Lewati ke konten
Absolute Regression

16 – Absolute Regression Chapter 16

Translator: FenrirTL

Editor : TheBattleSage

Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis

Murim Term Consultant: Kopke

========================

< Bab 16: Jawabannya Sudah Terdengar Sebelumnya >

Sore harinya, Seo Daeryong membawa selusin lebih penyelidik dari Paviliun Dunia Bawah.

Karena situasinya semakin terlihat seperti investigasi skala penuh akan dimulai, Pasukan Iblis mulai merasa cukup gelisah. Rumor menyebar bahwa Jangho, orang yang memimpin penyelidikan, akan menggeledah seluruh Pasukan Iblis secara menyeluruh.

Lalu, tepat pada malam itu, sebuah insiden pecah.

Saat aku sedang beristirahat di kamarku, seorang penyelidik dari Paviliun Dunia Bawah berlari masuk.

“Ada masalah. Kau harus datang dan melihatnya, cepat.”

Ketika aku tiba di tempat yang dimaksud, aku melihat koridor di depan ruang investigasi berantakan total. Rupanya telah terjadi pertarungan antara Pasukan Iblis dan para penyelidik.

“Berhenti di situ!”

Aku menempatkan diriku di antara Pasukan Iblis dan para penyelidik untuk melerai pertarungan sebelum hal itu benar-benar menjadi tak terkendali.

Salah satu penyelidik tergeletak di tanah, berdarah akibat apa yang tampaknya bukan sekadar pukulan biasa. Wajahnya robek, dengan darah mengalir dalam aliran-aliran kecil dan tulang rusuknya tampak hancur total.

Seo Daeryong, yang sangat marah bukan kepalang, melangkah maju pada suatu momen tetapi tidak sanggup menahan kebuasan Pasukan Iblis dan akhirnya malah ikut dihajar babak belur.

“Bagaimana keadaan luka-lukamu?”

“Aku baik-baik saja, tapi rekanku di sana terluka parah.”

“Kalau begitu bawa dia ke ruang medis, cepat.”

Penyelidik yang lain mengangkat pria yang tumbang itu dan membawanya pergi.

Dalang dari insiden ini, pemimpin divisi pertama[a] Godang, ada di sana tanpa rasa malu.

“Kau yang melakukan ini?”

“Ya.”

Pasukan Iblis yang berdiri di sekitar mereka semuanya berasal dari divisi pertama. Didukung oleh hal itu, Godang sama sekali tidak tampak gentar. Sebenarnya, ia tampak menikmati situasi tersebut, dengan para bawahannya juga terlihat seperti akan meledak dalam tawa kapan saja.

“Entah kenapa, rasanya seperti sebuah ramalan akan menjadi kenyataan hari ini.”

Mengetahui ramalan apa yang ku maksud, Seo Daeryong menelan ludah dengan susah payah.

“Ramalan apa yang tiba-tiba kau muntahkan?”

Tanya Godang, dan Seo Daeryong menatap lurus ke arah kepalanya dan menjawab mewakili diriku.

“Pemimpin Godang, itu adalah ramalan yang tidak akan pernah ingin kau ketahui, sebagai seorang manusia.”

“Kalau begitu aku juga akan membuatkan ramalan untukmu. Tuan muda yang ada tepat di hadapan kita ini dari Pasukan Iblis akan diusir dari sekte setelah kalah dalam pertarungan pewaris dan akhirnya hidup dari menumpang pada sekte-sekte lurus dari aliansi persilatan.”

Bawahan Godang tertawa terbahak-bahak mendengar pernyataan itu.

Alih-alih marah, aku justru merasa senang.

“Oh, sungguh ramalan yang luar biasa!”

“Luar biasa, katamu?”

“Ya, meskipun aku kalah dalam pertarungan pewaris, aku selamat, bukan? Dan selain itu aku bisa hidup menumpang pada orang lain seumur hidupku tanpa harus bekerja! Bukankah menjalani kehidupan yang bermalas-malasan tanpa kekhawatiran adalah impian bagi kita semua? Terima kasih atas ramalannya! Aku akan menjalani kehidupan keduanya di sana.”

Wajah Godang mengeras ketika ia menyadari bahwa dirinya sedang diejek.

“Kenapa kau melukai pendekar Paviliun Dunia Bawah?”

“Dia berani menabrakkan bahunya padaku di koridor tanpa meminta maaf dan berlalu begitu saja. Aku memberinya pelajaran untukmu. Bersyukurlah! Aku mengajarinya sopan santun.”

“Bumgkusmu pasti bahumu sendiri yang menghantamnya. Sekalipun ia meminta maaf, kau tidak akan membiarkannya begitu saja.”

Godang tertawa terbahak-bahak tanpa menyangkal pernyataanku. Para bawahannya yang mengelilingi kami ikut tertawa bersamanya.

“Racun.”

Tanya Godang, kebingungan dengan ucapanku.

“Racun? Apa maksudmu?”

“Bawahanmu adalah racun bagimu.”

“Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?”

Selama bawahannya memperhatikan, ia tidak akan mundur karena harga diri semata, tetapi jika hal itu membawanya pada kejatuhan, bukankah itu justru dihitung sebagai arogansi?

“Godang, bukankah kau membunuh seorang pendekar dari sekte kita tahun lalu dengan alasan yang sama? Dan tahun sebelumnya, kau memulai pertarungan di kedai minuman dan membunuh tiga orang.”

Semua korban adalah pendekar berperingkat rendah, dan Pasukan Iblis menutup-nutupi insiden tersebut sebelum hal itu menjadi masalah serius.

“Ada orang-orang bodoh di mana-mana yang kurang memiliki rasa hormat kepada senior mereka.”

Matanya mengirimiku tatapan yang jelas-jelas meneriakkan, ‘Salah satu orang bodoh itu ada tepat di hadapanku.’

“Kau tahu? Aku menerima sesuatu ketika aku turun ke sini selain wewenang seorang Perwira Investigasi.”

“Dan apa persisnya itu?”

“Wewenang Eksekusi Ringkas.”

Atas penyebutan Wewenang Eksekusi Ringkas, entah kenapa lingkungan sekitar langsung menjadi senyap seketika.

Namun, Godang malah semakin mencibirku.

“Apa gunanya memiliki wewenang ketika kau tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya?”

Para bawahannya kembali tertawa terbahak-bahak, merasa kembali bersemangat.

Ketika aku menyebutkan racun sebelumnya, inilah persisnya. Ketika orang bodoh sadar akan tatapan di sekelilingnya, inilah yang terjadi.

Biasanya, ia seharusnya berada dalam ketegangan yang luar biasa, tetapi ia malah memamerkan diri di depan bawahannya. Hanya ia sendiri yang tidak menyadari panggung megah tempat ia berdiri. Yang sedang ku siapkan, khusus untuknya.

Saat aku melangkah lebih dekat ke arah Godang, orang-orang bodoh di sekitar Godang bergegas maju.

“Menyentuh kami berarti menyentuh Pasukan Iblis. Aku ingin tahu apakah Tuan Muda Kedua memiliki keberanian untuk itu.”

“Setidaknya aku tidak bersembunyi di balik bawahanku.”

Godang mengangkat tangan kanannya yang diperban.

“Aku terluka karena ulah seorang pengecut tertentu.”

Aku mengangkat tangan kananku dan berkata,

“Tangan kananku dan pedangku. Aku tidak akan menggunakan keduanya juga.”

Godang tersentak, tidak menduga respons tersebut.

Namun, ia berada di bawah ilusi bahwa di atas panggung yang kami berdua bagikan ini, protagonisnya bukanlah aku.

“Jika kau terluka, apakah kau akan pergi dan mengadu kepada Iblis Surgawi?”

Para bawahannya kembali tertawa terbahak-bahak. Semakin mereka tertawa, semakin panas panggung tersebut.

“Bukan hanya aku tidak akan meminta pertanggungjawaban siapa pun jika aku terluka, tetapi bahkan jika aku mati, kesalahannya tidak akan jatuh kepada siapa pun.”

“Apakah kau bersumpah?”

Aku mengetuk pedangku dua kali sebagai sumpah.

Baru saat itulah ia menerima tantanganku.

“Bagus! Mari kita lihat apa kemampuanmu.”

Godang mencabut pedangnya dan memegangnya di tangan kirinya. Ia melangkah maju dengan percaya diri karena ia bisa menangani pedang dengan tangan kirinya sebaik tangan kanannya. Berdiri di hadapannya adalah aku yang bertangan kanan.

Aku berjalan maju perlahan dengan tangan kanan di belakang seolah-olah dirangkapkan di belakang punggungku.

“Bagaimana jika kau menggunakan tangan itu karena putus asa?”

Godang tampak takut kalau-kalau aku akan menggunakan tangan kananku.

“Kalau begitu perintahkan bawahanmu untuk menyerang dan membunuhku bersama-sama.”

“Hmph! Begitu percaya diri. Kudengar kau baru saja melakukan pertandingan main-main dengan para murid muda dari Keluarga Pedang Langit Selatan. Sepertinya kau mendapatkan sedikit kepercayaan diri dari situ.”

“Sebenarnya, tingkah konyolmulah yang lebih menghibur.”

“Tutup mulutmu!”

Godang menerjang ke arahku, menusukkan pedangnya.

Aku menganggap duel ini sebagai bagian dari pelatihan. Hal yang krusial dalam pelatihan adalah pengalaman praktis, dan pertarungan sungguhan dengan seorang pemimpin divisi Pasukan Iblis akan menjadi pengalaman yang sangat berharga.

Godang tidak menahan diri. Ia menggunakan seluruh tenaganya untuk melukaiku bagaimanapun caranya.

Setiap kali pedangnya meleset, desahan kekecewaan bergema di sekeliling kami.

Bagi mereka, hal itu mungkin tampak seperti aku nyaris menghindari tusukan, tetapi pikiranku setenang danau.

Bertarung melawannya, aku menyadari satu hal dengan jelas. Pada levelku saat ini, aku bisa dengan mudah menangani Godang bahkan hanya dengan tangan kiriku saja.

Minat utama dalam hasil pertarungan ini adalah, “Dalam berapa jurus?”

Aku memutuskan empat puluh jurus. Ketika pertarungan ini berakhir, rumor itu akan menyebar seperti ini:

“Tuan muda ini mengalahkan pemimpin Pasukan Iblis hanya dalam empat puluh jurus.”

Karena aku mengalahkan Yang Po, murid dari Iblis Pedang Darah Langit, dalam waktu sekitar dua puluh jurus, menang melawan Godang dalam empat puluh jurus akan tampak cukup seimbang.

Ketika kami mencapai jurus keempat puluh, aku mengubah gerak kaki dan mendekatinya.

Saat aku mencengkeram pergelangan tangan yang memegang pedang miliknya, Godang berusaha menariknya dengan kasar. Tetapi jika hal itu memungkinkan, ia tidak akan membiarkan ku mencengkeram pergelangan tangannya sejak awal.

Saat tubuhku berputar, memegang lengannya,

Krasak!

Lengan Godang terpuntir seperti kain yang sedang diperas saat cucian, dan sebuah tulangnya tersembul keluar dari pergelangan tangannya.

“Aaaargh!”

Saat ia berteriak kesakitan, tinjuku kembali melayang ke arah wajahnya.

Dengan suara gedebuk yang berat, Godang jatuh ke tanah.

Aku menaiki tubuhnya yang terjatuh dan menghantamkan tinju kiriku ke bawah. Jika aku menggunakan Qi-ku sama sekali, itu akan menjadi pukulan fatal, tetapi aku hanya melancarkan pukulan tanpa menggunakan Qi-ku.

Gedebuk! Gedebuk! Gedebuk!

Salah satu Pasukan Iblis yang menonton bergegas menerjang ke arahku.

Sambil duduk di atas perut Godang, aku mencabut dan mengayunkan pedangku dengan santai.

Bagian bawah perut pria yang menyerang itu terbelah, dan ia jatuh tersungkur ke depan.

Tidak ada yang menyangka aku akan menebasnya dalam satu tebasan, sehingga Pasukan Iblis, Seo Daeryong, dan para penyelidik Paviliun Dunia Bawah semuanya tampak sangat terkejut.

“Gila!”

“Bunuh dia!”

Dua pengikut Godang yang sangat bodoh mencabut pedang mereka dan menerjang.

Dalam situasi yang mendesak, serangan putus asa mereka justru menjadi jurus terakhir dalam hidup mereka.

Aku melompat bangkit dan menusukkan pedangku dua kali. Pedang mereka menggores tubuhku, tetapi pedangku mengenai sasaran-sasarannya secara tepat.

Cipat! Cipat!

Keduanya jatuh, menyemburkan air mancur darah dari leher mereka yang tertusuk.

Dalam sekejap, tempat itu berubah menjadi lautan darah. Saat ketiga rekan mereka berubah menjadi mayat, para prajurit Pasukan Iblis ragu-ragu apakah harus menyerang atau tidak.

Aku berteriak dengan penuh wibawa.

“Kejahatan dari mereka yang baru saja mati adalah pengkhianatan.”

Mendengar kata “pengkhianatan”, mereka membeku.

Setelah melumpuhkan mereka, aku berjalan menghampiri Godang yang tergeletak.

“Pemimpinmu tidak berbeda. Ia menyerang dan melukai parah seseorang yang dikirim oleh Pemimpin Sekte, yang jelas-jelas merupakan tindakan pengkhianatan.”

Menatapnya dengan dingin, aku berkata.

“Kau tahu apa yang terjadi pada keluarga dari orang-orang yang kau bunuh dalam sebuah perkelahian kedai minuman tahun lalu? Kau tidak tahu, bukan? Kau tidak peduli. Mereka kehilangan ayah, anak, suami. Apakah menurutmu mereka hidup dengan baik? Siapa kau hingga berani memukuli orang? Siapa kau hingga berani membunuh anggota sekte kita?”

“Ampuni aku… Aku mohon.”

Wajahnya berlumuran darah, tetapi wajah itu dipenuhi dengan hasrat untuk hidup.

“… Kenapa?”

“… Aku akan bertobat.”

Darah menyembur dari mulutnya bagaikan air mancur bahkan saat ia berbicara.

“… Kebohongan. Kau akan melakukannya lagi, bukan?”

“Tidak, tidak akan pernah lagi.”

“Kau sudah mengatakannya tadi. Kau akan melakukannya lagi.”

“… Kapan aku mengatakannya?”

“Kehidupan masa lalumu menceritakan semuanya untukmu.”

Aku mengangkat kakiku dan menginjak kepala Godang dengan seluruh tenagamu.

Wusss!

Krek.

Kepalanya pecah seperti buah semangka, dan ia langsung tewas seketika. (EN : Akan lebih menyeramkan jika ia tidak langsung mati)

Untuk sesaat, keheningan melanda tempat itu. Tidak seorang pun bisa membayangkan bahwa aku akan menghancurkan kepala Godang, yang sangat disukai oleh Komandan Pasukan Iblis.

Setelah membunuh Godang, aku berteriak kepada para prajurit Pasukan Iblis di sekitarnya.

“Pengkhianatan diganjar dengan eksekusi ringkas. Ingin mati? Apakah kalian masih memegang pedang di tangan kalian?”

Mendengar ini, para prajurit Pasukan Iblis secara bersamaan menyarungkan pedang mereka. Pemimpin mereka sudah mati, dan melangkah maju hanya akan membuat kepala mereka melayang. Mereka kewalahan oleh kehebatan bela diriku, yang telah membunuh rekan-rekan mereka dalam satu tebasan.

“Seluruh divisi pertama Pasukan Iblis harus mundur dan merenung sampai ada perintah lebih lanjut! Mulai saat ini, siapa pun yang keluar dari kamar mereka akan dihukum atas kejahatan pengkhianatan!”

Saat aku memberi isyarat agar mereka pergi, mereka tidak berani menolak dan semuanya pergi keluar.

Para penyelidik dari Paviliun Dunia Bawah, yang telah menyaksikan semuanya, menatapku dengan keheranan yang jelas tergambar di wajah mereka. Emosi yang bercampur baur dengan keheranan itu jelas adalah kegembiraan dan kekaguman.

Seo Daeryong berbicara kepadaku.

“Kau jauh lebih kuat dari yang kuduga.”

“Seberapa kuat menurutmu aku sebelumnya?”

“Yah… Aku tidak menyangka kau bisa mengalahkan pemimpin divisi pertama Pasukan Iblis.”

“Aku memiliki ramalan yang mendukung kami.”

Meskipun aku mengatakannya untuk membuatnya tertawa, Seo Daeryong tidak tersenyum. Ia melihat sekeliling pada mayat-mayat yang berserakan dengan wajah tegang.

“Tidak peduli dari latar belakang bergengsi mana pun kau berasal… Apakah ini benar-benar tidak apa-apa?”

Aku berbicara dengan tegas kepada pria yang ketakutan itu.

“Jangan membuat keributan hanya karena beberapa kematian. Aku datang dengan persiapan untuk menebas separuh Pasukan Iblis.”

Itu adalah momen yang mengungkapkan betapa sempitnya pandangan Seo Daeryong biasanya.

Malam itu, Komandan Pasukan Iblis mencariku.

Ia sedang menunggu di sebuah rumah hiburan di Desa Maga, bukan di kantornya.

Ada sekitar sepuluh rumah hiburan di Desa Maga, dan meskipun tidak secara resmi ditentukan, tempat yang dikunjungi secara alami bergantung pada pangkat seseorang. Rumah hiburan tempat Komandan Pasukan Iblis menunggu adalah yang terbaik yang tersedia.

“Aku memanggilmu ke mari untuk minum bersama setelah sekian lama.”

Ia memperlakukanku seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Faktanya, ia lebih halus dan lembut dari biasanya.

“Pernahkah kau ke sini sebelumnya?”

“Ini pertama kalinya bagiku.”

“Kau akan menyukai tempat ini.”

Benar saja, makanan dan minuman yang disiapkan memiliki kualitas tertinggi, dan para pelacur adalah wanita-wanita cantik yang memukau. Keterampilan para pemusik juga luar biasa.

“Tempat ini tampak mahal.”

“Ini adalah tempat termahal di Desa Maga. Aku menyiapkannya secara khusus untukmu hari ini.”

Ia adalah orang yang bangga akan kemewahan dan kesenangan semacam itu.

“Dalam kehidupan di mana kita tidak pernah tahu kapan kita akan mati, kita harus menikmati diri kita sendiri sepuasnya. Apakah kau setuju?”

“Kau sangat benar.”

“Ayo, minumlah.”

Aku minum bersamanya. Komandan Pasukan Iblis bertindak seolah-olah ia berada di rumahnya sendiri, menyanyikan lagu-lagu dan tiba-tiba bangkit untuk menari bersama seorang pelacur. Meskipun memanggilku datang karena kematian Godang, ia sama sekali tidak menyebutkannya.

Aku selalu menjadi seseorang yang menahan diri dari menikmati kesenangan bejat semacam itu, jadi aku hanya menyamai antusiasmenya secara moderat.

Setelah sesi bersenang-senang yang meriah dan minum-minum yang cukup banyak, Komandan Pasukan Iblis akhirnya menyuruh para pelacur untuk pergi.

“Ada insiden kecil dengan anak buah kita, bukan?”

Istilah “insiden kecil” mencerminkan bagaimana ia berniat untuk menangani situasi tersebut dengan cukup baik.

“Ya, terjadi konflik yang tidak terduga.”

Kematian pemimpin divisi pertama Pasukan Iblis adalah insiden yang bisa menggulingkan sekte utama, tetapi Komandan Pasukan Iblis ingin mengubah hal ini menjadi sebuah kesempatan.

“Mari selesaikan ini secara baik-baik. Pemimpin pertama adalah orang yang meragukan dalam banyak hal.”

Maksudnya adalah melimpahkan segalanya kepada pemimpin skuad pertama yang sudah tewas dan menganggapnya selesai.

‘Wah, kau benar-benar orang yang licik.’

Terlepas dari segalanya, pemimpin skuad itu adalah bawahannya yang tepercaya. Alih-alih mencari pembalasan, ia justru ingin menjadikannya sebagai kambing hitam. Sungguh, orang matilah yang paling menderita.

“Bahkan jika itu untuk penyelidikan, bukankah akan menjadi masalah besar jika mereka tahu kau membunuh pemimpin divisi pertama Pasukan Iblis?”

“Aku menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya.”

“Bagaimana menurutmu? Haruskah kita mengakhiri ini di sini? Bukankah sudah cukup kehilangan satu pemimpin divisi dan tiga bawahan?”

“Terima kasih atas pertimbangan Anda. Aku juga ingin menyelesaikan ini secara damai, tetapi ada masalah.”

“Masalah apa?”

“Tidak ada bukti. Investigasi resmi telah diluncurkan, dan aku butuh bukti untuk dilaporkan kepada para petinggi.”

“Kau bisa mengarang beberapa.”

“Itu akan sulit. Laporan yang masuk menyebutkan urusan pribadi pemimpin skuad pertama dengan pihak luar. Itu bukanlah sesuatu yang bisa disembunyikan begitu saja di bawah karpet.”

Meskipun itu adalah cerita yang kudengar dari Jangho, aku mengatakannya seolah-olah itu ada di dalam laporan.

Komandan Pasukan Iblis berusaha menyembunyikan keterkejutannya, menyadari bahwa aku juga mengetahui hal itu.

“Untuk mengakhiri masalah ini, kita butuh bukti. Bukti yang tidak terbantahkan dan kedap udara.”

Aku tidak memintanya untuk menyediakan buktinya. Tapi ia akan memahaminya dengan sendirinya.

—Kau harus menyediakan buktinya untuk mengakhiri ini.

Setelah percakapan pribadi yang singkat itu, Komandan Pasukan Iblis memanggil kembali para pelacur dan melanjutkan minum serta bermain-main.

Meskipun ia tampak menikmati dirinya sendiri lebih dari sebelumnya, aku merasakan kekhawatirannya sepanjang malam. Gerakan tarinya tidak lincah seperti sebelumnya.

—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *