Penerjemah: FenrirTL
Editor : TheBattleSage
Catatan Editor/Pemeriksa Kualitas: Saphartlantis
Konsultan Istilah Murim: Kopke
========================
< Bab 55: Aku Mengenalmu >
Pendaran ungu menandakan penggunaan teknik sesat terlarang.
Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa telah dikerahkan untuk mengekstrak jawaban yang jujur dari lawan.
Teknik ini dilarang untuk digunakan pada murid-murid kecuali diizinkan oleh Pemimpin Sekte karena teknik ini dapat membaca pikiran lawan bahkan memancing tanggapan, sehingga rentan disalahgunakan dalam berbagai hal.
Namun, Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa telah melanggar tabu ini dengan mudah dan melafalkan Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa.
Bahkan para praktisi jiwa tingkat tertinggi pun dapat menggunakan Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa, tetapi tingkat keberhasilannya bervariasi sesuai dengan keterampilan dan energi internal mereka. Semakin tinggi keterampilannya, semakin dalam rona ungunya.
Rona ungu yang menyilaukan menunjukkan bahwa teknik Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa bahkan dapat mengekstrak ingatan yang paling terlupakan sekalipun.
“Siapa kau?”
“Aku Geom Mugeuk.”
“Bagaimana kau tahu tentangku?”
“Aku menyelidiki dirimu. Semuanya, dari kepribadianmu hingga hal lainnya.”
Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa, yang menyusup melalui mata, sama sekali tidak mempan padaku berkat Esensi Mata Darah yang telah tertelan olehku.
Meskipun demikian, aku menjawab seolah-olah aku berada di bawah pengaruh mantra teknik tersebut. Dengan mengamati apa yang dia tanyakan, aku pun bisa mempelajari sesuatu tentang dirinya.
“Apakah Pemimpin Sekte berada di balik insiden ini?”
“Tidak.”
Ekspresi lega melintas di wajah Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa. Seperti yang diduga, orang yang paling ditakutinya adalah ayahku. Sangat bodoh.
“Untuk apa kau datang?”
“Untuk membunuhmu.”
“Apakah kau memberi tahu seseorang bahwa kau datang ke sini?”
“Aku tidak memberi tahu siapa pun.”
Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa menarik kembali Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa. Karena itu tidak diperintahkan oleh Pemimpin Sekte, dia mungkin menilai tidak ada alasan untuk menguras energi internalnya lebih jauh lagi. Konsumsi energi internal dan kekuatan mental untuk teknik ini lebih parah daripada ilmu hitam lainnya.
Pertanyaannya tentang apakah aku telah memberi tahu seseorang tentang kunjungannya mengungkapkan niatnya untuk membunuhku.
“Tuan Muda Kedua, kau akan lenyap dari duniamu hari ini.”
“Aku mungkin lenyap, tetapi dapatkah kau menangani akibat dari membunuhku?”
“Untuk apa aku menangani akibatnya? Iblis Pedang Darah Surgawi yang akan menanganinya. Bukan aku yang akan membunuhmu. Kau akan mati di tangan Iblis Pedang Darah Surgawi saat mencoba membunuhnya.”
Dia bermaksud menggunakan Teknik Pembaca Pikiran dan Pencuri Jiwa padaku untuk memerintahku agar membunuh Iblis Pedang Darah Surgawi. Dengan keyakinan bahwa aku tidak bisa mengalahkan Iblis Pedang Darah Surgawi, aku pada akhirnya akan dibunuh olehnya.
“Itu sangat mirip dengan dirimu.”
“Apa maksudmu dengan itu? Kenapa kau terus berbicara seolah kau sangat mengenalku? Menyelidikiku? Berpikir bahwa kau bisa membunuhku adalah penyelidikan yang konyol.”
Saat kata-kata itu berakhir, dunia berputar.
Cahaya menyilaukan dan pekat berdatangan, membuat mataku tidak bisa dibuka. Tak lama kemudian, aku mendapati diriku berdiri sendirian di tempat yang gelap. Seseorang berbisik di telingaku.
—Bunuh Iblis Pedang Darah Surgawi!
Perintah itu berulang terus-menerus.
Mulanya itu adalah suara Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa, lalu suara ayahku, lalu suara Lee Ahn, dan Seo Daeryong. Perintah itu berulang dalam setiap suara yang kukenal. Bahkan suaraku sendiri dan suara Iblis Pedang Darah Surgawi menggema meneriakkan perintah tersebut.
Sekalipun aku menutup telingaku, kata-kata itu menembus pikiranku, menghantamkan perintah itu ke dalam otakku. Kepalaku terasa sakit seolah-olah hendak meledak.
Meskipun Teknik Pelindungan Tubuh Iblis Surgawi telah diaktifkan, rasa sakit inilah yang harus kutanggung. Orang normal pasti sudah tumbang di bawah mantra Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa.
“Bising sekali.”
Aku melihat sekeliling.
Di dalam kegelapan pekat, aku melihat pendaran cahaya biru samar di kejauhan. Secara naluriah, aku tahu cahaya itu adalah jalan untuk memecahkan mantra tersebut. Aku berjalan ke arahnya.
Semakin dekat aku, cahaya itu menjadi semakin besar, tumbuh cukup besar untuk dilewati oleh seseorang.
Tanpa ragu, aku melangkah masuk ke dalamnya.
Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa berdiri di luar. Dia menatapku dengan ekspresi terkejut.
“Bagaimana bisa kau membuka matamu sendiri?”
Berjalan melewati cahaya dalam ilusi disetarakan dengan membuka mata di dunia nyata.
“Seseorang tidak dapat membuka mata mereka sebelum Mantra Pengejar Jiwa berakhir.”
“Kurasa aku sudah telanjur terikat erat dengan Iblis Pedang Darah Surgawi. Aku tidak ingin membunuhnya.”
Sekali lagi, keadaan di sekeliling berputar, dan cahaya pekat berdatangan. Aku kembali berada di dalam kegelapan.
“Lagi?”
—Bunuh Iblis Pedang Darah Surgawi!
Kali ini, Mantra Pengejar Jiwa yang bahkan lebih kuat, didukung oleh energi internal yang lebih besar, menyerangku. Jika mantra pertama menghantamkan perintah ke otakku menggunakan palu kecil, kini hantamannya menggunakan palu yang besar.
Tetapi cahaya biru samar itu masih ada, dan aku berhasil lolos darinya lagi. Bahkan setelah terbebas, kepalaku terasa seperti mau pecah, menunjukkan betapa kuatnya mantra Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa.
“Kenapa juga mantra itu tidak mempan padamu?”
Aku menjawab sambil memijit pelipisku yang berdenyut-denyut, “Seperti yang kukatakan, ini karena ikatan yang mendalam dengan Sesepuh Iblis Pedang.”
“Omong kosong!”
“Kau cemas tidak seperti biasanya.”
“Kalau begitu kurasa aku harus menangani ini sendiri.”
Saat berikutnya, keadaan di sekeliling menjadi gelap.
Sesuatu bergerak-gerak di dalam kegelapan.
Tanah itu menggeliat, dan bayangan-bayangan pekat bangkit. Mata dan mulut mereka memanjang secara mengerikan, serta anggota tubuh mereka yang tidak wajar panjangnya, membuat mereka benar-benar mengerikan untuk dipandang.
Makhluk-makhluk seperti dari neraka ini menyerbuku.
Aku menebas mereka dengan Pedang Iblis Hitam.
Tubuh monster-monster pekat itu memiliki titik-titik cahaya kebiruan yang tersebar di sekujur tubuh mereka. Beberapa memilikinya di kepala, yang lain di perut, dan masih ada yang di lengan mereka. Esensi Mata Darah secara tepat menunjukkan cara untuk memecahkan ilmu hitam ini.
Ketika aku menusuk titik cahaya itu secara akurat, makhluk-makhluk itu buyar menjadi lingkaran cahaya putih dan lenyap. Jika aku tidak menghantam titik vital mereka secara tepat, roh-roh jahat ini akan terus menyerang tanpa henti. Mereka adalah musuh yang tidak bisa dikalahkan hanya dengan keterampilan seni bela diri yang lebih unggul.
Setelah aku menebas habis semua monster itu, kegelapan di sekitarnya menjadi terang, menampakkan Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa yang berdiri dengan ekspresi muram.
Tanpa sepatah kata pun, dia melafalkan mantra berikutnya.
Ketika kegelapan itu tersingkap lagi, aku terkejut.
Aku mendapati diriku berdiri di atas sebatang kayu besar di tengah-tengah laut.
Itu adalah air laut sungguhan. Tentu saja, ini adalah ilusi yang diciptakan untuk memanipulasi pikiranku, tetapi ilusi ini cukup nyata sehingga jatuh ke dalamnya berarti kematian yang pasti.
Kemudian, dari kejauhan, aku mendengar suara ombak.
Memalingkan kepalaku, aku melihat sesuatu meluncur ke arahku dari jauh. Yang membuatku tercengang, itu adalah gelombang pasang yang besar.
“Wah.”
Swoooosh!
Itu adalah amukan alam, sesuatu yang tidak dapat ditahan oleh kekuatan manusia mana pun.
Aku sekarang mengerti mengapa para praktisi bela diri aliran lurus menganggap Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa begitu hebat. Bagaimana mungkin manusia biasa bisa mengatasi ilusi sebesar itu?
Gelombang pasang yang mendekat itu setinggi tebing. Tingginya begitu rupa sehingga puncaknya tampak membentang hingga tak terhingga.
Tetapi tidak ada satu pun bagian dari ombak itu yang menunjukkan cara untuk memecahkan mantra tersebut.
Tanpa tempat untuk melarikan diri, aku disapu oleh ombak.
Kekuatan yang luar biasa menyeretku ke dalam air, meremukanku. Tanpa Teknik Pelindungan Tubuh Iblis Surgawi, aku pasti sudah kehilangan kesadaran akibat benturan itu.
Di luar kehendakku, aku terombang-ambing di dalam air.
Berapa banyak waktu yang telah berlalu?
“Puah!”
Aku menerobos permukaan air, terengah-engah mencari udara.
Tepat saat aku merasa sedikit lega, ombak lain mulai bangkit di kejauhan. Jika hal ini berulang tanpa henti, bahkan petarung terhebat pun pada akhirnya akan menyerah pada kelelahan dan mati. Aku harus menemukan cara untuk memecahkan mantra dan melarikan diri sebelum hal itu terjadi.
Aku mengamati sekelilingku dan menyelam ke dalam air, mencari cahaya kebiruan. Tetapi samudra itu sangat gelap gulita.
Aku disapu oleh ombak kedua juga. Meminimalkan benturan dengan Teknik Pelindungan Tubuh Iblis Surgawi, aku muncul ke permukaan lagi. Tidak peduli seberapa banyak aku melihat sekeliling, aku dikelilingi oleh lautan yang tak bertepi.
Menemukan cara untuk memecahkan mantra di samudra yang sangat luas ini tampaknya hampir mustahil.
Di mana letak benda itu di bumi ini? Tidak ada burung camar, tidak ada pulau karang, tidak ada apa pun kecuali lautan yang tak bertepi dan diriku.
‘Pasti ada sesuatu yang bisa ditemukan.’
Pada saat itu, sebuah pemikiran melintas di benakku. Kalau dipikir-pikir, ada sesuatu.
‘Mungkinkah?’
Aku mendorong diriku keluar dari air. Sambil melompat ke atas, aku mencari satu hal. Tetapi aku tidak dapat menemukan apa yang kucari dan tersapu oleh ombak ketiga.
Sebelum ombak keempat tiba, aku melompat lagi, dengan rajin mencari satu hal itu.
Dan akhirnya, aku menemukan apa yang kucari.
‘Kumohon! Biarlah ini benar!’
Apa yang kutemukan adalah sebatang kayu tempat aku berdiri saat pertama kali tiba.
Aku membalikkan kayu itu, dan benar saja, ada cahaya kebiruan yang memancar dari bagian bawahnya.
Esensi Mata Darah selalu dengan akurat dan cepat mengungkapkan cara untuk memecahkan mantra. Kali ini, benda itu berada tepat di bawah hidungku. Di samudra yang luas ini, benda yang telah membuatku tetap mengapung adalah kunci untuk memecahkan mantra tersebut. Masuk akal.
Atau mungkin cahaya itu tadinya berada di atas, tetapi saat kayu itu berputar di dalam ombak, cahaya itu berakhir di bagian bawah.
Tepat sebelum ombak keempat menghantam, aku menebas kayu itu dengan Pedang Iblis Hitam.
Pada saat itu!
Ombak yang tadinya menerjang lenyap seolah-olah itu hanyalah kebohongan, dan lautannya pun ikut menghilang bersama ombak itu.
Ini pasti merupakan jurus pamungkas Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda keputusasaan.
Sebuah ruang baru segera terbentang. Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa terus-menerus melepaskan ilmu rahasia paling mematikannya.
Di sekelilingku berdiri sekitar tiga puluh cermin.
Setiap cermin memantulkan tahapan berbeda dalam hidupku.
Ada bayangan diriku saat masih anak-anak, saat aku yang sekarang, sebagai seorang paruh baya, dan bahkan sebagai seorang lelaki tua. Seolah-olah cermin-cermin itu menampilkan seluruh hidupku dengan selang waktu tiga atau empat tahun.
Aku berjalan perlahan, menatap bayanganku di cermin. Sebagian besar menunjukkan usia yang telah kualami sebelum regresi, tetapi pada titik tertentu, cermin-cermin itu mulai menunjukkan usia yang tidak pernah kualami. Cermin terakhir menunjukkan diriku begitu tua hingga sulit untuk mengenali diri sendiri.
Aku berada di ambang kematian.
Aku bertanya kepada bayangan di dalam cermin.
“Apa yang begitu kau sesali?”
Bayangan itu, yang layu dan sendirian di dalam sebuah ruangan besar, mendongak menatap langit-langit dengan mata hampa. Tidak ada seorang pun yang menemaniku di saat ajalku. Itu adalah akhir yang sunyi dan suram.
Ini bukanlah masa depan ku. Ini adalah ilusi yang diciptakan oleh Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa. Orang yang tergesa-gesa mungkin sudah menghancurkan cermin-cermin itu. Jika mereka melakukannya, situasinya akan menjadi semakin buruk.
Aku mengulurkan tangan dan dengan lembut menyentuh bayangan lelaki tua di dalam cermin.
“Bahkan setelah hidup dengan begitu banyak darah di tanganmu, apakah kau mengharapkan kematian yang bahagia? Itu serakah, Mugeuk. Jika kau membunuh Hwa Moogi dan menyelamatkan mereka yang butuh diselamatkan, kematian seperti itu pun dapat diterima.”
Aku menghibur diriku sendiri. Seperti apa kematianku yang sebenarnya nanti? Apakah aku akan mati sendirian dan suram seperti itu? Atau akankah aku mati sambil tersenyum, menghibur mereka yang ditinggalkan?
“Tidak apa-apa, pergi dengan tenang. Aku mengenalmu.”
Meskipun aku menyentuh diriku yang sudah tua di dalam cermin, mungkin aku sebenarnya sedang menghibur diriku yang sekarang. Mengatakan pada diri sendiri bahwa semuanya baik-baik saja, bahwa aku telah berbuat dengan baik.
Aku berbalik dan berdiri di depan cermin yang menunjukkan diriku yang lebih muda. Itu adalah diriku beberapa tahun dari sekarang, dengan cahaya kebiruan yang berputar-putar di sekitar cermin tersebut.
“Nah, haruskah kita keluar?”
Prang!
Aku mengayunkan Pedang Iblis Hitam dan menghancurkan cermin itu.
Melalui cermin yang pecah itu, aku melihat wajah terkejut Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa.
“Bagaimana kau tahu kalau itu adalah cerminnya?”
Di antara puluhan cermin, hanya satu yang bisa membawa keluar dari tempat itu.
“Jika kau memecahkan cermin yang salah, jumlah cerminnya akan berlipat ganda. Pecahkan cermin salah lainnya, dan jumlahnya berlipat ganda lagi. Kau tidak akan pernah bisa keluar.”
“Aku sedang beruntung.”
“Beruntung? Kau pikir keberuntungan bisa memecahkannya?”
Ekspresinya benar-benar membeku. Keterkejutan itu telah berubah menjadi syok, dan dia telah sampai pada satu kesimpulan yang mungkin telah menghantuinya selama serangan-serangannya yang gagal.
Dengan suara yang bergetar, dia bertanya,
“Apakah kau benar-benar telah menguasai Seni Iblis Sembilan Malapetaka?”
Sebelum aku sempat menjawab, dia menyimpulkannya sendiri.
“Pemimpin Sekte gila itu! Dia sudah memilih penerus tanpa sepengetahuan kita?”
Tentu saja dia salah paham. Hanya ada satu alasan mengapa ilmu hitamnya tidak mempan.
Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa meledak dalam kemarahan.
“Sialan! Menggunakan putramu sendiri sebagai pedang untuk membunuhku? Bajingan kotor! Pemimpin Sekte tidak pernah sekalipun mengungkapkan niat aslinya. Selalu menusuk dari belakang.”
“Tunggu sebentar! Mari kita perjelas satu hal. Selain ini, kapan ayahku pernah menusuk seseorang dari belakang?”
“Apa?”
“Kau bilang dia selalu menusuk dari belakang. Ceritakan padaku tentang waktu lain dia melakukan itu.”
Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa tetap bungkam.
“Ayahku berkata bahwa para praktisi bela diri aliran lurus paling takut padamu. Itu berarti dia sangat menghargaimu. Apakah menurutmu dia akan mengkhianati seseorang yang begitu dihormatinya? Aku rasa tidak.”
“Apa sebenarnya yang ingin kau katakan?”
“Jangan berbicara sembarangan karena marah. Ayahku ragu-ragu untuk membunuhmu sampai detik terakhir. Mungkin aku akan kehilangan poin karena hal ini.”
“Lalu kenapa kau melakukan ini?”
“Aku memikirkannya baik-baik. Bertani, berbisnis, menghadiri akademi, dan sekolah bela diri—aku hanya menjalani kehidupan biasa. Tapi kemudian, suatu hari, aku diseret begitu saja tanpa tahu alasannya dan jantungku dicabut saat aku masih hidup? Bukankah itu terlalu tidak adil?”
“Hidup ini pada dasarnya memang tidak adil. Jika kau merasa dirugikan, jadilah seorang petarung hebat.”
“Hari ini, kau bisa menanggung semua ketidakadilan itu.”
Meskipun dia salah paham bahwa aku telah menguasai Seni Iblis Sembilan Malapetaka, Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa tidak kehilangan semangat juangnya.
“Kau bilang kau menyelidikiku? Ya, kau melakukannya dengan baik. Aku adalah seseorang yang telah hidup dengan hasrat untuk berumur panjang. Apakah menurutmu aku tidak bisa meramalkan hari seperti ini? Hari ketika Pemimpin Sekte akan mengkhianati dan mencoba membunuhku?”
Dia masih percaya situasi ini didalangi oleh ayahku.
“Apakah kau tahu kenapa aku mendalami Teknik Pencabut Hati dan Jiwa? Hanya demi sedikit energi internal?”
“Bukankah begitu?”
“Tentu saja tidak.”
Energi gelap menyerupai asap mulai bangkit di sekeliling Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa.
“Kau bilang aku menjadi monster? Apakah kau pernah benar-benar melihat seekor monster?”
Dia mulai berubah di dalam energi hitam itu. Itu benar-benar sebuah transformasi. Tubuhnya tumbuh lebih besar, kulitnya berubah menjadi hitam, dan matanya, yang terbelah secara memanjang, memancarkan pendaran putih menyilaukan. Telinganya meruncing ke atas seperti telinga iblis, dan jantungnya yang besar dan merah berdenyut dengan jelas di dadanya.
Apakah ini sebuah ilusi atau kenyataan?
Sesepuh Iblis Penasihat Jiwa yang telah berubah memancarkan aura yang sama sekali berbeda dari sebelumnya. Aura itu terasa dingin dan pantang menyerah. Aku menegang. Teknik sesat ini adalah jurus pamungkasnya, yang dimaksudkan untuk menandingi Seni Iblis Sembilan Malapetaka. Itu berarti ilmu ini sangat kuat.
“Aku akan mencabik-cabik Seni Iblis Sembilan Malapetaka berhargamu itu!”
Energi iblis yang dipancarkannya menyapu sekeliling kami. Itu bukan sembarang energi iblis; itu adalah Energi Iblis Gelap.
—
