Lewati ke konten
SISTEM AI TERKUAT – NUSANTARA

Chapter 6 Orang yang Menunggu di Warung

Chapter 6 : Orang yang Menunggu di Warung

Hari berikutnya Vernanda tidak masuk shift.

Bukan karena sakit. Pak Darto sendiri yang meliburkan seluruh regu malam itu, dengan alasan pemeriksaan keselamatan setelah insiden krane. Satu hari tanpa upah, dan tidak ada yang berani protes.

Vernanda memanfaatkannya untuk tidur sampai siang, makan dua kali lipat dari biasanya, lalu keluar dengan ikat kepala hitam menutupi kening dan perasaan bahwa sesuatu menunggunya di luar sana.

“Detak jantungmu 88,” lapor Liyun saat ia menyusuri gang menuju warung kopi di dekat dermaga. “Lebih tinggi dari biasanya. Kamu sedang gelisah.”

“Jamal bilang ada yang nyari aku.”

“Dia tidak menyebut siapa.”

“Justru itu.”

Liyun diam sejenak.

“Aku akan menyiagakan diri. Tidak memindai, hanya mendengar. Jika ada yang tidak wajar, aku akan memberitahumu.”

Beberapa hari lalu, kalimat seperti itu terdengar seperti laporan sistem. Sekarang Vernanda mendengar sesuatu yang lain di baliknya. Bukan kehangatan, belum. Tapi kesiapan. Seperti seseorang yang berdiri satu langkah di belakangnya.


Warung kopi itu hanya enam meja plastik di bawah terpal biru, menghadap deretan kapal nelayan yang bersandar. Pagi sudah lewat, dan hanya dua meja yang terisi: seorang bapak tua dengan koran, dan seorang perempuan di sudut paling belakang.

Viona.

Hari ini ia tidak memakai rompi oranye. Hanya kemeja polos abu-abu dengan lengan digulung, rambut diikat rapi, dan laptop tipis tertutup di atas meja. Di depannya ada dua gelas kopi. Satu masih utuh.

“Duduk,” katanya, tanpa menoleh. “Yang itu untukmu. Jangan khawatir, aku yang bayar.”

Vernanda tidak bergerak.

“Aku nggak minta ditraktir.”

“Aku tahu.” Viona akhirnya menoleh. Matanya tenang, tipe tenang yang melelahkan karena terlalu terkendali. “Makanya kutraktir. Kalau kamu menolak, aku tahu kamu waspada. Kalau kamu menerima, aku tahu kamu lapar. Dua-duanya informasi.”

“Nanda,” bisik Liyun. “Detak jantungnya 64. Stabil. Terlalu stabil untuk orang yang duduk menunggu orang asing.”

Vernanda menarik kursi dan duduk, tapi tidak menyentuh gelas.

“Kamu mau apa?”

“Bicara.” Viona menyandarkan punggung. “Tentang krane.”

“Aku nggak tahu apa-apa soal krane.”

“Tali sling itu sudah diperiksa sepuluh hari lalu,” lanjut Viona, seolah tidak mendengar. “Catatannya menyebut kondisi baik, tidak ada serat putus. Tapi malam itu, tiga serat luar putus sekaligus, dan peti yang diangkat bobotnya sama dengan yang tercatat di manifes palsu kontainer dua puluh tiga.” Ia berhenti. “Atau lebih tepatnya, tidak sama. Lebih berat dari tercatat.”

Vernanda diam.

“Sling itu aus,” kata Viona. “Bukan karena kecelakaan. Karena seseorang menandatangani laporan pemeriksaan tanpa memeriksa. Dan orang yang tanda tangannya ada di sana adalah Pak Darto.”

Hening di antara mereka. Di luar, ombak kecil memukul lambung perahu.

“Kamu nggak laporin ini?” tanya Vernanda akhirnya.

