Lewati ke konten
Absolute Regression

5 – Absolute Regression Chapter 5

Translator: FenrirTL

Editor : TheBattleSage

Editor Notes/Quality Checker : Saphartlantis

Murim Term Consultant: Kopke

========================

< Bab 5: Binatang Itu Tidak Menyembunyikan Cakar-Cakarnya >

Tidak perlu pergi jauh untuk mencari tempat berburu.

Pegunungan di belakang Sekte terkenal karena kecuramannya, dengan formasi pertahanan dan mekanisme yang dipasang di mana-mana, menjadikannya tempat yang tidak bisa dimasuki siapa pun. Di area terpencil ini, hanya ayahku dan aku yang hadir.

‘Ah, ada tiga orang.’

Pengawal Ayah, Hui, pasti mengikuti kami sambil bersembunyi di suatu tempat.

Aku memanggilnya Paman Hui. Aku dulu sering melihatnya ketika aku masih kecil, tetapi seiring bertambahnya usia, kesempatan itu menjadi semakin jarang. Hui adalah pengawal yang sangat dipercayai oleh ayahku. Jika aku memiliki Lee Ahn, ayahku memiliki Hui.

Aku mengerahkan qi-ku dan mengamati sekeliling, tetapi aku tidak bisa mendeteksi keberadaan Hui. Keterampilan menyembunyikan diri miliknya memang berada di tingkat teratas. Tentu saja, bahkan Hui… tewas di tangan Hwa Moogi pada hari itu.

Hal pertama yang dikatakan ayahku kepadaku hari ini adalah ini:

“Bagaimana bisa ada begitu banyak barang bawaan yang merepotkan itu?”

Aku membawa ransel sebesar tubuhku.

“Ini adalah barang-barang yang mungkin aku butuhkan selama beberapa hari ke depan.”

“Beberapa hari? Kita hanya tinggal selama satu hari.”

“Yah, kau tidak pernah tahu. Kau mungkin merasa berburu bersamaku begitu menyenangkan hingga kau ingin tinggal beberapa hari lagi.”

Ekspresi ayahku secara terang-terangan menunjukkan betapa tidak masuk akalnya ide itu baginya.

“Bermimpilah.”

Bahkan belum setengah jam berlalu bersama ayahku, tetapi aku menyadari satu hal yang belum kutahu sebelumnya. Yaitu bahwa ingatanku tentang ayahku ternyata cukup terdistorsi.

Aku mengingat ayahku sebagai seorang pria yang sedikit bicara. Namun, dia berbicara lebih banyak daripada yang kuira.

“Kau cukup mengesankan.”

Ini adalah penilaiannya terhadap pertandinganku melawan Gu Pyungho. Meskipun aku telah bergerak tanpa kekuatan internal, keterampilan yang diasah dalam kehidupanku sebelum regresi pasti tampak menonjol. Aku tidak mencoba menipu ayahku secara berlebihan.

“Aku menyembunyikan kemampuan asliku.”

“Kelihatannya memang begitu.”

Memanfaatkan suasana hati yang ada, aku menambahkan sebuah lelucon.

“Aku bukan kucing yang mendesis, melainkan binatang buas yang menyembunyikan cakar-cakarnya.”

Ayahku berhenti berjalan dan menoleh menatapku.

“Jika kau adalah binatang buas, mengapa menyembunyikan cakar-cakarmu?”

“Ah, aku tidak memikirkannya dari sudut pandang itu.”

“Jadi kau adalah seekor kucing.”

Tepat saat dia hendak berbalik, ayahku tiba-tiba bertanya,

“Tingkat apa yang telah kau capai dalam Ilmu Pedang Melambung?”

Ilmu Pedang Melambung adalah seni bela diri yang diturunkan kepada garis keturunan Iblis Surgawi. Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan Seni Iblis Sembilan Malapetaka yang hanya ditransmisikan kepada Iblis Surgawi, ilmu itu dianggap sebagai teknik tingkat sangat lanjut, setara dengan seni bela diri yang dipraktikkan oleh para Penguasa Iblis.

Tentu saja, hanya karena seseorang menguasai seni bela diri tingkat tinggi tidak serta-merta membuat mereka lebih kuat.

Bergantung pada siapa yang menggunakannya, seseorang dapat dengan mudah membunuh seseorang dengan seni bela diri yang kuat menggunakan ilmu yang lebih lemah.

Aku menilai bahwa aku tidak bisa menipu ayahku, jadi aku menjawab dengan jujur.

“Aku telah menguasainya.”

Pada saat itu!

Whizz!

Embusan angin melesat dari ujung jari ayahku dan menyapu pipiku. Jika aku tidak secara insting memalingkan wajahku untuk menghindarinya, pipiku akan berlubang.

Ayahku bertanya dengan ekspresi terkejut.

“Kau benar-benar telah menguasainya!”

Aku mengusap pipiku yang terasa perih karena angin itu dan berteriak.

“Ya ampun! Kau mengirim serangan angin meskipun kau tidak mempercayaiku. Bagaimana jika aku tidak bisa menghindarinya?”

“Itu akan menjadi harga untuk berbohong. Jika kau telah menguasainya, kau seharusnya bisa menghindarinya.”

“Bekas luka di wajah tampan ini, yang mirip dengan wajahmu, tidak akan cocok untukku!”

Setelah mendengus, ayahku mulai berjalan lagi.

‘Diriku yang dulu akan sangat ketakutan.’

Ayah macam apa di dunia ini yang akan mengirim serangan angin ke arah anaknya tanpa ragu-ragu? Dan itu ke wajah!

Itu adalah serangan yang akan meninggalkan luka parah jika tidak dihindari, meskipun tidak akan membunuhku.

Ayahku, yang berjalan di depan, berbicara tanpa menoleh ke belakang.

“Menguasainya pada usiamu… sungguh mengesankan.”

Di masa laluku, aku baru berhasil mencapai penguasaan jauh hingga usiaku tiga puluhan, jadi wajar jika ayahku terkejut.

Karena dia benar-benar bersemangat tentang seni bela diri, pujiannya tulus.

“Terima kasih.”

Setelah itu, kami mendaki gunung tanpa berbicara untuk waktu yang lama.

Jika kami berada di dalam ruangan dan tetap diam seperti ini, suasananya pasti akan mencekik. Tetapi mendaki gunung adalah hal yang berbeda. Hanya berjalan dalam keheningan terasa seperti kami sedang melakukan percakapan tanpa kata.

Akulah yang memecah keheningan panjang itu.

“Siapa yang mengajarimu berburu?”

Setelah jeda sejenak, ayahku menjawab.

“Kakak laki-lakiku yang mengajariku.”

“Apakah aku punya paman?”

“Dia sudah mati. Saat usianya sepertu usiamu sekarang, aku membunuhnya.”

Ada keheningan sejenak. Alih-alih menyampaikan belasungkawa yang sopan, aku menyuarakan pikiran jujurku.

“Kau melakukan dengan baik.”

Ayahku menghentikan langkahnya dan menatapku dengan tatapan tajam.

“Kalau tidak, aku tidak akan pernah lahir.”

Ayahku, yang tadinya menatapku dengan dingin, mulai berjalan lagi.

Bagaimana mungkin ayahku tidak memiliki luka di hatinya dari perselisihan keluarga seperti itu? Aku sering melihatnya di kehidupan lampuku.

Semakin kuat seseorang terlihat di luar, semakin dalam bekas luka emosional mereka biasanya.

Jadi, aku mengucapkannya begitu saja bagaikan memeras nanah dari sebuah luka.

Dari kehidupan lampuku, aku telah memetik sebuah pelajaran.

Kuburlah mayat-mayatnya, tetapi jangan kubur luka-luka di hati.

Itulah sebabnya aku bisa mendengar kata-kata seperti itu dari ayahku.

“Saat itu… aku tidak bisa menemukan jalan.”

Aku mengerti maksudnya. Dia tidak bisa menemukan cara untuk memenangkan pertarungan perebutan kekuasaan tanpa membunuh saudara kandungnya sendiri.

Jawabanku tegas.

“Jangan harapkan aku melakukannya juga.”

Ayahku melirikku. Tatapannya lebih dingin dari sebelumnya, tetapi aku mengatakan apa yang perlu kukatakan.

“Apa yang tidak bisa kaulakukan, aku juga tidak bisa melakukannya. Dan seseorang hanya bisa mengatakan hal seperti itu jika mereka memiliki saudara yang sepadan dengan masalahnya. Kau tahu betapa keji dan kejamnya dia.”

“Kau pandai menjelek-jelekkannya di belakang.”

“Dia pantas mendapatkannya.”

Bahkan, sebanyak ini belumlah cukup. Mengingat apa yang akan dilakukan saudaraku untuk menjadi penerus di masa depan.

“Dia berjuang di garis perbatasan sementara kau berbicara dengan santai dari tempat yang aman.”

“Bahkan jika dia berjuang di garis perbatasan, seseorang seperti Tuan Muda Pertama dari Sekte Ilahi Iblis Surgawi tidak akan menderita bahkan jika dia dikurung di sel terdalam penjara bawah tanah.”

Saudaraku saat ini sedang aktif menjalankan tugas atas perintah ayahku. Pada saat ini, dia belum menunjukkan warna aslinya, dan dia cukup cakap, jadi ayahku lebih mempercayainya daripada aku. Bukan hanya itu, tetapi banyak orang di dalam Sekte yang mencoba berpihak kepadanya.

“Dia tidak akan pernah menyerah pada posisi penerus. Berpikir bahwa aku bisa menjadi penerus sambil membiarkannya tetap hidup adalah keangkuhan dari seorang bodoh.”

Ekspresi ayahku saat menatapku seolah berkata,

“Apakah kau selalu seperti ini?”

Mataku yang penuh tekad menjawab,

“Ya!”

Ayahku kembali berjalan.

Di kehidupan lampuku, aku tidak menikah. Jadi, aku tidak tahu persis perasaan seperti apa yang ditimbulkan anak-anak pada seorang pria.

Itulah mengapa aku penasaran.

Makhluk seperti apakah aku bagi ayahku?

Sudah berapa lama kami mendaki gunung?

“Sst.”

Atas isyarat ayahku, aku mengangkat kepalaku. Dia menunjuk jauh ke depan dengan jarinya.

“Apakah kau melihatnya?”

Aku membuka mataku lebar-lebar, tetapi yang bisa kulihat hanyalah hutan lebat.

“Aku tidak bisa melihat apa pun.”

“Aku bisa.”

“Apa yang ada di sana?”

“Makan malam.”

“Kalau begitu kita harus menangkapnya.”

Saat aku menggapai busur yang tergantung di bahuku, ayahku menghentikan ketidaksabaranku.

“Bagaimana kau akan menangkap sesuatu yang bahkan tidak bisa kaulihat? Pertama, pejamkan matamu dan rasakan sekeliling.”

“Ya.”

Para ahli menilai lawan mereka dengan merasakan getaran udara. Ini biasanya disebut sebagai membaca energi lawan.

Satu-satunya qi yang bisa kulihat di sekitarku adalah milik ayahku. Itu tenang. Dan itu membuatnya menakutkan. Aku tahu lebih baik daripada siapa pun betapa marahnya qi ini ketika marah. Di balik lautan yang tenang itu terdapat badai yang mampu menjungkirbalikkan dunia.

“Sekarang, lepaskan sehelai benang qi. Hanya satu.”

Aku memancarkan sehelai qi seperti yang diperintahkan ayahku.

“Perlahan, tanpa memutuskannya. Bayangkan tubuhmu adalah gulungan benang dan lepaskan secara perlahan.”

Di kehidupan sebelumnya, aku tidak pernah memancarkan qi yang setipis benang. Selalu ada alasan yang jelas untuk memancarkan qi—untuk menekan momentum lawan. Tapi sekarang, aku memancarkan qi dengan cara yang tidak pernah ku bayangkan.

“Lebih tipis. Itu tidak boleh putus!”

Aku menemukan untuk pertama kalinya bahwa qi-ku bisa memanjang sejauh ini.

“Lebih, lebih, lebih.”

Jika bukan karena dorongan ayahku di sampingku, aku tidak akan mampu melepaskan qi-ku sejauh ini.

Kemudian, pada saat berikutnya, qi-ku menyentuh sesuatu.

“Apakah itu sudah sampai?”

Ayahku menyadari secepat aku bahwa qi-ku telah menyentuh sesuatu.

“Ya, aku bisa merasakannya.”

“Menurutmu apa itu?”

“Sepertinya itu adalah sebuah pohon.”

Hebatnya, aku bisa merasakan benda apa itu. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana caranya, tapi aku yakin itu adalah sebuah pohon.

“Sekarang, jelajahi area di sekitarnya. Perlahan.”

Rasanya seperti benang yang terikat pada gulungan itu akan terurai dan berantakan. Tapi aku tidak kehilangan fokus.

Aku memperluas qi-ku lebih jauh untuk menjelajahi lingkungan sekitar. Kemudian, aku mendeteksi qi yang hidup di bawah pohon itu.

“Mungkinkah itu babi hutan?”

Ketika ayahku tidak merespons, aku sedikit membuka mataku. Dia menatapku dengan ekspresi terkejut.

“Atau apakah itu beruang? Bulunya kaku dan tubuhnya panjang, jadi kupikir itu adalah babi hutan.”

“Itu adalah babi hutan.”

Aku melihat ke arah tempat qi-ku telah mencapai. Aku masih tidak bisa melihatnya dengan mataku. Tapi aku telah mengidentifikasi seekor babi hutan di hutan yang jauh.

“Menembaknya dalam sekali tembakan dari jarak ini tidaklah mudah.”

Bahkan ayahku, yang telah mengalaminya sendiri, tampak merasa sulit untuk mempercayainya.

Kalau dipikir-pikir, teknik yang baru saja ku gunakan bukanlah trik berburu biasa. Itu adalah teknik rahasia luar biasa yang dapat diterapkan dalam seni bela diri.

“Kau berencana menggodaku saat aku gagal, bukan?”

“Tentu saja, kau seharusnya gagal.”

“Aku putramu.”

“Aku tidak bisa mengenainya dalam sekali tembakan saat pertama kali mencobanya.”

“Tapi aku memiliki tubuh bela diri surgawi, bukan?”

Ketika tubuh bela diri surgawi disebutkan, tatapan ayahku sedikit berubah.

Pada saat itu, aku menyimpan rasa dendam tertentu terhadap ayahku mengenai tubuh bela diri surgawi.

―Seseorang yang begitu gigih mengejar kekuatan, yang bahkan mengadakan turnamen seni bela diri untuk menemukan penerus yang layak guna menghancurkan anak-anaknya sendiri, mengapa kau mengabaikanku, yang memiliki tubuh bela diri surgawi? Mengapa kau tidak mendukungku?

Aku bahkan berpikir bahwa mungkin ayahku cemburu padaku. Ya, saat itu aku sangat picik. Tapi sekarang aku mengerti.

Dunia tidak bergerak sesuai dengan keinginanku.

Ini bukan tentang diperlakukan secara khusus karena aku memiliki tubuh bela diri surgawi; ini tentang menggunakan tubuh bela diri surgawi dengan baik untuk menjadi orang yang istimewa itu sendiri. Ketika harapan dan keinginan semua orang diletakkan pada keistimewaan itu, barulah tubuh bela diri surgawi menjadi berkah dari surga. Sekarang aku memahami hal itu.

“Apa yang sedang kau lakukan? Berencana melewatkan makan malam?”

Aku menembakkan panah dengan penuh semangat ke arah tempat aku merasakan qi.

Piiing.

Di dalam kegelapan, api unggun menyala terang, dengan daging babi hutan yang dipersiapkan dengan baik terpanggang di atasnya.

“Kapan kau belajar menyembelih hewan?”

“Aku belajar dari buku.”

“Untuk seseorang yang belajar dari buku, kau cukup mahir.”

Ayah, aku telah menyembelih dan memakan ratusan babi hutan.

Aku diam-diam mengalihkan topik pembicaraan.

“Benda yang sedang kaududuki itu disiapkan sebagai hadiah untukmu. Itu layak untuk diseret ke sini meskipun melelahkan.”

Ayah sedang duduk di atas kulit harimau yang kubawa di dalam kantongku.

Mendengar ucapanku, bibir ayahku sedikit melengkung. Sulit membayangkan siapa pun yang terlihat begitu pas sambil menyeringai, tetapi ayahku berhasil melakukan hal yang mustahil itu.

“Apakah kau ingin berburu bersamaku untuk mengesanku dan menjadi penerus?”

“Tidak. Aku tahu betul bahwa hal-hal seperti itu tidak mempan padamu.”

“Bagus kalau kau tahu.”

“Lagi pula, aku bisa menjadi penerus tanpa bantuanmu.”

“Penuh percaya diri, ya?”

“Tentu saja, saudaraku yang serakah, kejam, dan pemarah akan mencoba menghalangiku.”

“Mulai lagi menjelek-jelekkannya.”

“Aku harus melakukannya. Seberapa sering aku mendapatkan kesempatan untuk mengkritiknya secara terbuka di depan sang hakim?”

Ayah, jika kau benar-benar menginginkan persaudaraan yang damai di antara keluargamu, kau seharusnya membuat keputusan sejak awal. Kau seharusnya mendeklarasikan siapa penerusnya dan menyuruh kami untuk tidak memikirkan hal lain. Bahkan dengan deklarasi seperti itu, perselisihan penerus dipenuhi dengan perkelahian, pembunuhan, dan kekacauan sejak awal, bukan?

“Kenapa kau ingin berburu bersamaku?”

“Ada dua alasan. Yang pertama adalah untuk mempelajari sesuatu dan menjadi lebih kuat. Kurasa aku telah berhasil dengan yang pertama.”

“Dan menjadi lebih kuat artinya?”

Tatapan provokatif Ayah, yang mempertanyakan apakah aku berniat mengambil posisinya, membuatku segera menjawab.

“Alasan aku ingin menjadi lebih kuat bukanlah untuk menjadi Iblis Surgawi. Aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku dengan bermimpi menjadi Iblis Surgawi sementara kau masih sehat. Aku akan puas jika aku menjadi penerus dan bisa mempelajari seni bela diri dari Iblis Surgawi.”

Dari sudut pandang ayahku, baik saudaraku maupun aku kemungkinan besar tampak terlalu muda untuk menjadi penerus. Kenyataannya, baru sekitar sepuluh tahun kemudian dia menunjuk saudaraku sebagai penerus.

Aku tidak sanggup menunggu selama sepuluh tahun. Hanya menunggu untuk menunjukkan potensi saja tidaklah cukup. Sudah waktunya untuk mengeluarkan

pisau dari sarungnya dan mulai membuat lubang di mana-mana.

Jadi aku harus segera mempelajari Seni Iblis Sembilan Malapetaka dan mencapai kehebatan. Tidak, aku harus mencapai ranah yang bahkan lebih tinggi. Bahkan ayahku, yang telah mencapai Kehebatan Sepuluh Bintang, dikalahkan oleh Hwa Moogi. Aku harus mencapai Kehebatan Dua Belas Bintang.

“Kadang-kadang, aku membayangkannya. Bagaimana jika aku menghadapi seseorang yang sangat ingin kubunuh, tetapi aku tidak bisa karena aku tidak cukup kuat? Aku ingin menjadi lebih kuat untuk menghindari rasa frustrasi itu.”

Ekspresi ayahku tetap tidak berubah, jadi aku tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.

“Dan alasan kedua?”

“Aku ingin menghabiskan waktu berdua saja denganmu. Ini yang pertama kalinya, bukan?”

Seringai di bibir ayahku semakin mendalam lagi.

“Sentimen murahan yang sangat cocok untuk mati.”

“Mana mungkin ada hal yang murahan jika bersama Orang Terhebat di Dunia? Jika aku bernyanyi, itu adalah lagu terhebat di dunia. Jika aku minum, itu adalah minuman keras terhebat di dunia. Bahkan jika aku buang air besar….” (EN: Orang ini punya keberanian)

“Cukup.”

“Ya! Aku akan menjaga mulutku tetap tertutup selama satu jam penuh.”

Aku membalas tatapan ayahku dan tersenyum ceria. Itu mungkin pertama kalinya aku tersenyum di depannya.

Meskipun ayahku dengan dingin memalingkan wajahnya.

‘Saat aku memikirkan ayahku, tidak ada kenangan yang patut dihargai. Kenangan yang menakutkan bukanlah sesuatu yang membuat rindu, bukan? Dalam kehidupan ini, aku tidak akan membiarkan kenangan-kenanganku begitu sunyi. Tapi jangan senang dulu. Ini bukan demi dirimu, melainkan demi diriku.’

—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *