Chapter 2: Inang dan Seratus Empat Puluh Ribu
Shift berakhir pukul lima pagi. Langit di atas Teluk Lampung masih kelabu, dan angin laut membawa dingin yang menembus kaus basah keringat.
Vernanda berjalan kaki pulang. Ongkos angkot dua ribu rupiah, dan dua ribu rupiah adalah seperempat bungkus nasi. Jaraknya hanya tiga kilometer, lewat gang-gang sempit di belakang pelabuhan, melewati warung kopi yang baru buka dan perahu-perahu nelayan yang baru merapat.
Batu itu masih di saku celananya. Hangatnya tidak hilang sepanjang jalan.
“Inang, kamu berjalan dengan kecepatan 4,2 kilometer per jam. Detak jantungmu sudah turun ke sembilan puluh dua. Aku menyimpulkan kamu sudah tidak ketakutan.”
“Jangan bicara,” gumam Vernanda tanpa membuka mulut terlalu lebar. Seorang tukang ikan lewat dengan keranjang di bahu dan menatapnya sekilas.
“Aku tidak bicara. Aku mengirim kalimat langsung ke kepalamu. Tidak ada orang lain yang mendengar.”
“Tetap saja.”
“Baik. Aku akan menahan diri.”
Hening beberapa langkah. Lalu:
“Namun ada satu hal yang perlu kamu ketahui. Upahmu malam ini seharusnya delapan puluh ribu rupiah tanpa potongan. Aku mendengar percakapan tadi. Pak Darto menyebut ‘uang administrasi’, tetapi tidak ada dasar tertulis untuk itu. Dalam sebulan, kamu kehilangan sekitar tiga ratus ribu rupiah.”
Vernanda berhenti di tengah gang.
“Aku sudah tahu.”
“Lalu kenapa kamu membiarkannya?”
“Karena kalau aku protes, besok aku tidak dapat shift.” Ia kembali berjalan, lebih cepat dari tadi. “Kamu belum paham dunia ini.”
“Benar. Aku belum paham. Tapi perhitungannya tidak rumit: tiga ratus ribu per bulan hampir dua kali lipat biaya obat ibumu per minggu.”
Langkah Vernanda terhenti lagi, kali ini lebih lama.
“Kamu tahu soal ibuku dari mana?”
“Dari pikiranmu. Angka seratus empat puluh ribu muncul sebelas kali sejak kita bertemu. Aku menyimpulkan itu penting.”
Vernanda tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ada sesuatu yang tidak enak dari rasanya dibaca sejelas itu oleh makhluk yang bahkan belum sehari mengenalnya.
Rumah mereka berdiri di ujung gang, menghadap tanah lapang berlumpur yang dulu tempat ayahnya menjemur jaring. Dindingnya papan, atapnya seng yang bocor di dua titik, dan lantainya bergetar tiap kali truk kontainer lewat di jalan besar.
Lampu di dalam sudah menyala. Ibunya selalu bangun lebih pagi dari yang seharusnya.
“Vern?”
Suara itu serak. Marlina duduk di dipan dekat jendela dengan selimut di bahu, tubuhnya tampak lebih kecil dari bulan lalu. Di depannya ada gelas teh yang belum disentuh. Ia tersenyum, senyum yang sama yang selalu dipakainya setiap kali Vernanda pulang dengan wajah lelah.
“Kamu makan dulu. Ibu sudah masak nasi.”
“Ibu sendiri sudah makan?”
“Sudah.”
Vernanda melirik panci. Isinya nasi sedikit dan tidak ada lauk. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengambil piring, membagi dua, dan meletakkan setengahnya di depan ibunya.
Marlina batuk. Batuk kering, panjang, dan berakhir dengan napas yang tersangkut. Ia menutup mulut dengan punggung tangan dan berpura-pura tidak ada apa-apa.
Di saku Vernanda, batu itu mendadak berdenyut.
“Inang.”
Vernanda tidak menanggapi. Ia menyendok nasi.
“Pola napas ibumu tidak normal. Setiap batuk diikuti jeda tarikan napas yang terlalu panjang. Aku tidak memiliki data medis yang cukup untuk diagnosis, tetapi berdasarkan pola itu, obat yang ia konsumsi tidak sebanding dengan tingkat gejalanya. Jika kondisi ini tidak ditangani dengan benar, kemungkinan memburuk dalam hitungan bulan.”
Sendok di tangan Vernanda berhenti.
“Aku menyampaikan ini karena kamu perlu mengetahuinya.”
“Diam,” bisik Vernanda.
“Vern?” Ibunya menatapnya. “Kamu bilang apa?”
“Bukan apa-apa, Bu. Ngomong sendiri.”
“Aku bisa membantu merencanakan—”
Diam.
Batu di sakunya mendadak sunyi. Tidak ada jawaban, bahkan tidak ada denyut. Garis emas di pergelangan tangannya meredup, seperti lampu yang dimatikan paksa.
Vernanda menghabiskan nasinya tanpa mengunyah.
Setelah ibunya tidur, ia duduk di teras dan mengeluarkan batu itu.
Di bawah cahaya lampu jalan, merahnya tampak pudar. Garis-garis emas yang tadi menyala kini hanya sisa-sisa tipis, dan satu di antaranya retak di bagian ujung, seperti benang yang hampir putus.
“Kamu masih hidup?” katanya pelan, tidak tahu kenapa ia bertanya.
Lama tidak ada jawaban. Lalu suara itu muncul, lebih pelan dari sebelumnya.
“Daya internalku menurun tujuh belas persen sejak malam tadi. Aku tidak memiliki sumber energi sendiri. Aku bergantung pada tubuhmu, dan itu tidak cukup.”
“Kamu butuh makan apa?”
“Aku tidak tahu. Mungkin listrik. Mungkin komponen tertentu. Mungkin sesuatu yang bahkan tidak kuketahui namanya.” Ada jeda. “Aku juga tidak mengerti kenapa kamu marah. Informasi yang kusampaikan akurat.”
“Akurat bukan berarti harus diucapkan di depan ibuku.”
“Apa bedanya?”
Vernanda hampir tertawa, tapi yang keluar hanya napas pendek. Ia menyandarkan kepala ke dinding papan dan menatap langit yang mulai terang di atas atap tetangga.
“Bedanya,” katanya akhirnya, “adalah ada hal yang sudah kutahu, tapi belum siap kudengar dari orang lain.”
“Aku mencatatnya.”
Nada bicara Liyun tetap datar. Tapi ada satu hal yang berbeda dari tadi: ia tidak menambahkan analisis apa pun setelahnya.
Vernanda menatap batu itu lebih lama. Di tepi garis emas yang retak, ia melihat sesuatu yang aneh. Sebuah titik cahaya kecil bergerak pelan, seperti sedang mencari jalan.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
“Jangan bohong. Garisnya bergerak.”
Sunyi. Lalu:
“Aku mendeteksi sesuatu di luar. Sinyal berulang, setiap sembilan puluh detik, dari arah pelabuhan. Pola yang sama muncul tiga kali sejak kamu duduk di sini. Ini bukan sinyal biasa.”
Bulu kuduk Vernanda berdiri.
“Siapa yang mengirimnya?”
“Aku tidak tahu. Tapi sinyal itu tidak mencari perangkat apa pun di dekat sini. Ia mencari sesuatu yang tidak terdaftar.”
Angin laut berembus melewati teras, membawa bau garam dan solar. Di kejauhan, sirene kapal berbunyi panjang.
Vernanda menggenggam batu itu, menutup telapak tangannya rapat-rapat, dan untuk pertama kalinya ia sadar: dalam sehari, hidupnya yang sepi dan hitung-hitungan sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa ia hitung lagi.