“Aku sudah. Ke atasanku di kantor pusat.” Bibirnya mengerut samar. “Balasannya: abaikan, jangan ganggu operasional.”

Vernanda mengangkat alis.

“Jadi bukan cuma Pak Darto,” kata Viona pelan. “Ada pihak di atasnya yang tidak ingin ini diperiksa.”

Di dalam kepala Vernanda, suara Liyun mengalir tenang.

“Detak jantungnya naik dua puluh persen saat menyebut balasan itu. Dia tidak berbohong. Dia marah, dan menyembunyikannya dengan sangat baik.”

Kamu bisa baca itu?

“Aku membaca denyut nadi di lehernya dari sudut pandangmu. Tidak perlu memindai.”

Vernanda menelan kopi pertamanya. Pahit dan terlalu panas. Ia tidak menyukainya, tapi tidak menaruhnya kembali.


“Jadi kamu ngapain di sini?” tanyanya.

“Mencari orang yang tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.” Viona menatapnya lurus. “Kamu salah satunya.”

“Aku buruh.”

“Buruh yang menulis catatan tally dengan akurasi lebih baik dari pemindai otomatis kami. Buruh yang tahu sling akan putus empat detik sebelum putus.”

“Insting.”

“Insting,” ulang Viona datar. Ia mengetukkan jari di atas laptop. “Aku nggak akan memaksamu bilang jujur. Aku bukan polisi. Aku cuma orang yang kerjanya membaca angka, dan angka-angka itu terus mengarah ke satu hal yang tidak bisa kujelaskan.”

Ia membuka laptop. Layarnya menampilkan grafik garis, naik turun seperti detak jantung. Di antara garis-garis itu ada satu titik merah yang berkedip.

“Di log sistem pelabuhan, ada anomali yang muncul pertama kali dua hari lalu. Namanya cuma kode, tapi aku menyebutnya ‘si tak terdaftar’. Ia muncul di dekat tempat kerjamu, lalu menghilang. Muncul lagi di dekat krane, lalu menghilang lagi.”

Vernanda menatap layar tanpa ekspresi. Di balik tulang keningnya, sesuatu menegang.

“Nanda. Jangan bereaksi.”

“Aku nggak ngerti,” kata Vernanda datar.

“Tentu.” Viona menutup laptop. “Aku cuma ingin bilang satu hal. Kalau kamu orangnya, atau kenal orangnya, aku tidak bekerja untuk mereka yang memburunya.”

Vernanda mengangkat gelas lagi, hanya untuk punya alasan menunduk.

“Kamu bisa buktikan?”

“Tidak.” Jawaban itu jujur sampai terasa kasar. “Aku tidak bisa buktikan apa pun sekarang. Satu-satunya yang bisa kutawarkan adalah ini.”

Viona mendorong secarik kertas kecil ke seberang meja. Di atasnya hanya ada satu nomor telepon dan satu kata tulisan tangan: Viona.

“Kalau Pak Darto, atau siapa pun, mulai menekanmu, hubungi aku. Bukan lewat kantor. Lewat nomor itu.”

Vernanda menatap kertas itu lama. Di kepalanya, Liyun diam.

Menurutmu? tanyanya.

“Data belum cukup,” jawab Liyun. “Tapi dia tidak bohong soal tali sling, soal laporan yang diabaikan, dan soal marahnya. Dia menyembunyikan sesuatu, tapi bukan hal yang mengancam kita. Itu penilaian sementara.”

“Dan Nanda.”

Ya?

“Aku tidak bisa membaca rasa percaya. Tapi aku bisa mencatat bahwa jantungmu melambat sedikit saat dia bilang tidak bisa membuktikan apa pun. Mungkin itu berarti sesuatu.”

Vernanda mengambil kertas itu dan memasukkannya ke saku tanpa berkata apa-apa. Itu bukan janji. Tapi bukan penolakan juga.

Viona mengangguk kecil, seperti mengerti persis arti isyarat itu.


Ia baru melangkah keluar dari warung ketika sadar ada yang memperhatikannya.

Bukan dari warung. Dari seberang jalan, dari balik truk kontainer yang terparkir miring di bahu dermaga. Seorang lelaki berdiri bersandar di sana, rokok di bibir, dan matanya mengikuti Vernanda dengan malas.

Pak Darto.

“Nanda. Detak jantungmu naik ke 104.”

Aku tahu.

Pak Darto tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat dengan santai, seolah mereka hanya kebetulan bertemu.

“Nanda. Jarang liat kamu keluar siang-siang.”

“Libur.”

“Iya, libur.” Mandor itu menepuk bahu Vernanda. Tepukan yang terlalu ramah. “Kamu ngobrol sama siapa tadi di warung?”

“Nggak ngobrol. Minum kopi.”

“Dua gelas?”

Vernanda tidak berkedip. “Yang satu punya orang lain.”

Pak Darto menatapnya beberapa detik. Lalu tertawa pendek, tawa yang tidak sampai ke mata.

“Aku suka kamu, Nanda. Kamu cepat, kamu teliti, dan kamu nggak banyak omong. Jarang ada anak muda seperti kamu.” Ia menyedot rokoknya dan menghembuskan asap ke samping. “Makanya aku mau kasih kamu kesempatan.”

“Kesempatan apa?”

“Malam Jumat. Ada kerjaan tambahan. Bukan di pelabuhan, tapi dekat. Gudang tua di belakang dermaga tiga. Tiga jam kerja, bayarannya…” Ia berhenti sejenak, seperti sengaja membiarkan kata itu menggantung. “Lima ratus ribu.”

Vernanda hampir tidak bernapas.

Lima ratus ribu. Hampir sama dengan obat ibunya sebulan. Hampir sama dengan utang pada Bu Haji.

“Nanda.” Suara Liyun sangat pelan. “Detak jantungnya stabil, tapi pupilnya sedikit melebar saat menyebut angka itu. Ia tidak menawarkan kesempatan. Ia menawarkan umpan.”

“Kerjaan apa?” tanya Vernanda, setenang mungkin.

“Angkut-angkut aja. Sama seperti biasa.” Pak Darto tersenyum lagi. “Tapi kamu nggak boleh bilang siapa-siapa. Nggak ke Jamal. Nggak ke ibumu. Nggak ke teman ngopimu tadi.”

Hening sesaat.

“Kamu mau?”

Vernanda menatap wajah mandor itu. Wajah yang sudah dua tahun memotong upahnya, menurunkan angka manifes, dan menandatangani laporan tanpa memeriksa sling yang hampir membunuh Jamal.

Di saku celananya, kertas kecil dengan satu nomor telepon terasa berat.

“Aku pikir dulu,” katanya.

“Bagus. Berpikir itu bagus.” Pak Darto menepuk bahunya sekali lagi, lalu berbalik pergi. “Jawabanmu kutunggu besok.”

Langkahnya menjauh, dan baru setelah punggung itu hilang di antara truk dan peti, Vernanda sadar ia sedang menahan napas.

“Nanda.”

Ya.

“Aku mencatat dua hal.” Suara Liyun tetap datar, tapi ada tekanan di dalamnya, sesuatu yang belum pernah ia dengar. “Pertama, ini jebakan atau pintu masuk ke jalur gelap pelabuhan. Mungkin keduanya.”

Kedua?

“Kedua: sepanjang percakapan itu, aku tidak bisa membaca satu pun kebohongan dari Pak Darto tentang bayarannya. Lima ratus ribu itu nyata.”

Vernanda memejamkan mata. Di belakang kelopaknya, angka-angka mulai menghitung diri sendiri: obat, beras, utang, lima ratus ribu.

Dan di antara semua angka itu, satu hal yang tidak bisa ia hitung: seberapa dalam ia bersedia masuk ke lubang yang sudah dibuka untuknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *