Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 47: Kamu Akan Mengisi Celah Itu >
Tak lama kemudian, Neunghyu memasuki ruangan.
“Tuan, aku langsung berlari begitu Anda memanggil.”
Tatapan kami beralih ke pinggangnya. Seperti diduga, tidak ada kipas yang biasanya dibawa oleh para pemanggil roh.
“Di mana kipasmu?”
“Aku kehilangannya kemarin.”
Soul Reaper Demon Supreme kemudian melemparkan kipas yang dibawanya ke arahnya.
“Ini milikku. Di mana kamu menemukan ini?”
Dia tidak berani bertanya kepada Soul Reaper Demon Supreme, jadi dia malah menanyakannya kepadaku.
“Beberapa mayat ditemukan kemarin, dan ini ditemukan di antara mereka.”
Mendengar jawabannya, Neunghyu tersentak. Itu adalah keterkejutan yang berbeda dari rasa kaget biasa karena barang-barang miliknya ditemukan di tempat kejadian perkara.
Dan Neunghyu pun tidak bertanya di mana mayat-mayat itu ditemukan atau apa penyebab kematiannya.
‘Ah, jadi Neunghyu adalah orang yang bertugas membuang mayat-mayat itu!’
Itulah saat di mana aku memastikan bahwa Soul Reaper Demon Supreme telah menggunakan teknik pemanggilan rohnya.
“Mengingat situasinya, kamu harus ikut denganku untuk diselidiki.”
Neunghyu tidak takut padaku. Dia menatap satu-satunya orang yang benar-benar dia takuti, mencari keputusannya.
Soul Reaper Demon Supreme menatapnya dalam diam, dan jelas sekali bahwa ia sedang mengirimkan pesan telepati dengan cara khasnya.
Segera, Neunghyu berbicara kepadaku.
“Dimengerti, ayo pergi.”
Dia tidak memprotes ketidakbersalahannya atau melawan dan dengan tenang dibawa ke dalam tahanan.
Aku membungkuk dengan sopan kepada Soul Reaper Demon Supreme.
“Terima kasih atas kerja sama Anda. Sampai jumpa lagi lain waktu.”
Soul Reaper Demon Supreme mengangguk dalam diam. Ekspresinya sangat tenang, tidak memberikan petunjuk sedikit pun tentang apa yang dipikirkannya.
* * *
Begitu kami kembali, aku memerintahkan penyelidikan terhadap Neunghyu.
Para penyelidik khusus bergiliran menginterogasinya, tetapi dia hanya mengulang bahwa dia telah kehilangan kipasnya dan tidak mengatakan hal lain.
“Dia tidak akan mudah bicara.”
Mendengar kata-kata Seo Daeryong, aku mengangguk. Aku bisa mengetahuinya hanya dengan melihat matanya. Kesetiaan dan ketakutannya terhadap Soul Reaper Demon Supreme terlalu kuat untuk bisa ditembus oleh bujukan atau interogasi apa pun.
“Kita tidak punya bukti bahwa dia melakukan pembunuhan-pembunuhan itu, jadi kita tidak bisa menahannya lama.”
“Dia toh hanya bidak catur. Jika kita ingin menangkap seseorang, orang itu haruslah Soul Reaper Demon Supreme.”
Membaca tekad di mataku, Seo Daeryong berbicara dengan khawatir.
“Berhati-hatilah. Lawanmu adalah Soul Reaper Demon Supreme.”
“Apakah kamu ingat apa yang kukatakan kepada kalian semua saat aku pertama kali mengambil posisi ini? Bahkan jika ayahku salah, aku akan tetap pergi untuk menangkapnya.”
“Ya.”
“Kalau begitu, dialah yang seharusnya berhati-hati. Pergilah dan katakan padanya untuk waspada.”
“Kuharap aku memiliki keberanian untuk melakukannya.”
Hari itu, seseorang yang tidak terduga datang mengunjungiku di ruang kerjaku.
Seo Daeryong, yang masuk dengan wajah terkejut, bahkan tergagap.
“K-Ketua Sekte ada di sini.”
Aku sama terkejutnya. Aku tidak pernah bermimpi ayahku akan datang ke sini.
“Silakan, persilakan dia masuk.”
Seo Daeryong keluar, dan tak lama kemudian, ayahku memasuki ruangan.
“Ayah? Ada perlu apa Ayah datang ke sini?”
“Aku sedang lewat dan memutuskan untuk mampir.”
Tidak mungkin. Dia pasti datang untuk memberitahuku sesuatu.
“Kami punya teh dan juga minuman keras.”
“Minuman keras apa di siang bolong begini? Mari kita minum teh saja.”
Aku secara pribadi menyiapkan dan menyajikan teh tersebut. Sementara itu, ayahku berdiri di dekat jendela di belakang meja kerjaku, memandang ke luar.
“Silakan minum tehnya.”
Masih menatap ke luar jendela, dia berbicara.
“Kamu belum boleh menyentuh Soul Reaper Demon Supreme sekarang.”
Aku sudah menduganya. Dia datang ke sini untuk memberitahuku hal ini.
Dia tahu bahwa aku telah pergi ke Western Illusion Formation dan membawa Neunghyu kembali sebagai tahanan. Dia juga tahu bahwa dengan ditemukannya mayat-mayat tersebut, terutama anak-anak, aku tidak akan membiarkan Soul Reaper Demon Supreme begitu saja.
“Kenapa tidak?”
“Karena ilmu bela dirimu belum cukup kuat untuk membunuhnya.”
“Aku akan menebasnya saat dia lengah. Jika perlu, aku akan menusuknya dari belakang untuk membunuhnya.”
“Berada di belakangnya akan lebih sulit daripada membunuhnya.”
“Apakah Soul Reaper Demon Supreme benar-benar sekuat itu?”
“Dia adalah yang paling lemah sekaligus yang paling kuat.”
Aku mengerti maksudnya.
Jika aku bisa melampaui teknik pemanggilan rohnya—jika aku bisa menguasai ilmu bela diri yang kebal terhadap sihirnya atau mencapai tingkat penguasaan di mana sihirnya tidak mempan—maka dia akan menjadi lawan yang paling mudah. Tanpa sihirnya, ilmu bela dirinya tidak ada istimewanya.
Dalam hal ini, Soul Reaper Demon Supreme akan menjadi yang terlemah di antara para Demon Supremes bagi ayahku. Sihirnya tidak akan berpengaruh apa pun padanya.
“Maukah Ayah membantuku melampauinya?”
“Itu tidak mungkin dalam waktu singkat.”
“Seperti yang Ayah lihat, aku belajar dengan cepat, bukan?”
“Itu saja tidak cukup. Ada dua cara untuk memblokir sihir Soul Reaper Demon Supreme. Yang pertama adalah dengan menguasai Nine Calamities Demon Art. Bergantung pada bakat praktisinya, tingkat resistensinya berbeda-beda, tetapi jika kamu mencapai tingkat kelima, sihirnya tidak akan memengaruhimu.”
“Aku tidak ingin mendengar cara yang kedua. Bantu aku memblokirnya dengan cara yang pertama.”
Ketika aku meminta ayahku lagi untuk menjadikannya penerusnya, dia pura-pura tidak mendengar dan terus menjelaskan cara yang kedua.
“Atau kamu bisa menguasai Heavenly Demon Body Protection Technique. Karena keduanya mustahil untuk saat ini, aku menyuruhmu untuk mundur.”
Pada saat itu, sebuah solusi terlintas di benakku. Ada satu metode yang kutahu karena aku telah bereinkarnasi kembali ke masa lalu.
‘Ayah, sebenarnya ada metode ketiga.’
Itu seratus kali lebih mudah daripada metode pertama dan kedua.
Tetapi masalah sebenarnya terletak di tempat lain.
“Apakah Soul Reaper Demon Supreme benar-benar aset yang sangat diperlukan bagi Sekte Iblis?”
Ayahku pasti merasakan niat membunuh dalam pertanyaanku yang tenang.
“Di antara Delapan Demon Supremes, sekte-sekte ortodoks menganggap Soul Reaper Demon Supreme sebagai yang paling merepotkan.”
Dia secara tidak langsung mengatakan bahwa Soul Reaper Demon Supreme itu memang diperlukan.
“Meskipun dia mencabut jantung orang yang masih hidup untuk teknik hebatnya? Apakah Ayah tahu tentang ini?”
Ayahku menggelengkan kepalanya.
“Aku baru mengetahuinya belakangan ini.”
Aku bertanya-tanya bagaimana ayahku akan menangani hal ini.
Bahkan dia tidak akan menyukai seseorang yang mencabut jantung dari orang yang masih hidup, apalagi warga sipil di bawah perlindungannya.
Namun, sebagai pemimpin sekte, dia tidak bisa begitu saja menyingkirkan seseorang yang akan menjadi kekuatan terkuat melawan Aliansi Murim. Ini bukan sesuatu yang harus ditangani oleh ayahku; ini adalah masalahku untuk diselesaikan.
“Ayah menyuruhku untuk melapor terlebih dahulu sebelum membunuh seorang Demon Supreme, bukan?”
Ini adalah janji yang telah membuatku bersumpah kepada ayahku ketika dia mengizinkanku mewariskan Soaring Sword Art kepada Lee Ahn.
“Aku melapor sekarang. Aku akan membunuh Soul Reaper Demon Supreme Yasuo. Dia akan menjadi yang pertama dari Delapan Demon Supremes yang mati.”
Di garis waktu sebelumnya, Soul Reaper Demon Supreme telah hidup paling lama di antara para Demon Supremes. Sekarang, dia akan menghadapi nasib sebaliknya.
“Ini bukan tentang membunuh seseorang dalam amarah. Ini lebih buruk daripada orang gila yang berkeliling membunuh orang secara acak. Ini tentang membunuh warga sipil secara sistematis dan teratur dengan pikiran jernih dan menyembunyikan semua bukti keterlibatannya. Jika dia memiliki tujuan yang agung, itu mungkin masih bisa sedikit dimengerti. Tapi dia melakukan ini hanya untuk menjadi sedikit lebih kuat, dan dia menggunakan metode yang mengerikan untuk mencapainya. Ini bukan manusia, Ayah. Ayah punya posisi di antara Delapan Demon Supremes, jadi serahkan ini padaku. Ayah memberiku pedang, jadi biarkan aku menggunakannya sampai akhir.”
Aku tidak tahu seberapa besar ayahku akan berempati dengan kata-kataku. Meskipun aku ingin berjalan di jalur yang sama dengannya, aku harus berpikir secara berbeda mengenai masalah ini.
Sama seperti dalam perjalanan panjang, terkadang kamu harus berpisah jalan dengan rekan-rekanmu dan bertemu lagi nanti.
Ayahku menatapku dalam diam untuk waktu yang lama, lalu meninggalkan ruangan setelah mengatakan sesuatu yang sama sekali tak terduga.
“Jika kamu cukup mampu… maka kamu akan mengisi celah yang ditinggalkannya, jadi itu tidak akan menjadi masalah besar.”
Dia telah memberiku izin untuk membunuhnya. Itu adalah nasihat untuk melanjutkan jika aku cukup kuat, ditambah dengan tekanan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkannya.
Senyuman merayap di bibirku. Karena dia sudah pergi, aku mengucapkan terima kasih dalam diam.
‘Terima kasih, Ayah.’
Sungguh, ayahku tetaplah ayahku. Ya, ini bukanlah perjalanan di mana kami akan berpisah jalan. Aku dan ayahku masih berjalan di jalur yang sama.
Kemungkinannya kecil, tetapi jika suatu hari nanti aku menjadi seorang ayah dalam masa hidup ini… aku ingin memberikan kepada anakku perasaan mendebarkan yang sama persis seperti yang baru saja diberikan oleh ayahku kepadaku.
Tentu saja, aku akan tetap hidup sendirian di masa hidup ini jadi itu adalah sesuatu yang mustahil sejak awal. (CATATAN PENERJEMAH: Aku tidak begitu yakin kalau jadi kamu~~ ^^)
* * *
“Tolong, tolong ampuni aku. Aku punya anak-anak. Jika aku mati, anak-anakku…”
Pria itu dengan tenang menatap mata wanita yang memohon itu.
Wanita itu, dalam ketakutan, menatap pria itu.
Tatapan dari pria berpenampilan biasa ini sungguh mengerikan karena sama sekali tidak menyisakan kehidupan, emosi, atau bahkan jiwanya.
Namun, memikirkan anak-anaknya memberinya keberanian. Dia membesarkan mereka sendirian. Tanpa dirinya, anak-anaknya yang masih kecil tidak akan mampu bertahan melewati musim dingin dan akan mati.
“Tolong lepaskan aku. Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau. Lepaskan saja aku. Tolong! Ampuni aku.”
Air mata mengalir dari mata wanita itu.
Kemudian, dia melihat pupil mata pria yang tampak mati itu berubah menjadi hitam. Di dalam kegelapan itu, dia melihat bayangan anak-anaknya.
Untuk sesaat, dia tersenyum cerah karena lega, tetapi tak lama kemudian wajahnya berkerut kesakitan.
Anak-anak itu menderita kelaparan, dipukuli oleh pengemis lain, dan diseret oleh orang gila untuk menanggung siksaan.
“Tidak! Tolong! Jangan!”
Mata pria itu tanpa ampun. Seolah ingin merenggut semua kesedihannya, dia memutar ulang saat-saat terakhir anak-anaknya.
Anak-anak itu ambruk di jalanan musim dingin yang membeku, menghembuskan napas terakhir mereka. Kata-kata “Ibu, aku lapar” meluncur dari mulut mereka.
“Aaaah! Tidak!”
Ketika kesedihan dan keputusasaannya mencapai puncaknya, jantungnya direnggut dari dadanya.
Jantungnya berdetak di tangan pria itu.
Darahnya berubah menjadi air mata kepedihan, berhamburan ke segala arah, saat dia lebih meratapi ketidakmampuannya melihat anak-anaknya daripada kehilangan nyawanya sendiri.
Napasnya terhenti, and tenaga dalam dari pria berpenampilan biasa itu meningkat sedikit saja.
* * *
Keesokan harinya, aku membawa Neunghyu, yang berada di ruang interogasi, dan pergi ke Western Illusion Formation.
Aku memutuskan untuk menggunakan metode ketiga untuk membunuh Soul Reaper Demon Supreme.
Namun, untuk itu, aku memerlukan waktu sekitar dua bulan. Ini karena aku harus tiba di suatu tempat pada tanggal yang telah ditentukan. Sampai saat itu tiba, aku harus mengulur waktu, bagaimanapun caranya. Hanya dua bulan.
Kali ini, aku hanya membawa Seo Daeryong. Dia ketakutan dan menolak untuk pergi, tetapi aku tetap menyeretnya. Dia membutuhkan berbagai pengalaman karena dia akan menjadi pemimpin masa depan Underworld Pavilion.
Tepian hitam di mata Soul Reaper Demon Supreme, yang menyambut kami, tampak sangat besar dan menyeramkan.
“Neunghyu telah dibebaskan. Kami tidak dapat menemukan bukti apa pun bahwa dia membunuh mereka.”
“Kalau begitu kamu seharusnya hanya membebaskan Neunghyu. Kenapa kamu datang kesini?”
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.”
“Katakan.”
“Tolong kosongkan area ini.”
Aku menyuruh Seo Daeryong keluar. Apa yang hendak kukatakan sangat penting sehingga lawan bisa bereaksi dengan niat membunuh, yang akan sangat berbahaya baginya.
Ketika kami tinggal berdua, aku berbicara kepadanya.
“Aku tahu bahwa kamu sedang melatih Heart and Soul Reaping Technique.”
“Apa itu Heart and Soul Reaping Technique? Ini pertama kalinya aku mendengarnya.”
Dia berbohong tanpa ada perubahan sedikit pun pada ekspresinya. Telah mencapai posisi Demon Supreme dengan memanipulasi hati orang-orang, dia tidak menunjukkan gangguan emosional sama sekali.
“Berhentilah melatih teknik itu.”
“Tuan Muda Kedua, apa sebenarnya yang sedang kamu bicarakan?”
Suaranya bergemerincing dengan bising dari segala arah.
“Jika kamu menolak usulanku, kamu akan mati.”
Ketika Soul Reaper Demon Supreme tertawa mengejek, kata-kataku bergema seolah-olah sedang menertawakanku.
—Jika kamu menolak, kamu akan mati, jika kamu menolak, kamu akan mati…
Kata “mati” terdengar dalam suara beberapa orang yang kukenal.
Menenangkan pikiranku dengan Heavenly Demon Body Protection Technique, aku berbicara dengan tegas.
“Aku bukan orang yang akan membunuhmu.”
—Aku bukan, aku bukan…
Sekali lagi, kata-kataku bergema dalam suara beberapa orang, mengejekku.
“Aku akan membujuk ayahku.”
Gema itu berhenti seketika saat aku menyebut nama ayahku.
Keheningan yang dalam dan berat turun ke dalam ruangan.
Satu-satunya orang yang dia takuti.
Untuk saat ini, hanya ayahku yang bisa mengekangnya.
“Setiap pagi, aku akan menemuinya dan memintanya. Tolong bunuh Soul Reaper Demon Supreme. Keesokan harinya, aku akan memintanya lagi. Mereka yang mencabut jantung orang hidup hanya menodai wibawa sekte kita. Aku akan memintanya lagi keesokan harinya. Aku akan memberitahunya bahwa aku akan melepaskan posisi penerus jika dia membunuhmu. Hari demi hari, aku akan membujuknya dengan segala macam alasan. Dan suatu hari nanti, setelah kamu membuat kesalahan besar terhadap ayahku, dia mungkin memutuskan untuk membunuhmu.”
Begitu aku selesai berbicara, pupil hitam milik Soul Reaper Demon Supreme menyusut seukuran titik. Itu adalah pemandangan aneh seolah-olah pupil matanya disedot ke suatu tempat, hanya menyisakan sebuah titik. Pada saat yang sama, aura seram yang kuat terpancar dari tubuhnya.
Kihehehehehe.
Suara hantu bergema, dan sekitarnya menjadi gelap lalu terang kembali.
Tanpa sadar, segala sesuatu di sekitar kami telah berubah sepenuhnya.
—
