Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 62: Berikan Apa yang Tidak Ingin Kau Berikan >
Itu di luar dugaan.
Aku tidak pernah menyangka Iblis Pedang Surga Darah akan bertanya apakah aku akan membunuhnya juga.
Apa yang harus kujawab? Setelah berpikir sejenak, jawabanku adalah ini.
“Ilmu bela diriku tidak menghancurkan meja kedai, dan juga tidak membunuh teman.”
Untuk sesaat, Iblis Pedang Surga Darah tidak bisa mengatakan apa-apa.
Ia menatapku dengan ekspresi rumit selama beberapa waktu, lalu bertanya dengan pelan,
“Apakah aku temanmu?”
“Ya.”
Bahkan tanpa penjelasan tambahan, ia akan mengerti bahwa aku tidak bermaksud mengatakannya dalam arti kata yang biasa.
“Lalu apa yang akan kau lakukan? Aku akan terus terang padamu. Aku tidak akan mencari petunjuk, aku tidak akan mempertimbangkan perasaanmu, aku akan langsung mengatakannya. Ini dan itu tidak berkenan di hatiku. Kau terlalu kuno! Kau terlalu membosankan. Kemana semua pesonamu yang dulu pergi? Temukan itu! Kita akan menyatukan kepala dan mencari cara agar itu berhasil bagi kita berdua.”
“Bagaimana jika kita tidak bisa menemukan caranya? Bagaimana jika aku tidak berubah?”
“Jika kau mencoba tapi tidak bisa berubah, tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita harus hidup dari kenangan masa lalu. Tapi jika kau bahkan tidak mencoba? Maka kita harus bertarung. Bukankah perkelahian yang bagus bisa menjernihkan suasana, terlepas dari siapa yang salah atau apa keluhannya?”
Iblis Pedang Surga Darah, yang tadinya menatapku, tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha.”
Itu adalah tawa paling menyenangkan yang pernah kudengar darinya.
Setelah tertawa sejenak, ia tiba-tiba berhenti dan berkata kepadaku,
“Ada sesuatu yang kukatakan kepadamu sebelumnya yang perlu diubah.”
“Apa itu?”
“Bahwa hidupku hanya dipenuhi oleh kesialan… sepertinya itu tidak sepenuhnya benar lagi.”
Pada saat ini, aku mendengarnya dengan jelas.
Suara hatinya yang terbuka sedikit lebih lebar.
Aku akan terus mendengarkan suara ini di masa depan. Mendengar suara terbukanya pintu ini dari banyak orang akan menjadi momen pertumbuhanku, dan itu akan menjadi senjata yang sama pentingnya bagiku seperti Seni Iblis Sembilan Bencana. Hwa Moogi, suara apa yang sedang kaudengar sekarang?
* * *
Larut malam, setelah Iblis Pedang Surga Darah pergi, seorang pengunjung tak diundang muncul.
Anehnya, itu adalah Pemimpin Sekte Angin Surgawi.
“Ada angin apa kau datang pada jam larut begini?”
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.”
“Masuklah.”
“Ini masalah mendesak jadi mari kita ke sebelah sini.”
Sekitar menjadi gelap lalu menjadi terang saat kami mendapati diri kami berada di ruang yang berbeda. Itu adalah seni iblis yang sama yang telah digunakan oleh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa beberapa kali. Ia juga mengetahui seni iblis ini dari Sekte Iblis.
Pemimpin Sekte Angin Surgawi menatapku dan bertanya penuh makna,
“Bagaimana menurutmu? Tidakkah ilmu bela diri ini terasa akrab?”
Mata Pemimpin Sekte Angin Surgawi menyiratkan bahwa ia tahu segalanya dan ingin aku berbicara jujur.
“Ini pertama kalinya aku menghadapi ilmu bela diri ini.”
“Mana mungkin. Bukankah kau melihat ruang ini saat bertarung melawan Penguasa Iblis Pemanen Jiwa?”
“Aku tidak tahu maksudmu.”
Ekspresi Pemimpin Sekte Angin Surgawi berubah dingin.
“Kau membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa di ruang ini.”
“Aku tidak tahu apa yang kaubicarakan.”
Aku menyangkalnya mentah-mentah, tetapi ia melanjutkan pernyataannya dengan penuh keyakinan.
“Penguasa Iblis Pemanen Jiwa mati di sini, yang membuatnya tampak seperti ia mati karena penyimpangan Qi. Kau tidak bisa menipu mataku.”
“Apakah kau punya bukti?”
“Aku tidak punya bukti. Aku bahkan tidak bisa menebak bagaimana kau melakukannya. Tapi aku yakin bahwa kaulah yang membunuhnya.”
“Kenapa kau berpikir begitu?”
“Karena aku tidak bisa membaca dirimu.”
Aku terkejut dalam hati. Aku tidak pernah meremehkan Pemimpin Sekte Angin Surgawi, tetapi aku tidak menyangka ia akan percaya aku membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa berdasarkan satu alasan ini. Keyakinan ini berasal dari kepercayaannya pada intuisinya sendiri.
“Kau membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa. Karena aku juga tidak bisa membaca dirimu, itu berarti aku bisa mati juga.”
“Aku tidak pernah menyangka seseorang yang bijaksana sepertimu akan membuat salah paham sebesar itu.”
Ia benar-benar memiliki pemahaman yang tepat tentang diriku.
“Aku tidak mencoba memprovokasi dirimu, jadi santai saja. Aku tidak ingin mati di tempat seperti ini, tidak seperti Penguasa Iblis Pemanen Jiwa.”
Terlebih lagi, ia tidak melebih-lebihkan kemampuannya sendiri.
“Sekali lagi, ini adalah kesalahpahaman.”
Mengabaikan kata-kataku, ia melanjutkan kata-katanya sendiri.
“Hanya ada satu alasan mengapa sihir Penguasa Iblis Pemanen Jiwa tidak mempan terhadapmu. Kau pasti telah menerima Seni Iblis Sembilan Bencana.”
“Jika kau sangat yakin, kenapa kau tidak memberi tahu Para Penguasa Iblis? Jika mereka tahu ayahku diam-diam mewariskan Seni Iblis Sembilan Bencana kepadaku, itu akan menimbulkan kehebohan. Kudengar kau cukup dekat dengan Sang Buddha Iblis.”
“Di mana di dunia persilatan ada teman? Kita menemui orang sesuai kebutuhan. Buddha Iblis tidak berbeda.”
“Lalu apa yang kaubutuhkan dariku?”
“Kali ini, ini adalah sebuah bantuan. Aku datang hari ini untuk mengingatkanmu agar tidak melupakan bantuanku.”
Pada saat itu, aku menyadari ada beberapa masalah antara Pemimpin Sekte Angin Surgawi dan Tujuh Penguasa Iblis. Atau mungkin mereka tidak semerekatan yang kukira.
“Mari kita luruskan satu hal. Kau belum melakukan kebaikan apa pun padaku, Pemimpin Sekte.”
“Apa?”
“Kau tidak memilih untuk tidak memberi tahu Tujuh Penguasa Iblis, kau tidak bisa memberi tahu mereka karena kau tidak punya bukti. Apa kau benar-benar akan berkata kepada mereka, ‘Aku tidak bisa membaca Tuan Muda Kedua, jadi dialah pelakunya!’? Harga dirimu tidak akan membiarkannya.”
“Setidaknya aku bisa menyampaikan kecurigaanku bahwa itu mungkin dirimu.”
“Itu sebenarnya akan menguntungkanku. Maksudmu kemampuanku sudah cukup untuk membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa? Bahwa Pemimpin Sekte mungkin telah mewariskan Seni Iblis Sembilan Bencana kepadaku? Mereka tidak bisa memastikan tanpa bukti, tapi mereka juga tidak bisa memperlakukanku sembarangan. Itu akan membantuku mendapatkan posisi tawar. Kau justru telah menghalangiku.”
“Apa?”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi tampak tidak bisa merespons, mungkin karena tidak mengantisipasi hasil ini.
“Jika kau ingin menawarkan bantuan, aku akan dengan senang hati menerimanya. Tapi pastikan itu bantuan yang tulus.”
Meskipun sempat terkejut sesaat, Pemimpin Sekte Angin Surgawi tidak kehilangan ketenangannya. Ia tahu betul pelajaran hidup untuk tidak membuat keputusan apa pun dalam situasi yang tidak menguntungkan.
“Mari kita bertemu sekali lagi sebelum aku pergi.”
Begitu ia selesai berbicara, lingkungan sekitar berubah, dan ia langsung pergi.
Melihat sosoknya yang pergi, aku tersenyum. Aku lebih tertegun oleh pemikiran itu daripada oleh aroma konspirasi apa pun.
‘Pemimpin Sekte kita datang untuk menawarkan bantuan atas kemauannya sendiri.’
* * *
Di dalam ruangan besar yang didekorasi dengan mewah yang disediakan oleh Sekte Suci Iblis Surgawi, hanya Pemimpin Sekte Angin Surgawi, beberapa relik, dan pria berbelenggu yang hadir.
“Bagaimana menurutmu?”
Pria berbelenggu, yang tadinya duduk seperti patung di depan Bel Petir, mendongak menatap Pemimpin Sekte Angin Surgawi. Kata-kata yang tidak dapat dibayangkan oleh orang lain keluar dari mulutnya.
“Keparat, kenapa kau bertanya padaku?”
Menghina Pemimpin Sekte Angin Surgawi adalah kejahatan yang bisa dihukum mati.
Namun Pemimpin Sekte tersenyum seolah itu adalah hal biasa dan mengacungkan satu jari.
“Tidak ada orang lain di ruangan ini selain kau, jadi kepada siapa lagi aku akan bertanya?”
“Tanyakan pada Malaikat Maut yang berdiri di belakangmu kapan kau akan mati.”
Pemimpin Sekte mengangkat jari kedua.
“Aku sudah bertanya, dan Malaikat Maut menjawab. Katanya, setelah kau mati, aku akan mati, jadi sayangnya, kau tidak akan melihat kematianku.”
“Beruntung sekali kau, hidup lama, si babi.”
Mendengar umpatan pria itu, Pemimpin Sekte Angin Surgawi mengacungkan jari ketiga dan tertawa geli.
“Dua lagi tersisa!”
Pria itu diizinkan untuk mengumpat atau berbicara secara informal kepada Pemimpin Sekte Angin Surgawi hanya lima kali sehari.
Tentu saja, itu bukan karena Pemimpin Sekte Angin Surgawi memiliki preferensi aneh untuk dihina. Dan bukan pula karena pria berbelenggu ini memiliki indra penciuman yang luar biasa.
Alasan Pemimpin Sekte Angin Surgawi menoleransi kekasaran ekstrem dari pria itu dan membiarkannya tetap hidup adalah karena ia memiliki pikiran yang sangat tajam. Awalnya, ini tidak terlihat. Tidak ada yang tahu pria itu secerdas ini.
Tetapi setelah menghabiskan waktu lama bersama dalam satu ruangan, menjadi jelas bahwa nilai sebenarnya dari pria itu bukanlah pada indra penciumannya melainkan pada penilaian dan kecerdasannya yang sangat baik.
Hari di mana terbukti bahwa pria ini lebih pintar daripada para penasihat militer Pemimpin Sekte Angin Surgawi, ia menjadi ahli strategi sejati Sekte Angin Surgawi.
Terlepas dari hinaan-hinaan itu, Pemimpin Sekte mendengarkan nasihat-nasihatnya. Nasihatnya sebagian besar akurat dan mendatangkan keuntungan seiring berjalannya waktu.
Pemimpin Sekte tidak mencoba menundukkan pria itu melalui penderitaan. Pria berbelenggu itu tidak memiliki keterikatan yang kuat pada kehidupan dan akan dengan sukarela memilih kematian jika ditekan.
Meskipun ia tidak memiliki keterikatan pada kehidupan, ia tidak bunuh diri. Pemimpin Sekte pernah bertanya kepadanya alasannya, tetapi pria itu tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun tentang hal itu.
“Kenapa mood-mu sedang sangat buruk?”
“Apa kau akan senang berada di tempatku?”
Melihat Pemimpin Sekte mengangkat jari keempatnya, pria itu mengguncang belenggunya, menghasilkan suara dentingan yang bergema di ruangan itu.
Dengan jentikan jari Pemimpin Sekte, lingkungan sekitar menjadi gelap lalu menjadi terang saat pemandangan berubah menjadi padang rumput hijau.
Di tempat ini, Pemimpin Sekte membuka belenggu besi dingin abadi milik pria itu. Kunci belenggu ini selalu dikenakan di leher Pemimpin Sekte.
Begitu terbebas dari belenggu, ekspresi pria itu mengendur.
Kini bebas, pria itu berlari kesana-kemari seperti anjing di hari bersalju, lalu berbaring telentang menatap langit.
Pemimpin Sekte berdiri di atasnya.
“Kepala Sekte berkepala besar, enyahlah! Kau menghalangi pemandangan!”
“Ini langit palsu.”
Pemimpin Sekte mengangkat jari kelima dan terakhirnya.
Begitu kelima kesempatannya habis, nada bicara pria itu menjadi sopan.
“Pemimpin Sekte, aku sangat merindukan langit palsu itu. Tolong geser.”
Seolah sedang berakting, sikapnya berubah seketika.
Pemimpin Sekte bergeser dan bertanya,
“Mengikuti saranmu, aku memberikan bantuan kepada Tuan Muda Kedua. Tapi ia menuntut bantuan yang lebih spesifik.”
Pria itu sedang menatap ke langit. Matanya, yang terlihat melalui rambutnya yang panjang dan terurai, sangat jernih.
“Apakah kau benar-benar berpikir ia akan menjadi penerus?”
“Kau bilang ia membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa, bukan?”
“Aku yakin.”
“Lalu siapa lagi yang bisa menjadi penerus? Seorang pemuda yang usianya hampir tidak mencapai dua puluhan tidak mungkin hanya membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa dan berhenti di situ.”
“Kemampuannya memang mengesankan…”
“Apakah kau takut? Bahwa Tuan Muda Kedua mungkin akan membunuhmu juga?”
Jika orang lain yang mengatakan ini, kepala mereka pasti sudah melayang seketika. Namun Pemimpin Sekte Angin Surgawi hanya mengangguk.
“Bohong rasanya jika aku bilang tidak takut. Jika ia bisa membunuh seorang Penguasa Iblis, ia bisa membunuh siapa saja.”
Pada suatu titik, Pemimpin Sekte mulai melakukan percakapan jujur dengan pria berbelenggu itu.
“Ada alasan lain mengapa kita perlu mengawasi Geom Mugeuk.”
“Apa itu?”
“Menurutmu apakah Pemimpin Sekte Suci Iblis Surgawi tidak tahu bahwa ia membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa?”
“Ia tahu?”
“Tentu saja ia tahu. Iblis Surgawi saat ini adalah orang yang luar biasa. Ia bermimpi besar. Menurutmu mengapa orang seperti itu diam saja sampai sekarang?”
“Kenapa?”
“Berpikirlah! Jangan hanya makan dan membuang-buang tempat!”
“Bukankah itu sebuah penghinaan?”
“Bukan. Aku hanya menaikkan suaraku.”
“Hati-hati.”
“Tentu saja. Aku meminta supaya kau berpikir.”
“Aku tidak mau. Berpikir adalah pekerjaanmu. Jika aku juga yang berpikir, tidak akan ada alasan bagimu untuk tetap hidup, bukan?”
Pria itu menatap Pemimpin Sekte dengan ekspresi yang sangat jengkel. Meskipun demikian, kata-katanya tetap sopan.
“Ketika orang luar biasa tetap diam, itu berarti mereka sedang mempersiapkan langkah besar.”
“Menyatukan Dataran Tengah?”
“Aku tidak yakin. Bagaimanapun juga, entah Iblis Surgawi yang memerintahkan ini, atau ia tahu dan pura-pura tidak tahu. Penguasa Iblis Pemanen Jiwa adalah tokoh yang paling merepotkan bagi Aliansi Persilatan di antara Delapan Penguasa Iblis. Sama seperti orang-orang di Dataran Tengah takut padamu, mereka takut kepadanya. Namun, ia membiarkan putranya membunuh Penguasa Iblis Pemanen Jiwa? Ini berarti Iblis Surgawi berniat menggantikan Delapan Penguasa Iblis satu per satu. Setelah mengubah mereka menjadi anggota tubuhnya sendiri, menurutmu di mana Iblis Surgawi akan menyerang?”
“Kita?”
“Iblis Surgawi saat ini tidak akan mengibarkan perang melawan Aliansi Persilatan dengan kita di belakangnya. Ia akan mendorong kita ke garis depan atau menyingkirkan kita sebelum memulai perang.”
“Sialan!”
“Angin perubahan sedang bertiup di Sekte Suci Iblis Surgawi. Jika kau tidak bisa merasakan angin ini, kau sama saja mati. Penguasa Iblis Pemanen Jiwa mati karena ia dikurung di dunia lain dan tidak bisa merasakan angin ini. Kita perlu memutuskan apakah akan bersembunyi di balik dinding Delapan Penguasa Iblis atau di balik dinding Iblis Surgawi.”
“Kau pikir itu Iblis Surgawi?”
“Iblis Surgawi akan menang.”
“Kenapa?”
“Geom Woojin, orang luar biasa itu, tidak akan memulai pertarungan yang tidak bisa dimenangkannya. Jadi, kita harus memihak Tuan Muda Kedua. Pertama, berikan ia hadiah untuk memenangkan hatinya.”
Pemimpin Sekte Angin Surgawi mengangguk.
“Apa yang harus kuberikan padanya?”
“Berikan apa yang paling tidak ingin kaulepaskan. Itulah satu-satunya cara kita bertahan hidup. Sekarang, cukup sudah nasihatnya!”
Pria yang sedang berbaring itu berteriak.
“Berhenti menggangguku dan pergi!”
Ruang ini adalah satu-satunya tempat di mana pria itu merasa bebas, dan ia berteriak sambil menatap langit palsu.
“Aaaaaah!”
Tidak seperti pria itu, yang mencoba melampiaskan rasa frustrasinya, Pemimpin Sekte berdiri dengan tangan di belakang punggung, tenggelam dalam pikiran.
Setelah beberapa saat, setelah memutuskan apa yang harus diberikan, Pemimpin Sekte berbicara kepada pria itu.
“Sudah cukup!”
Ruang yang diciptakan itu mulai memudar.
Pria itu, dengan panik, bangkit dan berteriak.
“Tidak! Kumohon! Sebentar lagi saja! Keparat sialan! Tidak!”
Meskipun ada teriakan putus asanya, bahkan melanggar aturan, padang rumput hijau, langit biru, dan kebebasan pria itu lenyap.
—
