Lewati ke konten
Absolute Regression

88 – Absolute Regression Chapter 88

Translator: FenrirTL

Editor : TheBattleSage

Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis

Murim Term Consultant: Kopke

========================

< Bab 88: Sejak Tali Pusar Dipotong >

Setelah membasuh darahnya, Geom Muyang berdiri di depan cermin perunggu, dan seorang pelayan membantunya mengenakan pakaian baru.

Ia mengenakan jubah tipis yang melindunginya dari tusukan pedang langsung di kulit telanjangnya. Di atasnya, ia melapisi jubah yang sedikit lebih tebal. Obsesinya terhadap kematian ditampilkan secara terang-terangan, setidaknya di hadapan Demonic Buddha.

Ma Bul menyaksikan pemandangan ini dari kursinya.

Memikirkan keterlibatan Yunnan Twin Freaks, Geom Muyang punya setiap alasan untuk marah, namun ia tidak mengatakan apa-apa. Demonic Buddha dapat merasakan kemarahan yang mendidih di balik ketenangan dingin di wajahnya.

“Tuan Muda Kedua…”

Awalnya, ia berniat untuk memulai dengan, “Dia telah berubah terlalu banyak.” Tetapi ia mengubah kata-katanya, berpikir itu terlalu kentara.

“…orang seperti apa dia sebenarnya?”

Geom Muyang menjawab dari balik cermin perunggu.

“Aku pikir aku mengenal saudaraku dengan baik, tapi aku menyadari tadi bahwa aku sama sekali tidak mengenalnya. Dia tidak seperti ini sebelumnya…”

“Kau harus melupakan masa lalu!”

Tiba-tiba, Demonic Buddha meninggikan suaranya, membuat pelayan yang malang itu secara tidak sengaja menggores leher Geom Muyang dengan kukunya saat merapikan kerahnya.

“Aduh! Maafkan aku, mohon ampuni aku.”

Pelayan itu langsung berlutut, memohon ampun. Suasana seketika menjadi semakin dingin.

“Untuk apa aku membunuhmu hanya karena hal seperti ini?”

Geom Muyang berbicara dengan lembut, tetapi Demonic Buddha menyela dengan dingin.

“Tapi kita tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja tanpa hukuman, bukan? Mempertahankan seorang pelayan yang melukai calon Heavenly Demon? Seberapa konyol hal itu akan terlihat di mata orang lain?”

Pelayan itu memohon dengan putus asa.

“Tolong! Ampuni aku!”

Geom Muyang membantunya berdiri.

“Setiap orang membuat kesalahan. Kau boleh pergi sekarang.”

“Terima kasih, Tuan Muda Sulung. Terima kasih banyak.”

Pelayan itu meninggalkan ruangan.

“Kau tidak boleh menunjukkan keringanan hukuman seperti itu terhadap kesalahan bawahannya. Kau harusnya memberinya hukuman setidaknya.”

Lalu Geom Muyang tiba-tiba bertanya.

“Apakah kau bertanya orang seperti apa saudaraku itu?”

“Ya, aku bertanya.”

“Jika situasi serupa terjadi, dia akan membelikan makan untuk pelayan yang ketakutan itu. Dia selalu berhati hangat sejak kecil.”

“Itu tidak berarti kau bisa menurunkan kewaspadaanmu.”

“Aku tidak mengatakan itu untuk menyuruh kita menurunkan kewaspadaan. Tidakkah kau melihat Mugeuk menatap orang-orang tadi?”

Tatapan di cermin perunggu yang tadinya diarahkan ke Demonic Buddha kini beralih ke Geom Muyang sendiri.

“Sejujurnya, aku merasa sedikit iri.”

Demonic Buddha terkadang menganggap Geom Muyang tidak bisa ditebak.

Terlepas dari penanganan urusannya yang cemerlang dan dingin, ada kalanya ia secara tak terduga mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.

Sambil merenungkan bagaimana harus merespons, Geom Muyang berjalan mendekat dan duduk di seberang Ma Bul. Ia menuangkan secangkir teh dingin untuk dirinya sendiri dan meminumnya.

“Apa yang begitu kau khawatirkan, Demon Supreme?”

“Ini bukan hanya tentang kemampuan Tuan Muda Kedua, tapi yang lebih penting, Gu Cheonpa adalah orang tua yang licik. Fakta bahwa ia memilih Tuan Muda Kedua berarti pasti ada alasan yang signifikan. Entah itu membelikan makanan untuk seorang pelayan atau sesuatu yang tidak kita ketahui.”

Kemudian Geom Muyang mengatakan sesuatu yang tidak terduga.

“Aku pikir jawabannya terletak pada ayahku.”

Demonic Buddha terkejut mendengar kata-kata itu.

“Apa maksudmu dengan itu?”

“Ayah mendukung Mugeuk saat aku pergi. Beliau menganugerahinya Pedang Iblis Hitam dan menempatkannya di posisi Underworld Pavilion Lord. Beliau sedang menguji bagaimana aku akan menghadapi Mugeuk yang telah diberi kekuatan. Aku percaya ini adalah ujian terakhir untuk menjadi penerus.”

Untuk sesaat, itu tampak masuk akal, tetapi kemudian Demonic Buddha menggelengkan kepalanya.

“Itu tidak mungkin benar. Selama kebangkitan Tuan Muda Kedua, Soul Reaper Demon Supreme tewas. Meskipun penyebabnya dikatakan karena penyimpangan *qi*, ada terlalu banyak poin yang mencurigakan.”

Awalnya, ia mempercayai Pemimpin Sekte Heavenly Wind Cult ketika ia mengatakan itu bukan ulah Geom Mugeuk, tetapi sekarang ia tidak lagi mempercayainya.

“Itu bisa saja ulah Tuan Muda Kedua. Namun, kau pikir itu adalah ujian Pemimpin Sekte? Pemimpin Sekte sangat menyayangi Soul Reaper sebagai kekuatan utama sekte kita.”

“Ayahku mungkin tidak memperkirakan sampai sejauh itu. Mugeuk memiliki kemampuan di luar ekspektasi ayahku.”

“Kalau begitu, apakah Geom Mugeuk benar-benar membunuh Soul Reaper Demon Supreme?”

Alih-alih menjawab, Geom Muyang mengajukan sebuah pertanyaan.

“Apakah kau, Ma Bul, bisa membunuh Yasuo?”

“Tentu saja… aku bisa membunuhnya!”

Sesaat ragu-ragu mengungkapkan betapa tangguhnya Soul Reaper Demon Supreme itu. Bahkan Demonic Buddha pun kurang percaya diri jika harus melawan orang itu.

“Kau benar. Kau bisa saja membunuhnya, tapi itu tidak akan mudah.”

Setelah menjaga harga diri Demonic Buddha, Geom Muyang melanjutkan dengan apa yang sebenarnya ingin ia katakan.

“Baik aku maupun Mugeuk tidak dapat membunuh Soul Reaper Demon Supreme dengan kemampuan seni bela diri kita saat ini. Namun, itu mungkin saja terjadi dengan bantuan seseorang.”

“Siapa itu?”

Geom Muyang tidak menjawab, menyiratkan bahwa Demonic Buddha harus mencari tahu sendiri. Setelah merenung sejenak, Demonic Buddha berseru kaget.

“Mungkinkah? Pemimpin Sekte Heavenly Wind Cult?”

“Benar. Dengan bantuannya, mungkin saja Soul Reaper Demon Supreme terbunuh.”

Meskipun hal itu tampak masuk akal, Demonic Buddha masih memiliki satu keraguan.

“Untuk apa Pemimpin Sekte Heavenly Wind Cult melakukan itu?”

“Demi mendapatkan pijakan di Dataran Tengah. Bukankah pada akhirnya ia mengambil murid Soul Reaper Demon Supreme sebagai muridnya sendiri?”

“Ah!”

Demonic Buddha tidak pernah mencurigai hal dengan cara seperti ini sebelumnya. Apakah Pemimpin Sekte Heavenly Wind Cult benar-benar berada di balik semua ini? [1]

“Lalu ia bernyali besar datang dan memeriksa mayatnya? Apa begitu maksudmu?”

Perselisihan baru-baru ini antara Demonic Buddha dan Pemimpin Sekte telah mengaburkan penilaian objektifnya dengan kecurigaan dan kemarahan.

“Pemimpin Sekte tahu para Demon Supreme akan memanggilnya. Itulah satu-satunya cara ia bisa dengan percaya diri memasuki sekte kita.”

Keraguan terakhir yang mengganjal di benak Demonic Buddha adalah ini.

“Tapi Pemimpin Sekte tidak punya cukup keberanian. Jika ketahuan bahwa ia membunuh Soul Reaper Demon Supreme, seluruh Heavenly Wind Cult akan dimusnahkan. Itu tidak mungkin.”

“Ayahku selalu mengatakan kepadaku sejak aku masih muda: jangan pernah berasumsi kau mengenal seseorang.”

Demonic Buddha merasa bingung. Pemimpin Sekte yang dikenalnya tidak memiliki kapasitas untuk rencana sebesar itu. Namun perkataan Geom Muyang terdengar sangat masuk akal. Ada juga alasan lain.

“Bukankah itu sudah jelas dari fakta bahwa pasukan Pemimpin Sekte memihak kepada Mugeuk? Seperti yang kau katakan, Blood Heaven Blade Demon yang teliti tidak akan bersekutu dengannya tanpa latar belakang seperti itu.”

Bagaimana jika ini benar?

“Sialan! Aku sendiri yang membawa pengkhianat itu masuk!”

“Jangan salahkan dirimu. Sebagai gantinya, aku akan menggunakan situasi ini untuk mengendalikan para Demon Supreme.”

“Lalu bagaimana jika situasinya tidak menguntungkan kita?”

Geom Muyang dengan santai menyebutkan apa yang tidak sanggup diucapkan oleh Demonic Buddha.

“Membunuh Mugeuk? Tidak, aku tidak akan membunuhnya. Bagaimana pandangan ayahku terhadap seorang saudara yang membunuh saudaranya sendiri?”

Demonic Buddha menyadari bahwa alasan untuk tidak membunuh Geom Mugeuk bukanlah karena mereka bersaudara, melainkan hanya karena ayah mereka sedang mengawasi.[2]

“Lalu apa yang ingin kau lakukan?”

“Aku akan menarik semua orang yang memihak Mugeuk ke sisiku. Mugeuk memiliki harga diri yang tinggi; jika orang-orangnya berbalik menentangnya, ia akan meninggalkan sekte atas kemauannya sendiri. Kau melihatnya tadi, kan? Orang-orang pergi tanpa menonton pertandingan Mugeuk. Aku akan memastikan orang-orang itu benar-benar meninggalkan Mugeuk. Mari kita lihat apakah dia masih bisa tertawa dan bercanda saat itu.” [3]

“Membiarkan Tuan Muda Kedua tetap hidup akan mendatangkan masalah di masa depan.”

“Sekalipun dia pergi, jika sekte kita menghadapi krisis, dia akan datang untuk membantu, bukan untuk menghancurkan kita. Itulah kelemahan terbesarnya.” [4]

Geom Muyang berjalan kembali ke cermin. Menatap pantulan dirinya, ia berbicara dengan tenang.

“Posisi Grand Master di Heavenly Demon Pavilion adalah yang paling kokoh di dunia persilatan ini. Orang berhati lembek seperti Mugeuk tidak bisa dan tidak boleh duduk di sana.” [5]

* * *

Keesokan paginya, ketika aku tiba di Heavenly Demon Pavilion, aku bertemu dengan saudaraku di pintu masuk.

“Sudah lama sejak terakhir kali kita memasuki Heavenly Demon Pavilion bersama-sama.”

“Memang.”

Kami berjalan bersama.

“Apakah kau gugup?”

“Tidak juga.”

Tetapi saudaraku merasa gugup.

Ia selalu menjadi sangat tegang di hadapan ayah kami. Sejak kecil, ia selalu ingin membuat ayah terkesan.

Suatu ketika, saat kami masih kecil, saudaraku mendengar ayah memanggilnya “putra sulung kami” hanya sekali, dan ia menyombongkannya bukan selama berhari-hari, melainkan bertahun-tahun.

Jika aku terpikat oleh Hwa Moogi sekarang, maka saudaraku terpikat oleh ayah kami.

Saudaraku dan aku memasuki Heavenly Demon Pavilion.

Di dalam terdapat ayah kami dan Sima Myung, Sang Penasihat Strategi. Kami berjalan menyusuri Jalan Darah bersama-sama. Patung-patung iblis yang berdiri di semua sisi mengawasi kembalinya saudaraku dan kedatangan kami dengan mata yang dingin dan aneh.

“Ayah, apakah Ayah sehat?”

Saudaraku membungkuk dalam-dalam kepada ayah kami.

“Selamat datang kembali.”

Aku mengamati ekspresi ayah. Wajahnya menunjukkan kebahagiaan menyambut kepulangan saudaraku. Di sisi lain, saudaraku tampak gugup. Aku bisa merasakan tubuhnya gemetar.

“Ayah tampak bahagia karena putra sulung Ayah telah kembali.”

Ayah tidak menanggapi komentarku. Ayah yang berjalan bersamaku di Desa Maga dan ayah yang sekarang terasa berbeda.

Aku memahami ayah yang lebih pendiam itu.

Sebelum regresi yang kulalui, sekitar waktu ini, ayah telah menganggap saudaraku sebagai penerus. Regresiku mengguncang hati ayah, tetapi orang yang pertama kali memasuki hati itu adalah saudaraku.

Jika aku tidak memahami perasaan ayah terhadap saudaraku, aku tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan ini. Dan aku tidak boleh lupa. Musuh utamaku bukanlah ayah maupun saudaraku.

“Bagaimana jalannya tugas itu?”

Menanggapi pertanyaan ayah, saudaraku menjawab dengan penuh percaya diri.

“Aku telah mengatasi semua rintangan terakhir.”

Wajah ayah berseri-seri mendengar kata-kata itu. Saudaraku tidak sedang menangani tugas-tugas sepele di perbatasan.

Sembilan Tembok Iblis.

Sembilan Tembok Iblis adalah tempat latihan rahasia sekte kami, yang tersembunyi di perbatasan.

Ayah telah memberi saudaraku akses ke tempat itu. Seperti halnya Gua Surgawi, Sembilan Tembok Iblis hanya bisa dimasuki dengan izin dari Heavenly Demon.

Melewati Sembilan Tembok Iblis bukanlah prestasi yang mudah. Tempat itu satu tingkat di atas Gua Surgawi yang sebelumnya pernah kulewati. Namun, seseorang bisa memilih untuk mundur dari Sembilan Tembok Iblis di tengah jalan. Itu adalah rintangan yang lebih aman namun jauh lebih menantang.

Sima Myung juga merasa sangat senang.

“Selamat, Tuan Muda Sulung. Berhasil melewati semua ujian! Ini benar-benar menunjukkan bahwa darah tidak bisa dibohongi.”

Saudaraku telah mewarisi darah ayah kami. Dalam hal bakat seni bela diri, dia ada di tingkat teratas tanpa tandingan.

Aku pura-pura tidak tahu dan bertanya, “Apa yang telah dia lewati?”

Sima Myung tersenyum dan menjawab, “Tuan Muda Sulung telah melewati Sembilan Tembok Iblis.”

Aku tiba-tiba memeluk saudaraku.

“Itu luar biasa, Saudaraku!”

Ayah dan Sima Myung cukup terkejut dengan tindakanku. Namun, saudaraku, yang telah mengalami perubahan-perubahanku, menerima ucapanku dengan tenang.

“Terima kasih.”

“Jadi, kau juga telah menguasai Ilmu Pedang Membumbung?”

Jika hanya ada kami berdua, dia mungkin tidak akan menjawab, tetapi karena Ayah hadir, dia menjawab dengan jujur. Tentu saja, ia mengarahkan jawabannya kepada Ayah, bukan kepadaku.

“Ayah, aku juga telah menguasai Ilmu Pedang Membumbung selama proses melewati Sembilan Tembok Iblis.”

“Selamat.”

“Ini semua berkat ajaran Ayah. Terima kasih.”

Tatapan Ayah beralih kepada saudaraku dan aku.

Aku bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkannya saat ini.

“Selamat, Tuan Muda Sulung.”

“Terima kasih, Penasihat.”

“Selamat, Saudaraku.”

“Terima kasih.”

“Di dalam suasana yang harmonis ini, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada Ayah.”

Aku mengarahkan tatapanku kepada Ayah.

“Bagi kami, pemotongan tali pusar adalah sebuah sinyal bahwa pertarungan untuk memperebutkan posisi penerus telah dimulai. Begitulah kehidupan kami dulu dan begitulah seterusnya. Jadi Ayah, kali ini, aku berencana untuk terlibat dalam persaingan yang adil dengan saudaraku. Bagaimana menurutmu, Saudaraku?”

Alih-alih menjawabku, saudaraku berbicara kepada Ayah.

“Ayah, aku tidak menyadari betapa Mugeuk telah tumbuh selama aku pergi. Dia benar-benar telah dewasa.”

Ayah hanya menatap kami berdua dalam diam. Apa yang sedang dipikirkannya? Apakah beliau sedang menilai kami berdua tentang siapa yang akan menjadi penerus yang lebih baik bahkan pada saat ini? Atau apakah beliau khawatir kami akan saling menghabisi seperti yang terpaksa beliau lakukan dengan kakak laki-lakinya?

Ayah sama sekali tidak menyebutkan saranku. Persaingan yang adil? Jika hanya ada kami berdua, beliau mungkin akan menyebutnya sebagai sentimen murahan yang sangat cocok untuk mati.

Tetap saja, aku mengatakannya kepada Ayah karena aku ingin menunjukkan niatku untuk mencoba membawa serta saudaraku.

“Pergilah dan istirahatlah untuk saat ini.”

Saudaraku dan aku membungkuk kepada Ayah dan berjalan melewati Jalan Darah keluar dari Heavenly Demon Pavilion.

Di pintu masuk, aku bertanya kepadanya, “Mengapa kau ingin menjadi Heavenly Demon, Saudaraku?”

Dia tiba-tiba berkata, “Karena jika aku tidak melakukannya, aku akan mati.” [6]

Aku mengharapkan jawaban yang berbeda darinya, tetapi itu adalah jawaban yang sangat terus terang.

“Apakah menurutmu kau akan mati jika kalah dalam pertarungan suksesi?”

“Semua orang yang kalah sejauh ini telah mati.”

“Tidakkah kita bisa menghindari saling membunuh? Kasih sayang persaudaraan antara Geom Muyang dan Geom Mugeuk, menorehkan sejarah dalam sekte iblis.”

“Menurutmu saudara-saudara lain tidak memiliki pemikiran seperti itu? Pada akhirnya… manusia semuanya berkhianat.”

“Kalau begitu, janganlah kita menjadi seperti mereka.”

Dia terkekeh mendengarkan perkataanku dan mulai berjalan mendahului.

Aku memanggilnya saat ia berjalan menjauh.

“Aku bersungguh-sungguh tentang persaingan yang adil itu.”

Saudaraku berhenti dan berbalik untuk menatapku.

“Kalau begitu, seharusnya kau tanyakan dulu apakah ada niat baik di dalam hatiku. Apakah kau memilikinya?”

“Aku memilikinya.”

“Kalau begitu, pertarungan ini dimulai dengan keuntungan di pihakku.”

Menyaksikan punggungnya saat ia berjalan pergi, aku akhirnya mengeluarkan tawa kecil.

Ya, bagaimana bisa ini menjadi hal yang mudah? Cukup menantang untuk membuat seseorang yang menyukaimu berbalik menjadi sekutumu.

‘Tetap saja, Saudaraku, kita harus melakukannya. Pisau yang dihunus ke punggung kita tidak akan disebut persaudaraan, melainkan Hwa Moogi.’

————————————————————

—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *