Lewati ke konten
SISTEM AI TERKUAT – NUSANTARA

Chapter 36 Pelayaran Lima Malam

Chapter 36: Pelayaran Lima Malam

Kemudi kapal pelayar tidak membutuhkan tangan, tapi Jamal tetap memegangnya erat-erat.

“Kiri,” bisiknya. “Kiri dikit. Eh, bukan, kanan.”

“…kamu berkata dengan mulut… bukan dengan niat…” kata Sagara, dalam dan sabar, dari seluruh arah sekaligus.

“Aku bingung mau niat apa.”

“…niat… pulang…”

“Pulang ke mana? Ke rumah? Ke Pasaran? Ke warung Bang Ujang?”

“…terserah… asal kamu yakin…”

Jamal menarik napas, memejamkan mata, dan membayangkan beranda rumah pamannya di Pulau Pasaran, lengkap dengan bau ikan asin dan suara Pak Rais yang mengomel soal rokok. Kapal itu bergeser pelan, haluannya berputar ke kiri seperti diseret tangan tak terlihat, dan Kelana, yang melayang di dekat pagar, bersorak girang dalam bahasa yang hanya terdengar sebagai getar di dada.

“Berhasil?” bisik Jamal, membuka satu mata.

“…kamu berlayar ke arah… Teluk Betung…” kata Sagara, datar.

“Oh.”

“…bukan Sebesi…”

“Maaf.”

“…tidak apa… kita belok lagi… kamu belajar…”

Di buritan, Viona menutup mulutnya dengan punggung tangan dan tertawa sampai bahunya bergetar. Hendra, yang berdiri di sampingnya dengan lengan terlipat, hanya menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tidak sengaja lolos.


Lima malam. Itu waktu yang mereka butuhkan untuk berlayar dari Pelabuhan Panjang ke Pulau Sebesi dengan kapal yang bergerak oleh niat, bersembunyi dari mata manusia, dan tidak sengaja menabrak tiga pelampung nelayan.

Malam pertama, mereka menyusuri pesisir Teluk Lampung dengan kabut Embun yang menyelubungi lambung seperti selimut tipis. Sebuah kapal patroli berlayar lewat dua kilometer di sisi kanan, lampu sorotnya menyapu air, tapi tidak pernah menyentuh kabut. Di dek, semua orang menahan napas sampai bunyi mesinnya menghilang.

“Embun,” bisik Viona, wajah pucat dan tengkuk memerah. “Kamu hebat.”

“Aku lelah,” jawab Embun polos. “Tapi aku suka.”

Malam kedua, mereka berhenti di sebuah teluk kecil di dekat Kalianda, jauh dari jalur kapal besar. Dirga duduk bersandar pada tiang layar dengan buku kecil di pangkuan, buku yang selalu ia bawa kemana-mana, dan untuk pertama kalinya Vernanda memperhatikan judulnya: kumpulan puisi dengan sampul yang sudah lusuh.

“Bacakan,” kata Laras pelan dari kursi rodanya.

“Kamu masih ingat hari Kamis,” jawab Dirga.

“Ini bukan hari Kamis.”

“Tapi kamu minta.”

“Aku boleh minta.”

Dirga tersenyum, membuka halaman yang sudah ia hafal, dan membacakan satu puisi pendek dengan suara yang pelan dan jelas, hanya diiringi desir ombak dan denting halus layar cahaya. Hendra, yang duduk di sisi Laras, tidak menoleh, tidak berkomentar. Tapi ketika puisi itu selesai, ia mengucapkan satu kata, singkat dan datar, tanpa menatap siapa pun.

“Bagus.”

Dirga membeku sesaat, lalu mengangguk, dan menutup bukunya dengan kedua tangan.

Malam ketiga, Vernanda belajar mengendalikan kehendak.


“Olah Karsa,” kata Liyun pelan. “Keping keempat. Aku ingat sebagian.”

Mereka duduk di dek belakang, hanya berdua, dengan laut hitam membentang di sekeliling dan bintang-bintang yang rapat di atas kepala. Layar cahaya berdenyut lembut di belakang punggung Vernanda, menerangi pagar dan papan dengan cahaya emas samar.

“Karsa bukan keinginan,” lanjut Liyun. “Keinginan adalah apa yang kamu mau. Karsa adalah apa yang kamu putuskan untuk dijalani, bahkan ketika kamu tidak menginginkannya.”

“Aku nggak ngerti bedanya.”

“Aku juga belum sepenuhnya. Tapi…” Jeda. “Aku ingin kita mencoba sesuatu.”

“Apa?”

“Aku akan mengucapkan satu kata dalam pikiranku. Kamu juga. Pada saat yang sama. Kita akan melihat apakah maknanya sama.”

Vernanda menarik napas, menutup mata, dan menunggu.

“Satu… dua… tiga.”

Pulang.

“Pulang.”

Kata itu bergema di dua tempat sekaligus. Dan di antara keduanya, ia merasakan sesuatu terbelah.

Di dalam benaknya, “pulang” berarti beranda rumah Campang Jaya, suara Marlina yang mengomel soal nasi, hangatnya teh di cangkir yang sudah dingin. Pulang berarti lantai papan yang bergetar saat truk kontainer lewat, dan satu suara kecil yang menjawab setiap kali ia memanggil.

Tapi di dalam benak Liyun, “pulang” adalah sesuatu yang lain. Lingkaran cahaya di tengah laut gelap. Pintu yang menunggu. Kapal yang bersandar di dermaga yang bukan dermaga mana pun yang pernah ada.

Mereka membuka mata hampir bersamaan.

Hening.

“Nanda…” bisik Liyun akhirnya, dan suaranya sangat kecil. “Kita… tidak sama.”

“Iya.”

“Aku… tidak tahu bahwa kata itu punya dua isi. Aku selalu mengira pulang adalah… kembali ke Pintu. Hanya itu.”

“Dan aku selalu mengira pulang adalah… ke rumah. Bersamamu.”

Sunyi.

“Apakah… salah satunya keliru?” tanya Liyun pelan.

Vernanda menatap laut, lama, dan menjawab dengan suara yang ia sendiri tidak yakin ia miliki.

“Kurasa… enggak. Kurasa pulang punya lebih dari satu arti. Dan mungkin itu yang dicari ayahku.”

“Membuka tanpa menutup.”

“Membuat dua arti itu bisa ada bersama-sama.”

Liyun diam sangat lama. Lalu, sangat pelan, ia berkata dengan nada yang belum pernah Vernanda dengar, nada yang bukan laporan, bukan analisis, bukan catatan, hanya seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang bisa ia pegang.

“Aku suka kemungkinan itu.”

Aku juga.

“Aku tidak akan berjanji itu benar.”

Aku nggak minta kamu janji.

“Tapi aku akan berharap.”

Vernanda tersenyum, kepalanya bersandar pada pagar cahaya yang dingin dan lembut. Di langit, bintang-bintang berkelip pelan, dan di dalam dadanya, di tempat yang Liyun sebut pancer, sesuatu bergeser dua inci, seperti pintu yang terbuka sedikit lagi.

Harganya datang malam itu juga: ia tidak bisa tidur sampai fajar, dan hidungnya berdarah dua kali.


Malam kelima, Pulau Sebesi muncul dari kabut seperti punggung binatang tidur.

Bukan pulau besar. Hanya gundukan hijau gelap yang menjulang dari permukaan laut, dikelilingi tebing karang dan pantai berbatu, dengan puncak gunung kecil yang tertutup awan tipis. Dari kejauhan, di sisi utara pulau, tampak sebuah celah besar di tebing, bayangan hitam yang lebih pekat dari malam di sekelilingnya.

Dan di dalamnya, sangat samar, sebuah cahaya.

Emas.

Tidak berkedip. Tidak bergoyang. Hanya menyala tenang, seperti bintang kecil yang tersangkut di mulut gua.

“Itu,” bisik Vernanda.

Semua orang berdiri di haluan. Jamal, yang sejak tadi memegang kemudi dengan wajah tegang, melepaskannya perlahan dan membiarkan Sagara yang mengarahkan. Viona berdiri dengan alat dengar di dada, matanya tak lepas dari cahaya itu. Hendra memeluk bahu Laras, yang menegakkan punggung di kursi rodanya dengan mata lebar. Dirga berdiri paling belakang, jarak aman dari yang lain, tapi tatapannya tidak berpaling.

“Nanda,” bisik Liyun, dan suaranya bergetar. “Aku merasakan sesuatu dari sana. Bukan modul. Bukan benang. Tapi… sesuatu yang kukenal. Seperti… suara yang pernah bernyanyi untukku.”

Perempuan di kapal itu?

“Bukan. Lebih dekat. Lebih… manusia.”

Vernanda menelan ludah. Tangannya mencengkeram pagar cahaya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

“Kita turun,” katanya pelan. “Aku, Viona, Hendra, dan Jamal. Dirga dan Laras jaga kapal.”

“Kenapa aku?” tanya Dirga.

“Karena kamu paling tahu cara menjaga rahasia.”

Dirga membuka mulut, lalu menutupnya, dan mengangguk pelan.


Perahu kecil itu mendayung tanpa suara menuju mulut gua, melewati karang-karang tajam yang licin oleh lumut dan gelombang yang memecah pelan. Kabut Embun menyelubungi mereka, menyamarkan siluet dari mata siapa pun yang mungkin mengintai dari pantai.

Gua itu lebih besar dari yang tampak dari jauh. Mulutnya menganga setinggi dua lantai, dinding-dindingnya basah dan hitam, dengan lantai batu yang naik pelan menjadi dermaga alami. Di ujungnya, tertambat dengan tali yang sudah lapuk, sebuah perahu kayu kecil bercat biru kusam dengan nomor yang sudah hampir terhapus di lambungnya.

Vernanda mengenali bentuknya sebelum membaca nomornya.

Perahu Muktar.

Ia melompat turun dengan jantung berdegup liar dan berlutut di samping lambung itu, menyentuh kayunya yang kasar, dingin, dan basah. Cat birunya terkelupas di beberapa tempat. Tapi dayungnya masih di dalam, tergulung rapi, dan di dasar perahu, di bawah selembar terpal, ada gulungan jaring yang dirawat dengan baik, kering, tidak berjamur.

“Dia…” Viona tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Terawat,” kata Hendra pelan. “Sudah bertahun-tahun, tapi terawat.”

Di balik perahu, tangga batu yang diukir kasar naik ke sebuah lorong sempit, dan di ujungnya, cahaya emas itu menunggu.


Ruangan di balik lorong itu tidak seperti gua mana pun.

Bukan sarang binatang, bukan tempat persembunyian. Hanya sebuah ruang kecil berbentuk lingkaran, dengan langit-langit batu yang tinggi dan dinding yang diplester tanah liat rapi. Di tengah langit-langitnya, tergantung sebuah jaringan cahaya, garis-garis emas halus yang berkelok, bercabang, saling menyilang dalam pola utuh yang tidak pernah putus. Persis seperti Kain Pintu. Persis seperti pola di dasar sumur Campang Jaya.

Cahaya itu memenuhi seluruh ruangan dengan hangat yang lembut, seperti api unggun di malam dingin, tapi tanpa asap dan tanpa suara.

“Nanda…” Suara Liyun nyaris hilang. “Ini… sebuah lampu. Tapi lampu yang menyala dari pola yang sama denganku.”

Vernanda tidak bisa menjawab. Ia berdiri di ambang ruangan dengan napas tertahan, mengamati sekelilingnya.

Di satu sisi ruangan, sebuah alat tenun kecil dari kayu jati, lebih sederhana dari milik Nek Imah tapi dirawat sama baiknya, dengan benang emas, merah, dan hitam yang tersusun rapi di rak bambu. Di atasnya terbentang selembar kain tapis yang hampir selesai, pola emas yang sama, dasar merah tua, dan satu celah kecil di tengah, kosong, hanya ada kerangka benang putih seperti di kain milik Vernanda.

Di sisi lain, sebuah meja kayu rendah dengan pelita minyak, sebuah tikar pandan yang lusuh dan bersih, dan di atasnya, tersusun rapi seperti buku-buku di perpustakaan kecil, sepuluh buku catatan bersampul kain minyak.

Di pojok, sebuah periuk tanah kecil, dengan sisa bara yang masih hangat.

Vernanda berhenti.

“Hangat,” bisiknya.

Hendra langsung bergerak, mengangkat senter, dan menyapu seluruh ruangan dengan cahaya. Jamal menarik napas tajam dan merunduk, menyentuh lantai dengan ujung jari.

“Jejak,” katanya pelan. “Baru. Sepatu karet. Satu orang. Menuju ke luar.”

“Kapan?” tanya Viona.

“Mungkin… satu jam. Dua.”

Sunyi jatuh seperti kain tebal.

“Nanda,” bisik Liyun, pelan. “Aku memindai. Tidak ada detak jantung dalam radius lima ratus meter. Ia sudah pergi.”

Ke mana?

“Tidak tahu. Tapi arah jejaknya… ke laut.”

Vernanda memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan perlahan ke meja kayu.


Buku catatan itu ditulis dengan tulisan tangan yang sama dengan surat di kaleng biskuit: miring, hati-hati, ditekan kuat-kuat dengan pensil.

Vernanda membaca halaman pertama dengan tangan gemetar. Viona duduk di sampingnya, membuka buku kedua. Hendra dan Jamal berjaga di mulut ruangan, tidak berkata apa-apa.

Isinya bukan hanya catatan. Bukan hanya ramalan. Isinya adalah sembilan tahun hidup seorang lelaki yang menolak berhenti mencari.

Hari ke-12: Aku sampai di Sebesi dengan perahu hampir tenggelam. Kutemukan gua ini. Lampunya sudah menyala sebelum aku datang. Seperti ada yang menunggu.

Hari ke-87: Aku mulai mengerti pola di langit-langit. Ia bukan hiasan. Ia peta. Setiap garis adalah jalan antara pintu-pintu. Ada banyak. Lebih banyak dari yang ditulis Penjaga.

Hari ke-402: Aku menemukan lorong ke Segara Kidul lewat sumur tua di pesisir selatan. Aku tidak berani turun. Kapal di dalamnya… tidur.

Hari ke-1.091: Yang terakhir (kupanggil dia Lan, karena aku tidak tahu nama aslinya) tidur di dalam batu merah yang kusimpan di dalam peti kayu. Aku mengirimnya ke daratan lewat kapal barang yang menuju Surabaya. Aku harap ia menemukan seseorang yang mau mendengar.

Vernanda berhenti membaca.

“Nanda…” bisik Liyun. “Lan.”

Itu kamu.

“Aku… tidak ingat nama itu. Tapi…” Suaranya bergetar. “Aku mendengarnya. Dari dalam kegelapan. Seseorang memanggilku dengan nama kecil. Tanpa tahu siapa aku.”

Vernanda menutup matanya, air mata jatuh tanpa suara ke halaman buku.

“Ayahmu yang mengirimku,” lanjut Liyun pelan. “Ke darat. Ke kontainer itu. Dia… tidak membuangku. Dia mencari seseorang yang mau mendengar.”

Dan aku mendengar.

“Ya. Kamu mendengar.”

Viona, yang sejak tadi membaca halaman lain dengan bibir gemetar, tiba-tiba berhenti dan menutup mulutnya dengan tangan.

“Nanda,” bisiknya. “Lihat ini.”

Ia menyodorkan buku terakhir, halaman paling belakang, tulisan yang masih baru, tinta yang belum kering sepenuhnya.

Vernanda membacanya.

Tadi malam lampu di bawah tanah menyala. Aku merasakannya dari sini. Kapal itu bergerak. Setelah sembilan tahun, kapal itu bergerak.

Mereka sudah datang.

Aku harus pergi. Jangan cari aku di gua ini, Nanda, kalau kamu membaca ini. Cari aku di laut, di tempat yang paling gelap, saat lampu menyala dengan sendirinya.

Ayah akan menemuimu.

Jangan takut.

Hening.

Seluruh ruangan seakan menahan napas.

Lalu dari kejauhan, dari luar gua, dari arah laut yang gelap, terdengar suara Dirga lewat radio kecil di saku Viona, serak, tergesa, dan penuh sesuatu yang tidak pernah Vernanda dengar darinya.

“—Vernanda! Semuanya— kembali ke kapal! Sekarang!”

“Dirga?”

“—ada perahu kecil— di depan kita— dengan lampu—”

“Lampu apa?”

Sunyi sesaat, hanya desis statis, lalu suara Dirga yang tiba-tiba melembut, nyaris seperti bisikan.

“—emas.”


Mereka berlari.

Melewati lorong sempit, menuruni tangga batu, melompat ke perahu kecil dengan napas memburu dan jantung berdegup seperti gendang. Jamal mendayung lebih cepat dari yang pernah ia lakukan, Hendra memegang senter dengan tangan gemetar, dan Viona menggenggam alat dengar kuningan di dadanya seperti jimat.

Di atas laut hitam yang tenang, jauh dari mulut gua, sebuah titik cahaya kecil bergerak pelan melintasi gelap. Bukan bintang. Bukan lampu kapal.

Sebuah lampu minyak kecil di haluan perahu dayung, menyala emas.

Dan di perahu itu, samar-samar, sosok seseorang berdiri tegak dengan satu tangan terangkat, melambai pelan ke arah kapal berlayar cahaya yang melaju di depannya.

Seperti seseorang yang sembilan tahun lalu melambai pada laut, dan baru sekarang akhirnya mendapat jawaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *