Chapter 7 : Lima Ratus Ribu
Vernanda menjawab Pak Darto keesokan harinya, persis seperti janjinya.
“Aku ikut.”
Mandor itu tersenyum puas, seperti orang yang baru memenangkan taruhan kecil. “Anak pintar. Malam Jumat, jam sebelas, di belakang dermaga tiga. Jangan bawa apa-apa. Jangan cerita ke siapa-siapa.”
Vernanda mengangguk dan berjalan pergi tanpa menoleh.
“Kamu yakin?” tanya Liyun begitu mereka jauh dari pandangan.
“Tidak.”
“Lalu kenapa menerima?”
“Karena kalau aku menolak, Pak Darto tahu aku curiga. Kalau aku menerima, aku bisa lihat apa yang mereka sembunyikan.” Vernanda menarik napas. “Dan lima ratus ribu itu nyata.”
Liyun diam sejenak.
“Aku menyetujui alasan pertama. Aku tidak ingin menilai alasan kedua.”
“Kenapa?”
“Karena aku tahu angka itu penting bagimu. Dan aku mulai belajar bahwa tidak semua yang penting bisa dikurangi menjadi perhitungan.”
Vernanda menoleh ke arah kening, seolah bisa melihat Liyun di sana. Ia tidak membalas. Tapi langkahnya menjadi sedikit lebih ringan.
Sebelum berangkat, mereka menyepakati aturan.
Aturannya sederhana, dan Liyun yang menyusunnya seperti laporan.
“Satu. Aku hanya mendengar dan mengamati lewat indramu. Tidak ada pemindaian aktif. Tanda di keningmu tidak boleh menyala.”
“Dua. Jika ada bahaya langsung, aku akan memanggil namamu satu kali. Satu kali saja. Kamu tidak perlu menjawab, tapi kamu harus langsung bersiap.”
“Tiga. Jika kamu merasa harus menyuruhku bertindak, ucapkan kata ‘sekarang’ dalam kepalamu. Aku akan menilai apakah risikonya sepadan.”
“Kalau kamu bilang tidak sepadan?”
“Aku akan bilang. Dan kamu boleh marah.”
Vernanda hampir tersenyum. “Setuju.”
Kepada Marlina, ia hanya bilang ada kerja lembur. Ibunya menatapnya lama, lalu mengambil sesuatu dari bawah bantal: selembar kain kecil berisi sejumput garam dan sehelai benang merah yang dijahit di sudutnya.
“Bawa ini. Almarhum ayahmu dulu bawa kalau melaut malam.”
“Bu, aku nggak melaut.”
“Malam itu laut juga,” kata Marlina pelan. “Laut yang lain.”
Vernanda menerima kain itu tanpa membantah. Di sepatu kirinya, terlipat rapat di bawah kaus kaki, ada selembar kertas kecil dengan satu nomor telepon dan satu nama.
Gudang itu berdiri di ujung dermaga tiga, bangunan seng setinggi dua lantai yang cat dindingnya mengelupas. Lampu di dalamnya redup, dan di depan pintunya berdiri dua lelaki bertubuh besar yang tidak pernah ia lihat di pelabuhan.
Enam pekerja sudah menunggu. Semuanya laki-laki, semuanya muda, dan tidak ada yang saling menyapa. Pak Darto berdiri di dekat pintu, rokok di bibir, wajahnya tidak seramah kemarin.
“HP kumpulkan di sini.” Seorang penjaga menyodorkan kotak plastik. “Tidak boleh ada yang bawa.”
Vernanda menyerahkan ponsel lamanya yang retak tanpa protes. Kotak itu penuh telepon genggam. Ia mengamati cara penjaga itu mencatat nama pemiliknya dengan spidol pada selotip, rapi dan cepat, seolah pekerjaan ini sudah dilakukan puluhan kali.
“Nanda.”
Ya.
“Aku mendeteksi dua perangkat pemindai di dinding sebelah kiri pintu. Pasif. Mereka merekam jejak sinyal di dalam gedung. Selama aku tidak aktif, aku tidak memancarkan apa pun. Tapi sebaiknya kamu tidak berdiri terlalu lama di depannya.”
Vernanda melangkah melewati pintu dengan santai, seolah itu pintu biasa.
Di dalam, gudang itu jauh lebih besar dari kelihatannya. Udara dingin dan berbau oli. Di tengah ruangan berderet belasan peti hitam tanpa label, masing-masing sebesar mesin cuci, diikat sabuk baja. Di sampingnya, sebuah van tanpa merek menunggu dengan pintu belakang terbuka.
“Kerjaannya gampang,” kata Pak Darto. “Angkut ke van. Pelan-pelan. Jangan dibanting, jangan dibuka, jangan ditanya isinya.”
Mereka mulai bekerja.
Peti-peti itu jauh lebih berat dari ukurannya. Dua orang harus mengangkat satu peti, dan tetap saja urat leher mereka menonjol. Vernanda mengambil sisi paling berat, sengaja, kebiasaan lama dari saat ia bekerja berdampingan dengan Jamal. Staminanya bertahan, dan itu membuat salah satu pekerja lain meliriknya sekilas.
Peti ketiga yang mereka angkat berbeda.
Beratnya sama, bentuknya sama, sabuknya sama. Tapi saat telapak tangan Vernanda menyentuh permukaannya, keningnya mendadak hangat. Bukan panas aktif. Lebih halus dari itu, seperti sesuatu yang bergetar sangat pelan di bawah kulit.
“Nanda.”
Suara Liyun berubah. Tidak datar. Tidak tenang. Ada sesuatu yang tersangkut di dalamnya.
“Peti itu. Berhenti sebentar. Jangan terlihat berhenti.”
Vernanda menyesuaikan pegangan, pura-pura ada yang longgar. Pekerja di seberangnya mengumpat pelan karena beban bergeser.
“Ada sesuatu di dalamnya yang menarikku. Aku mengenalnya. Aku tidak tahu dari mana.”
Mengenal?
“Serpihan. Seperti kata ‘penyatuan’. Tidak lengkap. Tapi ada pola yang sama dengan garis emas di batuku dulu.” Jeda. “Nanda. Isi peti itu bukan mesin biasa.”
Vernanda menelan ludah. Peti itu masuk ke van, dan sesaat sebelum pintu dikunci, ia merasakan getaran di keningnya naik satu tingkat. Tanda di kulitnya terasa nyaris menyala, seperti hendak menyambut sesuatu.
Jangan, katanya dalam hati. Jangan sekarang.
“Aku menahan.” Suara Liyun tegang. “Tapi aku tidak yakin berapa lama.”
Lelaki itu muncul ketika peti kesebelas dinaikkan.
Berjas gelap, usianya mungkin empat puluhan, rambut disisir rapi, dan sepatunya terlalu bersih untuk gudang berdebu seperti ini. Ia berjalan pelan, dan semua orang, bahkan dua penjaga besar di pintu, secara tidak sadar menegakkan badan.
“Pak Hendra,” sapa Pak Darto, suaranya merendah. Nada yang belum pernah Vernanda dengar dari mulut mandor itu.
“Darto.” Lelaki itu tersenyum sopan. “Semua lancar?”
“Lancar, Pak.”
“Bagus.” Matanya menyapu ruangan, berhenti sebentar di tiap wajah pekerja, lalu berhenti lebih lama di wajah Vernanda. “Yang ini baru?”
“Iya, Pak. Anak baik. Tidak banyak bicara.”
“Menarik.”
Hendra melangkah mendekat. Parfumnya samar, mahal, dan menusuk di antara bau oli. Ia berdiri satu meter dari Vernanda dan memandangnya seperti orang yang sedang membaca label barang.
“Nama?”
“Nanda.”
“Nanda.” Ia mengulang nama itu pelan, mencicipinya. “Kamu tidak bertanya apa isi peti-peti ini, Nanda.”
“Kata Pak Darto, jangan ditanya.”
“Dan kamu patuh.” Senyumnya tetap sopan, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Jarang ada yang patuh sepenuhnya. Kebanyakan penasaran.”
Vernanda tidak menjawab.
“Nanda.” Suara Liyun nyaris tidak terdengar. “Pemindai di dinding berbunyi. Hendra memegang perangkat kecil di balik jasnya. Ia sedang membaca sinyal dari tubuhmu.”
Jantung Vernanda berdegup lebih cepat. Ia bisa merasakan peluh dingin mengalir di tulang belakang.
Kamu tidak bisa ditemukan, kan?
“Selama aku tidak aktif, seharusnya tidak. Tapi tanda di keningmu sedang bereaksi terhadap peti itu. Aku tidak sepenuhnya mengendalikannya.”
Hendra melirik ke bawah, ke arah perangkat kecil di tangannya. Alisnya terangkat tipis.
“Anomali,” gumamnya, hampir tak terdengar.
Vernanda berhenti bernapas.
“Sekarang?” tanyanya dalam hati, putus asa.
“Belum.” Suara Liyun tiba-tiba mantap, lebih mantap dari apa pun yang pernah ia dengar. “Bukan sekarang. Aku bisa menahannya. Percaya padaku.”
Percaya. Kata itu terasa asing dan berbahaya di kepalanya.
Ia menarik napas panjang. Dalam-dalam, perlahan, seperti yang dilakukan ayahnya dulu saat laut mulai bergelombang. Di keningnya, panas itu berdenyut dua kali, lalu mereda, merambat pergi seperti ombak yang kehilangan tenaga.
Hendra menatap layar kecil di tangannya. Lalu menurunkannya.
“Perangkat ini kadang rewel,” katanya ringan, dan menyimpannya kembali. “Darto, pastikan dia bersih.”
“Siap, Pak.”
“Dan Nanda.” Hendra menepuk bahunya sekali, sopan dan dingin. “Kalau kamu bekerja dengan baik malam ini, aku akan ingat namamu.”
Ia pergi, langkah sepatunya menjauh di lantai beton.
Pekerjaan selesai pukul dua dini hari.
Setiap orang menerima amplop cokelat berisi uang tunai. Vernanda menerima punyanya tanpa membuka. Ponselnya dikembalikan dengan selotip nama yang sudah dikelupas. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang saling melirik. Mereka berpencar seperti bayangan yang tahu harus kembali ke gelap.
Di gang gelap di belakang dermaga, Vernanda akhirnya membuka amplop itu. Lima lembar seratus ribuan, baru dan licin.
Seharusnya ia lega. Uang ini cukup untuk obat ibunya sebulan penuh. Cukup untuk membayar sebagian utang. Cukup untuk membeli beras berhari-hari.
Tapi tangannya masih dingin.
“Liyun.”
“Aku di sini.”
“Peti ketiga. Kamu bilang kamu mengenalnya.”
“Ya.” Jeda panjang. Terlalu panjang. “Nanda. Ada satu hal yang tidak kusampaikan tadi, karena aku ingin yakin dulu.”
“Apa?”
“Saat peti itu masuk ke van, aku merasakan sesuatu di dalamnya bergema. Bukan suara. Bukan sinyal biasa. Seperti… panggilan.”
Vernanda berhenti berjalan.
“Ia menyebut sesuatu. Satu kata, berulang-ulang, seperti seseorang yang berbicara dalam tidur. Dan kata itu adalah namaku.”
Angin laut berembus melewati gang sempit. Di kejauhan, sirene kapal berbunyi panjang.
“Liyun.”
Liyun tidak lagi bicara dengan suara laporan. Suaranya kecil, hampir seperti anak yang baru menyadari ada sesuatu yang bukan miliknya di dunia ini.
“Aku bukan satu-satunya, Nanda.”
