Penerjemah: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Catatan Editor/Pemeriksa Kualitas: Saphartlantis
Konsultan Istilah Murim: Kopke
========================
< Bab 69: Metode Curang Itu Efektif >
Aku memasuki Keluarga Pedang Surga Utara.
Seperti biasa, Sa Woojong membimbingku menuju Penguasa Pedang Satu-Tebasan.
“Selamat datang, Pemimpin.”
“Apa kabarmu?”
“Berkat perhatianmu, aku baik-baik saja.”
Dia menyapaku seperti biasa. Meskipun gagal menyingkirkanku dengan menggunakan Penguasa Iblis Penjemput Roh, dia tidak menunjukkan rasa bencinya.
Hari ini, aku berniat menggunakan Cheong Seon sebagai umpan, memanfaatkan ambisinya yang tersembunyi untuk menjebaknya.
“Masuklah!”
Penguasa Pedang Satu-Tebasan menyambutku dengan hangat. Sudah agak lama sejak terakhir kali aku melihatnya, dan dia tampak jauh lebih segar.
“Kamu terlihat lebih muda.”
Menanggapi sapaanku, dia membimbingku ke taman.
“Mari, lihat ini.”
Ada tunas-tunas di tempat yang ditunjuknya.
“Itu adalah benih yang kamu berikan sebagai hadiah padaku.”
“Oh! Mereka sudah tumbuh.”
“Ya, kehidupan ini sungguh misterius.”
Aku bisa merasakan energi Sa Woojong semakin meredup saat dia berdiri di belakang kami. Sejak memasuki tempat ini, aku telah diam-diam memantaunya dengan memancarkan enerjiku.
Dibandingkan dengan saat pertama kali aku mempelajari teknik ini dari ayahku, kemampuanku telah meningkat pesat. Sekarang, aku tidak hanya bisa merasakan kehadiran dan rupa lawanku, tetapi juga emosi mereka.
Aku diam-diam mengirimkan pesan telegrafi pikiran kepada Sang Penguasa Pedang.
—Bisakah kamu menyuruh Sa Woojong membawakan minuman dan camilan? Aku perlu menyampaikan beberapa informasi kepadanya. Nanti akan kujelaskan.
—Dimengerti.
Penguasa Pedang Satu-Tebasan memerintahkan Sa Woojong untuk membawakan minuman. Saat pria itu patuh dengan sopan dan berbalik untuk pergi, emosinya semakin bergejolak.
Wanita itu, yang biasanya tidak minum, kini sedang minum, dan berbicara secara akrab hanya kepadaku.
Dilihat dari pergeseran emosinya, dia mungkin berpikir aku telah merebut Penguasa Pedang Satu-Tebasan darinya.
Aku menduga hubungannya dengan Cheong Seon juga tidak normal. Kejatuhannya kelak membuktikan semuanya.
Ketika Sa Woojong kembali membawa minuman dan camilan beberapa saat kemudian, aku menjatuhkan sepotong informasi. Meskipun aku berbicara kepada Sang Penguasa Pedang, itu sebenarnya dimaksudkan agar didengar oleh Sa Woojong.
“Saat ini, kandidat yang paling mungkin untuk posisi Penguasa Iblis Penjemput Roh berikutnya adalah murid pertama, Yang Dao, dan murid ketiga, Cheong Seon.”
Aku merasakan Sa Woojong tersentak saat nama Cheong Seon disebutkan.
“Kudengar Yang Dao lebih berpeluang.”
“Itu benar. Namun, bukan berarti Cheong Seon tidak punya kesempatan.”
“Metode apa yang mungkin ada?”
Penguasa Pedang melanjutkan percakapan denganku. Dia pasti penasaran mengapa aku membicarakan hal semacam itu di hadapan Sa Woojong, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda keheranan dan bertindak secara wajar.
“Pemimpin Aliansi Angin Surgawi saat ini berada di sekte kita, bukan? Seni bela diri yang dipelajari oleh Pemimpin Aliansi Angin Surgawi dan Penguasa Iblis Penjemput Roh berasal dari akar yang sama. Oleh karena itu, jika Pemimpin Aliansi Angin Surgawi dapat mewariskan seni bela dirinya kepada Cheong Seon, dia akan memiliki kesempatan.”
“Apakah Pemimpin Aliansi Angin Surgawi benar-benar akan menerimanya?”
“Pemimpin Aliansi Angin Surgawi akan menerimanya. Seperti yang diketahui semua orang, Aliansi Angin Surgawi selalu ingin berekspansi ke Dataran Tengah. Dengan menerima Cheong Seon sebagai muridnya dalam situasi ini, itu akan memberinya dalih untuk tinggal di sini dan pengaruh politik untuk bernegosiasi. Sebaliknya, justru Cheong Seon yang mungkin tidak ingin menerimanya.”
“Kenapa begitu?”
“Sepertinya Penguasa Iblis Penjemput Roh telah mendidik murid-muridnya secara menyeluruh. Dia mungkin tidak berbicara hal-hal baik tentang saingannya, Pemimpin Aliansi Angin Surgawi.”
“Masuk akal juga.”
“Jika keadaan tetap seperti ini, Yang Dao akan mengambil alih posisi Penguasa Iblis Penjemput Roh. Sayangnya, Cheong Seon akan kehilangan kesempatannya untuk menjadi Penguasa Iblis.”
Hanya sebatas itulah hal yang kubicarakan sampai Sa Woojong pergi, meninggalkan minuman dan camilan di atas meja. Aku berbicara dengan cepat, dan dia meletakkan minuman serta camilan di atas meja secara perlahan. Dia pergi dengan lambat, berusaha mencuri dengar sebanyak mungkin.
Ini sudah cukup. Dia telah mendengar semua poin pentingnya.
Aku yakin Sa Woojong pasti akan membujuk Cheong Seon untuk menjadi murid Pemimpin Aliansi Angin Surgawi. Pria ambisius sepertinya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagi wanita kekasihnya untuk menjadi Penguasa Iblis Penjemput Roh.
Begitu aku memastikan dia telah benar-benar pergi, Penguasa Pedang Satu-Tebasan akhirnya bertanya.
“Kenapa kamu membuat permintaan seperti itu?”
“Sa Woojong dan Cheong Seon memiliki hubungan asmara. Apa kamu tahu?”
“Sa Woojong? Aku tidak tahu tentang itu.”
“Kamu mungkin tidak tahu, tetapi menurut penyelidikan kami, Sa Woojong adalah orang yang sangat ambisius. Dia mungkin mencoba memanipulasimu dari balik layar.”
Aku memperingatkannya tetapi tidak menyebutkan bahwa Sa Woojong secara pribadi menyukainya.
“Aku punya sedikit gambaran.”
“Sambil mengawasi Sa Woojong, yang mungkin bisa mencelakakanmu, aku menemukan hubungan mereka. Itulah sebabnya aku membuat permintaan seperti itu, untuk memanfaatkan fakta ini.”
“Begitu ya. Terima kasih telah memberitahuku.”
“Akulah yang seharusnya berterima kasih. Sambil tetap mewaspadainya, tolong tangani urusan yang melibatkan Sa Woojong seperti biasa untuk saat ini.”
“Akan kulakukan.”
Aku berencana membalas budi bantuannya dengan apa yang paling dia inginkan.
“Bagaimana kalau kita segera bertarung tanding?”
“Aku akan menantikannya.”
Jujur saja, akulah yang paling menantikannya. Aku ingin melihat seberapa berguna Teknik Mata Baru dalam pertarungan yang sebenarnya.
Tetapi pertama-tama, aku harus menangani situasi saat ini.
Saat aku meninggalkan tempat itu, aku menoleh ke belakang. Aku melihatnya berdiri di halaman dengan tangan di belakang punggung, menengadah ke langit.
Pondok jerami itu tidak lagi tampak munafik.
* * *
Malam ini, Sa Woojong mengerahkan segenap tenaga ke dalam waktu intim mereka.
Berkat ini, Cheong Seon merasakan kenikmatan yang belum pernah dia alami sebelumnya.
Basah oleh keringat, keduanya berbaring berdampingan di atas ranjang.
“Ada sesuatu yang terjadi hari ini?”
“Tidak. Kenapa?”
“Kamu tidak seperti biasanya.”
“Lalu kenapa?”
“Rasanya sungguh luar biasa.”
Memang, Sa Woojong berbeda hari ini. Dia memeluknya lebih dulu dan bertanya,
“Apa kamu sibuk akhir-akhir ini?”
“Ada orang-orang yang bilang aku harus menjadi Penguasa Iblis.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Siapa yang tidak ingin menjadi Penguasa Iblis? Tapi aku tidak punya keyakinan kalau aku bisa mengalahkan Kakak Perguruan.”
“Kamu harus menjadi Penguasa Iblis.”
“Kenapa?”
“Jika Kakak Perguruanmu menjadi Penguasa Iblis, dia tidak akan membiarkanmu hidup.”
“..Kakak Perguruan bukan orang seperti itu.”
“Kamu baru saja ragu, bukan? Tahukah kamu kenapa kamu ragu? Karena jauh di lubuk hati, kamu tahu Kakak Perguruanmu adalah orang seperti itu.”
“Saat namamu disebut sebagai kandidat Penguasa Iblis berikutnya, kamu sudah berdiri di atas panggung seni bela diri di mana pertarungan hidup dan mati tidak bisa dihindari lagi.”
Sa Woojong sangat berharap Cheong Seon bisa naik ke posisi Penguasa Iblis.
Jika itu terjadi, dia bisa memanipulasi kekuatan besar Penguasa Iblis Penjemput Roh dari balik layar. Memikirkan hal itu saja sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
Dan di penghujung nafsu akan kekuasaan ini tetaplah sebuah hasrat yang menyimpang. Menjadi semakin kuat dan kuat.
‘Suatu hari nanti, aku akan menjadikan Sang Penguasa Pedang sebagai wanita milikku.’
Cheong Seon menatap lekat-lekat ke dalam mata Sa Woojong saat pria itu menatap kosong pada lukisan Penguasa Pedang Satu-Tebasan di dinding.
“Apa yang sedang kamu pikirkan sedemikian rupa?”
“Cara membawamu ke posisi Penguasa Iblis.”
“Untuk saat ini tidak ada jalannya.”
“Ada. Satu cara.”
“Cara apa?”
“Pemimpin Aliansi Angin Surgawi ada di sini sekarang. Jika kamu menerima seni bela diri darinya, kamu bisa mengalahkan Kakak Perguruanmu.”
“Itu omong kosong! Kamu tahu seni bela diri tidak berkembang secepat itu.”
“Kamu memiliki bakat alami, bukan? Dan lawannya bukan lain adalah Pemimpin Aliansi Angin Surgawi. Bahkan jika kamu hanya mempelajari satu teknik rahasia darinya, kamu bisa mengalahkan Kakak Perguruanmu.”
“Jika aku menjadi murid Pemimpin Aliansi Angin Surgawi, Penguasa Iblis lainnya akan membenciku.”
“Ini adalah masalah hidup dan mati. Bertahan hiduplah dulu, baru pikirkan sisanya nanti.”
Sa Woojong merapat lebih dekat kepadanya.
Dia tidak berhenti sampai wanita itu mengatakan ya.
* * *
“Keparat sialan! Aku tidak pernah membayangkan mereka bisa begitu hina.”
Pemimpin Aliansi Angin Surgawi tidak mampu menahan kemarahannya.
“Apakah ini sama sekali tidak mengganggumu?”
Pria yang dibelenggu itu hanya menatap diam ke arah Bel Gilintar.
“Katakan sesuatu.”
“Bukankah kamu sudah menduga ini? Bahwa mereka akan mencoba memulangkan kita dengan cara apa pun?”
“Aku tahu, aku tahu. Tapi aku tidak menyangka mereka akan menggunakan trik kotor seperti itu. Apakah ini masuk akal? Mempermainkan makanan kita?”
Menurut laporan yang baru saja masuk, kualitas dan kuantitas makanan yang disediakan untuk para bawahan yang menunggu di halaman luar telah berubah. Kuantitasnya berkurang, dan kualitasnya pun merosot. Daging yang bagus telah digantikan oleh potongan berlemak, dan alkoholnya diturunkan menjadi kualitas murahan.
“Siapa yang akan percaya? Bahwa Sekte Ilahi Iblis begitu picik hingga mempermainkan makanan kita. Aku lebih suka mereka meracuninya sekalian!”
Orang-orang yang memakan makanan itu bukanlah sembarangan orang melainkan kekuatan utama Aliansi Angin Surgawi—Sepuluh Badai Besar dan seratus Prajurit Darah. Dia tidak bisa tinggal diam karena merasa malu di hadapan mereka.
“Metode paling rendahan sering kali merupakan metode yang paling efektif. Dan tepatnya, ini bukanlah ulah Sekte Ilahi Iblis melainkan ulah Sang Buddha Iblis. Pemimpin Sekte di sini akan mengusir kita dengan paksa, bukan dengan merendahkan diri melakukan trik semacam itu.”
“Pria kecil itu tidak akan berani bertindak sejauh ini.”
“Situasi pasti telah mendesaknya. Tugasnya adalah meyakinkan Pemimpin Sekte. Dia perlu memulangkanmu untuk menjaga wajahnya di hadapan para Penguasa Iblis lainnya.”
“Ini bukan masalah yang bisa diabaikan begitu saja.”
Ini berkaitan langsung dengan martabatnya juga. Dia tidak bisa membiarkan bawahannya melihat dirinya diremehkan oleh Sekte Ilahi Iblis.
“Aku harus pergi menemui Pemimpin Sekte.”
“Dan apa yang akan kamu katakan? Menuntut mereka mengembalikan makanan kita?”
“Tentu saja, aku harus melakukannya. Aku akan berteriak bahwa bawahan terkutuk mereka telah mencuri semua makanan kita. Aku akan berguling-guling di lantai Paviliun Iblis Ilahi, mengatakan bahwa aku belum pernah melihat perilaku sekecil itu.”
“Baiklah kalau begitu, semoga perjalananmu menyenangkan.”
Tentu saja, Pemimpin Aliansi Angin Surgawi tidak bisa melakukan hal itu. Panah kemarahannya beralih ke arah lain.
“Apa yang sebenarnya sedang dilakukan oleh Tuan Muda Kedua yang sombong itu? Bukankah dia bilang akan mencari cara?”
“Tunggulah dengan sabar.”
“Aku mengatakan ini justru karena aku tidak bisa bersabar.”
“Mereka yang menghormatimu akan tetap menghormatimu, sang Pemimpin Sekte, bahkan jika mereka kelaparan, dan mereka yang tidak menyukaimu akan tetap membencimu bahkan jika kamu memberi mereka tiga kali makan kenyang sehari. Jadi, tidak perlu khawatir.”
“Jalan dunia tidak selalu berjalan seperti yang kamu pikirkan. Mereka yang menghormatiku akan merasa terluka, berpikir, ‘Bagaimana bisa kamu membuat orang yang begitu kamu hormati kelaparan?’ Dan mereka yang tidak menyukaiku akan menabur perselisihan di antara yang lain, berkata, ‘Sudah kuduga orang bodoh yang menyedihkan ini akhirnya akan berakhir seperti ini’.”
“Hanya mereka yang mampu bertahan menghadapi badai inilah yang seharusnya tetap tinggal.”
“Sialan! Keparat!”
Saat itu juga, kabar datang dari luar bahwa Cheong Seon telah tiba.
Pemimpin Aliansi Angin Surgawi menatap pria yang dibelenggu itu dengan ekspresi terkejut.
Pria yang dibelenggu itu tersenyum tipis, tampak seolah-olah dia telah menduga hal ini.
Cheong Seon segera masuk dan membungkuk dengan hormat.
“Aku memberi salam kepada Penguasa Mutlak yang dihormati. Aku Cheong Seon dari Formasi Ilusi Barat.”
“Aku sudah mendengar tentangmu. Bukankah kamu penyihir terkemuka dari Formasi Ilusi Barat?”
“Anda terlalu memuji. Aku meminta maaf karena tidak berkunjung lebih awal.”
“Tidak perlu. Aku menghargai kedatanganmu sekarang.”
“Aku mendengar dari mendiang guruku bahwa akar seni bela diri kita terletak pada Sekte Darah.”
“Itu benar. Dalam arti itu, kita bisa dianggap sebagai sesama murid. Jadi, apakah kamu mempelajari seluruh seni bela diri dari Penguasa Iblis?”
“Sayangnya, tidak. Itulah sebabnya aku ada di sini. Tolong terimalah aku sebagai muridmu!”
Pemimpin Aliansi Angin Surgawi menatap pria yang dibelenggu itu dan mengirimkan pesan telegrafi pikiran.
—Tuan Muda Kedua benar-benar sudah gila.
—Itulah sebabnya kita harus tetap bersamanya sampai akhir.
—Sial! Memikirkan dia datang untuk meminta persetujuanku saja sudah membuatku merasa mual.
—Gunakan kesempatan ini untuk memperluas pandanganmu yang sempit.
—Diam kamu!
Di saat percakapan internal ini terjadi, ekspresi Pemimpin Aliansi Angin Surgawi tetap terlihat muram.
“Aku sangat berharap seni bela diri dari tanah liar dapat bersinar di Dataran Tengah. Namun, aku tidak yakin apakah pemimpin sektemu akan mengizinkan ikatan yang begitu berharga ini.”
“Aku percaya tidak ada batasan di sekte kita mengenai cara menjadi seorang murid. Terlebih lagi, memperkuat Formasi Ilusi Barat seharusnya tidak ditentang oleh pemimpin sekte.”
“Apa kamu baik-baik saja dengan ini? Kakak perguruanmu mungkin akan mempermasalahkannya.”
“Ajari aku. Ajari aku cara mengalahkan Kakak Perguruan.”
Pemimpin Aliansi Angin Surgawi berbicara dengan lembut kepadanya.
“Kakak perguruanmu mungkin akan membunuhmu.”
Cheong Seon kemudian mendongak dan menatap Pemimpin Aliansi Angin Surgawi.
Tatapan di matanya bukanlah tatapan wanita pasif yang dikendalikan oleh seorang pria. Wanita polos yang telah terjerat dengan Sa Woojong dan wanita yang berdiri di sini sekarang pastilah dua orang yang berbeda.
Sa Woojong tidak mengetahuinya.
Dia tidak tahu bahwa sikap patuhnya di atas ranjang hanyalah sebagian kecil dari jati dirinya yang sesungguhnya.
Dia tidak menyadari bahwa perasaan wanita itu mencintainya bukanlah berasal dari kasih sayang sejati melainkan dari rasa cinta pada diri sendiri yang begitu pekat, yang tidak akan pernah melepaskan apa pun yang menjadi miliknya. Dia tidak mengerti bahwa wanita itu adalah tipe yang akan menghancurkan apa pun yang tidak bisa dia miliki. Sa Woojong tidak tahu apa-apa, karena dia adalah seorang bodoh yang bernasib sial.
Cheong Seon tersenyum tipis.
“Tetapi aku tidak boleh mati, kan?”
Pemimpin Aliansi Angin Surgawi, melihat kegilaan liar dan mentah di dalam mata wanita itu yang hanya bisa dimiliki oleh seorang *femme fatale* sejati, tersenyum puas.
“Penguasa Iblis Penjemput Roh berikutnya memang sangat menjanjikan.”
————————————————————
—
