Translator: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis
Murim Term Consultant: Kopke
========================
< Bab 35: Sebaliknya, Jangan Lupakan >
“Aku tidak bersalah! Aku tidak melakukannya!”
Orang yang memohon ketidakbersalahannya di ruang interogasi Paviliun Alam Baka adalah Bae Jongtak, seorang seniman bela diri dari Keluarga Pedang Langit Utara yang dipimpin oleh Mahatinggi Pedang Sekali Tebas.
Dia telah dituduh dan ditangkap atas kejahatan menyerang seorang pelayan muda dari keluarga Pedang. Di masa lalu, insiden seperti itu tidak akan berkembang menjadi masalah besar, tetapi kali ini, dia ditangkap sehari setelah tuduhan itu dibuat.
“Pelayan itu menjebakku! Tolong biarkan aku menghadapinya! Aku tidak bersalah.”
“Untuk apa pelayan itu menjebakmu?”
“Aku tidak tahu. Mungkin seseorang menghasutnya, atau mungkin aku membuat kesalahan yang menyinggung perasaannya. Tapi aku bersumpah, aku tidak menyerangnya.”
Dia tampak benar-benar merasa dizalimi.
“Baiklah, aku akan mengatur konfrontasi.”
“Bawa dia ke sini sekarang juga.”
Ketika aku memberikan isyarat, Seo Daeryong, yang sedang menunggu di luar, membawa masuk seorang gadis yang tampak berusia sekitar tiga belas atau empat tahun. Gadis itu gemetar ketakutan.
“Ada apa? Kenapa kalian melakukan ini padaku?”
Bae Jongtak dengan keras menegur gadis itu.
Aku mengangkat tangan untuk menenangkannya.
“Tenang! Jika kau menaikkan suaramu lagi, tidak akan ada investigasi lanjutan.”
“Ya, aku minta maaf.”
Aku bertanya kepada gadis itu, “Apakah orang yang menyerangmu adalah Seo Daeryong?”
Gadis itu perlahan menganggukkan kepalanya.
“Lihat! Dia mengangguk bahkan tanpa menatap mataku secara langsung.”
“Apakah kau perlu memeriksa wajahnya dengan cermat ketika kau mengenalnya?”
“Karena rasa bersalahlah makanya aku tidak bisa menatap matanya.”
“Apakah itu benar-benar bukan kau?”
“Tidak, aku bersumpah demi langit itu bukan aku. Jika kau hanya mempercayai perkataan anak ini dan menghukumku, ini terlalu tidak adil. Coba pikirkan. Jika aku menginginkan wanita, aku bisa pergi ke rumah bordil, tapi untuk apa aku repot-repot dengan gadis muda seperti ini?”
“Aku tidak tahu. Kau beri tahu aku. Apakah kau bergairah saat melihat gadis muda?”
“Aku tidak melakukannya, sudah kubilang.”
Bae Jongtak menatap tajam ke arah gadis itu dengan mengancam.
“Tidakkah kau tahu betapa menakutkannya tuduhan palsu? Aku akan memaafkanmu, jadi katakan yang sebenarnya. Katakan itu bukan aku!”
Tubuh gadis itu gemetar ketakutan.
“Lihat! Dia menggigil ketakutan, bukan?”
“Itu karena dia takut. Jika dia mengungkapkan kebenaran, katanya mereka akan pergi ke kampung halamannya dan membunuh keluarganya.”
Insiden ini tidak dilaporkan oleh gadis itu sendiri. Gadis itu menceritakannya kepada orang lain, dan orang itu pergi ke cabang Paviliun Alam Baka di sisi lain Kedai Minum Angin Mengalir untuk melaporkannya.
“Kenapa kau hanya mempercayai anak itu?”
“Karena aku ingin.”
“Bukankah itu terlalu subjektif?”
“Karena sudah pasti kaulah yang menyerang mereka.”
“Kalau begitu tunjukkan padaku bukti yang pasti! Jangan hanya mempercayai perkataan anak itu.”
Ketika aku melihat Seo Daeryong, dia pergi ke luar. Dia kembali dengan membawa dua anak lagi. Mereka adalah gadis-gadis yang sedikit lebih tua daripada anak yang masuk sebelumnya.
Begitu Bae Jongtak melihat mereka, dia tersentak.
“Apakah kau ingat? Mereka dulu bekerja di bawahmu.”
“Aku tahu. Mereka sudah tumbuh besar!”
Bae Jongtak menyapa mereka dengan hangat, tetapi anak-anak itu menundukkan kepala tanpa merespons.
“Saat mendengarkan kesaksian anak-anak, aku menjadi penasaran. Kau melakukan kejahatan kali ini, tetapi mungkinkah kau juga melakukannya sebelumnya?”
Setelah menyelidiki insiden-insiden sebelumnya, ditemukan bahwa gadis-gadis ini juga telah diserang.
“Semua kesaksian telah diberikan. Cara kau menyerang anak-anak itu sama. Ancaman-ancamannya sama. Kau mempermainkan mereka selama dua hingga tiga tahun lalu beralih ke anak-anak lain.”
Menyadari bahwa dia tidak dapat menyangkalnya lagi, ekspresi Bae Jongtak berubah. Pria yang tadinya memohon ketidakbersalahannya menghilang, menampakkan sifat aslinya yang menjijikkan.
“Aku sedang mabuk dan membuat kesalahan. Tolong maafkan aku sekali ini saja.”
Sikap tenang sang pria yang tiba-tiba itu sangat berbeda dari cara dia memohon sebelumnya sehingga rasanya seperti menonton pertunjukan rombongan teater jalanan.
Pria itu berbicara dengan tenang kepada anak-anak tersebut.
“Jujur saja, kalian juga menikmatinya, bukan? Aku bahkan memberimu uang setiap kali selesai, kan?”
Mendengar itu, gadis yang paling bungsu mengeluarkan beberapa koin dari saku bajunya dan melemparkannya ke lantai. Koin-koin itu berdenting saat berserakan. Dia telah menyimpan setiap koin tanpa membelanjakannya satu pun dan membawanya hari ini.
Bae Jongtak memalingkan wajahnya, berpura-pura tidak melihat, dan memohon kepadaku.
“Aku dengar dalam sejarah Paviliun Alam Baka, tidak ada seorang pun yang pernah dipenjara karena menyentuh seorang pelayan.”
“Kau mengerjakan PR-mu. Itu benar.”
“Aku bersumpah ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku berjanji pada langit. Aku akan menulis surat pernyataan jika diperlukan. Tidak, aku bahkan akan memastikan tidak ada pelayan wanita.”
“Kau tidak akan masuk penjara.”
Mendengar perkataanku, anak-anak itu mendongak. Mereka semua memiliki wajah ketakutan.
“Terima kasih. Terima kasih banyak.”
Pria itu menyeringai dan melihat ke arah anak-anak tersebut, dan anak-anak itu semuanya menghindari tatapannya dan menundukkan kepala.
“Tapi kau akan pergi ke tempat lain.”
“Di mana itu?”
“Di Neraka.”
Shiiik! Bruk!
Dengan satu gerakan cepat, pedangku mengiris leher pria itu. Dia jatuh ke belakang bersama kursinya tanpa mengeluarkan teriakan sedikit pun, tewas.
Situasi yang tiba-tiba itu membuat anak-anak tersebut menjerit karena terkejut. Darah pria itu mengalir membasahi koin-koin yang berserakan di lantai.
Aku segera berbalik menghadap anak-anak itu.
“Orang yang menyiksa kalian sekarang sudah mati. Keluarga kalian juga tidak akan mati. Jadi mulai sekarang, hiduplah tanpa rasa khawatir.”
Anak-anak itu menatapku dengan wajah terkejut.
“Apa yang kalian lalui, kalian tidak akan pernah melupakannya sampai hari kematian kalian. Jika kalian toh tidak bisa melupakannya, maka jangan lupakan apa yang terjadi hari ini. Kuburkan penderitaan kalian bersama momen ketika pria ini membayar dosanya. Hanya ingatlah saat-saat terakhirnya.”
Ini adalah hal terbaik yang bisa kulakukan untuk anak-anak itu.
Ini adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan untuk mereka.
Mereka memandangi mayat itu lalu saling berpandangan.
Setelah beberapa saat, anak yang paling besar melangkah maju dan membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih banyak karena telah membalaskan dendam kami.”
Anak-anak yang lain juga menundukkan kepala.
“Terima kasih, Tuan. Hiks.”
Gadis yang paling bungsu menangis tersedu-sedu, dan anak yang lain memeluknya. Air mata juga mengalir di wajah anak yang sedang memeluknya.
Tidak ada yang peduli bagaimana para pelayan diperlakukan. Aku pun sama di masa lalu.
“Kalian tidak perlu berterima kasih padaku. Alasan aku bisa menghukumnya adalah karena kalian dengan berani memberikan kesaksian. Itulah pembalasan yang kalian capai. Jadi, hiduplah dengan berani mulai sekarang.”
“Ya.”
“Dan tidak akan pernah ada pembalasan dari teman-teman atau keluarga pria ini. Mulai sekarang, Paviliun Alam Baka akan melindungi kalian.”
Bahkan gadis tertua mulai menangis.
“Sungguh… terima kasih.”
Ayah, jika kita, yang dibutakan oleh nama sebagai yang terkuat, tidak dapat melindungi anak-anak ini, kita pantas kepalanya dipenggal oleh keparat-keparat aliran lurus yang sangat Ayah benci itu. Tidak, kita seharusnya dipenggal. Kita tidak akan punya alasan apa pun.
Para penyelidik masuk dan membawa anak-anak itu pergi. Aku telah menyuruh mereka untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak ini, jadi mereka tidak perlu khawatir tentang apa pun.
Insiden ini juga akan menyebar di dalam Sekte, mengurangi jumlah orang yang berani menganiaya para pelayan. Kita perlu memperbaiki kesalahpahaman bahwa hal-hal seperti itu dapat diterima hanya karena kita berada di sekte iblis.
Lee Ahn, yang telah mengamati interogasi tersebut, menggelengkan kepalanya.
“Saat aku melihatnya menyangkal tadi, aku benar-benar mengira dia telah dianiaya. Ini benar-benar menakutkan.”
“Manusia lebih menakutkan daripada hantu.”
“Tapi dia berafiliasi dengan Keluarga Pedang Langit Utara. Apakah Mahatinggi Pedang Sekali Tebas akan tinggal diam?”
“Bawahan wanita itu berulang kali menyerang pelayan muda. Jika dia mempermasalahkan aku membunuh pria semacam itu, itu bukan tindakan yang bijaksana.”
* * *
Dua jam kemudian, aku menuju ke Keluarga Pedang Langit Utara bersama Seo Daeryong.
“Apakah kau benar-benar harus mengajakku?”
“Ini kunjungan resmi. Bisakah pemimpin pergi sendirian? Tangan kanannya harus mendampinginya.”
“Kapan aku menjadi tangan kananmu?”
“Kau adalah tipe yang kejam dan haus kekuasaan, tetapi seorang pria sejati yang hanya mencintai satu wanita. Kau adalah seorang pemberontak yang mengangkat tangan ketika orang lain terdiam. Itu sudah cukup bagus untuk menjadi tangan kananku.”
“Ya ampun!”
“Deskripsi mana yang kau suka?”
“Aku tidak suka satupun dari itu!”
Tidak lama kemudian, kami tiba di pintu masuk Keluarga Pedang Langit Utara.
Jika Keluarga Pedang Langit Selatan milik Iblis Pedang Darah Langit menguasai bagian selatan sekte kami, maka Keluarga Pedang Langit Utara milik Mahatinggi Pedang Sekali Tebas mendominasi bagian utara.
“Ini pertama kalinya aku mengunjungi Keluarga Pedang Langit Utara. Tidak ada kasus yang aku tangani sebelumnya yang melibatkan mereka. Tidak seperti Iblis Pedang Darah Langit, Mahatinggi Pedang Sekali Tebas telah mengelola bawahannya dengan baik. Para Pendekar Iblis dari Keluarga Pedang juga sangat menjunjung tinggi kehormatan.”
“Begitukah?”
Ketika aku menanggapinya dengan acuh tak acuh, Seo Daeryong bertanya, “Kau tidak setuju?”
“Bagiku, Pendekar Iblis atau Hantu Pedang, mereka semua sama saja. Bisakah mereka yang katanya menjunjung tinggi kehormatan memiliki tatapan mata seperti itu?”
Tatapan mata para Pendekar Iblis yang berjaga di pintu masuk sama sekali tidak bersahabat.
Mereka tampaknya sudah mendengar tentang kematian Bae Jongtak. Alih-alih bersikap ‘dia melakukan kejahatan dan dengan demikian mati’, emosi mereka lebih mendekati ‘Kau membunuh salah satu anggota Keluarga Pedang Langit Utara kami hanya karena dia mengganggumu?’ Tentu saja, mengingat situasi saat ini, mereka tidak berani memprovokasi ku secara terang-terangan, jadi mereka segera membungkuk dengan hormat.
Seo Daeryong berbisik kepadaku, “Belakangan ini, aku sering melihat tatapan itu. Itu terjadi setiap kali aku bersama seseorang.”
“Mari kita tambahkan ‘pejuang perdamaian’ ke dalam daftar deskripsi untukmu.”
“Oh…”
Seorang seniman bela diri sedang menunggu untuk memandu kami.
“Nyonya sedang menunggu Anda. Saya Sa Woojong.”
Sa Woojong dikenal sebagai tangan kanan Mahatinggi Pedang Sekali Tebas. Dia adalah salah satu dari tiga ahli teratas di dalam Keluarga Pedang Langit Utara, dan kehadirannya setajam bilah pedang.
Aku tahu cukup banyak tentang pria ini. Bukan karena hubungan pribadi apa pun, tetapi karena ajalnya telah meninggalkan kesan yang kuat padaku.
“Senang berkenalan denganmu.”
“Silakan ikuti saya.”
Sa Woojong memandu kami masuk lebih jauh ke dalam. Kami melewati bangunan-bangunan tempat para Pendekar Iblis tinggal, menuju ke area yang paling dalam.
Di sana berdiri sebuah pondok jerami kecil.
Tempat yang kuno dan terawat baik ini adalah kediaman Mahatinggi Pedang Sekali Tebas.
“Pemimpin Paviliun Alam Baka telah tiba,” umum Sa Woojong.
Mendengar ucapannya, pintu pondok itu terbuka, dan seorang wanita ber jubah putih melangkah keluar.
“Selamat datang, Pemimpin Paviliun.”
Wanita bersuara lembut itu tidak lain adalah Mahatinggi Pedang Sekali Tebas, So Yeonrang.
—
