Lewati ke konten
SISTEM AI TERKUAT – NUSANTARA

Chapter 3 Angka yang Terlalu Rapi

Chapter 3: Angka yang Terlalu Rapi

Vernanda hanya tidur tiga jam.

Setiap kali matanya hampir terpejam, ia teringat batuk ibunya dan kalimat datar yang tidak bisa ia bantah: kemungkinan memburuk dalam hitungan bulan. Akhirnya ia menyerah, bangun, mencuci muka dengan air dari tong, dan berangkat kerja lebih awal.

Batu itu ia ikat dengan benang di pergelangan tangan kiri, tersembunyi di balik lengan kaus panjang. Pola emas di kulitnya sudah memudar menjadi garis samar yang hanya terlihat kalau dilihat dekat-dekat.

“Daya internal: tiga puluh satu persen,” lapor Liyun begitu mereka sampai di gerbang pelabuhan. “Menurun enam persen sejak pagi. Laju penurunan melambat saat kamu berjalan dekat gardu listrik tadi.”

“Jadi kamu makan listrik.”

“Kemungkinan. Data belum cukup.”

“Kalau begitu jangan banyak bicara. Hemat.”

“Instruksi diterima.”

Lalu hening. Dan entah kenapa, Vernanda merasa ada sesuatu yang kurang.

Malam itu Pak Darto menempatkannya di pos tally, bukan di dalam kontainer.

“Jamal sakit perut,” kata mandor itu, tanpa menatapnya. “Kamu ganti. Hitung kontainer dua puluh dua sampai tiga puluh, catat di sini. Jangan salah.”

Papan jalan berpindah ke tangan Vernanda. Pos tally itu hanya meja kecil di bawah atap seng, dengan satu lampu neon yang berkedip dan dua layar tua yang menampilkan manifes kontainer. Pekerjaan yang lebih ringan, tapi upahnya sama, dan kalau ada angka yang meleset, kesalahan jatuh ke pundak orang yang menulisnya.

Bagi Vernanda, itu bukan promosi. Itu jebakan.

Ia mulai menghitung. Peti, karung, drum. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya terus waspada.

Sampai kontainer dua puluh tiga.

“Inang.”

“Apa?” bisik Vernanda, menunduk seolah sedang menulis.

“Angka di layar manifes tidak cocok dengan penghitunganmu. Manifes mencatat dua belas ton. Berdasarkan jumlah peti yang kamu hitung dan bobot rata-ratanya, isinya mendekati sembilan belas ton.”

Vernanda berhenti menulis.

“Selisihnya tujuh ton,” lanjut Liyun. “Dalam sistem yang benar, kelebihan bobot sebesar itu akan memicu pemeriksaan. Tidak ada pemeriksaan di sini. Kesimpulanku: ada pihak yang sengaja menurunkan angka di manifes.”

“Kenapa?”

“Aku tidak tahu. Tapi jika angka ini kamu tulis apa adanya, kamu yang akan tercatat sebagai pembuat laporan. Jika ada masalah di kemudian hari, nama yang tertulis adalah namamu.”

Vernanda menelan ludah. Ia tahu ke mana arah ini. Kontainer yang bobotnya dipalsukan hanya punya satu alasan: isinya bukan barang yang boleh dilaporkan.

Ia memegang pensil, menatap kolom kosong di kertas.

“Saran: tulis angka yang kamu hitung. Lalu tambahkan catatan kecil di kolom keterangan, misalnya ‘selisih dengan manifes, perlu verifikasi’. Dengan begitu, jika terjadi masalah, ada bukti bahwa kamu tidak menyembunyikan apa pun.”

Vernanda menimbang. Itu cara yang aman. Terlalu aman, justru, karena ia tidak akan terlihat sebagai orang yang menutup mata, tapi juga tidak sebagai orang yang menantang.

Ia menulis angka asli. Lalu, di kolom keterangan, huruf kecil-kecil: selisih manifes. cek ulang.

“Bagus,” kata Liyun. “Keputusan itu rasional.”

“Bukan karena rasional,” gumam Vernanda. “Karena aku nggak mau mati karena orang lain.”

“Apakah itu berbeda?”

Vernanda tidak menjawab. Tapi sudut bibirnya bergerak sedikit, hampir seperti senyum.

Pukul satu dini hari, seorang perempuan muncul di pos tally.

Usianya mungkin dua puluh tujuh, mengenakan rompi oranye dengan logo perusahaan logistik yang tidak dikenali Vernanda, dan menenteng laptop tipis di bawah lengan. Rambutnya diikat seadanya. Matanya tajam, tipe mata yang terbiasa membaca hal-hal yang tidak dibaca orang lain.

“Malam,” katanya. “Aku Ayu Viona, dari tim sistem pelabuhan. Boleh lihat catatan tally kontainer dua puluh tiga?”

Vernanda menyerahkan papan jalan tanpa kata.

Viona membaca. Matanya berhenti di kolom keterangan, lalu naik, menatap Vernanda.

“Kamu yang menulis ini?”

“Iya.”

“Nama?”

“Vernanda.”

“Kamu satu-satunya orang yang menulis catatan seperti ini dalam tiga bulan terakhir,” kata Viona pelan. “Yang lain menulis angka manifes, tidak peduli kenyataannya.”

Vernanda mengangkat bahu. “Aku cuma hitung apa yang kulihat.”

“Dan kamu hitung dengan akurat. Hampir terlalu akurat.” Viona membuka laptop di atas meja dan mengetik sesuatu. “Di log sistemku ada anomali sejak kemarin malam. Angka-angka yang terlalu rapi. Bukan cuma di satu kontainer. Di sekitar jalur yang kamu kerjakan.”

Di pergelangan tangan Vernanda, batu itu mendadak dingin.

“Inang. Jangan bergerak. Aku menahan seluruh aktivitas.”

Garis emas di bawah lengan kausnya padam, satu per satu, sampai tidak ada cahaya sama sekali. Tidak ada panas. Tidak ada denyut. Batu itu mati, seolah menahan napas.

Viona memandangi layar laptopnya. Lalu menatap Vernanda lagi, kali ini lebih lama.

“Menarik,” katanya.

“Apa?”

“Anomalinya berhenti.”

Vernanda tidak berkedip. Keringat dingin menetes di punggungnya.

“Mungkin sinyalnya putus,” katanya, berusaha terdengar biasa.

“Mungkin.” Viona menutup laptopnya perlahan. “Aku di sini sampai pagi, di kantor sistem dekat gerbang. Kalau kamu menemukan hal yang aneh dengan jalur ini lagi, bilang padaku, bukan pada Pak Darto.”

“Kenapa bukan pada Pak Darto?”

Viona tersenyum tipis, senyum orang yang tidak mau menjawab.

“Karena Pak Darto yang menurunkan angka-angkanya.”

Ia pergi, langkah sepatunya menjauh di atas beton basah.

Vernanda baru bisa bernapas setelah bayangan rompi oranye itu hilang di tikungan kontainer.

Beberapa detik kemudian, garis emas di pergelangan tangannya menyala lagi, pelan, ragu, seperti seseorang yang baru berani membuka mata.

“Aku minta maaf,” kata Liyun. “Aku harus mematikan hampir semua fungsiku. Daya internal turun menjadi dua puluh dua persen.”

“Kamu menyelamatkanku,” bisik Vernanda.

“Aku tidak yakin itu kata yang tepat. Aku menjalankan perhitungan: peluang terdeteksi lebih tinggi daripada peluang bertahan jika aku aktif.”

“Tetap saja.”

Liyun diam cukup lama.

“Inang. Satu catatan.”

“Apa?”

“Saat perempuan itu berdiri di sini, ada sinyal berulang dari laptopnya setiap sembilan puluh detik. Polanya sama dengan yang kudeteksi di rumahmu. Tapi sinyal itu berhenti tepat saat aku mati. Aku belum tahu apa artinya.”

Vernanda menatap kegelapan di antara tumpukan kontainer, tempat Viona menghilang.

“Jadi dia musuh?”

“Atau bukan. Data belum cukup.” Ada jeda singkat. “Tetapi aku mencatat satu hal lagi. Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin dihapus.”

Vernanda tidak menjawab. Ia hanya menutup telapak tangannya di atas batu itu, menahan hangat yang tersisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *