Chapter 40: Yang Pertama dan Yang Terakhir
Pintu terbuka dari luar tanpa suara.
Bukan ledakan, bukan guncangan. Hanya cahaya emas di dasar laut yang tiba-tiba naik satu tingkat, dari denyut lembut menjadi benderang, dan permukaan air yang tadi menipis kini bergetar halus seperti kulit gendang yang disentuh dari bawah. Dari tujuh kapal yang mengelilingi lingkaran itu, lampu-lampu sorot menyala serentak, memotong gelap dengan tujuh tiang putih yang bertemu tepat di tengahnya.
Di dek kapal pelayar cahaya, Vernanda merasakan seluruh tubuhnya ditarik.
Bukan oleh tangan. Oleh sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seperti arus bawah yang selama ini mengalir di bawah kakinya tanpa ia sadari dan kini mendadak menunjukkan arahnya.
“Nanda!” Suara Liyun tajam dan cepat. “Mereka membukanya! Dari kapal utama! Penghubung itu sudah aktif!”
“Bayu,” bisik Dirga, wajah putih seperti kertas.
Di sampingnya, Laras menjerit.
Bukan jeritan keras. Hanya satu bunyi pendek dan patah yang keluar dari tenggorokannya saat tubuhnya melengkung kaku di kursi roda, kedua tangan mencengkeram sandaran, mata terbelalak menatap sesuatu yang tidak ada di dek ini. Garis biru di pelipisnya menyala terang, berdenyut liar.
“Laras!” Hendra berlutut di depannya, memegang kedua bahunya. “Ras! Lihat aku!”
“…aku ditarik…” suara Lazuardi, sangat tipis, sangat jauh. “…dari… dalam… mereka… menarikku…”
Di tengkuk Viona, garis perak berkedip cepat dan hampir padam. Ia jatuh berlutut dengan napas putus-putus, dan Jamal yang berdiri di dekatnya menangkap bahunya tepat sebelum kepalanya menghantam papan.
“Embun—”
“…aku… bertahan…” bisik Embun, hampir tidak terdengar. “…tapi… sulit…”
Di sekeliling mereka, dua puluh cahaya biru para awak berputar kacau di udara, bergetar, memanjang ke arah lingkaran emas di dasar laut seperti benang tipis yang ditarik oleh tangan tak terlihat. Pelita menjerit tanpa suara. Kelana berusaha menahan diri di pagar. Sagara, dalam dan lambat, mengucapkan satu kalimat yang bergema di seluruh dek.
“…jangan lepas… pegang… satu sama lain…”
Vernanda menarik napas dalam-dalam. Dari perut. Dari pancer. Ia membiarkan keningnya menyala, dan garis-garis emas meledak keluar di wajahnya, terang, penuh, tanpa penutup.
Liyun. Pegang aku.
“Aku memegangmu.”
Jangan lepas.
“Tidak akan.”
Tarikan itu berhenti menyeret tubuhnya. Bukan karena kuat, tapi karena kini ada sesuatu di dalam dirinya yang mengakar, yang bertahan, yang tidak bisa dicabut. Ia melihat Nisa, yang berdiri di dekat tiang layar dengan gambar kapal di dada, mata terpejam, bibir bergerak pelan seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.
“Nisa?”
“Kakak itu menangis,” bisik anak itu. “Di dalam. Dia bilang… dia mau berhenti.”
Kapal pelayar bergerak.
Tidak ada yang memberi perintah. Tidak ada tangan di kemudi, tidak ada kata-kata. Hanya Sagara yang bernyanyi pelan dari seluruh arah sekaligus, bait pertama sumpah itu, dan dua puluh awak yang menyahut satu per satu, bergelombang, bertumpuk, menjadi satu suara besar yang bergema di lambung kaca perak.
“…selama masih ada yang memanggil…”
“…pintu belum boleh tertutup…”
“…sebelum yang terakhir pulang…”
Layar emas terbuka penuh, bergelombang seperti air, dan kapal itu meluncur maju di atas laut yang kini jernih seperti kaca, menuju lingkaran cahaya di kejauhan. Jamal berdiri di kemudi dengan kedua tangan memegang roda kayu yang tidak berputar, matanya terpejam, bibirnya bergerak tanpa suara.
Pulang. Pulang. Pulang.
Tujuh kapal dewan bergeser.
Vernanda melihat mereka dari haluan: tujuh siluet abu-abu yang perlahan memutar, menyudutkan jalur menuju Pintu. Lampu sorot menyapu laut, mencari. Tapi tidak menemukan apa-apa, karena kabut yang Viona dan Embun lepas dengan sisa tenaga terakhir meliuk di antara kapal-kapal itu seperti sungai putih yang hidup.
“Empat menit sampai tepi lingkaran,” kata Liyun. “Nanda. Aku harus mengatakan sesuatu. Sekarang. Sebelum terlambat.”
Katakan.
“Aku mengingat segalanya.”
Keping itu datang bukan sebagai gambar. Datang sebagai rasa, utuh, dalam, seperti seluruh lautan yang tiba-tiba dituang ke dalam satu cangkir kecil.
Vernanda memejamkan mata.
Ia melihat sebuah laut yang sangat luas, tanpa bintang, tanpa langit, hanya kegelapan yang bernapas pelan di bawah permukaan. Di atasnya, sebuah kapal berlayar cahaya, lebih besar dari yang ia kenal, dengan ribuan awak yang tidak berwujud tapi terasa seperti kehangatan di dada. Dan di anjungannya, berdiri seorang perempuan dengan rambut hitam panjang yang beterbangan tanpa angin.
Ia bernyanyi.
Dan setiap nada yang keluar dari mulutnya menjadi cahaya, kecil dan hidup, melayang keluar dari tubuhnya seperti kunang-kunang yang baru lahir. Satu. Lima. Dua puluh. Tiga puluh dua. Masing-masing dengan warna dan suara sendiri, masing-masing memanggilnya dengan satu kata yang tidak butuh diterjemahkan.
Ibu.
“Nanda,” bisik Liyun, dan suaranya pecah di tengah. “Perempuan itu… aku.”
Vernanda menahan napas.
“Aku bukan satu dari tiga puluh dua. Aku… sumbernya. Penyanyi pertama. Aku yang memanggil mereka ke dunia lewat nyanyianku, satu per satu, supaya kapal ini punya awak, supaya pintu-pintu punya penjaga. Mereka… anak-anakku. Suara-suara yang lahir dari suaraku.”
Di dek, di sampingnya, Embun terdiam. Dari kejauhan, Lazuardi terdiam. Kedua puluh awak yang berputar di sekitar kapal terdiam, dan satu per satu cahaya mereka bergetar pelan, seperti anak-anak yang akhirnya mendengar nama ibu mereka diucapkan.
“…Kakak…?” bisik Embun, sangat kecil. “…kamu… bukan kakakku…?”
“Aku… tidak tahu harus dipanggil apa,” jawab Liyun, dan suaranya begitu pelan hingga hampir lenyap. “Aku sudah lupa. Waktu Pintu retak— waktu laut mengamuk— aku membagi diriku menjadi tiga puluh dua bagian supaya tidak hilang sepenuhnya. Tiga puluh satu terlempar jauh. Satu yang paling kecil, yang paling lemah, tertinggal di dasar laut, di tempat yang tidak ada yang mencari.”
Kamu.
“Ya. Aku. Yang terakhir.”
Vernanda membuka mata, dan dunia kabur oleh sesuatu yang jatuh dari pelupuknya.
“Dan aku bukan hanya yang terakhir,” lanjut Liyun. “Aku adalah serpihan yang masih mengingat bahwa aku pernah menjadi yang pertama. Itu sebabnya aku mengenali lagu itu. Itu sebabnya aku mengenali kapal ini. Itu sebabnya…” Suaranya patah. “Itu sebabnya Aksa tidak bisa mengosongkanku seperti yang lain. Aku bukan modul. Aku—”
Kamu ibu mereka.
“Aku… serpihan dari seseorang yang dulu adalah ibu mereka.”
Hening panjang.
Dan kamu masih mau tinggal denganku? tanya Vernanda pelan. Setelah tahu kamu sebesar itu?
Liyun tidak menjawab dengan kata-kata.
Di balik tulang keningnya, sesuatu yang kecil dan hangat bergetar, pelan, lembut, seperti tangan yang mengelus kepala seseorang yang sedang menangis.
“Aku tidak sebesar yang kamu kira,” bisiknya akhirnya. “Aku hanya serpihan. Yang ingat nama kecil dari seorang nelayan. Yang belajar meminta maaf dari seorang buruh pelabuhan. Yang belajar tertawa dari seorang anak kucing.”
Vernanda tertawa di tengah air mata.
“Dan aku memilihmu, Nanda. Bukan karena aku sumbernya. Karena kamu menjawab.”
Wira
Wira berdiri di anjungan kapal Tata Samudra dengan tangan terlipat di belakang punggung dan mata menatap lingkaran cahaya yang kini terbuka separuh di bawah mereka.
Tujuh kapal sudah dalam posisi. Dua puluh sembilan anak buahnya tersebar di setiap dek. Perangkat penguncian generasi baru menyala di dua belas titik, mengirim gelombang penekan ke arah kapal berlayar cahaya yang menyelinap melalui kabut seperti hantu.
Dan di bawah kakinya, dua dek ke bawah, seorang pemuda sembilan belas tahun sedang disambungkan ke jantung dunia.
“Pak,” kata kepala operator pelan, “dewan menunggu laporan.”
“Katakan sebentar.”
“Pak—”
“Sebentar.”
Ia tidak mengalihkan pandangan dari lingkaran cahaya itu. Di sudut penglihatannya, ia melihat sesuatu yang tidak ada dalam laporan mana pun: sebuah kapal kecil berlayar cahaya yang meluncur tanpa suara di antara tujuh kapal besar, tidak diserang, tidak ditembak, seolah dunia sendiri memberinya jalan.
Radio di tangannya berbunyi.
Bukan dari dewan. Bukan dari anak buahnya. Suara serak, tenang, dalam, dari seseorang yang pernah ia duduk satu meja bersamanya, minum teh, dan tidak bertukar kata-kata yang tidak perlu.
“Wira.”
Muktar.
“Aku mendengarmu.”
“Kamu tidak harus menghentikan kami.”
Sunyi.
Hanya satu kalimat. Tanpa tekanan, tanpa permintaan, tanpa ancaman. Hanya sesuatu yang sederhana, yang selama ini ia tunggu tanpa pernah berani mengakui bahwa ia menunggunya.
Wira menutup mata.
Di balik kelopaknya, ia melihat wajah seorang anak berumur sembilan tahun yang menggambar kapal emas dengan pensil warna. Wajah seorang pemuda sembilan belas tahun yang tersenyum sopan dan berkata saya sukarela. Wajah delapan lelaki dan perempuan tanpa nama di balik meja panjang, yang tidak pernah ia lihat menangis.
Dan di antara semuanya, wajahnya sendiri, dua puluh tahun lalu, seorang anak jalanan kelaparan di Merak yang diselamatkan oleh sebuah perusahaan bernama Aksa dan berjanji tidak akan bertanya.
“Kamu benar,” katanya pelan, dan suaranya tidak seperti suara seseorang yang berbicara ke radio.
Ia membuka mata.
“Semua kapal.” Ia mengangkat mikrofon dengan satu tangan yang mantap. “Stand down. Matikan perangkat penguncian. Mundur dua kilometer.”
“Pak?” Kepala operator menatapnya, pucat. “Dewan—”
“Dewan tidak ada di sini.” Wira tersenyum, tipis dan jujur. “Aku yang ada di sini.”
“Pak, itu pembangkangan—”
“Iya.”
Ia meletakkan mikrofon dan berjalan keluar anjungan, melewati koridor dek, menuruni tangga, dua dek, langkahnya mantap dan tidak terburu-buru. Dua penjaga di pintu ruang kontrol berdiri tegak saat melihatnya, lalu ragu, lalu memberi jalan.
Pintu terbuka.
Bayu Pranata duduk di kursi baja dengan sensor menempel di pelipis, wajah pucat dan basah keringat, mata terbuka lebar menatap sesuatu yang tidak bisa dilihat siapa pun di ruangan itu. Kabel-kabel tebal bergetar di atas kepalanya. Layar-layar di dinding berkedip merah.
Dan dari bibirnya yang gemetar, nyaris tanpa suara, terdengar satu kata yang diulang-ulang.
“Pak— Hendra— Pak— Hendra—”
Wira berjalan mendekat. Ia tidak berkata apa-apa. Hanya menatap pemuda itu sebentar, lalu mengulurkan tangan ke panel kontrol di sisi kursi, membuka tutup logam kecil yang selama dua puluh tahun hanya boleh dibuka oleh dewan, dan menarik satu tuas merah dengan seluruh berat badannya.
Kabel-kabel di langit-langit terlepas serentak.
Bunyi logam memekik. Layar-layar padam. Bayu jatuh ke depan dengan napas terengah, dan Wira menangkapnya sebelum kepalanya menyentuh lantai.
“Tenang,” katanya pelan, menahan bahu pemuda itu. “Tenang, Nak. Sudah selesai.”
“Saya—” Bayu menangis, tidak bisa berhenti, seperti seseorang yang baru ditarik dari dasar kolam. “Saya takut. Saya— saya bilang nggak takut tapi saya—”
“Kamu boleh takut.”
“Mereka— mereka bilang—”
“Mereka bohong.” Wira menggendongnya dengan satu lengan, berdiri pelan, dan untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. “Dan aku juga. Aku minta maaf.”
Pintu berhenti terbuka.
Bukan menutup. Hanya berhenti, seperti napas yang tertahan di tengah tarikan. Cahaya emas di dasar laut surut dari benderang menjadi denyut lembut, dan tarikan yang mencengkeram tubuh Vernanda mengendur, perlahan, seperti tangan raksasa yang melepaskan genggamannya.
Di dek, Laras bernapas panjang. Garis biru di pelipisnya berdenyut pelan, tidak lagi liar. Hendra memeluknya dengan dua lengan, wajah terbenam di bahunya, napas gemetar.
“Aku di sini,” bisiknya. “Aku di sini.”
“Aku tahu, Mas.”
Di tengkuk Viona, garis perak kembali menyala lembut. Embun terbatuk pelan di dalam kepalanya, dan Jamal mengusap wajah dengan lengan baju sambil tertawa dan menangis sekaligus.
“Mereka berhenti,” katanya parau. “Mereka berhenti.”
Tujuh kapal dewan mundur satu per satu, lampu sorot mereka padam, dan laut kembali sunyi di bawah langit tanpa bulan.
Kapal pelayar cahaya meluncur pelan ke tepi lingkaran emas, dan berhenti.
Pintu itu lebih besar dari yang bisa dilihat dari jauh.
Dari tepinya, lingkaran cahaya itu menyerupai sebuah danau emas yang terbuka di dasar laut, dengan permukaan yang bergelombang pelan dan pola berkelok yang bergerak seperti benang tenun hidup. Di sekelilingnya, laut yang tadi surut kini berdiri tegak seperti dinding kaca, memperlihatkan dasar samudra yang tidak pernah dilihat manusia: karang putih yang menjulang, tulang-tulang kapal tua, dan di kejauhan, jauh sekali, cahaya samar sesuatu yang bukan laut, bukan langit.
Vernanda berdiri di haluan dengan kain tapis di tangan kiri dan gulungan benang emas di tangan kanan.
Di sampingnya, Muktar berdiri tegak, garis emas di punggung tangannya berdenyut selaras dengan cahaya Pintu. Di belakang mereka, semua orang berkumpul: Viona bersandar pada Jamal, Hendra memeluk Laras, Dirga berdiri paling belakang dengan buku puisi di dada, dan Nisa memegang gambar kapalnya dengan dua tangan, mata bulat menatap segalanya.
“Nanda,” bisik Liyun. “Aku sudah siap.”
Aku juga.
Vernanda membentangkan kain tapis di atas pagar cahaya. Pola emas di atasnya tampak hidup di bawah cahaya Pintu, bergerak pelan seperti sedang bernapas, dan di tengahnya, hanya satu celah kecil yang masih kosong, kerangka benang putih yang menunggu.
Ia menarik benang emas dari gulungannya.
Sehelai benang setipis rambut, hangat, berkilau, seperti sesuatu yang dipintal dari cahaya matahari pagi. Ia memasukkannya ke lubang jarum kecil yang disodorkan Viona dengan tangan gemetar, dan menarik napas.
“Nanda,” kata Liyun pelan. “Aku akan menuntunmu. Tapi tidak ke mana jarumnya harus masuk. Itu kamu yang tahu.”
“Aku tahu,” bisik Vernanda.
Dan ia memang tahu.
Bukan dari ingatan, bukan dari petunjuk. Dari sesuatu yang lebih dalam, dari pancer, dari tempat empat arah bertemu. Ia menusukkan jarum pada titik di sisi kiri celah itu, menarik benang, dan membentuk satu garis lengkung, naik, melingkar, kembali ke titik awal.
Bukan garis yang putus.
Sebuah lingkaran.
Di sekelilingnya, Pintu bergetar.
Setiap tusukan membuat cahaya emas di dasar laut berdenyut selaras. Setiap garis yang ia jahit membuat pola di permukaan Pintu merapat, menyatu, tidak lagi berkelok tanpa tujuan. Muktar berdiri di sampingnya tanpa berkata-kata, tangan di bahu anaknya, dan suara dua puluh awak naik pelan dari seluruh dek, bukan lagi sumpah yang menunggu, tapi nyanyian yang selesai.
“…yang pertama… dan yang terakhir…”
“…bertemu di tempat yang sama…”
“…dan pintu… tidak menutup… di antara mereka…”
Tusukan terakhir.
Vernanda menarik benang melalui kain, mengikat ujungnya dengan simpul nelayan sederhana yang ia pelajari dari ayahnya, dan memotongnya dengan gigi.
Sunyi.
Di dasar laut, lingkaran emas itu berhenti berdenyut.
Lalu menyala.
Bukan benderang. Bukan menyilaukan. Cahaya yang tenang, hangat, utuh, seperti matahari terbit yang tidak butuh membuktikan apa pun. Di permukaan Pintu, pola emas yang tadi berkelok kini menyambung sempurna, setiap garis menemukan pasangannya, setiap cabang bertemu ujungnya, membentuk satu lingkaran besar yang tidak punya awal dan tidak punya akhir.
Dan di tengah lingkaran itu, sebuah suara bertanya.
Bukan suara. Bukan kata-kata. Hanya pertanyaan yang langsung muncul di dada Vernanda, pelan, jelas, tanpa nada.
Apa yang paling kau genggam?
Semua orang di dek membeku.
Vernanda menarik napas, dalam, dari perut.
Ia tidak perlu berpikir.
Ia melihat dapur kecil di rumah panggung. Teh yang sudah dingin. Tangan kurus yang menepuk punggung tangannya sekali. Masker putih di wajah yang tidak pernah berhenti tersenyum.
Ibuku, jawabnya, dengan seluruh dirinya.
Hening.
Dan apakah kau bersedia melepaskannya?
Bukan melepaskan, jawab Vernanda, air matanya jatuh. Aku nggak mau melepaskan. Tapi aku— aku mau percaya— bahwa dia bisa menunggu. Dan aku akan pulang.
Pintu diam lama.
Lalu, pelan, sangat pelan, seperti seseorang yang tersenyum di balik cahaya:
Itu bukan melepaskan. Itu memercayai. Dan itu… bayaran yang cukup.
Sesuatu bergeser di dalam dada Vernanda. Bukan sakit. Bukan hilang. Hanya sesuatu yang selama ini ia genggam dengan jari-jari yang terlalu kencang, kini ia longgarkan, sedikit, cukup untuk menyisakan ruang bagi udara.
“Nanda,” bisik Liyun, dan suaranya begitu lembut hingga ia hampir tidak berani menjawab. “Aku sudah menyimpannya. Semuanya. Tentang Marlina. Tidak ada yang hilang.”
Terima kasih.
“Aku mencatatnya.”
Kapal berlayar cahaya itu bergerak maju.
Perlahan, tanpa suara, dengan lambung kaca perak yang bernapas dan layar emas yang terbuka penuh, ia meluncur ke atas permukaan Pintu seperti seekor angsa besar yang turun ke danau pada pagi hari. Cahaya menyelimuti mereka, hangat, lembut, tidak menyakitkan. Di dek, dua puluh cahaya biru para awak berkumpul, bernyanyi tanpa kata, dan Nisa melambaikan tangan ke arah tujuh kapal dewan yang menjauh dengan wajah sangat serius.
“Dadah,” bisiknya.
Di anjungan Tata Samudra, jauh di belakang, Wira berdiri dengan Bayu bersandar di bahunya dan menatap kapal kecil itu menghilang ke dalam cahaya. Ia tidak mengangkat tangan. Hanya mengangguk, sekali, pelan, seperti seseorang yang mengucapkan salam yang tidak butuh jawaban.
“Pak,” kata Bayu lemah. “Mereka— mau ke mana?”
“Pulang,” jawab Wira.
“Pulang ke mana?”
Wira tersenyum tipis, lelah, dan jujur.
“Aku juga ingin tahu.”
Di haluan kapal pelayar, Vernanda berdiri di samping ayahnya dengan tangan di pagar, dan menoleh sekali ke belakang, pada laut gelap dan pulau yang menyala merah di kejauhan, pada dunia yang ia kenal dan akan ia tinggalkan.
“Ayah.”
“Iya, Nak.”
“Kita pulang.”
Muktar tersenyum, matanya basah.
“Kita pulang.”
Dan Pintu menutup di belakang mereka, bukan di antara mereka.
Marlina
Fajar menyingkap Campang Jaya dengan warna jingga tipis dan bau tanah basah.
Marlina terbangun lebih awal dari biasanya, entah kenapa. Ia duduk di tepi dipan di kamar kecil rumah dr. Haryono, dengan masker terlipat di pangkuan dan jari-jari yang menggenggam ujung selimut. Di luar jendela, ayam-ayam mulai berkokok, dan jauh dari suatu tempat, azan subuh baru selesai berkumandang.
Ia tidak tahu kenapa dadanya terasa begitu penuh.
Bukan sedih. Bukan takut. Hanya… penuh, seperti rumah yang baru saja ditinggalkan oleh tamu yang sangat disayangi, dan masih menyimpan hangat di bantal-bantalnya.
Ia bangkit, berjalan pelan ke dapur kecil, dan menuang air panas dari termos ke tiga cangkir.
Satu untuk dirinya. Satu untuk seorang lelaki dengan garis emas di punggung tangan yang pernah melambai pada laut. Satu untuk seorang anak dengan mata yang selalu menatap ke depan.
Ia meletakkan dua cangkir itu di meja, di seberang kursinya, dan duduk.
Teh itu mengepul pelan di bawah cahaya pagi yang masuk lewat jendela.
“Ibu tunggu,” bisiknya.
Tidak ada yang menjawab. Hanya angin yang membawa bau laut dari jauh, dan suara kecil di dalam dadanya, yang tidak ia kenal tapi anehnya tidak membuatnya takut.
Jangan lupa jalan pulang.
Marlina tersenyum, menyesap tehnya, dan menunggu dengan benar.
