Penerjemah: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Catatan Editor/Pemeriksa Kualitas: Saphartlantis
Konsultan Istilah Murim: Kopke
========================
< Bab 66: Mendapatkan Segalanya atau Kehilangan Segalanya >
Ekspresi Pemimpin Sekte Angin Surgawi dipenuhi dengan penyesalan.
Jelas sekali bahwa pria yang dibelenggu itu telah mengirimkan pesan melalui transmisi suara, menyuruhnya untuk memberikan saja item ilahi yang telah kupilih.
‘Apakah pria itu mencampuri keputusan Pemimpin Sekte pada saat yang begitu penting?’
Sesuatu yang sama sekali tak terduga telah terjadi.
“Apa kau bahkan tahu apa yang kau pilih?”
“Aku tidak yakin, tapi aku sangat tertarik kepadanya.”
Apa yang kupilih adalah bola kecil berbentuk telur yang terbuat dari logam.
Tentu saja, aku tahu persis apa benda ini. Ini bukan senjata atau permata. Apa yang ada di dalam objek mirip telur inilah yang terpenting.
Pemimpin Sekte Angin Surgawi mengambil bola tersebut dan menyentuh bagian bawahnya. Dengan suara klik, telur itu terbuka.
Tiba-tiba, aroma obat yang kuat namun pekat menguar keluar. Di dalamnya terdapat sebuah pil mujarab berwarna merah.
Pil Darah Ilahi.
Pil ini dikenal sebagai obat mujarab yang paling luar biasa tidak hanya di Sekte Angin Surgawi tetapi juga di dunia luar.
“Ini adalah Pil Darah Ilahi. Pernahkah kau mendengarnya?”
“Ya, aku tahu ini adalah pil mujarab yang sangat langka.”
“Langka bahkan bukan kata yang tepat untuk mendeskripsikannya.”
“Kenapa kau tidak meminumnya jika ini begitu berharga?”
“Aku telah menyimpannya untuk masa depan.”
“Dan kurasa masa depan itu adalah aku.”
Dia tidak akan pernah menduga bahwa aku akan memilih benda ini di antara begitu banyak item ilahi.
Pemimpin Sekte itu kembali menatap pria yang dibelenggu. Kemudian, aku menyadari bahu pria itu sedikit bergetar. Berkat penglihatanku yang ditingkatkan dari Teknik Mata Baru, aku bisa memastikannya dengan mataku.
‘Sudah pasti dia sedang mengirimkan pesan telepati.’
Dengan kata lain, Pemimpin Sekte itu tanpa ragu mengikuti instruksi pria ini. Atau paling tidak, berkonsultasi dengannya.
‘Si sebenarnya dia di dunia ini?’
Aku menjadi penasaran tentang pria itu, tapi aku berpura-pura tidak menyadarinya. Untuk saat ini, Pil Darah Ilahi adalah hal yang paling penting.
Untuk memberi mereka waktu, aku berpura-pura melihat item ilahi lainnya. Ada hal-hal yang hampir kuinginkan sama besarnya dengan Pil Darah Ilahi. Bisa atau tidaknya aku mendapatkannya bergantung pada pilihan dan tindakan Pemimpin Sekte.
Setelah beberapa saat, Pemimpin Sekte, yang tampak sepuluh tahun lebih tua, membuat keputusan yang sulit.
“Baiklah. Aku akan memberikan Pil Darah Ilahi kepadamu.”
“Terima kasih.”
Pemimpin Sekte, yang masih memegang Pil Darah Ilahi, bertanya kepadaku,
“Tapi aku tidak bisa memberikannya kepadamu sekarang. Beritahu aku bagaimana caramu berencana untuk tinggal di Sekte.”
Sepertinya dia tidak bisa berpisah dengan Pil Darah Ilahi begitu saja.
“Caranya begini.”
Sebelum Pemimpin Sekte sempat menghentikanku, aku mengambil Pil Darah Ilahi dari tangannya dan memasukkannya ke dalam mulutku. Matanya membelalak kaget, tidak menyangka aku akan langsung menelannya. 1
“Apa yang sedang kau lakukan?!”
Dia berteriak terlambat, tetapi aku sudah duduk dalam posisi bermeditasi.
“Tolong lindungi aku saat aku menyerap obat ini.”
Aku memejamkan mata dan mulai melarutkan efek pil tersebut. Jadi, sayangnya aku tidak bisa melihat ekspresi yang benar-benar bingung di wajah Pemimpin Sekte.
* * *
Meditasi dan sirkulasi energi Geom Mugeuk telah berlangsung selama dua jam.
Pemimpin Sekte Angin Surgawi dan pria yang dibelenggu sedang berbincang melalui transmisi suara.
Pria yang dibelenggu telah menenangkan Pemimpin Sekte, yang tadinya mengamuk dengan marah, mengancam akan membunuhku. Pria yang dibelenggu itulah juga yang bersikeras agar percakapan mereka dilakukan secara telepati untuk menghindari gangguan pada meditasiku.
—Hahaha.
—Sialan! Sialan semuanya!
Pria yang dibelenggu itu terus tertawa lewat telepati, sementara Pemimpin Sekte tidak dapat berhenti melampiaskan kemarahannya.
—Sialan! Haruskah aku membunuh keparat ini sekarang juga?
—Silakan saja. Bunuh dia, dan mulailah perang besar-besaran dengan Sekte Iblis Surgawi. Aku ingin sekali melihatmu dicabik-cabik oleh Iblis Surgawi.
—Sialan! Sialan semuanya! Apa-apaan ini sebenarnya?
Dia tidak pernah membayangkan bahwa aku akan benar-benar mengonsumsinya tepat di depan matanya.
—Jelas sekali bahwa metode apa pun yang akan dia usulkan nanti tidak masuk akal. Itulah sebabnya dia meminumnya terlebih dahulu.
—Bunuh saja dia! Bunuh dia sekarang! Pecahkan kepalanya!
Pemimpin Sekte mendekati Geom Mugeuk dan mengangkat tangannya. Namun, dia tidak tega untuk memukul kepalanya.
—Ugh, sialan!
Menurunkan tangannya, Pemimpin Sekte berjalan untuk duduk di sebelah Bel Petir. Pria yang dibelenggu itu mengamatinya dengan geli.
—Sialan!
—Geom Mugeuk tidak akan mati di sini.
—Kenapa? Karena dia seorang pengecut? Begitukah?
—Tidak, Tuan Muda Kedua ini jauh lebih cerdas dari yang kuira.
—Bagaimana kau tahu?
—Dia yakin bahwa Pemimpin Sekte tidak akan membunuhnya. Dia sudah membaca gerak-gerik Pemimpin Sekte. Jika seseorang sepertinya memberikan jawaban, itu akan menjadi jawaban yang bagus.
—Apa kau punya gagasan tentang apa yang mungkin dia usulkan?
—Aku tidak yakin sebelumnya, tapi melihatnya meminum Pil Darah Ilahi, aku punya tebakan yang bagus.
—Apa itu?
—Kau harus menunggu sampai dia selesai bermeditasi untuk mendengarnya secara langsung.
—Keparat, beritahu aku sekarang!
—Pemimpin Sekte terlalu mudah ditebak; itu akan terlihat di wajahmu.
—Aku tidak pernah kalah dalam perjudian seumur hidupku!
—Itu karena tidak ada penjudi yang berani mengungkapkan keahlian mereka di depan pewaris Sekte Angin Surgawi.
—Hmph!
Pemimpin Sekte merasa agak tenang.
Pria yang dibelenggu itu berbicara kepada Pemimpin Sekte seolah berbicara kepada seorang teman.
—Pemimpin Sekte.
—Oh tidak, mulai lagi. Apakah kau pikir kau temanku?
—Berikan saja semuanya padanya. Tidak apa-apa untuk memberikan semuanya.
—Apa kau serius?
—Selama ini, kita menilai Tuan Muda Kedua hanya berdasarkan informasi yang kita terima. Tapi melihatnya secara langsung hari ini, aku menyadari bahwa kita telah sangat meremehkannya.
—Dan kau bisa melihat ini?
—Aku bisa.
―Kenapa aku tidak bisa melihatnya kalau begitu?
―Karena kau terlalu serakah.
―Sialan! Baiklah, anggap saja itu benar. Angkatlah keserakahan telah membutakanku sepenuhnya. Jadi? Jika aku memberikan semuanya, lalu apa?
―Kau bisa hidup di Dataran Tengah. Bukankah itu impianmu?
―Apakah dia benar-benar akan membiarkanku hidup di sini?
―Karena dia berniat membiarkanmu hidup, dia dengan serakah menerima semuanya.
―Bagaimana jika dia tidak menepati janjinya? Kita akan berakhir seperti pengemis, memegang mangkuk pecah, mengemis sedekah.
―Jangan khawatir. Aku akan memastikan kita bertahan hidup.
―Apa?
―Meskipun aku harus menyeret belenggu ini dan berjualan obat.
Pemimpin Sekte Angin Surgawi menghela napas.
―Bagaimana jika Tuan Muda Kedua mati dalam perebutan posisi penerus?
―Bukankah selalu begitu ketika kau mempertaruhkan nasibmu pada seseorang? Kau mendapatkan segalanya atau kehilangan segalanya.
―Kau berniat menghancurkan aku, bukan?
―Kau baru menyadarinya sekarang?
Pria yang dibelenggu itu memasang senyum aneh. Sulit untuk mengatakan apakah dia serius atau hanya bercanda.
―Pemimpin Sekte.
―Jangan berbicara dengan begitu akrab. Kau sudah melakukannya lebih dari lima kali hari ini.
―Aku memahamimu.
―Untuk mendapatkan, seseorang harus melepaskan. Baik kau maupun aku tidak cukup diberkati untuk memiliki segalanya tanpa melepaskan sesuatu. Orang-orang seperti itu adalah Tuan Muda Kedua yang duduk di sana.
―……Sialan.
Akhirnya, Geom Mugeuk menyelesaikan sirkulasi energinya.
Saat Geom Mugeuk membuka matanya, ekspresinya tampak cerah. Matanya yang sudah jernih kini semakin dalam, membuat orang sulit menebak seberapa besar kekuatan bela dirinya.
Namun, mata yang dalam dan lebih dalam dari lautan itu segera berubah menjadi tampak seperti mata orang biasa. Pemimpin Sekte Angin Surgawi terkejut oleh perubahan ini.
‘Seberapa dalam sebenarnya kekuatannya?’
Geom Mugeuk tidak punya apa pun untuk disembunyikan di hadapannya. Seolah-olah dia sedang berkata:
‘Aku sekuat ini, jadi percayalah dan ikuti aku.’
Meskipun menunjukkan kekuatan seperti itu, Geom Mugeuk tetap bersikap sopan. Dia menundukkan kepala dan menangkupkan tangan, menyatakan rasa terima kasihnya.
“Terima kasih.”
“Kau punya keberanian juga. Mencuri pil mujarab lalu berlatih sirkulasi energi tepat di depan kami!”
“Mencuri pil mujarab? Aku menerimanya sebagai kompensasi.”
“Kompensasi? Apa maksudmu?”
“Sudah kukatakan padamu sebelum aku meminum Pil Darah Ilahi, bukan? Bahwa cara bagimu untuk tetap tinggal di sini adalah dengan aku meminum ini.”
“Apa maksudnya itu?”
“Besok, pergilah ke Paviliun Dunia Bawah dan laporkan hal itu. Katakan bahwa pil mujarab itu telah dicuri.”
“Kau bisa tinggal di sini sampai pil mujarab itu ditemukan.”
Barulah Pemimpin Sekte Angin Surgawi menyadari niat Geom Mugeuk.
“Tapi bagaimana jika penyelidikan mengungkapkan bahwa tidak ada pencurian yang terjadi?”
“Tempat yang melakukan penyelidikan tidak lain adalah Paviliun Dunia Bawah, yang mana aku adalah pemiliknya. Aku akan memastikan penyelidikan berjalan lambat mungkin sampai Pemimpin Sekte mencapai tujuannya.”
“Ah!”
Wajah Pemimpin Sekte Angin Surgawi menjadi cerah.
Karena seorang pencuri telah menyusup ke tempat suci Sekte Iblis Surgawi, dia sekarang memiliki alasan yang sah untuk tidak meninggalkan tempat ini.
Selain itu, dengan Geom Mugeuk yang menangani penyelidikan, tidak akan ada risiko pengaturan mereka terbongkar dan tidak akan ada gesekan yang tidak perlu yang timbul selama proses pencarian pelaku.
“Keputusan tentang kapan kau akan kembali akan dibuat oleh kau dan aku.”
“Ah! Jadi begitulah maksudnya.”
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih atas Pil Darah Ilahi.”
Setelah Geom Mugeuk pergi, Pemimpin Sekte Angin Surgawi bertanya kepada pria yang dibelenggu.
“Apakah kau tahu?”
“Aku tahu saat Tuan Muda mengonsumsi Pil Darah Ilahi.”
Sikap pria yang dibelenggu itu kembali menjadi hormat.
Pemimpin Sekte Angin Surgawi menatap wadah kosong tempat Pil Darah Ilahi disimpan dan berkata,
“Tapi apakah Tuan Muda Kedua tahu sebelumnya bahwa ini adalah Pil Darah Ilahi?”
“Tentu saja.”
“Dia tahu?”
“Apakah kau benar-benar percaya dia mengambilnya hanya karena wadahnya terlihat bagus? Apakah kau benar-benar percaya itu?”
“Tidak.”
Namun, sesaat, Pemimpin Sekte Angin Surgawi memang mempercayainya. Dia pikir tidak mungkin Tuan Muda mengetahui detail persis dari barang berharganya.
“Bagaimana dia bisa tahu?”
“Dia mampu sampai sejauh itu, itulah sebabnya Pemimpin Sekte memberinya hadiah.”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi mengangguk. Tetap saja, dia merasa beruntung memiliki pria yang dibelenggu di sisinya. Namun, pada saat yang sama, dia merasa kesal padanya karena kehadiran dialah yang memicu semua peristiwa ini.
“…Tetap saja, sangat disayangkan tentang Pil Darah Ilahi itu.”
Sekali lagi, Pemimpin Sekte Angin Surgawi mulai meratapi kehilangannya. Dia pasti tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini.
“Sudah kuberitahu untuk keseratus kalinya, itu tidak diberikan karena dia menawarkan solusi.”
“Jika semuanya tidak berjalan dengan baik bahkan setelah memberikan semuanya seperti ini, kita berdua akan mati.”
Dari balik rambutnya yang kusut, pria itu tersenyum licik.
“Kau berjanji untuk membunuhku terlebih dahulu sebelum mati.”
“Tutup mulutmu!”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi tenggelam dalam wadah kosong, sementara pria yang dibelenggu itu asyik dengan Bel Petir. Keduanya larut dalam kekhawatiran masing-masing.
* * *
Keesokan harinya, berita mengejutkan menyapu seluruh sekte.
Seorang pencuri telah membobol tempat tinggal Pemimpin Sekte Angin Surgawi dan mencuri artefak suci.
Semua orang membicarakannya. Sangat mengejutkan bahwa ada pencurian di tempat suci bagian dalam, tetapi yang membuat semua orang penasaran adalah apa sebenarnya yang telah dicuri. Namun, objek suci spesifik yang dicuri tidak diungkapkan ke publik.
Seluruh perguruan dihebohkan oleh berita tersebut, tetapi suasana di Paviliun Iblis Surgawi tetap tenang.
Ini karena Penasihat Strategis, Sima Myung, telah melihat melalui situasi tersebut.
“Tampaknya Pemimpin Sekte Angin Surgawi sedang mementaskan insiden buatan sendiri. Berdasarkan pengamatan kami, tidak ada seorang pun yang menyusup ke tempat tinggal Pemimpin Sekte, dan untuk mencuri artefak ilahi tersebut, seseorang setidaknya harus memiliki keahlian selevel Penguasa Iblis. Namun, sejauh yang kutahu, tidak ada orang dengan keahlian seperti itu yang akan mengincar artefak ilahi Pemimpin Sekte saat ini.”
Iblis Surgawi Geom Woojin mempercayai setiap kata dari laporan Sima Myung.
“Kenapa dia mementaskan insiden buatan sendiri?”
“Dia mungkin ingin tinggal di sekte kita lebih lama. Dia kemungkinan besar akan bersikeras untuk tidak pergi sampai dia menemukan artefak ilahi itu.”
“Kenapa dia tidak ingin pergi? Apakah karena masalah itu?”
“Ya. Sepertinya dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk merundingkan ekspansi sektenya ke Dataran Tengah.”
“Apakah Mugeuk terlibat dalam insiden ini?”
“Ya. Tampaknya Pemimpin Sekte Angin Surgawi telah meminta cara kepada Tuan Muda Kedua agar bisa tetap tinggal di sini. Penyelidikan atas insiden ini akan dilakukan oleh Paviliun Dunia Bawah, yang memungkinkan Pemimpin Sekte tinggal di sekte kita untuk sementara waktu.”
“Rencana yang cukup licik.”
Senyum tipis muncul di bibir Geom Woojin.
“Bagaimana hubungan antara Pemimpin Sekte Angin Surgawi dan para Penguasa Iblis?”
“Tidak begitu baik. Sejak tiba, dia hanya bertemu dengan para Penguasa Iblis sekali dan tidak pernah menemui mereka lagi sejak saat itu. Satu-satunya orang yang dia temui adalah Buddha Iblis.”
“Menurutmu apa yang harus kita lakukan mengenai masalah ini?”
Sima Myung menjawab dengan tenang.
“Untuk saat ini, yang terbaik adalah berpura-pura kita tidak tahu apa-apa dan mengawasinya.”
Geom Woojin merenung sejenak sementara Sima Myung menunggu keputusannya.
Sima Myung bisa menebak pemikiran Pemimpin Sekte. Alasan dia tidak langsung mengambil keputusan adalah karena hal ini melibatkan Sekte Angin Surgawi. Pemimpin Sekte tidak memandang baik ekspansi Sekte Angin Surgawi ke Dataran Tengah. Namun, alasan dia ragu-ragu mungkin karena Tuan Muda Kedua terlibat.
Akhirnya, Geom Woojin membuat keputusannya.
“Mari kita lakukan itu.”
“Ya.”
Sima Myung membungkuk hormat dan berbalik untuk pergi, tetapi kemudian dia berbicara lagi kepada Geom Woojin.
“Jika Pemimpin Sekte Angin Surgawi dan Tuan Muda Kedua bergandengan tangan, Buddha Iblis tidak akan tinggal diam. Dia kemungkinan besar akan melibatkan Tuan Muda Pertama secara sungguh-sungguh.”
Dalam penilaian Sima Myung, fakta bahwa Tuan Muda Pertama membiarkan ketenaran Geom Mugeuk akhir-akhir ini sebagian disebabkan oleh pengaruh Pemimpin Sekte, tetapi itu juga karena dia masih yakin bahwa dirinya akan menjadi penerus.
Namun, jika Geom Mugeuk bergabung dengan Iblis Pedang Darah Surga, Penguasa Pedang Satu Tebasan, dan sekarang Pemimpin Sekte Angin Surgawi, Tuan Muda Pertama tidak akan bisa tinggal diam lagi.
Geom Woojin mengangguk dalam-dalam, memahami implikasinya.
Meninggalkan Geom Woojin yang tenggelam dalam pemikiran, Sima Myung berjalan perlahan menuruni Jalan Darah.
Dia bertanya-tanya.
Keputusan apa yang akan dibuat oleh Pemimpin Sekte? Apakah dia akan mengizinkan Tuan Muda Pertama kembali dan bergabung dalam pertarungan? Apakah dia akan menghentikan perkelahian antara kedua saudara itu entah bagaimana caranya?
Segalanya bergantung pada kehendak Iblis Surgawi.
1 : WKWK, nyam-nyam gaya PacMan XDXDXD
—
