukah yang membunuh Penguasa Iblis Pemetik Jiwa.”

“Kau salah paham.”

Aku tidak langsung menyangkalnya. Ketegangan di antara kami adalah faktor terpenting dalam menjaga hubungan kami.

Saat pintu tertutup, aku melihat sosok Iblis Tersenyum Jahat, yang dibiarkan sendirian di dalam ruangan putih itu.

* * *

Di pintu masuk Lembah Orang Jahat, aku bertemu dengan Seo Daeryong.

“Inspektur Seo, ada angin apa kau ke mari?”

“Aku sedang di tengah latihan. Aku berlari sebagai bagian dari latihan fisikku.”

“Dari semua tempat, kenapa di depan Lembah Orang Jahat?”

“Tempat ini kebetulan searah.”

“Apa kau berencana melompat masuk dan menyelamatkanku jika situasinya menjadi berbahaya?”

Ia bahkan membawa dao yang biasa digunakannya untuk berlatih.

“Aku terharu.”

“Bukannya begitu. Bagaimana mungkin aku bisa menerobos tempat itu?”

“Itulah kenapa aku terharu. Kau datang untuk menyelamatkanku meskipun kau tahu kau akan mati.”

“Aku hanya datang untuk memeriksa. Jika aku mendengar suara pertarungan, aku berniat melapor kepada Guru.”

“Cerdas seperti biasanya. Tentu saja, itulah yang seharusnya kau lakukan. Tidak ada gunanya menerobos masuk dan mati sia-sia saat kemampuanmu belum memadai. Dengan tangan kanan yang bijaksana seperti ini, apa yang harus ku khawatirkan?”

Akhirnya merasa yakin bahwa aku telah keluar dengan selamat, Seo Daeryong menghela napas lega.

“Huh, kakiku masih gemetar. Meskipun Anda adalah Penguasa Paviliun, aku sempat merasa khawatir.”

“Inspektur Seo.”

“Ya?”

“Tetaplah merasa khawatir mulai sekarang juga.”

“Ya?”

“Teruslah mengkhawatirkanku. Aku bisa membuat kesalahan, tidak tahu apa-apa, dan melakukan hal-hal bodoh. Jadi, teruslah khawatir dan bantu aku.”

Seo Daeryong tersenyum tipis.

“Tentu saja, jika tangan kanan tidak melakukannya, siapa lagi?”

“Tangan kiri akan melakukannya.”

“Apa Anda benar-benar berniat merusak suasana bagus ini?”

Sambil bercanda dan bersenda gurau, kami berjalan keluar bersama, lalu berhenti dan mendongak ke arah pohon di atas kami.

“Sedang apa kau di atas sana?”

Tanpa diduga, Gu Cheonpa sedang duduk di atas sebatang dahan.

“Menikmati matahari terbenam.”

“Di sini, dari semua tempat?”

“Dan mengawasi muridku yang pemalas.”

Pada saat itu, Seo Daeryong terkejut bukan main. Air mata menggenang di matanya saat ia menatap Iblis Pedang dengan pandangan kosong. Untuk pertama kalinya, Iblis Pedang Darah Surgawi memanggilnya murid.

“Guru! Terima kasih, Guru.”

Ada getaran dalam suara Seo Daeryong. Pak Tua Pedang, yang membenci momen-momen penuh sentimen seperti itu, berteriak dengan tegas.

“Apa yang kau tatap? Jika kau di sini untuk berlatih, mulailah berlari!”

“Baik, Guru!”

Seo Daeryong mulai berlari. Sepertinya ia benar-benar tersentuh karena diakui sebagai murid, hingga ia bahkan lupa mengucapkan selamat tinggal kepadaku.

Aku melompat naik dan duduk di sebelahnya di atas dahan.

“Hei, dahannya bakal patah.”

“Aku akan seringan bulu.”

Meskipun kami berdua duduk, dahan yang tipis itu tidak patah.

“Kerja bagus.”

“Bukan apa-apa.”

“Kau lihat sendiri betapa bahagianya dia, kan? Jadi, kau tidak bisa menunda-nunda lagi. Katakan saja semuanya saat hal itu terjadi, akui andilmu saat memang sudah sepatutnya, dan jika kau membenci seseorang, tunjukkan. Begitulah seharusnya.”

“Apakah yang muda sekarang mengajari yang tua?”

“Ya. Kau harus belajar. Dengan begitu, kau bisa akur dengan kami yang masih muda.”

“Coba saja kalau kau mau tutup mulut.”

Kami terkekeh satu sama lain.

“Jika kau begitu mengkhawatirkanku, kau seharusnya mengatakan sesuatu.”

“Aku datang karena aku takut kau membuatnya marah. Saat Iblis Tersenyum Jahat itu marah, matanya benar-benar berubah.”

“Pernahkah kau melihatnya sebelumnya?”

“Aku pernah melihatnya sekali. Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.”

Ya, aku tahu tatapan itu juga. Itu benar; tidak ada seorang pun yang bisa menghentikannya.

“Kupikir mungkin kau bisa membuatnya gila.”

“Kenapa aku?”

“Karena kau benar-benar tahu bagaimana cara memancing emosi orang. Kenapa Iblis Tersenyum Jahat harus berbeda?”

“Untungnya, situasinya tidak sampai separah itu hari ini.”

“Karena kau adalah anak Ketua Sekte, kau bisa keluar tanpa pertumpahan darah. Kalau tidak, salah satu dari kalian sudah mati.”

“Terima kasih atas kekhawatirannya, Senior.”

“Terima kasih kepalamu. Ayo pergi.”

“Matahari terbenam di sana tampak indah. Mari kita luangkan waktu sejenak untuk menikmatinya.”

“Sudah menyedihkan karena menjadi tua, untuk apa repot-repot melihat matahari terbenam?”

Iblis Pedang melompat pergi dari tempat itu.

Ditinggal sendirian, aku duduk di atas dahan dan mengamati matahari terbenam selama beberapa saat.

Tiba-tiba, aku teringat terakhir kalinya aku melihat Iblis Tersenyum Jahat sebelum regresiku. Matanya berkilau dengan ledakan cahaya terakhir sebelum kematiannya.

―…Aku tidak dapat mengingatnya. Bahkan saat aku bermain kejar-kejaran sewaktu kecil, apakah aku selalu ingin membunuh si pengejar? Kapan aku mulai menjadi seperti ini?

―Apakah kau menyesal? Hidup dengan begitu kejam?

―Menyesal? Tidak. Aku menyesal karena tidak membunuh lebih banyak orang. Tapi menghadapi Neraka itu menakutkan, benar-benar menakutkan. Ah! Rasanya menyebalkan. Bisakah kau melepaskan topeng dariku… Terima kasih. Ini pertama kalinya, kan? Wajah asliku?

―Kau pasti dipuji tampan saat masih muda. Kenapa kau mengenakan topeng itu seumur hidupmu?

―Waktu aku masih muda, guruku memilihku dan bertanya apakah aku sanggup mengenakan topeng ini selama sisa hidupku jika aku mengikutinya. Sebagai imbalannya, ia berjanji aku bisa membunuh sebanyak mungkin orang yang kuinginkan. Aku tidak ragu-ragu dan menyetujuinya. Ah! Kalau dipikir-pikir, aku sudah menjadi seperti ini sejak saat itu. Itulah kenapa guruku mengenaliku.

―Setelah gurumu mati, setidaknya kau punya kesempatan untuk melepas topeng itu.

―Kau akan mengerti jika kau mengenakannya. Begitu kau memakainya, kau tidak bisa melepasnya. Topeng ini membawa kedamaian. Mengenakan topeng, membunuh, dan terus membunuh. Pada akhirnya, topeng itulah yang membunuh orang dengan sendirinya.

―Dari mana kau mengarang alasan lalu tumbang? Kau membunuh mereka semua.

―Kau menyadarinya? Hahaha, batuk. Sangat sulit tertawa dengan sungguh-sungguh. Topeng ini telah menjadi simbolku, jadi bagaimana mungkin aku bisa melepasnya? Haruskah aku mengumumkan ke dunia persilatan bahwa mulai hari ini, Iblis Tersenyum Jahat sedang melepas topengnya? Hei, Mucheol. Ah, Mucheol juga bukan nama aslimu, kan? Siapa nama aslimu?

―Pernahkah kau menganggapku sebagai teman, bahkan sekali saja?

―Keparat kau. Jika kau pergi ke neraka, maka aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.

―Baiklah, balaslah dendammu kalau begitu.

―Aku sudah merasa kesakitan sejak tadi. Cabut saja pedangmu, kawan.

―Selamat tinggal.

Iblis Tersenyum Jahat mati di tanganku.

Waktu itu, dalam proses mendapatkan Jiwa Iblis Surgawi, aku tidak punya pilihan selain melenyapkannya. Ia adalah penjahat yang pantas mati, tetapi pada saat kematiannya, ia menganggapku sebagai seorang teman.

Aku tidak pernah memanggilnya teman pada akhirnya. Barangkali, pada saat itu, akulah penjahat yang lebih besar.

* * *

Ayah dengan senang hati mengizinkanku bermain Go meskipun kedatanganku mendadak.

Biasanya, kami bermain Go dalam keheningan, tetapi hari ini aku memiliki banyak hal untuk dikatakan.

“…Aku baru saja menemui Buddha Iblis beberapa hari lalu. Aku mengatakan hal-hal yang tidak ku maksudkan, mencoba mengujinya, dan berusaha memahami orang seperti apa dia sebenarnya.”

Ayah fokus pada papan Go tanpa sepatah kata pun. Biasanya, beliau akan menegurku karena terlalu berisik, tetapi hari ini beliau tetap diam.

Ayah telah merasakannya. Beliau menyadari bahwa putranya datang untuk berbicara karena sedang merasa resah.

Aku melanjutkan perkataanku.

“Hari ini, aku juga menemui Iblis Tersenyum Jahat. Aku tidak menyukainya. Bukan karena dia menentang kakakku, tetapi karena dia membunuh orang sambil menyeringai, seperti orang gila.”

Ayah menangkap sebuah bidak dan berkata,

“Buatlah bidak mati hanya di sini.”

Beliau bermaksud mengatakan agar aku tidak membunuh Penguasa Iblis lagi. Saat Penguasa Iblis Pemetik Jiwa tewas, beliau telah menyuruhku untuk tidak membunuh lagi, dan sekarang beliau menegaskannya kembali.

Apakah aku harus membunuh Iblis Tersenyum Jahat lagi? Apakah itu takdirku lagi? Aku merasa bahwa ia dan aku terikat oleh hubungan yang anehnya begitu kuat.

Aku hanya berharap hal itu tidak terjadi di kehidupan kali ini.

“Apakah aku memiliki kemampuan untuk membunuh Iblis Tersenyum Jahat? Lagipula, alasanku menemui para Penguasa Iblis ini adalah…”

Aku terus berbicara. Aku ingin mengatakan semua yang kubisa selagi beliau bersedia mendengarkan dengan tenang.

“Meskipun itu untuk diriku sendiri, itu juga untuk Ayah. Saat pertama kali aku pergi berburu, aku menyombongkan diri bahwa aku akan menundukkan semua Penguasa Iblis dan membariskan mereka, tetapi ternyata tidak semudah itu ketika aku benar-benar berhadapan dengan mereka. Ayah benar. Berurusan dengan orang-orang adalah hal tersulit di dunia.”

Ayah tidak mengatakan apa-apa dan terus bermain Go. Sepertinya beliau memutuskan untuk hanya mendengarkan hari ini.

“Tolong jangan salah paham dan menganggap sikapku yang seperti ini tidak layak untuk suksesi. Jika aku mengkhawatirkan hal-hal ini sebelumnya, aku akan mampu menunjukkan sisi yang lebih kuat nantinya.”

“Mengingat kau punya kesempatan, kenapa kau tidak menjelek-jelekkan kakakmu saja?”

“Aku tidak berniat menjelek-jelekkannya untuk sementara waktu. Sudah cukup sulit baginya untuk berpura-pura anggun seperti seekor angsa. Di bawah air, dia terus-menerus mendayung dengan panik. Tidak sepertiku, dia bukan tipe orang yang akan datang dan mengaku seperti ini, kan?” [1]

Aku melihat Ayah tersenyum tipis. Perubahan itu sangat halus dan cepat, tetapi Teknik Mata Baruku menangkapnya.

“Terlalu banyak bicara membuatku dirugikan dalam permainan Go. Aku akan berkonsentrasi sekarang.”

Kami fokus pada permainan Go. Sambil menyelesaikan permainan, aku bertanya,

“Saat terkadang aku merasa tidak yakin apa yang harus kulakukan, bolehkah aku datang menemui Ayah?”

Tangan Ayah, yang hendak meletakkan bidak, berhenti di udara.

“Bukankah itu curang? Meminta jawaban kepada wasit?”

“Jangan anggap itu sebagai bertanya kepada wasit, anggap saja sebagai meminta nasihat.”

Ayah meletakkan bidak Go itu.

“Memberikan nasihat itu mengasyikkan.”

Meskipun beliau tidak secara langsung mengatakan ya atau tidak, itu adalah izin tersirat.

Aku tahu. Memperlakukanku dengan baik adalah hal yang berbeda dari memilih penerus. Beliau bisa saja mendeklarasikan kakakku sebagai penerus bahkan besok.

Aku nyaris menang dengan keunggulan dua poin.

“Keahlianmu semakin meningkat, bukan? Apa kau membuat sang ahli strategi Sima Myung terjaga sepanjang malam? Itu tidak adil.”

“Bukankah Ayah juga punya ahli strategi?”

“Mereka tidak bisa bermain Go.”

“Di belahan dunia mana ada ahli strategi yang tidak bisa bermain Go?”

“Kalau dipikir-pikir, kau benar. Aku belum pernah melihat ahli strategi dalam cerita yang tidak bisa bermain Go. Aku pasti telah dibohongi oleh ahli strategi yang tidak bisa bermain Go.”

Ayah tersenyum kecil mendengar candaanku.

“Kalau begitu, aku akan menemuimu bulan depan.”

Saat aku memberi salam kepada Ayah dan hendak pergi, beliau bertanya dari belakang,

“Apakah bebannya terasa berat?”

Mendengar kata-kata itu membuat dadaku terasa sesak. Ini adalah pertama kalinya Ayah mengucapkan kata-kata penghiburan kepadaku.

“Bohong jika kukatakan bebannya ringan seperti bulu, tetapi itu tidak terlalu berat hingga aku tidak sanggup menanggungnya.”

“Kalau begitu, tidak apa-apa.”

Kalau begitu, tidak apa-apa. Belakangan ini, mengapa kata-kata ini terdengar begitu menyenangkan?

Jika seseorang mengakui usahaku… ya, maka itu sudah cukup.

1: Tergantung pada mentalitas dan keadaanmu kurasa. Dirimu sebelum keruntuhan sekte pasti akan jatuh di bawah pengaruh Hati Tersenyum. Dirimu sebelum regresi hampir tidak sanggup menahannya dan dirimu yang sekarang hanya mengabaikannya begitu saja.

2: Dingin dan sangat menyedihkan.

3: Setidaknya dia jago bermain poker.

—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *