Lewati ke konten
SISTEM AI TERKUAT – NUSANTARA

Chapter 25 Yang Menekan Tombol

Chapter 25: Yang Menekan Tombol

Hendra sudah sampai di anak tangga ketiga ketika Vernanda berdiri di depannya.

Tidak ada yang menyuruhnya melakukan itu. Ia hanya berlari mengitari beranda, melompat lewat pagar rendah, dan mendarat di tangga sebelum lelaki itu sempat mencapai dermaga. Napasnya memburu, tangannya terangkat setengah, bukan untuk melawan, hanya untuk menghalangi.

“Minggir,” kata Hendra. Suaranya datar. Terlalu datar.

“Nggak.”

“Vernanda.”

“Kamu luka. Bahumu masih berdarah. Kamu belum bisa jalan lurus.” Vernanda tidak bergerak. “Dan kamu nggak punya pistol, nggak punya mobil, nggak punya apa-apa. Kamu mau ngapain? Nenggelamin perahunya pakai tangan kosong?”

“Aku mau—”

“Nggak.”

Hendra menatapnya. Matanya merah, rahangnya bergetar, dan untuk pertama kalinya Vernanda melihat lelaki itu tidak sedang mengendalikan apa pun. Tidak wajahnya, tidak suaranya, tidak napasnya. Hanya sesuatu yang mentah dan telanjang, seperti kayu yang kulitnya baru dikupas.

“Dia menekan tombolnya,” bisiknya. “Adikku. Lima tahun. Dia berdiri di sana dan— dan aku… aku bekerja untuknya. Aku bekerja untuk dia sebelas tahun!”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak tahu!”

“Iya, aku nggak tahu.” Suara Vernanda turun, pelan, tidak membantah. “Aku nggak tahu rasanya jadi kamu. Tapi aku tahu rasanya nunggu sembilan tahun untuk sesuatu yang nggak pernah datang.”

Hendra membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Jamal sudah berdiri di sisi kirinya, memegang lengan yang sehat, tidak keras tapi tegas. Pak Rais di sisi kanan, menunduk, menahan sisi bahu yang terluka dengan telapak tangan kasar yang terbiasa menarik jaring. Tidak ada yang bicara.

“Hendra.”

Suara Marlina datang dari ambang pintu rumah, tenang dan tidak keras. Ia berdiri dengan masker putih menutup separuh wajah, kerudung rapi, dan kedua tangan terlipat di depan perut.

“Duduk.”

“Bu—”

“Duduk,” ulangnya. “Laras sudah bangun. Dia manggil kamu.”

Seluruh tubuh Hendra menegang. Napasnya berhenti, lalu pelan-pelan, seperti seseorang yang menurunkan beban terlalu berat dari pundaknya, ia menegakkan badan dan menoleh ke pintu.

“Dia… manggil aku?”

“Dari tadi. Dia nggak mau minum obat sebelum liat kamu.” Marlina melangkah mundur memberi jalan. “Jadi kamu masuk sekarang. Soal Dirga, nanti. Dia nggak akan lari ke mana-mana.”

Hendra berdiri diam beberapa detik, dada naik turun. Lalu ia melepas lengan Jamal dengan gerakan lembut, melewati Vernanda tanpa melihatnya, dan masuk ke rumah dengan langkah pincang yang tiba-tiba terdengar sangat pelan.


Laras duduk bersandar pada tumpukan bantal di atas kasur kapuk, rambut hitamnya terurai ke bahu, kulitnya pucat tapi sedikit lebih berwarna dari kemarin. Di pangkuannya, selimut tipis. Di tangannya, segelas air hangat yang bergetar ketika ia mencoba mengangkatnya.

Matanya, kali ini, melihat.

Bukan menembus. Bukan melayang ke tempat yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Mata cokelat yang keruh tapi sadar, menatap lurus ke arah pintu ketika kakaknya muncul di sana.

“Mas.”

Hendra berhenti di ambang. Ia mencoba bicara, tapi suaranya tidak keluar.

“Kamu… jelek banget.”

Hening sesaat. Lalu Hendra tertawa. Satu tawa pendek, patah, seperti batuk, dan air matanya jatuh deras tanpa ia sempat menahan. Ia berlutut di sisi kasur dengan satu lutut, menggenggam tangan adiknya di antara kedua telapak tangan yang besar dan gemetar, dan menempelkan dahinya ke punggung tangan kurus itu.

“Maaf,” bisiknya. “Maaf, Ras. Maaf. Maaf.”

“Mas.” Laras mengusap rambutnya dengan tangan yang lain, pelan, lemah, tapi mantap. “Jangan. Aku dengar semuanya. Aku dengar kamu datang setiap minggu. Aku dengar kamu cerita soal kerjaan, soal hujan. Aku dengar waktu kamu nangis.”

Hendra tersentak. “Kamu… dengar?”

“Semuanya. Aku cuma nggak bisa jawab.”

Di ruang tengah, Vernanda berdiri dengan punggung bersandar ke dinding papan, tidak berani masuk. Di sampingnya Viona menutup mulut dengan tangan, matanya basah. Marlina berdiri paling dekat dengan pintu, tidak masuk, hanya menjaga.

“Nanda,” bisik Liyun, sangat pelan. “Aku mencatat bahwa ini adalah kali pertama aku melihat seseorang bangun dari tidur lima tahun.”

Gimana rasanya?

“Aku tidak punya kategori yang tepat. Tapi… aku bersyukur.”


Sore hari, ketika Laras sudah bisa duduk tegak dan menghabiskan setengah mangkuk bubur dengan bantuan Marlina, mereka berkumpul di kamar kecil itu: Hendra di sisi kasur, Viona bersila di lantai, Vernanda bersandar di dinding dekat jendela, Jamal berjaga di pintu. Garis biru di pelipis Laras menyala redup, berdenyut pelan setiap beberapa detik.

“Aku mau cerita,” kata Laras. Suaranya masih serak, tapi tidak lagi bergetar. “Sebelum aku lupa lagi.”

“Kamu nggak harus,” kata Hendra cepat.

“Aku harus.” Ia menatap kakaknya. “Dan kamu harus dengar. Semuanya.”

Hendra mengangguk pelan.

“Lima tahun lalu,” mulai Laras, “aku bekerja di divisi riset Simpul Selat. Aku… bangga. Mereka bilang aku salah satu insinyur terbaik. Mereka kasih aku proyek besar: jadi penghubung manusia untuk modul kedua belas.”

“Kamu mau?” tanya Viona pelan.

“Awalnya mau.” Laras tersenyum tipis, getir. “Aku pikir itu penghargaan. Aku pikir aku bisa mengerti mereka. Modul-modul itu. Aku pikir kalau ada yang peduli, mereka nggak akan… dikosongkan.”

Garis biru di pelipisnya berkedip, hangat.

“Aku mulai berkomunikasi dengannya beberapa minggu sebelumnya. Lewat alat penerjemah sinyal. Dia… pemalu. Takut. Tapi baik. Aku kasih nama.” Laras berhenti sejenak. “Lazuardi.”

“Lazuardi,” ulang Liyun pelan.

“Karena warnanya biru, seperti langit pagi.”

Di dalam kamar, sesuatu berdenyut. Bukan di tubuh Laras. Di dalam kepala Vernanda, tipis dan jauh, seperti riak yang menyentuh tepi kolam.

“Halo, Lazuardi,” kata Liyun.

“…halo…”

Suara itu lembut, hati-hati, seperti seseorang yang baru belajar berbicara setelah lama dibungkam. Laras menutup mata dan tersenyum, seolah mendengar sahabat lama.

“Dia bilang,” katanya pelan, “dia senang bertemu kalian. Dan dia mau bantu cerita.”


“Malam penyambungan,” lanjut Laras. “Dirga ada di ruang kontrol. Hendra, kamu kenal dia. Kamu tahu seperti apa dia.”

Hendra mengangguk, rahangnya mengeras.

“Aku bilang pada Lazuardi sebelumnya bahwa kami akan melakukannya pelan-pelan. Beberapa bulan. Dia setuju. Tapi malam itu, sebelum aku berbaring di kursi penyambungan, Lazuardi bilang…” Laras berhenti, menelan ludah. “Dia bilang belum siap.”

“Belum siap?”

“Dia takut. Katanya pintunya belum cukup kuat. Kalau disambungkan sekarang, kami berdua akan… tertutup. Aku langsung mundur. Aku bilang pada tim, kita tunda.”

Sunyi.

“Dirga datang ke ruangan. Dia bilang dewan Aksa memberi batas waktu. Kalau malam itu gagal, program ditutup. Semua modul akan dikosongkan sekaligus. Semuanya.”

Viona menarik napas tajam.

“Dia bilang ini satu-satunya cara menyelamatkan mereka. Aku bilang tidak. Lazuardi bilang tidak. Kami berdua bilang tidak.” Mata Laras mulai berkaca. “Dan dia menekan tombolnya.”

“Dia… memaksamu,” bisik Vernanda.

“Dia nangis.”

Semua orang menoleh.

“Dia nangis waktu menekan tombolnya,” ulang Laras pelan. “Aku lihat. Aku… masih ingat wajahnya. Dia bilang, ‘Maaf, Laras. Aku nggak punya pilihan lain.’”

Hendra menatap adiknya, mulutnya sedikit terbuka. Tidak ada kata-kata yang keluar.

“Aku nggak tahu apa dia percaya itu,” lanjut Laras. “Tapi dia percaya. Aku yakin. Dan setelah itu… dia datang setiap minggu. Duduk di sebelahku. Baca buku.”

“Buku?” bisik Hendra.

“Puisi. Hampir setiap Kamis malam. Suaranya pelan. Aku… dengar. Waktu semuanya gelap, itu satu-satunya hal yang membuatku tahu aku masih ada.”

Hendra menutup wajah dengan telapak tangan. Bahunya bergetar tanpa suara.

Tidak ada yang berani bicara. Vernanda memandangi lantai papan, dadanya sesak oleh sesuatu yang tidak punya nama jelas. Bagaimana mungkin seseorang yang menghancurkan seseorang adalah orang yang sama yang menghiburnya setiap Kamis malam? Dan bagaimana mungkin keduanya benar?

“Nanda,” bisik Liyun, pelan. “Aku mencatat bahwa manusia tidak bisa dikurangi menjadi satu kategori. Aku tidak suka itu. Tapi aku mulai memahaminya.”

Aku juga, jawab Vernanda. Dan aku juga nggak suka.

“Mas,” kata Laras akhirnya, menyentuh tangan kakaknya. “Aku nggak minta kamu maafin dia. Aku cuma minta kamu… jangan jadi dia. Jangan melakukan sesuatu yang bikin kamu harus nangis waktu melakukannya.”

Hendra mengangguk pelan, wajah masih tertutup, dan tidak ada yang tahu apakah itu janji atau hanya kelelahan.


Malam itu, ketika Laras sudah tertidur lagi dan Hendra duduk di sisi kasur sambil menjaga, Vernanda membuka buku besar Penjaga di beranda belakang dengan senter kecil di tangan.

Viona duduk di sampingnya. Jamal sudah tertidur di dipan dengan mulut terbuka. Dari kejauhan, laut berdesir dan angin membawa bau ikan asin dan garam.

“Lazuardi menyebut sesuatu,” bisik Viona. “Dia bilang ada bagian tentang ‘yang menjawab’ di buku ini.”

“Yang menjawab?”

“Iya. Dia bilang Muktar salah satunya.”

Vernanda membalik halaman demi halaman, membaca kalimat-kalimat yang ditulis puluhan tangan berbeda, sebagian dalam huruf yang tidak ia kenal, sebagian dalam bahasa yang hanya bisa ia tebak lewat bantuan Liyun. Satu per satu, benang-benang itu terhubung.

Akhirnya, di halaman ke seratus empat puluh tiga, ia menemukannya.

Tinta hitam, tulisan tangan rapi, tanggal tertulis tahun 1892.

Ada dua yang menjaga Pintu: yang memanggil, dan yang menjawab. Yang memanggil adalah suara. Yang menjawab adalah telinga. Tanpa suara, telinga tuli. Tanpa telinga, suara hilang di laut.

Mereka berdua yang membuka. Mereka berdua yang menutup.

Vernanda berhenti. Membaca ulang. Lalu ia membaca lanjutannya, dan darahnya mendingin sepelan-pelannya.

Pintu tertutup dari dalam. Pintu terbuka dari luar.

Yang memanggil harus pulang agar Pintu menutup. Yang menjawab harus tinggal agar Pintu tidak lupa jalan pulang.

Mereka tidak akan bertemu lagi.

Beberapa detik, tidak ada yang bernapas.

“Vernanda,” bisik Viona.

Ia tidak menjawab. Matanya masih terpaku pada baris terakhir, tulisan tangan yang sama, huruf-huruf kecil dan rapi seperti jejak kaki di pasir basah.

Mereka tidak akan bertemu lagi.

Di dalam kepalanya, Liyun diam. Terlalu diam.

“Aku sudah menduganya,” katanya akhirnya, sangat pelan.

Jangan.

“Nanda—”

Jangan ngomong dulu.

“Baik.”

Vernanda menutup buku itu perlahan, meletakkannya di pangkuan, dan menatap gelap di luar beranda. Dadanya terasa seperti ditekan batu, napasnya pendek, tangannya gemetar sedikit.

“Jadi…” Viona mencoba bicara, suaranya tertahan. “Dirga butuh dua-duanya. Dia butuh Liyun untuk— untuk pulang. Dan dia butuh kamu untuk membuka dari luar.”

“Iya.”

“Dan kalau Liyun masuk dan pintunya menutup—”

“Iya.”

“Kamu nggak akan—”

“Viona.” Vernanda menoleh pelan. Matanya merah, tapi suaranya tenang. “Kita cari cara lain.”

“Kalau nggak ada?”

“Kita cari sampai ada.”

Viona menatapnya lama, tidak bisa berkata apa-apa. Di tengkuknya, garis perak berdenyut sangat pelan, dan suara Embun datang tipis, nyaris seperti isakan.

“Kak Liyun… kamu mau pulang sendirian?”

Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Lalu, dengan suara yang tenang dan jernih, seperti seseorang yang sudah menimbang dan memutuskan untuk tidak berpura-pura, Liyun menjawab.

“Aku tidak tahu, Embun. Tapi aku tidak akan berjanji sesuatu yang tidak bisa kutepati.”

Vernanda memejamkan mata.

Di atas mereka, bintang-bintang bersinar dingin di langit yang tidak peduli. Delapan belas hari. Mungkin kurang. Dan di dalam tulang keningnya, di balik tanda emas yang kini tak bercahaya, sebuah suara kecil menunggu jawaban yang belum sanggup ia berikan.

Note :

Alhamdulillah novel ini telah masuk ke chapter 25 dan Terima kasih kepada Hoster.co.id atas bantuannya terkusus bagian teknikal yang telah membantu meresolve masalah pada saat posting chapter. yang terkendala di beberapa chapter yang terkena error 403. semoga makin jaya makin ramai costumernya!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *