Lewati ke konten
Bumi Sunyi Signal

Chapter 1 Sesi Pertama

Chapter 1 SESI PERTAMA

Empat belas monitor CRT dan LCD berjajar dalam kegelapan, dilapisi debu kelabu yang begitu tebal hingga permukaannya menyerupai kulit mati. Di bawah temaram sisa senja yang menyusup dari lubang ventilasi, layar-layar kotak itu tampak seperti barisan batu nisan hitam. Jendela menuju ruang kosong. Seratus hari yang lalu, tempat ini riuh oleh makian para bocah yang kalah bermain game online, deru kipas CPU yang dipaksa bekerja rodi, dan kepulan asap rokok murah.

Kini, Derry Net 24 Jam hanya menyisakan sunyi yang mengenyangkan telinga.

Derry duduk di lantai semen yang dingin, bersandar pada partisi kayu meja operator. Napasnya pendek-pendek, sengaja dihemat agar dadanya yang kempis tidak perlu bekerja terlalu keras memompa udara yang mulai terkontaminasi. Dari celah rolling door besi yang berkarat di bagian depan, Kabut Jernih—begitu orang-orang menyebut perwujudan Qi Purba yang merusak atmosfer Bumi—menyusup lambat. Kabut itu tidak berbau, namun setiap kali Derry menghirupnya terlalu dalam, tenggorokannya terasa seperti menelan serpihan kaca kering.
Di hadapannya, tiga bungkus mi instan bermerek lokal tergeletak di atas lantai ubin yang retak. Derry menatap tanggal kedaluwarsa yang tertera di sudut kemasan plastik: Juni 2026. Sudah lewat empat bulan. Ketika ia menggoyang salah satu bungkus, bumbunya tidak lagi berdesik renyah, melainkan menggumpal keras dengan bintik-bintik putih jamur yang terlihat samar dari balik plastik transparan.

Otak Derry, yang selama bertahun-tahun terlatih menghitung sisa waktu billing pelanggan hingga ke satuan detik, langsung berputar.

Satu bungkus per dua hari. Kalau dipaksa, setengah bungkus per hari. Sisa hidup: maksimal enam hari.

Ia selalu menghitung segalanya. Sisa air mineral di galon bawah meja (250 ml), sisa korek gas yang cairannya tinggal seujung kuku, hingga denyut nadinya sendiri yang melambat di angka 52 detak per menit. Menghitung adalah satu-satunya cara agar ia tidak gila di kota mati ini.

Derry melirik lengan kanannya. Kulitnya pucat, membiru di sepanjang jalur pembuluh darah hingga ke telapak tangan. Garis-garis biru itu adalah kutukan dari Malam Gelombang Hijau. Hari ke-0, saat ia sedang merangkak di bawah meja untuk mengganti kabel LAN yang putus, kabel serat optik di tangannya tiba-tiba memanas ekstrem. Di atas kepala, monitor para pelanggan menyala hijau pekat, menyedot kesadaran mereka hingga mati duduk dengan mata kosong menghadap layar. Derry selamat hanya karena ia tidak menatap monitor. Namun, lonjakan energi murni yang menjalar lewat konektor RJ45 yang ia genggam malam itu telah menghancurkan jalur meridiannya. Jalur energi di tubuhnya hangus, menyisakan kapasitas penyerapan Qi di angka mutlak: 0 KB/s. Di dunia baru ini, ia adalah kecacatan yang berjalan.

Namun, cacat bukan berarti bodoh. Seorang admin warnet tidak akan membiarkan sistemnya jebol tanpa pengamanan.

Derry menegakkan tubuh, mengabaikan linu di pinggangnya, lalu memperhatikan koridor sempit yang telah ia bangun selama tiga hari terakhir. Ia telah menggeser belasan kursi gaming hidrolik yang kulit imitasi-nya sudah mengelupas, menyusunnya sedemikian rupa menjadi sebuah labirin satu jalur yang sempit. Dari pintu depan menuju meja operator, hanya ada satu lorong lurus selebar bahu manusia. Sisi kanan dan kirinya dikunci oleh tumpukan meja PC berat yang sengaja digulingkan. Di gagang rolling door, sebuah tali nilon terikat erat, tersambung pada deretan kaleng bekas susu beruang yang diisi baut-baut karatan.

Itu adalah sistem firewall fisiknya. Jika ada yang mencoba mendobrak masuk, mereka tidak bisa langsung menyergapnya. Mereka harus melewati jalur tunggal yang sudah Derry atur seperti manajemen kabel LAN di balik meja server.

Kriiiiuuuk.

Perut Derry berbunyi nyaring, memecah kesunyian ruangan. Rasa perih yang membakar lambung membuatnya nekat. Dengan tangan gemetar, ia menyalakan kompor gas portabel kecil di dekat kakinya. Ia meletakkan panci aluminium penyok berisi sedikit air, lalu memasukkan satu bungkus mi instan tanpa bumbu. Ia hanya butuh karbohidratnya untuk bertahan hidup malam ini.
Dua menit kemudian, uap hangat mulai mengepul. Dan saat itulah Derry menyadari kesalahan fatalnya.

Bau gurih dari mi instan yang mendidih menguar lambat, menembus celah-celah rolling door, menyebar ke jalanan Bandar Lampung yang sudah seratus hari kehilangan bau masakan manusia. Bau itu terlalu tajam. Terlalu memikat bagi apa pun yang berkeliaran di luar sana dalam kondisi kelaparan.

Srek. Srek.

Derry membeku. Genggaman tangannya pada sumpit kayu menegang.

Dari arah aspal kering di luar warnet, terdengar langkah kaki berat yang diseret. Langkah itu tidak teratur, namun mantap menuju ke arah ruko warnetnya. Disusul oleh suara desisan napas yang berat, seperti seseorang yang paru-parunya dipenuhi cairan.

“Bau… makanan…” Sebuah suara manusia, serak dan pecah seperti gesekan amplas pada besi, terdengar di balik pintu besi. “Ada bau Pusaka juga… Hahaha… Uptime… Ada Pusaka Uptime yang masih hidup di dalam sini…”

Jantung Derry mencelos. Ia langsung memutar katup kompor gas hingga mati. Uap makanan masih tersisa di udara, namun ia tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu. Dengan gerakan sehalus kucing, Derry merayap masuk ke kolong meja operator yang sempit, menarik kursi untuk menutupi celah kaki, dan menggenggam sebuah tang crimping besi di tangan kanannya. Napasnya ditahan rapat-rapat di balik tenggorokan.

Di luar, kaleng-kaleng alarm mulai bergemerincing kasar. Pintu besi rolling door dihantam dari luar dengan kekuatan yang tidak manusiawi.
Tepat di saat detak jantung Derry berdentum di puncaknya, sebuah dengung statis yang tajam tiba-tiba berbunyi dari atas kepalanya. Monitor CRT 17 inci merek samsung kuno yang bertengger di meja operator—yang telah mati total selama seratus hari—tiba-tiba berkedip. Layar cembungnya memancarkan cahaya hijau pucat yang dingin, menyinari wajah Derry yang pucat di bawah kegelapan meja.

Dengung statis dari monitor CRT itu terdengar seperti desis ular di dalam kesunyian kolong meja. Bau ozon yang terbakar seketika menyengat hidung Derry, menggantikan aroma mi instan yang belum sempat ia cicipi. Bulu kuduknya berdiri mati-matian. Cahaya hijau yang memancar dari layar cembung itu bergoyang, memantulkan bayangan jeruji besi dari kursi gaming yang menyelimuti tempat persembunyiannya.

Derry menahan napas, memiringkan kepala ke atas. Matanya melebar.

Di atas permukaan kaca monitor yang berdebu, baris-baris teks berwarna putih dengan latar belakang hijau pucat bergulir cepat ke bawah. Polanya sangat ia kenal. Itu adalah runtutan kode POST ( Power-On Self-Test ) yang biasa muncul saat sebuah komputer dinyalakan, namun baris perintah yang tertulis di sana sama sekali tidak masuk akal bagi logika teknisi mana pun.

LOADING MERIDIAN PROTOCOL… CRITICAL FAILURE
DETECTING UPTIME CORE… PC-OPERATOR-01 ONLINE (100 DAYS RESIDUE)
INITIALIZING BILLING DAO MANAGEMENT SYSTEM…

Layar itu berkedip satu kali, mengeluarkan suara klik mekanis yang tajam dari sirkuit dalamnya. Detik berikutnya, sebuah kotak dialog abu-abu kaku dengan sudut-sudut bergaris tegas muncul di tengah layar. Font teksnya kasar dan berpiksel, persis seperti tampilan aplikasi billing warnet DOS era awal tahun 2000-an yang pernah ia kelola di masa lalu.

Ketakutan Derry yang semula melumpuhkan, mendadak buyar oleh insting seorang operator yang telah bekerja belasan tahun. Ini bukan error, batinnya sembari menelan ludah dengan tenggorokan kering.

Ini login prompt.

Teks di monitor itu berhenti bergulir, menyajikan data dingin yang langsung menghantam kesadaran Derry:
text
===== BILLING DAO v1.0 – OPERATOR PANEL =====
Pusaka terdeteksi : PC-OPERATOR-01 (Uptime: 100 hari)
Operator terdaftar: DERRY
Bilik aktif : radius 5 m

[ STATUS OPERATOR ]
Kuota Qi : 0 KB/s
Status Meridian : RBT / RUSAK
Saldo Qi : 0 KB
Sesi Aktif : 0 / 0

[ FITUR ]
Sesi & Tarif : AKTIF (default)
Throttling : AKTIF (Lv.1)
Idle Timeout : AKTIF (default 600 detik)
Blacklist MAC : TERKUNCI (butuh saldo 1.000 KB)

[ SKILL AWAL ]
Cek Koneksi (F) : DIBERIKAN

Catatan: Operator bertanggung jawab atas seluruh sesi.
Kegagalan layanan dikenai Overdue Billing.
[ OK ] [ BATAL (nonaktif) ]

Derry membaca baris demi baris dengan mata berkejutan. Status Meridian: RBT / RUSAK. Sistem itu mengetahui kecacatannya. Angka 0 KB/s pada kuota Qi mengonfirmasi bahwa ia tidak akan pernah bisa menarik energi dari alam seperti para kultivator baru yang beruntung di luar sana.

Namun, matanya terpaku pada bagian fitur. Throttling. Idle Timeout. Istilah-istilah pembatas bandwidth dan pemutus koneksi otomatis yang biasanya ia gunakan untuk menghukum bocah-bocah warnet yang bandel atau kehabisan uang koin, kini tertera sebagai alat mekanis dunia spiritual.

“Operator bertanggung jawab…” Derry berbisik lirih, membaca peringatan di baris bawah. Kalimat itu terasa seperti seutas tali tambang yang pelan-pelan melilit lehernya. Sistem ini tidak memberikan kekuatan cuma-cuma; ini adalah kontrak kerja yang mengikat nyawanya.

Di sudut bawah kotak dialog, tombol [ BATAL (nonaktif) ] sewarna abu-abu mati tampak terkunci, tidak merespons gerakan kedipan matanya. Satu-satunya tombol yang menyala dengan latar hijau berkedip adalah [ OK ].

BRAAANG!

Hantaman keras dari arah depan ruko mengguncang fondasi bangunan. Suara jeritan besi rolling door yang terkoyak terdengar begitu nyaring, disusul dentang kaleng-kaleng susu yang berhamburan di atas ubin. Alarm fisiknya telah jebol. Penjarah itu sudah berhasil membuat celah untuk merangsek masuk.

Derry tidak punya waktu lagi untuk berpikir. Di tengah kepanikan mutlak, ia menjangkau ke atas meja, menekan tombol Enter pada keyboard berdebu dengan ujung jarinya yang gemetar.

KLIK.

Layar CRT mengeluarkan bunyi bip panjang yang dingin. Kotak dialog itu lenyap, menyisakan sebuah dasbor hitam kosong dengan satu indikator berkedip di pojok kanan atas:

MONITORING MODE: WAITING FOR USER CONNECT.

Tepat setelah monitor berubah mode, sebuah benturan berat kembali terdengar di ujung labirin kursi gaming miliknya. Sesi pertempuran Derry resmi dimulai.

BRAAAK!

Satu kursi gaming hidrolik terlempar menghantam dinding tripleks, hancur berkeping-keping dengan busa yang berhamburan. Di balik kepulan debu semen yang pekat, sebuah siluet bertubuh besar melangkah maju. Bang Rogo. Sebelum Malam Gelombang Hijau, Derry mengenalnya sebagai penagih utang koperasi yang ditakuti di sekitar pasar kota. Kini, pria itu tampak dua kali lipat lebih mengerikan. Kulit lengannya menebal, bersisik kelabu samar akibat asimilasi Qi yang kasar, dan tangan kanannya menggenggam sebuah palu godam berkarat yang diselimuti pendaran energi tipis.

“Sialan! Siapa yang menyusun rongsokan ini di tengah jalan?!” Rogo menggeram serak. Langkahnya terhambat oleh labirin kursi kustom yang Derry bangun. Karena koridor terlalu sempit untuk tubuhnya yang lebar, ia terpaksa menendang dan menghempaskan tumpukan meja PC satu per satu. Setiap hantaman palunya mengeluarkan dentum energi spiritual yang membuat telinga Derry berdenging dari balik kolong meja operator.

Derry merapatkan tubuhnya ke dinding kayu meja, memeluk lututnya erat-erat. Tang crimping di tangannya terasa sangat dingin. Ia bisa mendengar napas berat Rogo yang berjarak kurang dari tujuh meter.

Satu langkah lagi… Dua langkah lagi… Derry menghitung dalam hati, matanya terpaku pada ubin ubin retak yang sudah ia tandai dengan goresan paku di lantai.

TAP.

Sepatu bot kulit Rogo yang robek menginjak batas goresan ubin berjarak lima meter dari meja operator.

BIP!

Layar CRT di atas kepala Derry mengeluarkan bunyi bel mekanis yang sangat nyaring. Di sudut kanan atas dasbor yang semula kosong, sebuah baris teks baru berkedip dengan warna kuning terang, memotong kesunyian:

[ NOTIFIKASI: USER BARU TERDETEKSI ]
Hostname : Guest_01 (Identitas Qi: Rogo_Koperasi)
Status : Login Sukses (Mulai Sesi)
Tarif : 1 KB / Detik (Paket Reguler)

Rogo seketika menghentikan langkahnya. Ia celingukan dengan dahi berkerut, merasakan ada sesuatu yang aneh yang tiba-tiba mengikat aliran darah dan energinya. “Suara apa itu? Hei! Keluar kamu, Derry penakut! Aku tahu kamu ada di sini! Serahkan Pusaka Uptime yang membuat tempat ini menyala, atau kepala mumu yang kuhancurkan!”

Mendengar ancaman itu, insting survival Derry berteriak. Rasa takut menguasai logikanya. Alih-alih bertahan di posisinya, Derry melakukan kesalahan manusiawi akibat panik—ia mencoba merangkak keluar dari sisi belakang meja operator untuk melarikan diri lewat pintu dapur kotor di belakang.

Namun, pergerakannya menciptakan cicitan lantai kayu yang nyaring.

“Di sana kau rupanya!”

Rogo menderu. Dengan satu ayunan palu godamnya yang masif, barikade kursi terakhir dihempaskan hingga jebol. Pria besar itu melompat melewati reruntuhan meja, langsung memotong jalur pelarian Derry. Sebelum Derry sempat berdiri tegak, sebuah hantaman samping dari gagang palu Rogo mengenai rusuk kirinya dengan telak.

KRAK.

“Aaakh!” Derry menjerit, tubuhnya terpental menghantam rak penyimpanan kardus PC bekas. Tubuh ringkihnya merosot ke lantai, napasnya seketika tercekat seolah seluruh oksigen di paru-parunya lenyap dalam sekejap. Rasa sakit yang luar biasa membakar bagian kiri dadanya. Rusuknya retak. Di dunia baru ini, satu serangan dari kultivator tahap awal sudah cukup untuk membunuh manusia biasa sepertinya. Derry terbatuk, memuntahkan sedikit air liur bercampur darah, menyadari kebodohannya: jalan keluar yang ia rancang sendiri justru mengurungnya. Sebagai underdog, ia tidak memiliki peluang jika bertarung secara fisik.

Rogo berjalan mendekat perlahan, menyeret palu godamnya di atas semen hingga mengeluarkan percikan api. Wajahnya menyeringai kejam. “Lemah. Meridian hancur seperti sampah masih mau sok menyembunyikan Pusaka.”

Derry, dengan sisa kekuatannya, mendongak menatap monitor CRT yang posisinya kini tepat di samping sudut matanya. Matanya berfokus pada dasbor.

Gunakan skill awal. Sekarang! perintahnya dalam hati.

[ Cek Koneksi (F) diaktifkan. Target: Guest_01 ]

Detik itu juga, sebuah angka digital berukuran kecil berwarna hijau neon melayang tepat di atas kepala Bang Rogo.

ping: 38 ms
ping: 36 ms
ping: 39 ms

Angka itu berkedip stabil per seratus milidetik. Derry membelalakkan mata, mencoba mencerna informasi tersebut lewat otak adminnya. Tiga puluh delapan milidetik. Jeda yang sangat pendek. Koneksi energinya dengan alam sangat lancar.

Rogo mengangkat palu godamnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Otot-otot lengannya menegang, dan pendaran Qi hijau di sekitar besi palu mulai berkumpul, berputar lambat, memancarkan tekanan udara yang membuat debu di sekitar lantai beterbangan. Pria itu sedang merapalkan teknik serangan penghancur untuk menyudahi nyawa Derry.

Tepat saat Rogo mulai mengumpulkan energi spiritualnya, angka di atas kepalanya mendadak melonjak drastis.

ping: 212 ms
ping: 480 ms
ping: 914 ms

Lag spike! Otak Derry berteriak. Logika lamanya langsung menyambungkan titik-titik tersebut. Lonjakan ping ini persis seperti kondisi di warnet ketika salah satu komputer client mendadak menarik unduhan video atau pembaruan game dalam ukuran bergiga-giga tanpa batas. Rogo sedang menarik Qi dari sekitar Bilik dalam jumlah masif ke satu titik—yaitu palunya—sehingga lalu lintas energi di sekitarnya tersendat dan menciptakan jeda reaksi.

Dia sedang loading teknik besar! Derry menyadari jendela kesempatannya sangat sempit. Hanya sekitar 0,4 detik sebelum palu itu diayunkan jatuh.

Dengan tangan kanan yang bersimbah darah dan gemetar hebat, Derry merayap maju dua inci, meraih keyboard mekanis tua di bawah meja operator. Jarinya bergerak dengan kecepatan yang didorong oleh adrenalin murni, menekan tombol pintas untuk membuka panel pembatas bandwidth yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.

KLIK. PLOK. PLOK.

Sebuah baris perintah kecil terbuka di bagian bawah monitor: SET_LIMIT Guest_01_SPEED.

Di atas kepalanya, palu Rogo sudah sepenuhnya diselimuti cahaya hijau pekat yang menyilaukan. “Mati kau, Derry!” Rogo berteriak, siap mengayunkan senjata mautnya.
Ping di kepala Rogo menyentuh angka kritis: ping: 1200 ms (RTO – Request Timed Out).

Derry mengetikkan angka batas dengan panik. Sial, jarinya slip menekan tombol huruf karena licin oleh keringat dingin. Ia menghapus satu karakter, menekan tombol koreksi, lalu menekan Enter dengan hantaman telapak tangan yang putus asa tepat saat hitung mundur di otaknya habis.

COMMAND EXECUTED: THROTTLING Guest_01 TO 2 KB/s.

WUUUSSH—DEB!

Ayunan palu Rogo mendadak berhenti total di udara, tepat sepuluh sentimeter di atas pelipis Derry. Angin tajam dari sisa energi yang gagal dilepaskan memotong beberapa helai rambut Derry, namun palu itu sendiri tidak bergerak satu milimeter pun.

Di atas kepala Rogo, pendaran cahaya hijau spiritualnya mendadak membeku, lalu berubah bentuk menjadi ikon lingkaran berputar yang berkedip-kedip menjengkelkan—sebuah simbol pemuatan data (buffering).

“A-Apa… Apa ini?! Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?!” Rogo meraung kebingungan. Seluruh urat di leher dan dahinya menonjol hingga nyaris pecah. Ia mencoba mengerahkan seluruh tenaga kultivasinya, namun energi spiritual di dalam tubuhnya yang mengalir menuju palu tiba-tiba dijepit habis-habisan oleh aturan tak kasat mata dari sistem Billing Dao. Saluran energinya seolah dipaksa melewati lubang jarum sekecil 2 KB per detik.

Qi besar yang sudah terlanjur ditarik oleh Rogo namun tidak bisa dikeluarkan dari palunya mulai memantul kembali, mencari jalan keluar lain. Karena tidak ada ruang di tubuh Rogo yang terbatasi bandwidth-nya, aliran energi spiritual murni itu berbelok lurus, mengalir deras di udara berupa kilatan cahaya hijau murni yang langsung tersedot masuk ke dalam tabung kaca monitor CRT milik Derry.

BIP! BIP! BIP!

[ PEMASUKAN DATA: SELISIH TARIF DISALURKAN ]
Menerima Qi sisa dari Guest_01…
Saldo Qi: +50 KB… +120 KB… +200 KB…

Derry menyaksikan angka-angka itu melonjak dari lantai tempatnya terkapar, sementara tubuh Rogo di hadapannya mulai bergetar hebat. Wajah penagih utang itu memucat, matanya melotot ngeri karena energinya dikuras paksa oleh sistem tanpa bisa ia hentikan.

Karena Rogo terus berdiri mematung di posisi yang sama tanpa melakukan tindakan atau input gerakan baru selama lebih dari tiga puluh detik, dasbor Billing Dao mendadak memicu protokol otomatis berikutnya. sebuah jam digital kecil muncul di monitor dengan tulisan merah menyala:

[ ALERT: IDLE TIMEOUT WARNING ]
Target diam terlalu lama di dalam Bilik.
Memulai hitung mundur pemutusan koneksi otomatis: 3… 2… 1…

Derry memegangi rusuknya yang perih, memaksakan sebuah senyuman tipis yang getir di sudut bibirnya yang berdarah saat menatap pria besar yang kini mendadak tidak berdaya itu.

“Maaf, Bang,” bisik Derry dengan suara parau yang dingin. “Paket Anda sudah habis.”

BIP!

[ SYSTEM: GUEST_01 IS KICKED BY OPERATOR (IDLE TIMEOUT) ]

Detik itu juga, seluruh pendaran energi di palu Rogo padam sepenuhnya. Teknik kultivasinya terputus paksa dari inti dantiannya, menyisakan kekosongan energi yang menghantam balik organ dalamnya sendiri.

BZZZT—

Gelombang tekanan tak kasat mata keluar dari meja server, menghantam dada Bang Rogo dengan daya dorong yang mutlak. Tubuh raksasa itu terlempar ke belakang, terseret di atas ubin semen melewati koridor sempit kursi gaming, hingga terdepak keluar menembus pintu rolling door yang menganga.

Rogo terkapar di atas aspal jalanan yang berdebu. Tubuhnya yang semula kekar kini tampak menyusut, kulitnya kering, dan matanya menatap langit malam dengan kekosongan total. Ia tidak mati, namun sistem telah menguras habis seluruh Qi asimilasi di meridiannya hingga ke batas nol. Ia lumpuh, tidak lebih dari seonggok daging tak berdaya yang tergeletak tepat di ambang batas luar radius lima meter warnet.

Di dalam ruko, keheningan malam kembali merebut takhtanya. Derry terengah-engah, melepaskan cengkeramannya pada keyboard berdebu. Di atas meja, layar CRT memancarkan kilau hijau statis yang tenang, menampilkan kalkulasi final pada dasbor:
[ SESI GUEST_01 DITUTUP ]
Durasi Sesi : 3 Menit 42 Detik
Total Qi Disedot : 312 KB
Status Saldo : 312 KB (Tersedia)
Derry memaksakan diri untuk merangkak mendekati ambang pintu, menyeret kakinya yang lemas sambil memegangi rusuk kirinya yang retak. Setiap tarikan napas mengirimkan rasa nyeri yang menusuk tajam ke dadanya. Namun, matanya tertuju pada tas selempang kulit kecil yang terlepas dari pundak Rogo saat ia terlempar tadi.

Dengan tangan gemetar, Derry membuka ritsleting tas tersebut. Di dalamnya, selain beberapa batu batu Qi pecahan kecil yang belum dimurnikan, terdapat sebungkus nasi yang dibungkus daun pisang kering dan dua lembar dendeng sapi asin. Bau makanan nyata.

Tanpa memedulikan rasa gengsi atau higienitas di dunia lama, Derry merobek bungkusan itu dan menjejalkan nasi dingin serta dendeng asin ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan rakus, air matanya nyaris menetes saat rasa gurih dan asin menyentuh lidahnya setelah seratus hari hanya mengonsumsi mi instan kedaluwarsa. Begitu makanan itu masuk ke lambungnya, rasa perih membakar yang menyiksanya perlahan-lahan mereda. Energi fisiknya pulih beberapa persen, menutup benang keputusasaan yang mengikatnya sejak awal malam.

Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Rasa hangat di perutnya mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang merayap naik ke tengkuknya saat ia menyadari satu hal: ia baru saja melumpuhkan penagih utang paling ditakuti di wilayah ini hanya dengan modal sebuah komputer tabung tua dan sisa meja rongsokan. Ia hidup, tetapi ia masih sangat lemah. Jika ada kultivator yang lebih tinggi dari tahap awal datang tanpa membawa emosi arogan, taktik throttling miliknya mungkin tidak akan sempat menahan serangan mereka.

TIIIT! TIIIT! TIIIT!

Dengung nyaring ala printer pita rusak tiba-tiba memecah kesunyian dari arah meja operator. Layar CRT yang semula hijau tenang mendadak berkedip-kedip dengan warna merah darah yang pekat. Alarm mekanis menyala berulang-ulang, memantulkan cahaya merah ke dinding-dinding warnet yang pengap.

Derry tersedak sisa dendengnya, segera merayap kembali ke bawah meja untuk melihat monitor. Sebuah jendela peringatan darurat berukuran besar telah mengambil alih seluruh layar:
!! PERINGATAN: MISI DARURAT TERPICU !!

[ MISI SHIFT JAGA ]
Deskripsi Misi : Sebagai Operator, layanan Anda wajib aktif.
Undang dan pertahankan pengguna di dalam Bilik.
Tugas : Pertahankan minimal 3 SESI AKTIF secara bersamaan.
Waktu Tersisa : 03:59:58 (Hitung mundur dimulai)

Penalti Gagal : OVERDUE BILLING
(Sistem akan menarik paksa bunga hutang Qi.
Jika tidak lunas dalam 72 jam, 1 Meridian Utama
akan disita PERMANEN dari tubuh Operator.)

Sesi Aktif Saat Ini: 0 / 3
Derry membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang membaca baris penalti tersebut. Menyita meridian secara permanen? Meridiannya sudah rusak total; jika sistem menyita satu jalur lagi, itu sama saja dengan mematikan organ vitalnya atau mencabut haknya sebagai operator secara absolut.
Dan yang lebih gila adalah aturan misinya. Tiga sesi aktif bersamaan.

Selama seratus hari ini, aturan utama untuk bertahan hidup di Bumi Sunyi Sinyal adalah bersembunyi, mengunci pintu, dan menahan napas agar tidak terdeteksi oleh monster Qi atau kultivator penjarah. Namun sekarang, sistem BILLING DAO justru memaksanya melakukan hal yang sebaliknya. Ia harus bertindak sebagai admin warnet sejati: membuka pintu, menyalakan lampu, dan mengundang musuh-musuh mematikan di luar sana untuk masuk ke dalam areanya. Ia harus menjaga mereka tetap hidup di dalam Bilik beradius lima meter agar sesinya tidak terputus sebelum subuh.

Di luar ruko, Kabut Jernih yang menyelimuti jalan raya Bandar Lampung mendadak bergerak bergolak.
Dari kejauhan, di antara reruntuhan bangunan pencakar langit yang gelap dan deretan mobil berkarat, beberapa titik cahaya Qi berwarna merah dan kuning—indikasi dari para pemburu Pusaka dan binatang mutasi yang mencium sisa bau Qi murni dari pendaran monitor Derry—mulai bermunculan. Mereka bergerak cepat, berbelok menuju arah jalan masuk Derry Net 24 Jam.

Derry menatap titik-titik cahaya yang mendekat itu, lalu melirik tombol keyboard di hadapannya. Tangannya mengepal kuat. Sesi kerja malamnya yang paling mematikan baru saja dimulai.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *