Chapter 23: Janji yang Ditagih
Hari kedua di Pulau Pasaran, Vernanda terbangun oleh bau kopi dan suara Marlina yang batuk di dapur.
Batuk itu pendek, kering, dan sudah sangat ia kenal. Tapi pagi ini, sesuatu di dalam dadanya mengeras mendengarnya. Seperti seseorang yang selama bertahun-tahun mendengar suara yang sama dan baru sadar bahwa suara itu bukan sekadar latar, melainkan peringatan.
“Selamat pagi, Nanda.”
“Pagi.”
“Sembilan belas hari menjadi delapan belas. Aku menghitungnya.”
“Jangan hitung dulu,” gumam Vernanda sambil duduk di tikar dan mengusap wajah. “Aku belum minum kopi.”
“Kopi tidak mengubah angkanya.”
“Tapi mengubah suasana hatiku.”
“Aku mencatatnya.”
Vernanda hampir tersenyum. Di sudut ruangan, Hendra masih terbaring di atas tikar pandan dengan selimut tipis menutupi dadanya, napasnya berat tapi teratur. Viona sudah bangun lebih dulu dan duduk di sampingnya, mengganti perban di bahunya dengan telaten. Di tengkuknya, garis perak berdenyut pelan, seolah Embun ikut menemani dari dalam.
“Demamnya turun,” bisik Viona saat melihat Vernanda memperhatikan. “Lukanya bersih. Dia kuat.”
“Dia masih tidur?”
“Pura-pura. Sejak subuh.” Viona melirik ke wajah Hendra yang matanya terpejam rapat. “Dia nggak berani bangun karena ibumu ada di dapur.”
“Aku dengar,” gumam Hendra tanpa membuka mata.
Viona tertawa kecil, dan Vernanda berdiri, menepuk lututnya, dan berjalan ke dapur.
Marlina sedang mengaduk bubur di panci hitam yang sudah penyok di beberapa sisi. Kerudungnya terikat rapi, wajahnya segar, dan di pipinya ada rona yang tidak ada sejak berbulan-bulan lalu. Tapi ketika ia berbalik dan melihat anaknya berdiri di ambang pintu, ia langsung tahu.
“Kamu mau bilang sesuatu.”
“Iya.” Vernanda menarik napas. “Kita ke puskesmas hari ini, Bu.”
“Ibu baik-baik saja.”
“Batuk Ibu sudah setahun.”
“Ibu sudah minum obat.”
“Obat batuk biasa. Apoteker bilang itu nggak cocok.”
“Apoteker!” Marlina mendengus. “Orang jualan obat ya nyuruh periksa.”
“Marl.”
Suara Bu Haji dari ambang pintu lain membuat keduanya menoleh. Perempuan tua itu berdiri dengan kacamata di ujung hidung dan dua tangan terlipat, ekspresinya datar tapi matanya tajam.
“Kamu batuk lebih dari setahun,” katanya. “Batuk terus, napas pendek, berat badan turun. Itu bukan masuk angin. Aku sudah lihat orang yang begitu, dan hasilnya buruk kalau ditunda.”
“Ongkosnya—”
“Jangan bicara ongkos.” Bu Haji mengangkat tangan. “Puskesmas di Teluk Betung punya program untuk batuk lama. Obatnya gratis dari pemerintah kalau terbukti. Aku sudah tanya keponakanku. Dia kerja di sana.”
Marlina menatap mereka berdua bergantian. Tangannya masih memegang sendok kayu, dan untuk pertama kalinya Vernanda melihat ketakutan yang lebih dalam dari sekadar takut sakit.
“Bagaimana kalau hasilnya buruk?” bisiknya.
“Kalau begitu kita tahu,” kata Vernanda. “Dan kita obati.”
Marlina menunduk, memandang bubur di panci yang mulai mendidih pelan. Lalu ia menghela napas panjang, meletakkan sendok, dan mengangguk.
“Ibu ganti baju dulu.”
Puskesmas itu berdiri di pinggir jalan raya Teluk Betung, bangunan satu lantai bercat hijau muda dengan atap seng dan halaman sempit yang dipenuhi motor. Antrean pasien mengular dari loket pendaftaran sampai ke pintu, sebagian duduk di bangku panjang dengan wajah lelah, sebagian berdiri sambil mengipasi diri dengan map plastik.
Vernanda berjalan di belakang Marlina dan Bu Haji, kepala tertutup topi lusuh, ikat kepala hitam tersembunyi di baliknya, dan masker kain menutup separuh wajahnya. Jamal ikut dengan alasan mengantar, berdiri di dekat pintu keluar seperti penjaga yang berpura-pura tidak peduli.
“Aku memindai pasif,” bisik Liyun. “Tidak ada perangkat pemindai aktif di ruangan ini. Ada satu alat kecil di meja pendaftaran, tapi itu hanya pembaca kartu. Aman.”
Vernanda menghembuskan napas pelan.
Bu Haji mendaftarkan Marlina dengan nama dan data yang sudah ia siapkan. Mereka menunggu hampir satu jam di bangku plastik di lorong, bersama seorang bapak yang batuk-batuk di ujung bangku, dua ibu yang bergosip pelan tentang harga cabai, dan seorang anak kecil yang menatap ikat kepala Vernanda dengan mata bulat penuh rasa ingin tahu.
“Kakak, itu topinya kenapa?” bisik anak itu.
“Biar nggak masuk angin.”
“Kan ada topi.”
“Iya, tapi topi saja kurang.”
Anak itu mengangguk serius, seolah itu penjelasan yang sangat masuk akal, lalu kembali asyik memainkan mobil plastik.
“Anak itu cerdas,” kata Liyun pelan. “Aku mencatat bahwa anak-anak lebih mudah menerima penjelasan yang tidak lengkap.”
Diam.
“Baik.”
Akhirnya nama Marlina dipanggil, dan ia berdiri pelan, merapikan kerudungnya, menatap Vernanda sekali dengan mata yang tidak bisa dibaca.
“Kamu tunggu di sini.”
“Bu—”
“Ibu masuk sama Bu Haji. Kamu jangan masuk. Kalau ada yang tanya, kamu bukan siapa-siapa.”
“Ibu.”
“Vern.” Marlina tersenyum, kecil dan tegas. “Ibu bisa sendiri.”
Pintu ruang periksa tertutup di belakang mereka. Vernanda duduk lagi di bangku plastik, telapak tangannya basah, dan untuk pertama kali dalam hidupnya ia mengerti bagaimana rasanya menjadi orang yang menunggu di luar pintu.
Dokter yang menangani Marlina bernama dr. Salsabila, perempuan muda dengan kacamata bulat dan kuncir kuda yang rapi. Ia memeriksa dengan tenang dan teliti: mendengarkan paru-paru dengan stetoskop, menimbang, menanyakan sudah berapa lama, apakah ada keringat malam, apakah pernah batuk berdarah, apakah ada anggota keluarga lain dengan gejala serupa.
Marlina menjawab semuanya dengan jujur, suaranya pelan tapi jelas.
Setelah itu, seorang perawat mengajak Marlina ke ruang kecil di belakang untuk mengambil sampel dahak. Satu jam kemudian, hasilnya keluar.
Vernanda masih duduk di bangku plastik ketika pintu ruang periksa terbuka dan Bu Haji muncul, wajahnya tenang tapi matanya sedikit merah. Di belakangnya, Marlina berjalan dengan langkah pelan, map plastik hijau dipeluk di dada.
“Bagaimana?” tanya Vernanda, berdiri terlalu cepat.
Marlina tidak langsung menjawab. Ia berhenti di depannya, menarik napas, lalu berkata dengan suara yang nyaris datar.
“Ibu kena TB.”
Dunia Vernanda berhenti sejenak.
“Tapi bisa disembuhkan,” tambah Bu Haji cepat. “Dokternya bilang masih jenis yang sensitif terhadap obat. Enam bulan minum teratur, hampir pasti sembuh.”
“Dua minggu pertama harus pakai masker dan jangan dekat-dekat dulu sama orang rumah,” lanjut Marlina, matanya menatap lantai. “Biar nggak menular. Setelah itu… sudah berkurang.” Suaranya pecah di ujung kalimat. “Jadi Ibu… nggak boleh peluk kamu dulu.”
Vernanda tidak berpikir. Ia melangkah maju dan memeluk ibunya erat-erat, kepala Marlina di dadanya, map plastik hijau terjepit di antara mereka.
“Nda—”
“Biar saja.”
“Tapi—”
“Biar.” Suaranya serak. “Aku nggak takut.”
Marlina membeku sesaat, lalu bahunya bergetar pelan. Ia menangis tanpa suara, wajahnya tersembunyi di dada anaknya, tangannya mencengkeram kaus Vernanda seperti anak kecil yang baru terbangun dari mimpi buruk.
“Maaf,” bisiknya. “Maafin Ibu. Ibu seharusnya periksa dari dulu. Ibu nggak mau repotin kamu, Ibu—”
“Bukan salah Ibu.”
“Ibu pikir cuma batuk. Ibu pikir kalau diam saja, nanti sembuh sendiri. Sekarang kamu… kamu—”
“Ibu.” Vernanda menjauhkan sedikit tubuhnya, memegang kedua bahu ibunya, menatap mata merahnya. “Dengar. Ini bukan aib. Ini penyakit. Dan sekarang kita tahu namanya. Itu artinya kita bisa melawannya.”
Marlina menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, mengusap pipi dengan punggung tangan, dan mencoba tersenyum.
“Nanda,” kata Liyun pelan, sangat lembut. “Aku memindai tubuhmu diam-diam saat kamu memeluknya. Tidak ada tanda infeksi aktif. Daya tahan tubuhmu, tahap Akar, jauh lebih kuat dari rata-rata. Kamu tidak dalam bahaya.”
Vernanda menarik napas lega dan tidak sadar air matanya jatuh.
“Aku mencatat,” tambah Liyun, hampir berbisik, “bahwa ini salah satu momen terbaik dalam keberadaanku, meskipun aku tidak yakin bisa menjelaskannya.”
Jangan dijelasin, jawab Vernanda. Cukup disimpan.
“Baik.”
Obat pertama dibagikan hari itu juga, dalam kantong plastik kecil berisi tablet putih dan merah yang dihitung seorang perawat berseragam hijau dengan sabar. Dr. Salsabila menjelaskan jadwal minumnya dua kali, tiga kali, sampai tiga kali lagi, mencatatnya di buku kontrol kecil, dan meminta semua orang yang tinggal serumah datang untuk diperiksa.
“Ibu harus janji tidak berhenti di tengah jalan,” katanya tegas tapi hangat. “Meskipun sudah merasa sehat. Kalau berhenti, kuman yang tersisa bisa kebal. Itu yang bahaya.”
“Ibu janji,” jawab Marlina.
“Anaknya juga ikut mengingatkan, ya?”
“Iya, Dok,” jawab Vernanda, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum benar-benar tulus.
Saat mereka keluar dari gedung, matahari sudah tinggi dan panas. Jamal yang sejak tadi menunggu di dekat pintu langsung berdiri, wajahnya penuh tanya, dan Bu Haji hanya mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat: nanti.
Di pintu keluar, Liyun bersuara cepat.
“Nanda. Di sebelah kiri, di seberang jalan. Seorang lelaki di bawah pohon asam. Dia memegang perangkat kecil. Ia memandangi pintu puskesmas sejak tadi.”
Vernanda tidak menoleh. Ia hanya menyesuaikan topi, memegang siku ibunya, dan berjalan pelan ke arah berlawanan.
Aksa?
“Aku tidak yakin. Perangkatnya berbeda dari milik Hendra atau Dirga. Mungkin pihak lain.”
Dia lihat kita?
“Tidak. Ia melihat… semua orang. Mungkin hanya mencari.”
Vernanda memberi isyarat pada Jamal dengan satu lirikan. Jamal langsung bergerak, menghampiri lelaki itu dengan langkah malas, seolah mau menyalakan rokok.
“Bang, punya korek?”
Lelaki di bawah pohon asam terkejut kecil, mematikan layar perangkat di tangannya, dan menjawab pendek, “Nggak ngerokok.” Ia pergi dengan langkah tergesa, menyusup ke antara motor dan pengendara di tepi jalan.
“Petugas dinas kesehatan,” kata Jamal santai ketika kembali. “Patroli data. Keliatan dari tasnya.”
“Aku tidak yakin,” gumam Liyun. “Tapi kali ini aku akan menerima penilaian itu.”
Sore itu, Marlina duduk di ruang tengah rumah panggung dengan masker kain putih menutup hidung dan mulutnya, kerudung rapi, dan segelas air hangat di tangan. Ia tidak bicara pada siapa pun sejak pulang, hanya duduk memandangi jendela, dan semua orang membiarkannya.
Hendra, yang sudah bisa duduk bersandar ke dinding dengan selimut di pangkuan, menatapnya dari seberang ruangan. Viona dan Vernanda sudah menyingkir ke beranda. Jamal membawa Pak Rais ke dermaga. Bu Haji sibuk di dapur.
Sunyi cukup lama.
“Bu Marlina,” kata Hendra akhirnya, suaranya serak.
Marlina menoleh pelan.
“Saya tidak minta dimaafkan,” lanjutnya. “Tapi kalau Ibu mau dengar, saya bisa ceritakan malam itu. Dari awal sampai akhir. Tidak ada yang saya sembunyikan.”
Marlina meletakkan gelasnya perlahan di lantai.
“Ibu mau dengar,” katanya.
Hendra menarik napas, lalu bercerita. Kali ini lebih pelan, lebih rinci, tanpa satu pun kalimat pembelaan. Bagaimana kapal Aksa meluncur dari Merak malam itu. Bagaimana ia berdiri di dek dengan tangan gemetar, melihat perahu kecil di depan mereka berusaha kabur dengan mesin yang meraung. Bagaimana Muktar, di buritan perahunya, sempat menoleh sekali, dan wajahnya—
“Tenang,” kata Hendra, hampir berbisik. “Dia tidak terlihat takut. Dia terlihat… seperti seseorang yang sedang menjaga sesuatu yang berharga.”
Marlina menahan napas.
“Sebelum ombak naik, dia sempat melambaikan tangan ke arah kapal kami. Bukan melambai ke arah saya. Ke arah laut.” Hendra menelan ludah. “Seperti berpamitan.”
Sunyi.
Marlina menutup mata. Dua butir air mata jatuh ke masker, menembus kainnya, meninggalkan titik gelap yang cepat melebar.
“Dia memang begitu,” bisiknya. “Nggak pernah bisa bilang pamit dengan benar. Selalu… pergi dengan lambaian.”
Hendra tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menunduk.
Beberapa menit berlalu, dan di tengah kesunyian itu, terdengar suara Marlina, pelan dan tegas.
“Kamu utang sama Ibu sembilan tahun.”
“Iya, Bu.”
“Dan Ibu belum selesai marah.”
“Saya tahu.”
“Tapi sekarang Ibu butuh sesuatu dari kamu.” Marlina mengangkat wajah, menatapnya lurus, mata merah tapi tak lagi dingin. “Mulai besok, kamu yang ingetin Ibu minum obat. Pagi dan malam. Kalau Ibu lupa, kamu yang tagih. Itu hukumanmu.”
Hendra mengerjap, tidak yakin ia mendengar dengan benar.
“Bu…”
“Enam bulan. Jangan sampai lupa.”
Hendra memandangnya lama, lalu mengangguk pelan, rahangnya bergetar menahan sesuatu.
“Baik, Bu.”
Di balik pintu beranda, Vernanda yang mendengar semuanya menunduk dan menutup mulutnya dengan tangan. Di sampingnya, Viona tersenyum pelan sambil menyeka matanya.
“Nanda,” bisik Liyun, nyaris tak terdengar. “Aku baru menyadari bahwa hukuman dan pengampunan kadang berbentuk sama.”
Iya, jawab Vernanda. Ibuku jago soal itu.
Malam menjelang pukul sepuluh ketika Pak Rais berlari kecil menaiki tangga rumah panggung dengan lampu senter di tangan dan wajah yang tidak biasa pucat.
“Nda,” katanya terengah. “Kamu harus lihat ini.”
Vernanda mengikutinya ke dermaga belakang, diikuti Jamal dan Viona. Di ujung dermaga kayu, di bawah langit hitam tanpa bulan, Pak Rais menunjuk ke arah selatan, ke tengah teluk yang gelap.
“Dua jam yang lalu,” katanya pelan, “aku lihat sesuatu bergerak di sana. Kapal, ukuran sedang, tidak ada lampu. Dia berhenti di mulut teluk, lalu mundur, lalu berhenti lagi. Seperti sedang… menunggu.”
Seluruh tubuh Vernanda menegang.
“Kapal tanpa lampu,” bisik Viona.
“Persis seperti yang disebut ayahmu,” kata Pak Rais. “Malam sebelum dia hilang. Kakekku pernah cerita, ‘kalau kapal tanpa lampu mendekat, artinya ada yang mau ngambil sesuatu.’”
Keningnya menghangat.
“Nanda.” Suara Liyun jernih dan tenang, tanpa ketakutan. “Aku memindai. Tiga puluh dua detak jantung di atas kapal. Dan satu lagi… yang lebih dingin dari yang lain.”
“Dirga,” gumam Vernanda.
Di kejauhan, kapal gelap itu bergerak pelan, siluetnya hampir menyatu dengan malam, dan di buritannya, satu titik cahaya biru kecil berpendar lalu padam, seperti kedipan mata yang menandai tempat yang sedang dicari.
