Lewati ke konten
Absolute Regression

15 – Absolute Regression Chapter 15

Translator: FenrirTL

Editor : TheBattleSage

Editor Notes/Quality Checker: Saphartlantis

Murim Term Consultant: Kopke

========================

< Bab 15: Mereka Semua Terlihat Sama Jeleknya >

Seo Daeryong, yang memegang gagak-gagak mati itu, mengikuti di belakangku dengan ekspresi bingung.

“Gantung itu di sana.”

Melihat mata Seo Daeryong yang bertanya apakah aku serius, aku menjawab dengan tegas, “Gantung tepat di tengah tempat yang bisa dilihat.”

Aku menyuruh Seo Daeryong menggantung gagak-gagak mati itu di tengah koridor tempat Pasukan Iblis paling sering lewat.

Mendengar keributan itu, Pasukan Iblis dengan cepat berkumpul. Beberapa menunjukkan ekspresi penasaran, tetapi kebanyakan mengerutkan kening dan mengutuk.

“Sialan! Apa itu?”

“Untuk apa Sialan kau menggantung gagak mati, membawa sial saja?”

“Apakah ini trik penyidik?”

“Keparat-keparat sialan dari Paviliun Bawah Tanah itu.”

“Ugh, semalam aku juga bermimpi buruk.”

“Tempat itu sempurna untuk menggantung mayat yang tercabik-cabik, bukan burung gagak.”

Mereka mengenakan seragam dengan nomor yang melambangkan setiap unit, jadi mudah untuk membedakannya. Pasukan Iblis dari Divisi Pertama, yang hampir berselisih denganku di pintu masuk tadi, adalah orang-orang yang paling banyak mengumpat.

Meskipun mereka tidak menyebutku secara langsung, mengutuk Paviliun Bawah Tanah pada dasarnya sama saja dengan mengutukku.

Tepat ketika suasananya menjadi tidak bersahabat, seseorang tidak dapat menahannya lagi dan melangkah maju.

“Bukankah ini sudah keterlaluan?”

Suaranya bergema di sepanjang koridor.

“Siapa yang bilang itu? Kalian semua terlihat sama jeleknya.”

Sementara semua orang mengerutkan kening, pria itu melangkah maju lagi.

“Aku Jangho, Pimpinan Ketiga dari Pasukan Iblis.”

Jangho adalah yang terbesar di antara Pasukan Iblis. Tubuhnya yang berotot tampak seolah-olah akan merobek seragamnya, dan bekas luka panjang yang melintang di wajahnya tampak mengintimidasi.

Seo Daeryong dengan cepat mengirimiku pesan melalui transmisi suara.

―Jangho, yang populer disebut sebagai Pimpinan Ketiga, dikenal sebagai seniman bela diri terkuat di antara keenam Pimpinan Divisi. Kepribadiannya juga tidak biasa.

Benar saja, kehadiran Jangho sangat luar biasa dibandingkan semua orang di sana.

“Apa yang Pimpinan Jang anggap tidak menyenangkan?”

“Apakah aku benar-benar perlu mengeja semuanya? Untuk apa kau menggantung sesuatu yang begitu tidak menyenangkan di tempat orang-orang berjalan?”

“Bukankah itu lebih baik daripada melemparkannya ke tempat tidur seseorang?”

“Berhentilah merusak suasana hati semua orang dan hukum saja orang yang melakukan ini.”

Aku menatap Jangho dalam-dalam. Dia tidak menunjukkan niat untuk mundur. Energi hitam kuat yang dipancarkannya menekan diriku dan Seo Daeryong, membuat napas kami sesaat terenggut. Terbukti mengapa dia dianggap sebagai yang terkuat di antara Pimpinan Divisi.

“Kau ada benarnya juga. Penyidik Seo, turunkan mereka.”

“Baik.”

Seo Daeryong menurunkan gagak-gagak yang digantung itu. Anggota Pasukan Iblis yang melihatnya secara terbuka mengejeknya.

“Pengecut sekali.”

“Dia hanya akan mendengarkan kalau kau hajar.”

“Apa dia bahkan tahu di mana dia berada, bersikap angkong begitu?”

Mengabaikan penghinaan dan tawa terang-terangan mereka, kami kembali ke kamar.

Begitu masuk, Seo Daeryong bertanya, “Kenapa kau menggantung bangkai burung gagak itu? Kalau kau berniat menurunkannya semudah ini…”

Wajahnya merah karena marah, harga dirinya yang terluka terlihat jelas.

“Aku ingin mencari tahu siapa yang mengirim surat kaleng itu.”

Dia bertanya dengan wajah kebingungan, “Jadi, kau sudah mengetahuinya?”

“Ya.”

“Apa?”

Mata Seo Daeryong membelalak tak percaya.

“Bagaimana caranya?”

Aku melihat ke arah burung gagak itu dan berkata, “Berkat orang-orang ini. Jadi, keluarlah dan beri mereka pemakaman yang layak.”

* * *

Keesokan harinya, investigasi skala penuh dimulai.

Aku mengumpulkan Pasukan Iblis Divisi Ketiga di satu tempat. Karena Jangho, pimpinan divisi tersebut, terlibat dalam insiden burung gagak kemarin, ketidakpuasannya sangat jelas terlihat.

“Apa maksud dari semua ini?”

“Apa maksudmu? Apa kau belum dengar kalau aku di sini untuk menyelidiki?”

“Kalau begitu, kenapa kau mulai dari kami alih-alih Divisi Pertama?”

“Karena aku mau.”

“Apakah kau menyimpan dendam atas insiden kemarin?”

“Apa yang terjadi kemarin?”

Jangho melotot ke arahku sambil menggigit bibirnya.

“Kalian harus menyerahkan semua catatan. Kami akan menyelidiki aktivitas terbaru kalian serta semua catatan keuangan.”

Para anggota Pasukan Iblis Divisi Ketiga mulai berbisik-bisik. Orang biasa saja pasti memiliki beberapa keburukan jika digali cukup dalam, apalagi Pasukan Iblis. Sedikit dibesar-besarkan, orang paling baik di sini mungkin adalah bos kecil dari suatu geng lokal.

Jangho berteriak dengan marah, “Bahkan jika itu kau, kau tidak bisa melakukan ini!”

“Oh, tapi aku bisa.”

Brak!

Jangho menghancurkan meja di depanku.

“Dengar, kau bebas marah, tapi jangan lupa bahwa pemberontakan adalah kejahatan serius.”

Mendengar kata pemberontakan, beberapa anggota Pasukan Iblis Divisi Ketiga bergegas maju untuk menahan Jangho.

“Tenanglah, Pimpinan.”

“Dia bukan seseorang yang bisa dihadapi secara wajar.”

Aku semakin memprovokasi Jangho.

“Kami akan memulai penyelidikan darimu, sang pimpinan.”

“Bagus! Mari selesaikan ini di luar! Kalian semua, keluar!”

Qi yang kuat berputar di sekitar Jangho.

Para bawahannya mencoba menenangkannya.

“Pimpinan! Anda tidak boleh tersulut emosi.”

“Tenang saja, pergi sana.”

“Baik.”

Para bawahan menatapku dengan mata yang menakutkan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. Jelas bahwa mereka benar-benar mengikutinya dengan rasa percaya, bukan karena rasa takut dan paksaan.

Setelah semua bawahan pergi, Jangho berbicara dengan dingin.

“Kau akan menyesal telah memperlakukanku seperti ini.”

Bekas luka di wajahnya semakin berkerut mengerikan.

Aku mengamati Jangho dalam diam sebelum menurunkan suara dan bertanya pelan,

“Sampai kapan kau akan terus mengujiku?”

Jangho tersentak kaget sejenak.

“Apa yang kau bicarakan?”

“Kaulah yang mengirim surat kaleng itu, bukan?”

Pupil mata Jangho bergetar sesaat.

“Apa yang kau bicarakan?”

Namun, dia tidak begitu pandai berbohong. Suaranya bergetar setelah matanya bergetar, dan tak lama kemudian, Jangho mengakui kebenarannya.

“Bagaimana kau tahu?”

Antusiasme dalam suaranya merosot menjadi bisikan, membuatnya tampak seperti orang yang berbeda.

“Kemarin, kau melangkah maju dalam situasi di mana kau sebenarnya tidak perlu melakukannya. Bukankah itu untuk menghindari kecurigaan dari Komandan Pasukan Iblis?”

“Itu benar.”

“Selain itu, bawahanmu adalah yang paling disiplin di antara Enam Divisi. Saat menempelkan gagak-gagak itu, hanya bawahanmu yang menahan diri untuk tidak mengutuk atau mengejek. Dan beberapa saat yang lalu, cara kau melangkah maju karena mengkhawatirkan mereka. Seperti kata pepatah, kau bisa tahu banyak tentang seseorang hanya dengan mengamati satu tindakan mereka. Seseorang yang menjalankan organisasi seperti ini akan merasa sulit untuk mengabaikan korupsi di dalamnya.”

Sebenarnya, bukan sepenuhnya begitu caraku mengetahuinya.

Aku menyadari Jangho adalah orang yang mengirim surat itu berkat pesan yang kuterima dari Seo Daeryong saat Jangho pertama kali muncul.

―Jangho, yang populer disebut sebagai Pimpinan Ketiga, dikenal sebagai seniman bela diri terkuat di antara para Pimpinan. Kepribadiannya juga tidak biasa.

Begitu aku mendengar pesan itu, aku teringat sesuatu dari sebelum regresiku.

Ada insiden di mana salah satu pimpinan Pasukan Iblis tewas sekitar waktu ini. Aku mengingatnya dengan sangat baik karena pimpinan yang tewas itu dikatakan sebagai yang terkuat di antara mereka. Mengapa seseorang dengan ilmu bela diri yang begitu kuat bisa mati? Aku ingat merenungkan pertanyaan itu.

Aku yakin bahwa orang yang mati adalah Jangho. Dia pasti mengirim surat itu dan mencoba menyelesaikan masalah di dalam Pasukan Iblis itu sendiri ketika investigasi gagal lagi, hanya untuk akhirnya dibunuh oleh salah satu rekannya.

Benar saja, Jangho adalah orang yang mengirim surat itu.

“Aku tidak bisa menyertakan informasi rinci karena aku tidak yakin apakah surat itu akan berhasil.”

Dia menduga bahwa Paviliun Bawah Tanah pun mungkin berada di bawah pengaruh Iblis Pedang Surga Darah.

“Aku tidak pernah membayangkan Tuan Muda Kedua akan turun tangan untuk menyelidiki secara langsung.”

“Bagaimana perasaanmu saat mendengar aku akan datang?”

“Maafkan aku karena mengatakan ini, tapi aku pikir kita sudah berakhir.”

Aku menoleh untuk melihat Seo Daeryong dan berkata,

“Apakah kejujuran sedang tren di kalangan anak muda akhir-akhir ini?”

“Anda, tuan muda, bahkan lebih muda dari kami.”

“Ah, benar juga.”

Setelah tersenyum menyeringai, aku bertanya kepada Jangho,

“Sebenarnya apa yang sedang terjadi di sini?”

“Komandan Pasukan Iblis menggunakan Pasukan Iblis untuk keuntungan pribadi.”

“Bagaimana?”

Rincian yang dibagikan Jangho jauh lebih serius daripada yang kubayangkan.

“Dia menerima uang untuk mengerahkan bawahannya sebagai pembunuh bayaran.”

“Apa?”

Bahkan aku, yang jarang terkejut, merasa terkejut. Aku tadinya berpikir dia mungkin menerima suap dari sekte lokal tertentu. Tapi kejahatan sebesar ini adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Dengan para ahli seperti anggota Pasukan Iblis yang bergerak, bayarannya tentu bukan jumlah yang kecil. Mereka pasti menghasilkan banyak sekali uang.

Seo Daeryong bertanya dengan kaget,

“Bagaimana itu mungkin?”

“Dia menggunakan waktu liburan atau mengirim mereka dengan dalih pelatihan khusus.”

“Meskipun begitu, itu tidak masuk akal.”

Tidak seperti Seo Daeryong, aku menyadari hanya ada satu cara hal ini bisa terjadi.

“Seluruh Divisi Pertama terlibat.”

“Bagaimana kau tahu?”

Jangho tercengang dengan kesimpulanku yang cepat.

“Merekalah yang pertama kali menghentikan kami. Mereka juga yang paling banyak mengutuk saat melihat bangkai gagak. Ketika sesuatu terjadi, mereka bergerak bersama tanpa cela. Bukankah aku sudah menyebutkan ini sebelumnya? Kau bisa tahu banyak hanya dengan melihat satu hal. Cukup dengan melihat sang pimpinan, kau bisa mengetahuinya. Sekarang, bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?”

“Prajurit yang membunuh penyelidik dan kemudian melakukan bunuh diri selama penyelidikan sebelumnya adalah temanku. Dialah yang mengirim surat kaleng itu.”

“Dia tidak bunuh diri; dia dipaksa.”

“Itu benar. Dia memberitahuku tentang pengiriman surat itu beberapa hari sebelum kematiannya.”

Di kehidupan lamaku, aku tidak tahu tentang kasus ini. Yang kutahu hanyalah kematian Jangho. Itu berarti kasus ini tetap terkubur tanpa pernah terungkap.

“Seberapa dekat kau dengannya?”

“Kami bergabung dengan sekte pada saat yang sama. Dia sudah seperti keluarga sendiri.”

“Kenapa kau tidak mengungkapkannya waktu itu?”

“Setelah mereka membunuh temanku dan penyelidik itu, mereka mengawasi kami begitu ketat hingga rasanya mengerikan. Kami bahkan hampir tidak bisa bernapas.”

“Siapa yang membunuh mereka?”

“Aku yakin itu atas perintah Komandan Pasukan Iblis, dan Godang, pimpinan divisi pertama, bertindak secara langsung.”

Jika apa yang dikatakan Jangho itu benar, ini adalah skandal korupsi besar-besaran yang melibatkan Komandan Pasukan Iblis dan seluruh divisi pertama Pasukan Iblis. Termasuk pembunuhan seorang penyidik dan memfitnah sang pelapor, ini adalah kejahatan terbesar dalam sejarah sekte kami.

‘Apakah Ayah atau Sima Myung tidak tahu tentang hal ini?’

Mereka pasti memiliki kecurigaan. Itulah sebabnya mereka mengirimku.

Mereka mengirimku untuk menguji apakah aku bisa menangani situasi ini menghadapi Komandan Pasuruh Iblis. Mempertimbangkan kemungkinan bahwa aku bisa mati saat menghadapi Komandan Pasukan Iblis… itu cukup kejam.

Ayah, pepatah bahwa seekor singa melemparkan anaknya dari tebing untuk membuat mereka lebih kuat itu tidak benar. Saat anak-anak singa itu jatuh, sang pemangsa akan berlari turun dengan cepat untuk menangkap mereka dan membawa mereka kembali ke atas!

Aku menatap Jangho dan berkata,

“Kau memiliki teman yang baik.”

“Dialah teman yang baik. Jika aku adalah teman yang baik, aku seharusnya maju ketika dia meninggal.”

“Itu hanya akan membuatmu menjadi teman yang bodoh.”

Tidak semua anggota Pasukan Iblis adalah bajingan.

Seo Daeryong, yang tadinya menonton, juga tampak tersentuh. Penyidik yang tewas dalam investigasi sebelumnya adalah seorang senior yang dihormatinya.

Keduanya sama-sama menanggung rasa sakit karena kehilangan seseorang yang dekat dalam insiden itu.

Melihat keduanya, aku merasa masih ada harapan bagi ‘Jalur Iblis yang tersesat.’ Kultus Ilahi Iblis Surgawi yang kubayangkan adalah tempat di mana orang-orang seperti mereka memegang posisi penting.

“Terima kasih atas keberanianmu.”

“Aku memutuskan untuk mempercayaimu, tuan muda, ketika kau bisa menebak semuanya sekaligus.”

“Itu pilihan yang bagus. Omong-omong, apakah ada masalah jika aku menggali catatan-catatanmu?”

“Tidak. Kau bisa menggali sedalam yang kau mau, dan kau tidak akan menemukan secuil debu pun.”

“Semua orang punya debu. Bahkan hal-hal yang tidak kau anggap debu bisa diubah menjadi kotoran. Tapi jangan khawatir. Aku tidak akan menggali sedalam itu.”

Aku membuka pintu dan berjalan keluar. Di kejauhan, para bawahan divisi ketiga sedang menunggu.

“Pimpinan Jang telah memutuskan untuk menyerahkan semua catatan atas nama kalian. Jadi, kalian semua bisa kembali.”

Jangho berteriak menyetujui aktingku.

“Tunggu dan lihat saja! Jika aku tidak bersalah, aku tidak akan tinggal diam.”

Matanya dipenuhi dengan rasa terima kasih. Dengan mengatakan bahwa dia akan menerima penyelidikan atas nama bawahannya, dia membuat mereka semakin mempercayainya. Jangho dari kehidupanku sebelumnya telah mati, tetapi Jangho yang sekarang tidak akan mati.

Menyelamatkan mereka yang seharusnya tidak mati—inilah tujuan dari kembaliku.

Saat aku menutup pintu lagi, Seo Daeryong berbicara kepadaku.

“Anda tampak sangat berbeda dari apa yang dikatakan oleh rumor, tuan muda.”

“Seperti apa rumor itu?”

“Yah…”

“Jujur saja. Kau hanya menyampaikan apa yang kau dengar, kan? Itu bukan pendapatmu.”

“Mereka bilang Anda tidak cocok dengan Kultus Ilahi Iblis Surgawi. Maafkan saya.”

“Tidak apa-apa. Itu bisa jadi sebuah pujian, bukan?”

“Maaf?”

“Apakah menjadi pujian jika seseorang cocok dengan Kultus Ilahi yang sekarang? Kurasa tidak. Aku yakin memerintah sekte kita melalui rasa takut adalah gagasan yang sudah ketinggalan zaman. Sekte kita harus berubah, bukankah begitu?”

Berbicara tentang perubahan membuat secercah cahaya melintas di mata Seo Daeryong. Namun, dia segera berbicara dengan nada agak suram.

“Perubahan tidak semudah kedengarannya.”

“Benar. Itu tidak mudah.”

“Jika Anda menjadi Iblis Surgawi, apakah Anda akan mencoba mengubah sekte ini?”

Tentu saja.

Jika itu tidak berubah, keluargaku akan dihancurkan, dan sekte ini akan diisolasi dari dunia. Alih-alih mengungkapkan pikiran asliku, aku mengatakan hal lain.

“Jujur saja, aku lebih suka berkeliling Dataran Tengah dan bersenang-senang daripada menjadi Iblis Surgawi.”

Ada benarnya juga. Begitu aku membunuh Hwa Moogi, aku berencana untuk menjelajahi Dataran Tengah dan menikmati diriku sepuasnya.

“Semua orang rela menjual jiwa mereka demi menjadi Iblis Surgawi…”

“Kau pikir aku tidak tahu diuntung, kan?”

“Saya tidak akan menyangkalnya.”

“Itu karena kau adalah orang yang berorientasi pada kekuasaan.”

“Saya?”

Dia membuka matanya lebar-lebar karena tampak terkejut, dan aku tiba-tiba bertanya,

“Apakah kau merasa bahagia saat membantu seseorang?”

“…Tidak.”

“Apakah kau merasa bahagia saat dipromosikan?”

“…Ya.”

Seo Daeryong menghela napas dan kemudian mencemooh dirinya sendiri.

“Oh, sepertinya saya memang orang yang berorientasi pada kekuasaan ya?”

“Setiap orang memiliki kondisi kebahagiaan yang berbeda-beda. Bagi sebagian orang, itu adalah uang atau kekuasaan. Bagi yang lain, itu adalah hidup dengan tenang. Dan bagi beberapa orang, itu adalah mengikuti ksatria.”

“Apakah mungkin merasa bahagia dengan menjalankan jalan ksatria?”

“Apakah itu terdengar tidak tulus?”

“Ya.”

Di masa laluku, aku pernah menemui orang seperti itu. Seseorang yang begitu egois sehingga mereka mengenakan topeng ksatria untuk menyembunyikannya, hingga akhirnya menipu bahkan diri mereka sendiri. Orang itu tidak berbudi luhur tetapi percaya sampai akhir bahwa mereka sedang berjalan di jalur ksatria.

Melihat orang seperti itu membuatku lebih tidak nyaman daripada mereka yang secara terbuka mengejar ambisi, tetapi aku tidak berniat mengkritik mereka. Itu pun hanyalah sebuah cara hidup.

“Ada banyak orang di dunia persilatan yang benar-benar hidup berdasarkan jalan ksatria. Ada orang-orang yang terlalu hebat untuk kita ukur dengan hati kita yang sekecil piring saus kecap.”

Dia menghela napas setelah menatapku sejenak.

“Saya adalah orang yang berorientasi pada kekuasaan, jadi… saya tidak begitu memahaminya.”

Aku terkekeh sambil menatap Seo Daeryong. Bagi rekan-rekanku sebayanya, dia mungkin tampak sangat menyebalkan, tetapi bagiku, sisi dirinya ini tampak menggemaskan.

“Hentikan introspeksi diri yang tidak nyambung itu. Pergi dan gali catatan Jangho. Seperti yang kukatakan, lakukan secara moderat. Dan bawa lebih banyak penyidik dari Paviliun Bawah Tanah. Kita perlu menciptakan suasana investigasi menyeluruh mulai sekarang.”

“Dimengerti.”

Aku berdiri di dekat jendela dan melihat ke luar. Pada saat itu, aku melihat Komandan Pasukan Iblis berdiri di dekat jendela gedung seberang, menatap ke arah ini. Mata kami saling beradu pandang, tapi aku pura-pura tidak memerhatikan.

Yang kulihat bukanlah sosok Komandan Pasukan Iblis yang tidak penting itu, melainkan Paviliun Iblis Surgawi yang jauh di sana.

—

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *