Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 81: Ayo Jalani Kehidupan yang Berbeda >
Pemimpin Sekte Angin Surgawi tidak terkejut melihatku dan Gowol.
“Bolehkah kami bergabung denganmu?”
Meskipun dia telah menunggu kami, dia melontarkan komentar sarkastik.
“Apakah kamu menyombongkan diri karena memiliki orang baru?”
“Bukankah itu sebabnya kamu makan di sini, untuk menyombongkan diri?”
Gowol dan aku duduk di hadapannya.
Sang Pemimpin Sekte melirik ke arah Gowol. Setelah beristirahat selama beberapa hari, tubuhnya sedikit lebih berisi dan kondisinya telah membaik, yang tampaknya membuat Pemimpin Sekte merasa gelisah.
“Tuan barumu sepertinya memperlakukanmu dengan baik.”
“Aku makan dan tidur dengan nyenyak.”
“Kamu tidak menyadari bahwa dia sedang membuatmu gemuk untuk sebuah perjamuan?”
“Aku harap itu adalah perjamuan yang megah.”
Aku percaya waktu juga akan menyelesaikan hubungan mereka di antara mereka.
Suatu hari nanti, Pemimpin Sekte akan berpikir, ‘Kenapa aku begitu terobsesi saat itu? Kalau dipikir-pikir sekarang, itu bukan apa-apa.’
Atau justru ini akan menjadi luka yang tak terlupakan, sebuah penyesalan yang akan menghantuinya?
Meskipun aku telah hidup lama, aku tidak dapat memastikan hal-hal yang belum pernah aku alami atau perasaan orang lain.
Sebelum dia menjadi semakin suram, aku mengalihkan pembicaraan.
“Apakah kamu sudah bertemu dengan ayahku?”
“Aku sudah menemuinya.”
“Apakah kamu memberitahunya? Bahwa kamu akan melatih Penguasa Iblis Pembantai Jiwa yang baru agar menjadi lebih kuat?”
“Sudah. Dia tampak senang, persis seperti yang kamu katakan.”
“Dia tidak mengatakan hal lain?”
“Dia mengatakan sesuatu. Dia bertanya kapan pelatihan seni bela diri Cheong Seon akan selesai. Dia tampak begitu bersemangat agar aku cepat kembali.”
“Lalu apa jawabmu?”
“Aku memberitahunya bahwa aku masih harus menemukan artefak ilahi dan bahwa masih banyak yang harus diajarkan.”
“Kamu melakukannya dengan baik.”
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Aku akan mencari cara.”
“Kamu tidak akan meminta artefak ilahi yang lain sebagai imbalan, bukan?”
“Aku akan mendiskusikannya dengan ahli strategi-ku.”
Sesaat, ekspresi Pemimpin Sekte mengeras.
“Apakah itu pantas dikatakan kepadaku sekarang?”
Aku dengan tenang berbicara kepada Pemimpin Sekte.
“Pemimpin Sekte.”
“Aku mendengarkan.”
“Kamu kehilangan satu orang ketika kamu datang ke sekte kami, tetapi bukankah kamu mendapatkan orang lain? Jika kamu terus hidup dengan melihat ke masa lalu, kamu akan kehilangan orang itu juga.”
Ekspresi Pemimpin Sekte semakin mengeras, tetapi dia tidak bisa marah. Cheong Seon, yang telah menjadi Penguasa Iblis Pembantai Jiwa, bukanlah seseorang yang bisa dianggap remeh.
“Cheong Seon, yang telah kamu terima sebagai muridmu, adalah orang yang ambisius. Fokuslah padanya.”
Mungkin karena rasa kesal atas saranku, Pemimpin Sekte melampiaskan rasa frustrasinya kepada Gowol.
“Seperti yang kamu katakan, jika Tuan Muda Kedua di sini menjadi pahlawan yang tak tertandingi, banyak sekali orang yang akan berkumpul di sekitarnya. Banyak dari mereka yang akan lebih pintar darimu. Kamu pada akhirnya hanya akan menjadi salah satu dari orang-orang tidak penting itu. Siapa namanya tadi? Ah, belenggu itu! Kamulah persis orang yang akan menjadi seperti itu.”
Aku menyadari bahwa ucapan ini tidak ditujukan kepada Gowol, melainkan kepadaku. Itu adalah peringatan halus dari Pemimpin Sekte dari Sekte Angin Surgawi agar tidak memperlakukan Gowol dengan cara seperti itu. Pria ini benar-benar peduli pada Gowol.
Pada saat itu, Gowol tiba-tiba bersuara.
“Tuan Muda Kedua memberiku satu juta nyang.”
Aku terkejut dalam hati, karena aku tidak pernah menyangka dia akan menyombongkan uang yang diterimanya dariku dalam situasi seperti ini.
“Kamu bilang bahwa Geom Mugeuk itu munafik, kan? Jika kamu ingin bersikap munafik, lakukanlah dalam skala yang sebesar ini.”
Karena bahkan aku pun terkejut, wajar saja jika Pemimpin Sekte merasa tercengang. Rasa tercengangnya dengan cepat berubah menjadi amarah.
“Simpan nasihatmu untuk tuan baru yang cerdas itu!”
Pemimpin Sekte bangkit berdiri dan pergi dengan penuh amarah.
Karena tahu bahwa Gowol bukanlah orang yang gegabah, aku bertanya kepadanya dengan tenang.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
Itu memang sebuah tindakan yang disengaja.
“Sebagai seorang ahli strategi, aku memiliki usulanku yang pertama untukmu.”
“Apa itu?”
Gowol menatapku lekat-lekat dan berbicara.
“Aku ingin merekrut Pemimpin Sekte dari Sekte Angin Surgawi.” [1]
Aku terkejut mendengar kata-katanya yang tak terduga.
“Apakah maksudmu kamu ingin membawa Pemimpin Sekte ke pihak kita?”
Gowol mengangguk menanggapi pertanyaanku.
“Ya.”
“Apakah hal itu bahkan mungkin?”
“Aku tidak dapat memastikannya, tetapi ada kemungkinan.”
“Lalu kenapa kamu membuatnya marah?”
“Aku punya alasannya sendiri.”
Tampaknya itu adalah langkah awal untuk merekrut Pemimpin Sekte.
“Bolehkah aku bertanya mengapa kamu ingin merekrutnya?”
Setelah jeda singkat, Gowol memberikan alasan yang tidak aku antisipasi.
“Karena aku ingin menyelamatkannya.”
“Apakah dia akan mati jika dia tidak bergabung dengan kita?”
“Ya, aku yakin itu akan terjadi.”
“Kenapa kamu berpikir begitu?”
“Karena Pemimpin Sekte Iblis Surgawi.”
“Maksudmu ayahku? Kenapa?”
Karena Gowol sedang menyebut Iblis Surgawi, dia merendahkan suaranya.
“Perbedaan kapasitas di antara kedua pemimpin itu terlalu besar. Ayahmu memiliki salah satu bakat seni bela diri terhebat di antara semua Iblis Surgawi. Dia juga sangat ambisius. Pada akhirnya, Sekte Angin Surgawi akan dilahap oleh Sekte Iblis Surgawi.”
Aku menyetujui penilaian Gowol. Tanpa Gowol, Sekte Angin Surgawi mungkin tidak akan dapat merekrut ahli strategi baru dengan baik dan bisa menghadapi bencana yang tak terhitung jumlahnya.
“Jadi kamu ingin menyelamatkan Pemimpin Sekte Angin Surgawi?”
“Ya, benar sekali. Jika dia menjadi salah satu orangmu, dia bisa menghindari bencana itu.”
Untuk mendapatkan Pemimpin Sekte Angin Surgawi? Keputusan itu dapat memicu berbagai masalah, tetapi itu tampaknya menjadi pilihan dengan keuntungan yang sebanding dengan kerugiannya. Yang terpenting dari semuanya…
“Ini adalah usulan pertama dari ahli strategiku, jadi aku harus menerimanya. Baik lah, mari kita coba membawa Pemimpin Sekte Angin Surgawi ke pihak kita.”
“Terima kasih.”
Gowol menundukkan kepalanya dengan hormat.
Aku berniat memperlakukannya dengan layak sebagai ahli strategiku, persis seperti yang dilakukan ayahku terhadap Sima Myung.
“Apakah kamu tidak khawatir aku akan mengacaukannya?”
“Apa?”
“Kamu tahu bahwa Pemimpin Sekte dan aku terikat secara emosional. Jika aku salah menangani dia, Sekte Angin Surgawi bisa menjadi musuh kita.”
“Hal itu bisa saja terjadi.”
“Lalu kenapa kamu mengizinkannya?”
“Apakah menurutmu saling menghindari akan membuat keadaan menjadi lebih baik? Aku percaya bahwa tidak saling melihat hanya akan meningkatkan kebencian dan kemarahan. Aku pikir lebih baik menghadapi Pemimpin Sekte, berdebat, dan menyelesaikan masalah. Apakah kita menjadikannya sekutu atau mengubahnya menjadi musuh, mari kita capai sebuah kesimpulan.”
Sama seperti dengan Iblis Pedang Surga Darah dan Penguasa Pedang Satu Tebasan. Wajah Gowol menjadi cerah mendengar kata-kataku.
Aku mengulurkan tangan kepadanya.
“Mari kita berjabat tangan untuk menyetujuinya.”
Gowol menggenggam tanganku dan berkata.
“Tangan ini lebih kokoh daripada sebuah belenggu.”
“Apakah maksudmu ini tangan yang bisa mematahkan besi abadi? Atau tangan yang akan memelukmu seperti sebuah belenggu?”
“Yang mana yang kamu maksud?”
“Aku menganggap keduanya sama.”
“Aku menyukai keduanya.”
Kami berjabat tangan dengan erat.
Akhirnya, aku memiliki seorang ahli strategi.
* * *
Keesokan harinya, aku mengunjungi Pemimpin Sekte Angin Surgawi.
“Ini adalah teh yang bagus dari Dataran Tengah.”
Pemimpin Sekte mendengus alih-alih berterima kasih kepadaku.
“Apakah kamu ke sini untuk menyombongkan diri karena telah memberikan satu juta nyang kepada ahli strategimu? Pasti menyenangkan memiliki begitu banyak uang.”
“Aku hanya ingin menemuimu. Dan bukankah kamu memiliki uang seratus kali lipat lebih banyak dariku?”
“Seratus kali? Lebih mirip seribu kali.”
“Tentu saja. Aku juga tahu diri. Untuk apa aku menyombongkan uang di depanmu?”
“Lalu untuk apa kamu datang ke sini?”
“Aku hanya ingin mengobrol sambil minum teh.”
Pemimpin Sekte menatapku dengan curiga. Itu adalah reaksi yang wajar, mengingat kebencian yang telah terkumpul dalam dirinya karena aku mengenai masalah Gowol, ditambah artefak-artefak ilahi di belakangnya.
“Sebenarnya, aku memiliki kekhawatiran yang berkaitan dengan Gowol.”
“Kekhawatiran seperti apa?”
“Kamu melihatnya kemarin, kan? Bagaimana dia menyombongkan uang begitu saja di depanmu.”
“Apakah maksudmu kamu kecewa?”
Aku tidak mengatakan apa-apa, tetapi aku menunjukkan ekspresi yang sedikit kecewa. Tentu saja, itu adalah sesuatu yang telah diatur oleh Gowol. Kemarin, Gowol telah memamerkan uangnya untuk menciptakan situasi persis seperti ini.
“Aku tidak tahu banyak tentang Gowol.”
“Lalu kenapa kamu menunjukkan pengabdian yang begitu ekstrem?”
“Jadi aku memikirkannya baik-baik…”
“Lalu?”
“Mungkin dia bertindak sebagai batu loncatan untuk menjalin hubungan antara Pemimpin Sekte dan aku.”
“Apakah orang itu tahu? Bahwa kamu menusuknya dari belakang seperti ini.”
“Ini bukan fitnah atau pengkhianatan. Ini hanyalah kebenaran yang sesungguhnya.”
“Jadi, apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?”
“Aku penasaran apakah Gowol adalah orang yang bisa dipercaya.”
Sedikit ketidaksenangan melintas di wajah Pemimpin Sekte Angin Surgawi.
“Dengar, Tuan Muda Kedua.”
“Ya.”
“Aku sarankan kamu pergi untuk hari ini mumpung aku masih bersikap sopan.”
Menghadapi penolakan yang dingin itu, aku hanya membungkuk dan berdiri.
“Kalau begitu, sampai jumpa di lain waktu.”
Di USIR seperti ini juga masih berada dalam perkiraan Gowol.
* * *
Keesokan harinya, Gowol mengunjungi Pemimpin Sekte Angin Surgawi.
“Apa maksud dari perilaku ini?”
Meskipun begitu, dia bersikap lebih menyambut daripada ketika Geom Mugeuk datang.
“Aku datang sebagai tamu, jadi tolong tunjukkan sedikit kesopanan.”
“Sungguh omong kosong.”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi memalingkan wajahnya.
Gowol pergi ke meja terdekat dan menyeduh teh sendiri. Karena bahkan para pelayan jarang diizinkan masuk ke tempat tinggal Pemimpin Sekte, biasanya Pemimpin Sekte sendirilah yang menyeduh teh.
“Apakah kamu mencoba meracuniku?”
“Apa untungnya bagiku meracunimu, Pemimpin Sekte?”
“Kamu bisa menikmati hidup bersama Tuan Muda Kedua di dunia tanpa aku, bukan?”
“Kamu harus tetap hidup agar aku bisa menyombongkan diri, seperti yang kamu lakukan dengan uangmu kemarin.”
“Sinting benar bajingan ini.”
Gowol membawakan teh itu.
“Silakan diminum. Kalau dipikir-pikir, baru kali ini aku secara pribadi menyuguhkan teh untukmu.”
Meskipun merasa tidak senang, Pemimpin Sekte meniup teh itu dan meminumnya.
“Bagaimana rasanya?”
“Rasanya mengerikan.”
“Aku akan minum satu cangkir saja lalu pergi.”
“Lakukan sesukamu.”
Keduanya meminum teh mereka dalam keheningan. Kemudian tiba-tiba, Pemimpin Sekte berbicara.
“Tuan Muda Kedua tidak sepenuhnya mempercayaimu.”
Awalnya, dia sama sekali tidak berniat untuk memberitahunya. Dia ingin Geom Mugeuk merasakan tekanannya, itulah perasaan jujurnya. Namun saat berhadapan dengan Gowol, dia merasa sulit untuk menahannya.
“Apakah ini upaya untuk menabur perselisihan?”
Setelah bersusah payah memberitahunya, dan sekarang malah begini? Pemimpin Sekte mencemooh saat dia bersiap untuk meluapkan amarahnya.
“Pikirkan apa pun yang kamu mau.”
Pada saat itu, Gowol tersenyum dan berkata,
“Aku tersentuh. Bahwa kamu bahkan mau mengatakan hal-hal seperti itu kepadaku.”
“Bukankah tadi kamu bilang itu menabur perselisihan?”
“Aku tahu itu bukan.”
“Bagaimana caranya?”
“Itu adalah bagian dari rencana.”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi terkejut mendengar kata ‘rencana’.
“Rencana? Rencana apa?”
“Ini adalah rencana untuk membujukmu agar bergabung, Pemimpin Sekte. Tuan Muda Kedua mencurigaiku, jadi dia mendesakku, dan kami menggunakan hatimu yang lemah untuk menarikmu ke pihak kami.”
“Apa?”
Pemimpin Sekte, yang sempat terpana sejenak, meninggikan suaranya.
“Apakah kamu pikir aku akan tertipu oleh rencana sepele seperti itu?”
“Jika aku terdesak, apakah kamu hanya akan diam saja dan menonton?”
“Tentu saja! Kamu kan sudah pergi; untuk apa aku peduli?”
“Lalu kenapa kamu begitu emosional sekarang?”
“Aku tidak emosional. Aku tidak!”
Tetapi jelas bahwa Pemimpin Sekte sedang gelisah.
“Lalu kenapa kamu menceritakan hal ini kepadaku?”
“Karena aku tidak ingin menipumu agar kamu mau ikut.”
Pemimpin Sekte ragu-ragu, tidak tahu harus berkata apa. Pada saat itu, Gowol berbicara lagi.
“Bahkan mengatakan hal ini adalah bagian dari rencana. Ini agar membuatmu lebih mempercayaiku.”
“Sebenarnya apa yang sedang kamu bicarakan? Bahkan setelah pergi, pria mirip hantu ini terus menyiksaku! Pergi sana! Enyah!”
“Nah, itu baru terdengar seperti dirimu, Pemimpin Sekte.” [2]
“Kamu pikir berteriak itu mirip sepertiku? Apakah kamu sedang mengejekku? Baik! Aku akan berteriak sepuas hatiku, jadi ejeklah aku sesukamu!”
Setelah berteriak beberapa saat, Pemimpin Sekte merasakan secercah ketenangan.
“Kenapa kamu begitu ngotot ingin membujukku?”
“Karena kalau terus begini, kamu akan menjadi korban dari Pemimpin Sekte Iblis Surgawi.”
Gowol telah bersikap jujur kepada Pemimpin Sekte dari awal hingga akhir.
“Aku tidak akan menjadi korban! Aku akan mencari prajurit baru begitu aku kembali.”
“Kamu tahu kan kira-kira siapa di Sekte Angin Surgawi yang akan menggantikan posisiku? Mereka tidak akan cukup.”
“Aku akan mencari seseorang, sama seperti aku menemukanmu.”
“Apakah keberuntungan seperti itu akan datang dua kali?”
“Sialan! Sialan kau, bocah kurang ajar!”
“Aku telah menunjukkan semua kartuku. Sekarang giliranmu untuk menunjukkan kartumu, Pemimpin Sekte.”
cerita“…Seolah-olah kamu belum tahu semua kartuku saja.”
Pemimpin Sekte menghela napas panjang.
“Geom Mugeuk akan mengambil semuanya dariku.”
“Kalau begitu, setiap kali, ambillah apa yang kamu inginkan. Jika kamu kehilangan satu hal, dapatkan hal lain untuk mengisi kekosongan itu.”
“Aku tidak bisa mengurus hal semacam itu dengan kepalaku sendiri.”
“Aku akan membantumu.”
“Urusi saja dirimu sendiri. Jangan sampai akhirnya menjadi orang bukan siapa-siapa dan terikat. Semua manusia yang berpura-pura baik atau superior itu pada akhirnya sama saja.”
“Itulah sebabnya. Karena mereka sama, mari kita jalani bersama-sama.”
“Apakah aku benar-benar bisa mempercayaimu?”
“Apakah kamu takut?”
“Bukankah kamu juga akan takut jika berada di posisiku?”
Pada saat itu, ekspresi Gowol berubah, dan dia tiba-tiba mengubah nada bicaranya.
“Pemimpin Sekte.”
Pemimpin Sekte menatapnya dengan campuran rasa terkejut dan menyambut.
“Jangan berbohong. Kamu tidak pernah merasa gugup seumur hidupmu, bukan? Bahkan sekali pun. Tidak ada satu pun hal yang pernah mengancammu, Sang Pemimpin Sekte. Hanya karena memikirkan petualangan ke Dataran Tengah saja membuatmu gugup? Jangan berbohong. Kamu selalu mengelu-elukan tentang berpetualang ke Dataran Tengah, tetapi kamu tidak pernah benar-benar memikirkan apa artinya itu, apa konsekuensinya nanti. Sejujurnya, itu selalu menjadi gangguan bagimu, bukan?”
Dia tidak bisa menyangkalnya. Kakek dan ayahnya telah menganggap hal itu sebagai keinginan seumur hidup mereka, jadi dia pun mewarisinya sebagai keinginannya sendiri. Dia hanya ingin berpetualang ke Dataran Tengah karena jika menolaknya, rasanya seperti menjadi seorang pengkhianat bagi Sekte Angin Surgawi.
“Kamu bisa membunuh seseorang hanya dengan satu patah kata, merangkul perempuan-perempuan cantik yang tak terhitung jumlahnya, dan menikmati hidangan paling lezat setiap hari. Itulah kehidupan yang diimpikan oleh semua orang. Namun, Pemimpin Sekte, kamu telah menjalani kehidupan itu sepenuhnya, bukan? Tidak ada lagi sensasi atau kebahagiaan yang tersisa dalam hidupmu itu, kan? Pemimpin Sekte, ayo jalani kehidupan yang berbeda. Kehidupan yang menegangkan, mendebarkan, dan membuat jantung berdegup kencang. Mari kita tunjukkan kepada dunia seperti apa badai darah yang sesungguhnya. Seni bela dirimu sedang berkarat di tengah badai pasir; mari kita tunjukkan kepada dunia seperti apa pertarungan yang sesungguhnya. Ini adalah kehidupan di mana kamu mungkin mati dengan suara mengerang jika kamu sedang tidak beruntung. Tapi untungnya, kita punya seseorang yang akan membawakan bunga ke makam satu sama lain, bukan?”
Keduanya saling mengunci pandangan di udara. Akhirnya, Pemimpin Sekte Angin Surgawi berbicara dengan lembut.
“Panggil Tuan Muda Kedua.”
—
