Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 94: Berkelahi Karena Kita Saling Mengenal >
Sebelum pergi menemui Evil Smiling Demon, aku mampir ke kediaman Blood Heaven Blade Demon. Ada sesuatu yang ingin kuonfirmasi dengannya.
Gu Cheonpa sedang duduk di dekat jendela, membaca buku di bawah kehangatan sinar matahari.
“Kau benar-benar sering membaca buku.”
“Ini hanya pamer. Saat aku mendengar langkah kakinya dari jauh, aku bergegas ke rak buku.”
Dia meletakkan buku itu dan bertanya,
“Ada keperluan apa kau ke sini?”
Aku berdiri di luar jendela dan berbicara kepadanya tanpa masuk ke dalam.
“Aku datang untuk bertanya tentang seseorang.”
“Siapa?”
“Apakah kau tahu tentang Evil Smiling Demon?”
Untuk sesaat, aku merasakan Blade Demon itu tertegun.
“Kenapa kau menanyakan tentang dia?”
“Aku berencana membawanya ke pihak kita.”
Ekspresi Blood Heaven Blade Demon sedikit menegang.
“Sialan. Kau bergosip seperti perempuan yang usil.”
“Apa maksudmu?”
“Jangan pura-pura bodoh.”
Dengan intuisi tajamnya, Blood Heaven Blade Demon menyadari bahwa One-Slash Sword Supreme telah memberitahuku tentang hal itu. Karena dia bukan tipe orang yang suka menyebarkan hal ini, aku berbicara dengan santai.
“Orang yang memberitahuku tentang membujuknya bukanlah aku, melainkan kau, tetua. Demi kebaikanmu.”
“Ini bukan demi kebaikanku. Ini karena prinsip moral yang kupegang.”
“Kenapa kalian berdua sering bertengkar padahal kalian sudah sangat saling mengenal?”
“Apakah ada orang yang bertengkar dengan orang asing? Kita bertengkar karena kita sudah sangat saling mengenal.”
Tidak mampu menyangkal kata-katanya, aku terkekeh.
“Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”
“Bagaimana cara kau membujuk Evil Smiling Demon?”
Alasan aku menemui Gu Cheonpa hari ini adalah untuk menanyakan hal itu.
Kemudian sebuah fakta mengejutkan terungkap.
“Dia mendatangiku lebih dulu.”
“Evil Smiling Demon mendekatimu lebih dulu?”
“Ya. Untuk apa aku mendatangi pria menyebalkan itu dan meminta bantuan?”
“Senior Sword Supreme salah kalau begitu.”
“Apa yang dia katakan?”
“Dia bilang kau membujuknya karena kalian berdua adalah penjahat.”
“Apa? Dia menyama-nyamakan diriku dengan pria itu?”
Blood Heaven Blade Demon bangkit berdiri, tampak jelas kesal.
Meskipun rasanya seperti mengadu, ini juga bagian dari usahaku untuk mendamaikan mereka berdua.
Aku harus terus menyebut satu sama lain seperti ini. Untuk mengingatkan mereka bahwa mereka belum melupakannya, bahwa mereka masih saling membenci. Hanya dengan begitu, ketika saat yang tepat tiba, semua potongan ini akan menyatu, mengarah pada rekonsiliasi. Rekonsiliasi tidak pernah terjadi dalam semalam.
“Syarat apa yang dia ajukan?”
“Dia bilang dia akan mendukung Cheong Seon dan meminta bantuan saat dia membutuhkannya nanti.”
“Apakah kau menerimanya padahal tahu apa yang mungkin dia minta nanti?”
“Dia akan meminta sesuatu untuk keuntungannya. Kalau dia meminta sesuatu yang konyol, aku tidak akan melakukannya.”
“Kenapa kau tidak mengambil jasa atas hal itu? Kau bisa berkata, ‘Aku punya hutang yang harus dibayar karenamu. Apa yang akan kau lakukan soal itu?’ Kenapa kau malah diam saja?”
“Apa yang perlu dibanggakan!”
Blood Heaven Blade Demon yang pertama kali kutemui benar-benar orang yang penuh perhitungan dan teliti. Dia tampak seperti tipe orang yang akan mengambil semua pujian dan menagih semua hutang.
Tetapi begitu aku membuka pintu hatinya, ada Blood Heaven Blade Demon lain di dalam dirinya. Seseorang yang membuang hal-hal seperti pujian ke sudut dan menikmati membaca buku di bawah sinar matahari.
“Tetua, mengambil pujian dan semacamnya itu perlu agar pihak lain mengerti.”
“Itu tidak perlu. Dan sepertinya Evil Smiling Demon membantu dalam hal ini bukan untuk meminta sesuatu dariku nanti. Dia, meminta apa pun dariku?”
Gu Cheonpa menatapku dengan ekspresi yang seolah berkata, ‘Bahkan kau tidak berpikir begitu, kan?’
Jika intuisi itu benar, lalu kenapa dia membantu kita?
“Bagaimanapun, terima kasih. Aku harus pergi menemui Evil Smiling Demon.”
Saat aku pamit, Pak Tua Blade dengan bersemangat membuka kembali bukunya.
“Aku akan menemui Evil Smiling Demon, dan kau tidak khawatir?”
“Tentang siapa? Kau? Atau Evil Smiling Demon?”
Aku berbalik pergi sambil tersenyum.
Setelah meninggalkan kediaman Blood Heaven Blade Demon, aku menuju Lembah Penjahat yang terletak di bagian timur laut Sanctuary Dalam.
Lembah Penjahat itu, sesuai namanya, adalah sebuah lembah.
Bukan lembah alami, melainkan lembah buatan, dengan berbagai ukuran tempat tinggal untuk para Faceless Swordsmen yang berjejer di sepanjang aliran sungai.
Meskipun tampaknya dibangun secara acak, itu adalah semacam benteng, yang direncanakan dengan cermat sesuai dengan keterampilan dan status para Faceless Swordsmen, dan juga untuk bersiap menghadapi invasi eksternal.
Ketika aku mengumumkan di pintu masuk lembah bahwa aku berada di sana untuk menemui Evil Smiling Demon, seorang Faceless Swordsman yang mengenakan topeng putih memanduku.
Bawahan Evil Smiling Demon disebut Faceless Swordsmen. Mereka semua mengenakan topeng, topeng putih yang hanya memiliki lubang mata.
Lubang matanya berbentuk seperti bulan sabit yang tersenyum. Meskipun lubang matanya tampak seperti sedang tersenyum, mata asli di baliknya tidak tersenyum, membuat topeng itu tampak semakin menyeramkan.
Kediaman Evil Smiling Demon berada di bagian terdalam lembah. Bangunan itu dimodelkan setelah topeng putih tersebut. Satu-satunya jendela adalah bagian yang menjadi matanya, kemungkinan besar menandai tempat tinggal Evil Smiling Demon.
Aku masuk, merasa seolah-olah aku sedang ditelan oleh Evil Smiling Demon, melalui pintu masuk yang tidak digambarkan pada topeng itu.
Saat aku menaiki tangga melingkar, aku mencapai kamar Evil Smiling Demon.
Saat aku memasuki ruangannya, aku merasakan sensasi yang mencekam.
Dinding dan lantainya semuanya dicat putih, dan tidak ada apa pun di dalam ruangan itu. Tidak ada meja, tidak ada lemari, bahkan tidak ada kursi atau bantal. 1
Di ruang yang benar-benar kosong ini, hanya Evil Smiling Demon yang berdiri.
Menghadap ke dinding, dia mengenakan jubah putih. Kalau bukan karena rambut hitam yang terlihat di bagian belakang kepalanya, aku mungkin tidak akan menyadari bahwa dia berdiri di sana, begitu sempurna dia membaur dengan ruangan itu.
Meskipun aku sudah masuk, dia terus menatap dinding, jadi aku perlahan berjalan mendekat dan berdiri di sampingnya.
“Apa yang sedang kau lihat?” 2
Evil Smiling Demon menolehkan kepalanya ke arahku. Dia mengenakan topeng putih seperti para Faceless Swordsmen, dan melalui lubang mata yang tersenyum itu, tatapannya jernih dan dingin.
Topeng khusus buatan Evil Smiling Demon dirancang sedemikian rupa sehingga matanya tidak dapat dilihat dari luar. Namun, Teknik Mata Baruku memungkinkanku melihat matanya dengan jelas melalui kegelapan.
Akhirnya, Evil Smiling Demon berbicara.
“Aku tidak sedang melihat apa pun.”
Suaranya yang dalam dan bergemerincing sangat enak didengar, dan perawakannya yang tinggi dengan anggota tubuh yang panjang memberikan kesan sosok yang elegan. Berlawanan dengan namanya, dia bersikap sopan.
Sopan sampai pada titik yang menyeramkan—inilah kesan yang dia berikan.
“Sudah lama sekali, Tetua.”
Faktanya, bisa dikatakan bahwa ini adalah pertama kalinya kita bertemu di kedua kehidupan. Selain melihatnya dari jauh di acara-acara formal, ini toh adalah pertemuan pribadi pertama kami.
“Tetua? Aku masih muda, jadi tolong perlakukan aku seperti teman.”
“Sudah berapa banyak orang yang meninggalkan dunia ini, tertipu oleh kata-kata itu?”
Evil Smiling Demon tertawa. Sesuai dengan namanya, dia adalah seseorang yang sering tertawa.
“Bagaimana denganmu, Tuan Muda Kedua? Apakah kau biasanya tertipu, atau kau yang menipu orang lain?”
“Jika aku harus memilih, aku akan bilang aku pura-pura tertipu.”
Evil Smiling Demon secara kebiasaan tertawa.
“Apakah tidak sulit untuk selalu tersenyum seperti itu?”
Untuk sesaat, matanya, yang terlihat melalui lubang mata yang lebar, berkilat.
“Kenapa tersenyum itu sulit?”
“Kupikir tersenyum mungkin lebih sulit daripada menangis. Mudah untuk hidup sambil menangis, tetapi hidup sambil tersenyum itu berat, bukan?” 3
“Akhirnya, seseorang yang mengerti kesulitanku telah muncul.”
Bahkan saat mengatakan itu, dia tertawa lagi. Kali ini, itu adalah tawa yang keras dan berlebihan, seperti suara pemain sirkus jalanan.
Aku tidak mempercayai tawanya.
Tawa itu seperti tentakel di kepala ikan yang hidup di laut dalam. Jika kau terpesona oleh tentakel yang melambai-lambai dan berwarna-warni itu, kau akan segera mendapati dirimu tersedot ke dalam mulut yang besar.
Jangan pernah lupa. Dia tidak tersenyum karena dia menyukaimu.
“Tuan Muda Kedua, untuk apa kau datang menemuiku?”
Aku tidak bisa mengungkapkan bahwa One-Slash Sword Supreme telah melanggar aturan dan memberitahuku tentang hasil pemungutan suara.
ŞKita tidak pernah punya kesempatan untuk berbicara seperti ini sebelumnya, kan? Jadi, aku datang untuk mengenalmu. Sejujurnya, aku datang dengan harapan kau mau mendukungku alih-alih saudaraku.”
“Mari kita berjalan-jalan?”
Evil Smiling Demon perlahan mulai berjalan menyusuri dinding putih itu.
“Ketika aku perlu mengatur pikiranku, aku berjalan seperti ini.”
Aku mengikutinya. Tali topengnya menjuntai di bagian belakang kepalanya. Tidak seorang pun di dunia persilatan yang bisa melepaskan simpul itu, meskipun seorang anak kecil bisa dengan mudah menariknya.
Saat dia berjalan, dia berbicara.
“Jika kau menjawab satu pertanyaan, aku akan mempertimbangkan untuk mendukungmu.”
“Silakan tanyakan.”
“Bagaimana cara kau membunuh Soul Reaper Demon Supreme?”
Dia menanyakan pertanyaan krusial ini dengan santai, dan aku menjawabnya dengan sama tenangnya sambil mengikutinya.
“Aku tidak membunuh Soul Reaper Demon Supreme.”
“Tidak. Kau pasti membunuhnya. Aku tidak bertanya apakah kau melakukannya atau tidak. Aku bertanya bagaimana kau melakukannya.”
Dia yakin bahwa akulah yang telah membunuhnya.
“Tuan Muda Kedua, aku akan merahasiakan ini dari orang lain. Katakan saja padaku. Aku akan memberimu satu suara lagi, seperti yang kulakukan untuk Cheong Seon.”
“Aku ulangi, aku tidak membunuhnya.”
Kemudian Evil Smiling Demon tiba-tiba berhenti dan berjalan kembali ke arahku. Dia mengulurkan tangannya.
“Mari kita berteman.”
Aku tahu betul bahwa dia rentan terhadap tindakan tiba-tiba seperti itu.
Dan ini adalah kedua kalinya aku mendengar kata-kata ini darinya.
Ketika aku kembali ke Sekte Iblis untuk mencari Roh Iblis Surgawi, aku memiliki hubungan dengan Evil Smiling Demon. Pada saat itu, dia telah mengatakan hal yang sama persis kepadaku.
“Tidak.”
“Kenapa tidak?”
Setiap orang yang berteman dengannya telah mati. Kecuali satu orang.
“Ada tiga alasan kenapa kita tidak bisa berteman.”
“Oh, kau punya tiga alasan?”
Dia menunjukkan minat yang aktif.
“Apa alasan pertama?”
“Jika kita bertindak seperti teman, suatu hari aku akan membuat kesalahan. Merasa nyaman pada akhirnya mengarah pada ketidaksopanan. Formalitas akan mencegahku membuat kesalahan itu.”
“Apa salahnya membuat beberapa kesalahan?”
“Yah, tidak apa-apa jika orangnya bukan Evil Smiling Demon.”
Evil Smiling Demon tertawa terbahak-bahak.
“Tuan Muda Kedua, kau bahkan lebih menghibur daripada rumor yang beredar. Jadi, apa alasan kedua?”
“Pemimpin Paviliun Dunia Bawah dan Evil Smiling Demon tidak bisa disatukan.”
“Mereka bilang baik dan jahat itu seperti dua sisi mata uang yang sama. Belajar tentang kejahatan dariku akan membantumu menjunjung tinggi kebaikan.”
“Itu mungkin sesuatu yang dibuat-buat oleh mereka yang berada di sisi jahat.”
“Apa maksudmu?”
“Bagaimana bisa baik dan jahat disatukan seperti dua sisi mata uang? Kejahatan berada di dasar jurang yang tidak bertepi, sementara kebaikan berada di puncak gunung yang tinggi. Itu hanyalah pepatah yang diciptakan oleh para pelaku kejahatan untuk membenarkan diri mereka sendiri.”
Tentu saja, pernyataannya sebelumnya adalah metafora yang menunjukkan bahwa kebaikan dan kejahatan dapat berdampingan dalam diri seseorang. Namun, aku sengaja hanya berbicara tentang kebaikan dan kejahatan, menempatkan keduanya berjauhan satu sama lain.
“Kalau begitu kau pasti mengira aku seorang munafik.”
“Sama sekali tidak. Bagaimana mungkin seseorang yang dengan bangga menyematkan kata ‘jahat’ pada julukannya menjadi seorang munafik?”
“Menurutmu aku keren, kalau begitu?”
“Kejahatan tidak akan pernah bisa keren dalam keadaan apa pun. Satu-satunya saat kejahatan bisa keren adalah ketika ia menekan kejahatan yang lain.”
Dia tertawa. Dia tertawa terbahak-bahak, tetapi matanya di balik lubang mata topeng itu dingin. Tanpa Teknik Mata Baru, aku tidak akan mengetahuinya.
Sungguh mengherankan bahwa dia bisa tertawa begitu terbahak-bahak sementara memiliki tatapan mati yang begitu suram.
“Rumor itu benar.”
“Rumor apa yang kau bicarakan?”
“Rumor bahwa kau telah menjadi orang lurus ortodoks yang keras kepala dan menyebalkan.” 4
“Jika kau merasa seperti itu, itu mungkin karena ini. Pada titik tertentu, kita menjadi lebih buruk daripada orang-orang ortodoks yang keras kepala dan menyebalkan itu. Jadi sekarang, aku mencoba meluruskan keadaan.”
Evil Smiling Demon, yang tadinya tertawa kecil, bertanya,
“Apakah ini Jalan Iblis baru yang kau impikan, Tuan Muda?”
“Bisa dibilang begitu.”
“Kalau begitu kita tidak akan pernah bisa berdampingan. Aku akan terus mendukung Tuan Muda Pertama.”
“Mau bagaimana lagi. Kalau begitu aku akan pamit.”
Aku membungkuk dengan sopan dan berbalik untuk pergi.
Kemudian, dari belakang, dia bertanya,
“Ngomong-ngomong, apa alasan ketiganya?”
Aku menghentikan langkahku menuju pintu dan berbalik menghadapnya.
“Aku tidak berteman dengan orang yang mengenakan topeng.”
Itu adalah momen yang seharusnya dipenuhi dengan tawa, tetapi dia tidak tertawa.
Aku melihatnya.
Meskipun dia tidak tertawa terbahak-bahak, matanya di balik lubang mata topeng itu sedang tersenyum. Itu berarti dia benar-benar marah.
Hingga saat ini, dia tidak pernah melepas topengnya di depan siapa pun. Oleh karena itu, wajar saja jika tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajahnya di balik topeng itu. Tidak ada yang tahu seperti apa rupa wajahnya atau berapa usianya. Memintanya untuk melepas topengnya adalah sebuah tabu, sebuah pelanggaran yang tak terampuni.
Namun, sekali dalam hidupnya, dia pernah menunjukkan wajahnya kepada seseorang.
Kepada diriku, sebelum regresi-ku, ketika aku kembali ke sekte untuk menemukan bahan terakhir untuk Teknik Regresi Agung. Kepada diriku, satu-satunya orang yang selamat dari statusnya sebagai teman.
Aku telah melihat wajah di balik topeng itu. 5
1: Sialan, dia pasien rumah sakit jiwa….
2: Wajah tersenyum yang dibuat dari darah. Siapa lagi yang tahu nama acara ini? Jawab di kolom komentar !!!
3: Ya, semua orang menganggapmu orang aneh. Lihat Fire Force, MC dianggap sebagai psikopat karena menepati janjinya (itu mengingatkanku bahwa aku harus menyelesaikannya… Seperti banyak lainnya….)
4: Yah, dia tentu saja tidak ‘berwatak iblis’, tapi dia jauh lebih tidak munafik daripada orang yang ‘ortodoks’
5: Aku ingin tahu apa nasib mereka kali ini.
————————————————————
—
