Chapter 30: Rumah yang Terlalu Rapi
Metro tidur lebih awal dari Bandar Lampung.
Pukul sebelas malam, jalan-jalan lebar kota itu sudah lengang, lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning pucat di atas aspal basah, dan toko-toko sepanjang jalan utama sudah menutup rolling door mereka satu per satu. Di kaca depan minibus tua yang Dirga siapkan, Vernanda memandangi deretan rumah bercat sederhana, pagar rendah, dan taman kecil yang tampak terlalu tenang untuk kota yang sedang diawasi.
Jamal mengemudi tanpa bicara, kedua tangan di kemudi dan mata menyapu spion setiap beberapa detik. Di bangku belakangnya, Hendra bersandar dengan lengan terbalut dan rahang terkatup. Dirga duduk di samping Hendra, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, seperti orang yang sudah belajar menjaga jarak dengan sesuatu yang bisa meledak. Viona duduk di baris depan di samping Vernanda, tangan terlipat rapat di pangkuan, tengkuknya tertutup rambut yang diikat ketat.
“Belok kiri di gang berikutnya,” bisik Viona. “Rumah ketiga. Yang catnya hijau muda.”
Jamal mematikan lampu depan sebelum berbelok.
Rumah itu sederhana. Satu lantai, atap genteng, teras kecil dengan dua kursi rotan dan pot bunga melati yang tampak sangat dirawat. Lampu di dalamnya padam. Di halaman sempit, sebuah sepeda onthel bersandar ke pagar, dan di belakangnya, tergantung pada tali jemuran, selembar kain batik yang bergoyang pelan ditiup angin.
Tidak ada yang aneh. Justru itu yang paling aneh.
“Nanda,” bisik Liyun. “Aku tidak mendeteksi detak jantung di dalam rumah. Tidak satu pun. Tapi…”
Tapi apa?
“Ada sesuatu yang berdengung. Sangat tipis. Di dalam. Bukan perangkat yang kukenal.”
Vernanda menoleh pada Viona. “Liyun bilang ada yang berdengung di dalam.”
Viona menutup mata. Garis perak di tengkuknya menyala samar, lalu padam. “Embun juga,” katanya pelan. “Di dekat kotak perkakas ayahku.”
“Jadi umpan,” gumam Dirga dari belakang.
“Atau jebakan,” kata Hendra.
“Keduanya,” jawab Dirga. “Dewan jarang memilih satu.”
Mereka tidak masuk dari pintu depan.
Dirga yang memberi tahu: perangkat penunggu jenis ini biasanya dipasang di titik yang paling sering dilalui, pintu, jendela, atau lantai di depan. Mereka memilih jendela dapur di sisi belakang, yang menghadap ke pekarangan sempit berisi pohon jambu dan rumpun serai. Hendra menahan jendela dengan palu karet, Jamal berjaga di depan, dan Vernanda, yang paling ringan, menyelinap masuk lebih dulu.
Udara di dalam hangat dan berbau sabun cuci. Dapur kecil, rak piring tersusun rapi, taplak plastik bermotif bunga di meja makan. Di sudut, sebuah radio tua dengan antena panjang tergeletak di atas lemari es, dan di sampingnya selembar kalender dengan lingkaran merah di tanggal hari ini.
“Tidak ada manusia,” bisik Liyun. “Tapi lantai di depan pintu ruang tengah sedikit berbeda. Panasnya tidak merata.”
Vernanda berhenti. Ia menarik napas pelan, seperti yang diajarkan Nek Imah, dari perut, menyesuaikan irama dengan degup jantungnya sendiri, dan membiarkan keheningan merembes ke seluruh tubuhnya.
Perlahan, rumah itu berubah.
Bukan terang, bukan lapisan kedua seperti saat Jalin. Lebih halus. Ia tidak melihat apa pun, tapi ia merasakan: ada satu petak lantai di depan pintu yang lebih padat, seperti benang yang ditarik terlalu kencang di tengah kain. Dan di atas lemari es, di balik radio tua itu, ada sesuatu yang lain, sesuatu yang memancarkan getar kecil, teratur, seperti denyut yang sengaja ditahan.
“Kamu… merasakannya tanpa aku,” bisik Liyun, terdengar kagum.
Itu Olah Napas.
“Belum Olah Rasa. Tapi mulai menyentuhnya. Kamu harus hati-hati. Latihan yang belum waktunya bisa—”
Aku tahu. Pusing.
“Ya.”
Vernanda menarik napas sekali lagi dan menahan pening yang merayap di pelipisnya. Ia melangkah mundur, memberi isyarat pada Hendra, dan membuka jendela lebih lebar untuk memberi ruang bagi Viona.
Viona masuk dengan wajah yang terlalu tenang.
Ia tidak bicara. Ia hanya berjalan pelan melintasi dapur, melewati meja makan, dan berhenti di depan radio tua itu. Tangannya terulur, ragu, lalu menyentuh antena yang sudah berkarat. Di bawah rambutnya, di tengkuk yang tersembunyi, garis perak berdenyut perlahan, dan Vernanda melihat bahunya turun sedikit.
“Ini radio Ayah,” bisiknya.
Ia mengambilnya, membalikkan benda itu, dan membuka tutup baterai di punggungnya. Di dalam ruang baterai yang seharusnya kosong, terlipat kecil di antara dua kabel, ada selembar kertas yang digulung seperti pelintir rokok.
Viona membukanya dengan jari gemetar.
Tulisan tangan, miring, hati-hati, huruf-huruf yang tidak ia lihat selama dua bulan.
Nduk, kalau kamu membaca ini berarti ada yang nggak beres.
Ibu nggak di rumah. Ibu sudah pindah ke rumah Mbak Tini di seberang jalan sejak tiga hari lalu. Ibu curiga waktu ada dua lelaki naik motor tanya-tanya soal kamu. Mereka rapi. Terlalu rapi.
Jangan buka lemari di ruang tengah. Ayahmu pernah bilang, kotak yang bunyinya terlalu bersih jangan dibuka tanpa didengarkan dulu.
Ibu ada di warung pecel, belakang pasar, sampai jam lima pagi. Datang sendiri. Bawa teman kalau perlu.
Ibu sayang kamu.
Viona membaca dua kali. Lalu ia menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa, pendek dan basah, bahunya bergetar hebat.
“Ibu…” bisiknya. “Ibu bener-bener… anak Pak Anwar.”
Hendra, yang berdiri di dekat jendela, tersenyum tipis. Dirga mengangguk perlahan, seperti seseorang yang baru saja mendengar hal baik tanpa berani percaya.
“Dia pintar,” kata Hendra.
“Dia ibunya,” jawab Viona. “Nggak ada yang lebih pintar dari ibuku soal curiga.”
Lemari di ruang tengah itu tidak mereka sentuh.
Dirga yang memeriksanya, berlutut di depan pintu kayu tua yang lembap, dengan senter kecil di tangan dan napas yang ditahan. Ia tidak membukanya. Hanya menempelkan telapak tangan di permukaan kayu, menutup mata, dan mendengarkan.
“Perangkat pemanggil,” bisiknya. “Jenis lama. Dipasang untuk menarik sinyal modul dari jarak tertentu dan mengunci mereka dalam satu zona. Kalau pintu ini dibuka, ia aktif.”
“Dan?” tanya Viona.
“Dan Embun, Liyun, dan Lazuardi tidak akan bisa bergerak selama empat belas jam.” Dirga membuka mata. “Dewan tahu kalian akan datang. Mereka tahu Viona pasti membuka kotak ayahnya.”
Viona menarik napas tajam.
“Jadi mereka baca aku sebelum aku baca mereka.”
“Begitulah cara mereka bekerja,” kata Dirga. “Mereka tidak mengejar kalian. Mereka menunggu kalian datang.”
Sunyi.
“Bisa dimatikan?” tanya Vernanda.
“Bisa. Tapi aku butuh dua orang yang tidak terdaftar. Satu untuk menahan zona. Satu untuk—” Dirga menatap Viona, “menulis ulang protokolnya.”
Viona menatap lemari itu lama. Lalu perlahan, ia membuka tas kecil di bahunya dan mengeluarkan dari dalamnya sebuah benda yang tidak Vernanda kenal: batang obeng panjang, kuningan di bagian ujung, kayu di gagangnya yang aus oleh bertahun-tahun genggaman.
“Apa itu?” bisiknya.
“Alat dengar,” jawab Viona. Suaranya sangat pelan. “Milik Ayah. Dia pakai ini untuk mendengar mesin kapal. Ditempel ke badan mesin, ujung gagang ke telinga, dan bunyi yang jujur akan kedengaran.”
Ia mengangkat alat itu, menempelkan ujung kuningannya ke permukaan pintu lemari, dan menutup mata.
“Embun,” bisiknya. “Bantu aku dengar.”
Garis perak di tengkuknya menyala terang, lalu mengalir ke bahunya, ke lengan, ke jari-jarinya yang menggenggam alat itu. Dari ujung kuningan, perlahan, muncul dingin yang tipis, dan kabut halus meliuk di antara kayu dan logam seperti napas yang dihembuskan ke kaca.
Vernanda dan Hendra bersiap. Dirga berlutut dengan tangan terbuka di kedua sisi lemari. Di dalam kepala Vernanda, Liyun berkata pelan, “Aku akan menahan zona. Kamu cukup bernapas.”
Panas merayap dari kening Vernanda, lembut, tanpa ledakan. Garis-garis emas muncul sangat tipis di balik ikat kepala, dan ruangan itu terasa menahan napas.
“Sekarang,” bisik Dirga.
Viona memutar alat dengar itu seperempat putaran ke kanan.
Klik.
Bunyi sangat kecil, hampir tak terdengar, dan seluruh dengung di rumah itu berhenti.
Hening. Panjang.
Viona membuka mata. Tangannya masih gemetar, tapi wajahnya, untuk pertama kalinya malam itu, tampak seperti wajah seseorang yang baru saja menang sesuatu.
“Ayah,” bisiknya, menatap batang kuningan di tangannya. “Terima kasih.”
Warung pecel itu hanya satu gerobak kayu di belakang pasar, dengan dua bangku panjang dan lampu bohlam kuning yang digantung di tiang bambu. Seorang perempuan tua duduk di bangku paling ujung dengan kain batik di pundak dan secangkir teh yang sudah dingin. Di sampingnya, seorang perempuan paruh baya yang lebih gempal sedang menguap sambil mengipasi diri dengan koran.
Vernanda berdiri di balik tiang listrik, dua puluh meter dari sana. Ia tidak maju. Hanya mengamati.
“Dua detak jantung,” bisik Liyun. “Stabil. Tidak ada perangkat pemindai dalam radius lima puluh meter. Aku tidak merasakan dewan.”
Yakin?
“Aku tidak pernah yakin. Tapi sembilan puluh dua persen.”
Viona sudah berjalan melewatinya. Tidak cepat. Tidak ragu. Langkah demi langkah, dengan bahu tegak dan kepala sedikit tertunduk, seperti seseorang yang berjalan menuju sesuatu yang selama bertahun-tahun ia tahu ada di sana, tapi baru berani ia sentuh malam ini.
Perempuan tua di bangku ujung menoleh.
Satu detik. Dua detik.
“Nduk,” katanya, suaranya serak, nyaris hilang.
“Ibu.”
Viona berlutut di depan bangku kayu itu dan memeluk lututnya. Perempuan tua itu menunduk, memegang kepala anaknya dengan dua tangan, dan air matanya jatuh ke rambut Viona tanpa suara. Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi. Hanya saling memegang, seperti dua orang yang baru ditarik dari air.
Di balik tiang listrik, Vernanda menunduk. Hendra, yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya, memandang ke arah lain dengan wajah yang sengaja dibuat datar.
“Kamu nggak mau melihat?” tanya Vernanda pelan.
“Aku melihat.”
“Kamu matanya merah.”
“Debu.”
Vernanda tidak menjawab, tapi ia tidak bisa menahan senyum kecil.
Bu Sumarni, ibu Viona, ternyata bukan perempuan yang mudah ditaklukkan oleh waktu.
Usianya enam puluh lima, tubuh kecil dan bungkuk, tangan dipenuhi bintik cokelat, tapi matanya tajam dan lidahnya lebih tajam. Ia menolak menaiki minibus sebelum menanyakan nama semua orang satu per satu, menilai wajah mereka lama-lama, dan meminta Hendra membuka perban di lengannya karena “kotor, nanti infeksi”. Ia menyodorkan sebungkus kerupuk pada Jamal, menepuk pipi Vernanda dengan terlalu keras sambil mengatakan “kurus”, dan menatap Dirga dengan sorot yang sama sekali tidak berubah ketika Viona mengatakan siapa dia.
“Jadi kamu yang bikin anakku nggak bisa pulang,” katanya datar.
“Iya, Bu,” jawab Dirga.
“Dan sekarang kamu ikut nyelamatin ibunya.”
“Iya.”
“Bagus.” Ia berbalik tanpa menunggu. “Kalau begitu kamu yang bawa tasku.”
Dirga membuka mulut, lalu menutupnya, dan mengangkat tas kain berat itu dengan wajah seseorang yang baru saja dijatuhi hukuman paling lembut dalam hidupnya.
Di bangku belakang minibus, Mbak Tini, perempuan gempal yang tadi menemani Bu Sumarni, duduk dengan koran di pangkuan dan tidak berhenti mengomentari semua hal: jalanan, suhu, bahu Hendra, dan nama tokoh-tokoh dari sinetron kesayangannya. Jamal, yang biasanya paling pendiam, ternyata ikut tertawa tiga kali.
“Ini mah bukan penyelamatan,” bisiknya pada Vernanda. “Ini piknik.”
“Piknik yang bisa bikin kita semua mati.”
“Iya. Tapi kita jadi dapat kerupuk.”
Di dalam kepala Vernanda, Liyun diam sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih ringan dari biasanya, “Aku mencatat bahwa manusia bisa merasa takut dan senang dalam waktu bersamaan. Aku tidak mengerti bagaimana, tapi aku menyukainya.”
Fajar mulai menyingsing ketika minibus itu berhenti di tepi jalan kecil di luar kota, di bawah rumpun karet yang batangnya basah oleh embun. Sungai kecil mengalir di sisi jalan, dan kabut tipis menggantung di atas ladang singkong.
Semua orang turun untuk meregangkan kaki. Bu Sumarni menerima segelas teh dari termos Mbak Tini dan menatap rombongan aneh itu satu per satu, dengan alis yang terangkat.
“Sekarang,” katanya. “Kita ke mana? Rumah kosong tadi sudah nggak aman. Aku nggak bisa ke Pulau Pasaran, kan? Itu yang diserang malam kemarin.”
Semua orang menoleh pada Dirga.
Dirga tidak langsung menjawab. Ia berdiri di tepi jalan dengan tangan di saku jas kusutnya dan wajah yang tampak jauh, seperti menimbang kalimat yang sudah lama ia simpan.
“Ada satu tempat,” katanya akhirnya.
“Di mana?” tanya Vernanda.
“Campang Jaya.”
Hening.
“Di Kelurahan Campang Jaya, Kecamatan Sukabumi, masih di dalam kota ini,” lanjut Dirga. “Sebuah rumah tua di ujung gang kebun, di sisi kota yang jarang dilirik orang. Atas nama yayasan yang sudah lama tidak aktif. Aku membelinya sembilan tahun lalu dengan uang gajiku sendiri, dan tidak pernah mendaftarkannya ke Aksa.”
“Kenapa?” tanya Hendra, dingin.
“Karena aku tahu suatu hari aku akan membutuhkan tempat yang tidak ada di catatan siapa pun.” Dirga tersenyum tipis, pahit. “Aku tidak tahu itu akan terjadi sesudah sembilan tahun. Tapi aku sudah menunggu.”
“Dewan nggak tahu?”
“Tidak ada dokumen, tidak ada pajak, tidak ada akses listrik atas namaku. Hanya satu orang yang tahu: seorang dokter tua yang membuka praktik di dekat sana dan pernah menjadi temanku.”
“Dan dia bisa dipercaya?”
“Aku mempertaruhkan seluruh rencana pada pertanyaan itu,” jawab Dirga. “Dan sejauh ini dia tidak pernah mengecewakan.”
Vernanda menatap kabut di atas ladang. Di kepalanya, pikirannya sudah berhitung cepat: Marlina dan Laras di Pasaran, Pak Rais yang masih terbaring, Bu Haji, kampung yang baru diserang. Bulan gelap tinggal sebelas hari. Campang Jaya tidak jauh dari jalan menuju Panjang dan Teluk Betung. Dari pesisir Lampung Selatan, Krakatau hanya sehari perjalanan laut.
“Kita jemput Ibu dan Laras,” katanya pelan. “Dari Pasaran ke sana cuma satu jam lewat darat. Malam ini juga.”
“Dan pengobatan TB-nya?” tanya Viona.
“Dokter itu bisa mengurus pemindahan rujukan,” kata Dirga. “Obatnya bisa dilanjutkan di puskesmas dekat sana tanpa putus.”
“Dan Pak Rais?” tanya Jamal.
“Dia nggak akan mau pindah,” jawab Vernanda dengan senyum kecil. “Tapi kita tinggalkan sebagian uang Dirga untuk perahu baru.”
Hendra menghela napas panjang. “Jadi kita pindah semuanya.”
“Iya.”
“Ke tempat yang hanya diketahui orang yang paling kubenci.”
“Iya.”
Hendra memejamkan mata sebentar, membukanya lagi, dan mengangguk pelan.
“Baik.”
Bu Sumarni menepuk tangan satu kali, nyaring. “Bagus. Akhirnya aku bisa ngopi robusta yang bener, bukan kopi sachet Metro. Katanya…” Ia menatap rombongan itu dengan mata yang jenaka tapi tajam. “…katanya di kota ini ada warung pempek yang buka sampai subuh.”
Hening sejenak.
“Ibu!” seru Viona.
“Apa? Aku cuma bilang.”
Jamal tertawa terbahak, Mbak Tini ikut terkekeh, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, Vernanda melihat Hendra dan Dirga, dua lelaki yang saling membenci, tersenyum pada saat yang sama tanpa saling melihat.
Pagi itu, di tepi jalan sunyi yang diselimuti kabut tipis, Liyun berkata sesuatu yang membuat Vernanda terdiam.
“Nanda. Ada satu hal yang aku ingat setelah mendengar nama ‘ujung selatan Sumatra’.”
Apa?
“Sebuah kata. Bukan keping penuh. Hanya serpihan.” Jeda. “Segara Kidul.”
Vernanda menarik napas pelan.
“Aku tidak tahu artinya. Tapi saat nama tempat itu disebut, ada sesuatu di dalam diriku yang bergetar, seperti ada yang… menunggu di sana.”
Pintu lain?
“Aku tidak tahu. Mungkin. Atau mungkin… sesuatu yang lebih tua dari Pintu di Krakatau.”
Vernanda memandang ke arah selatan, di mana langit mulai berwarna kelabu pucat, dan merasakan sesuatu yang baru: bukan takut, bukan harapan. Hanya ketegangan seseorang yang sadar jalan di depannya jauh lebih panjang dari yang ia kira.
“Kita periksa,” katanya pelan, pada Liyun dan pada dirinya sendiri. “Satu per satu.”
Minibus itu kembali menyala. Di dalamnya, tujuh orang berdesakan dengan kerupuk, tas kain, kotak perkakas tua, dan sepuluh jenis ketakutan yang berbeda, bergerak ke arah jalan raya yang mulai dipenuhi cahaya.
Campang Jaya menunggu. Dan di balik kota itu, laut yang lebih tua dari semua nama yang mereka punya.
