Chapter 21: Yang Tertidur di Lantai Tiga
Sirene itu meraung seperti binatang yang terbangun dari tidur panjang.
Vernanda tidak berpikir. Tangannya bergerak sebelum otaknya selesai memutuskan: menyambar buku besar bersampul kulit dari meja, menyelipkannya ke dalam tas di bahunya, menggulung peta laut dengan kain minyak, dan menarik kunci kuningan dari lubang pintu yang sudah terbuka. Di sampingnya, Viona mencabut jarum dari piringan hitam dan memeluk benda tipis itu ke dada seperti memeluk bayi.
“Jangan tinggalkan!” serunya, suaranya serak oleh sirene.
“Aku bawa!”
Batu langit-langit bergetar lagi, kali ini lebih kuat. Debu halus turun dari celah-celahnya seperti hujan tepung. Lampu-lampu kuning yang tadi menyala lembut mulai berkedip, satu per satu padam dari ujung terowongan, meninggalkan gelap yang merayap mendekat.
“Nanda!” Suara Liyun tajam dan cepat. “Aku merasakan getaran dari atas. Banyak langkah. Mereka menuruni tangga yang sama dengan yang kita pakai. Lima, mungkin enam orang. Dan satu… yang lain. Yang lebih tenang dari yang lain.”
“Jalan lain?” desis Vernanda.
“Tidak ada. Dan… jika kita naik, kita bertemu mereka. Jika kita tinggal, kita terkurung.”
“Kalau begitu,” kata Vernanda, menarik napas, “kita naik.”
Viona menatapnya, wajah pucat, rambutnya sudah lepas dari ikatan dan menempel di pipi yang basah keringat. Di tengkuknya, garis-garis perak menyala redup, berdenyut cepat seperti jantung yang ketakutan.
“Embun bilang,” katanya pelan, “dia bisa membantu.”
“Bantu bagaimana?”
“Dia belum tahu. Tapi dia merasa…” Viona mengerutkan kening, mendengarkan sesuatu yang hanya terdengar di kepalanya. “Dia bilang dia bisa membuat dingin.”
Vernanda tidak bertanya lebih jauh. Ia menggenggam tangan Viona, menarik pintu kayu hitam itu menutup dari dalam sampai kunci kuningan terkunci kembali dengan klik pelan, lalu mereka berlari.
Tangga pemeliharaan terasa dua kali lebih panjang saat naik.
Langkah kaki mereka menggema di dinding batu, bercampur dengan sirene dari atas dan deru napas yang mulai berat. Vernanda menghitung anak tangga tanpa sadar. Dua puluh. Tiga puluh. Empat puluh. Di sudut matanya, lensa kaca kecil di belokan tadi berkedip merah cepat, tidak lagi teratur, seperti mata yang sudah tahu ada yang sedang diburu.
“Enam puluh meter di atas kita,” bisik Liyun. “Mereka berhenti di ruang boiler. Mereka menunggu.”
Menunggu apa?
“Komando. Dan… orang yang tenang itu baru saja tiba.”
Vernanda berhenti di anak tangga ke-lima puluh dua. Di bawah kakinya, tangga sempit itu masih menurun ke gelap, dan di atas, setengah lantai lagi, sebuah persegi cahaya kuning dari pintu besi ruang boiler memotong kegelapan.
Di dalamnya, bayangan-bayangan bergerak.
“Mereka di depan pintu,” bisik Viona. “Kita terjebak.”
“Belum.”
Vernanda menarik napas dalam-dalam dan memejamkan mata.
Liyun. Jalin.
“Nanda—”
Aku tahu harganya. Lakukan.
Panas meledak di keningnya, bukan seperti di dermaga, bukan tiba-tiba, tapi seperti pintu yang dibuka perlahan dari dalam. Garis-garis emas menyebar di pelipis dan pipinya, dan dunia di balik kelopak matanya berubah, membuka lapisan kedua yang sekarang tidak lagi asing.
Di atas mereka, jaringan sinyal berpendar biru dan putih di dinding, di lantai, di udara. Enam titik panas berdiri berjajar di balik pintu besi, otot-otot tegang, jari-jari siap. Satu titik di belakang mereka, lebih dingin, lebih tenang, tidak tegang sama sekali, berdiri tegak dengan kedua tangan terlipat di belakang punggung.
Dan jauh di atas, dua lantai di atas ruang boiler, ada satu titik panas yang bergerak cepat menuruni tangga lain, berat, terhuyung, membawa sesuatu di pelukannya.
“Hendra,” bisik Liyun. “Dia membawa seseorang.”
Vernanda membuka mata. Garis-garis emas masih menyala, terang dan mantap.
“Viona,” katanya pelan, “suruh Embun mulai.”
Hawa dingin datang lebih dulu.
Bukan angin. Bukan udara bocor dari celah dinding. Dingin yang lahir dari tubuh Viona, merayap dari tengkuknya ke seluruh punggung dan ke kedua tangannya yang terangkat setengah, seolah ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia lakukan. Garis-garis perak di lehernya menyala terang, menyebar sampai ke rahang, dan dari ujung jarinya, perlahan, muncul sesuatu yang lembut dan putih.
Kabut.
Tipis di awal, seperti uap napas di pagi dingin. Lalu pekat, bergulung naik di sepanjang tangga, menelan anak-anak tangga di atas dan di bawah mereka, merambat ke pintu besi ruang boiler dan menyusup lewat celah di bawahnya.
“Embun…” bisik Viona, matanya melebar.
“Aku tidak tahu aku bisa,” kata suara kecil itu, bergetar tapi jernih. “Tapi ini terasa benar. Seperti memeluk seseorang yang kedinginan.”
Di balik pintu besi, terdengar teriakan tertahan. Senter-senter tiba-tiba mati, satu per satu, seperti dipadamkan oleh tangan tak terlihat. Perangkat pemindai berbunyi beberapa kali, nyaring, lalu hening. Seseorang batuk, seseorang memaki, seseorang meraba-raba dalam gelap.
“Kabut itu meredam sinyal,” bisik Liyun, takjub. “Dan suara. Dan penglihatan. Embun menciptakan zona tak terdaftar.”
“Dia hebat,” bisik Vernanda.
Viona tidak menjawab. Air matanya jatuh, bercampur dengan kabut di pipinya.
“Jalan,” desis Vernanda.
Mereka naik, menembus kabut yang kini setebal selimut, berjalan dengan tangan meraba dinding dan Liyun memandu langkah mereka lewat penglihatan yang hanya Vernanda miliki. Pintu besi ruang boiler terbuka di depan mereka, dan di baliknya, enam siluet hitam berdiri membeku di tengah kabut, senter mati, tangan mengambang di udara.
Salah satu bergerak.
Vernanda melihatnya lewat jaringan hangat di tubuh lelaki itu: bahunya turun setengah detik sebelum ia menyerang. Vernanda menunduk. Tinju melewati kepalanya. Ia memutar tubuh, menumbukkan siku ke ulu hati lawan, dan merasakan staminanya menyala seperti api yang menemukan oksigen.
Satu jatuh. Dua. Tiga.
Viona menghantam lutut seorang penjaga dengan tongkat besi yang ia ambil dari rak, sambil menangis dan menggertakkan gigi. Penjaga itu terhuyung, menabrak tangki, dan jatuh dalam gema keras.
Di tengah kabut, satu sosok lain tidak bergerak sama sekali.
Ia berdiri di dekat pintu keluar ruang boiler, jas abu-abu rapi, wajah tanpa ekspresi, kedua tangan terlipat di belakang punggung. Di pinggangnya tergantung sebuah tongkat pendek berwarna perak yang berdengung pelan.
“Penata,” bisik Liyun. “Nanda. Jangan sentuh tongkat itu. Alat itu… mengunci perangkat yang tidak terdaftar.”
Penata itu menoleh perlahan ke arah Vernanda, tepat ke wajahnya, meskipun kabut menutupi hampir semua cahaya.
“Modul ketiga puluh dua,” katanya, datar dan tenang. “Akhirnya.”
Tembakan memecah kabut dari arah atas.
Bukan ke arah mereka. Ke arah Penata itu. Satu, dua, tiga kali, peluru menghantam dinding dan lantai di sekelilingnya, memaksanya menunduk dan mundur selangkah. Di mulut tangga yang menuju lantai dua, siluet lelaki berjas berdiri dengan pistol di tangan kanan dan sesuatu di pelukan kirinya.
“Jangan sentuh mereka, Dirga!” teriak Hendra.
Penata itu berbalik pelan, ekspresi wajahnya tidak berubah.
“Hendra. Aku sudah curiga.”
“Jangan ganggu mereka.”
“Kamu mengkhianati Aksa.”
“Aku menyelamatkan adikku.”
Hendra turun dua anak tangga, dan dalam cahaya redup yang bocor lewat pintu, Vernanda akhirnya melihat apa yang ia bawa.
Seorang perempuan.
Tubuhnya kurus dan pucat, dibalut kain rumah sakit abu-abu yang terlalu longgar. Rambutnya hitam panjang, terjuntai di lengan Hendra, kepalanya terkulai di bahu kakaknya. Kulit di pelipisnya, tipis dan hampir transparan, dihiasi garis-garis biru tipis yang berpendar lemah, berkelok dan bercabang seperti sungai di peta.
Laras.
Di balik tulang kening Vernanda, Liyun menahan napas.
“Nanda… itu modul kedua belas. Di dalam dirinya. Ia masih hidup.”
“Hendra!” seru Viona. “Ke sini!”
Hendra menoleh, mata melebar saat melihat kabut tipis yang menyelimuti ruangan dan siluet empat penjaga yang tergeletak di lantai. Sesuatu seperti lega terbit di wajahnya, lalu langsung menghilang saat Penata di sampingnya mengangkat tongkat perak.
Tongkat itu berdengung makin tinggi.
Laras bergerak.
Bukan banyak. Hanya jari-jarinya, yang tersampir di lengan kakaknya, bergetar sekali. Lalu bibirnya, pucat dan kering, terbuka sedikit.
Dari tenggorokannya keluar suara. Sangat pelan. Nyaris tidak terdengar di tengah dengung tongkat dan sirene.
Nyanyian.
Bukan lagu utuh. Hanya satu baris. Tiga nada yang melengkung naik, dalam bahasa yang sama dengan yang terdengar dari piringan hitam di Arsip M.
Viona menutup mulutnya. Vernanda merasakan seluruh bulu di tubuhnya berdiri.
“Embun…” Suara Liyun bergetar hebat. “Embun, dengar itu—”
“Aku dengar!” Suara Embun pecah. “Dia… menjawab. Dia bernyanyi bersama kita.”
Garis emas di kening Vernanda dan garis perak di tengkuk Viona berdenyut bersamaan, dan garis biru di pelipis Laras, redup, hampir padam, tiba-tiba menyala sedikit lebih terang.
Kelopak mata Laras bergerak.
Perlahan, seperti seseorang yang menarik diri dari dasar kolam yang sangat dalam, matanya terbuka. Cokelat, keruh, belum fokus. Ia tidak menatap siapa pun. Pandangannya menembus kabut, menembus kakaknya, menembus semuanya, ke tempat yang tidak bisa dilihat orang lain.
Bibirnya bergerak.
“Mas…”
Hendra membeku. Pistol di tangannya turun setengah.
“Laras—”
“Mas… jangan…” Napasnya putus-putus, seperti setiap kata dicabut dari dadanya. “…jangan tutup… pintunya.”
Dan matanya menutup lagi.
Satu kalimat. Hanya itu.
Tapi Hendra berdiri seperti seseorang yang baru dihantam dari dalam. Wajahnya runtuh dalam diam, bahunya bergetar, dan air mata mengalir tanpa suara, jatuh ke rambut hitam di dadanya.
“Aku dengar,” bisiknya. “Aku dengar, Ras.”
“Hendra!”
Penata itu sudah bergerak. Tongkat perak di tangannya menyala biru, dan dengan satu ayunan, ia menyapu udara di antara mereka. Kabut Embun menolak, meliuk, memadat seperti dinding, tapi tongkat itu menusuk lebih dalam, dan Viona menjerit saat garis-garis perak di tengkuknya berkedip dan padam sesaat.
“Viona!”
“Aku… nggak apa-apa…” Ia terhuyung, tangan memegang lehernya. “Dia… menekan Embun…”
Hendra mengambil keputusan dalam satu tarikan napas.
Ia berlari menuruni sisa tangga, melempar pistolnya ke lantai, dan menyodorkan tubuh Laras ke dada Vernanda tanpa memberi kesempatan menolak.
“Bawa dia.”
“Hendra—”
“Bawa dia keluar!” Suaranya pecah. “Jamal menunggu di gerbang belakang. Aku menahan mereka.”
“Kamu nggak bisa—”
“Aku sebelas tahun di Aksa,” kata Hendra, menatapnya lurus, mata merah dan basah. “Aku tahu cara menahan Penata. Pergi!”
Laras terasa sangat ringan di pelukan Vernanda. Terlalu ringan, seperti memegang burung yang terluka. Di dalam kepalanya, Liyun berbicara pelan dan tegas.
“Nanda. Dia memilih. Hormati pilihannya.”
Vernanda menggertakkan gigi. Menatap Hendra sekali, satu detik penuh, dan mengangguk.
“Viona! Jalan!”
Hendra berbalik, mengambil pistolnya dari lantai, dan berdiri di antara mereka dan Penata, bahunya tegak untuk pertama kalinya dalam sepanjang pertemuan mereka.
“Dirga,” katanya pelan. “Kita bicara.”
Mereka berlari lewat koridor lantai satu yang sudah diselimuti kabut tipis, menyusuri jalan yang diingat Liyun dari penglihatan Jalin dan peta kasar Viona. Sirene masih meraung, tetapi suaranya kini terdengar jauh, teredam, seperti terkubur di bawah salju. Dari kejauhan, terdengar bunyi tembakan dan teriakan.
Vernanda tidak menoleh.
Laras dalam pelukannya bernapas pelan, dan setiap kali garis biru di pelipisnya berkedip, Liyun dan Embun berdenyut bersamaan, seperti tiga jantung yang saling menjawab.
Pintu baja di ujung lorong sudah terbuka. Di baliknya, malam. Angin laut. Bau garam.
Dan sebuah truk ikan yang melaju mundur dengan lampu mati, ban berderit di atas kerikil, kaca depannya memantulkan sinar merah dari sirene gedung.
“Nanda!” Jamal menjulurkan kepala dari jendela, wajahnya putih seperti kapas. “Naik! Naik!”
Viona melompat ke bak truk lebih dulu, menarik Vernanda yang memeluk Laras dengan hati-hati. Terpal diturunkan. Mesin meraung. Truk itu melesat keluar dari gerbang belakang, melindas semak ilalang, dan melaju ke jalan pesisir yang gelap.
Di dalam bak yang sempit dan berbau amis, tiga orang duduk dalam diam, satu di antaranya terbaring di pangkuan Vernanda dengan kepala bersandar di dadanya.
“Dia ringan banget,” bisik Viona.
“Iya.”
“Hendra…”
Vernanda tidak menjawab.
Radio kecil di saku Viona, yang sejak tadi hanya mendesis, tiba-tiba berbunyi pelan. Satu klik. Dua. Lalu suara serak yang terengah, jauh dan patah-patah.
“—jangan putar balik—”
“Hendra!” seru Viona.
“—Pulau Pasaran. Ketemu… di sana. Jaga dia.”
Sunyi.
Hanya desis statis, dan di bawahnya, samar, seperti ombak yang jauh.
Viona menekan tombol radio berulang kali. Tidak ada jawaban.
Di pangkuan Vernanda, Laras menggumam dalam tidur, satu kalimat pendek dalam bahasa yang tidak dikenal siapa pun di dalam truk. Garis biru di pelipisnya berdenyut lembut, selaras dengan garis emas di keningnya dan garis perak di tengkuk Viona.
Tiga cahaya kecil di dalam bak truk gelap yang melaju ke arah laut.
“Nanda,” bisik Liyun. Suaranya pelan dan jernih. “Kita tidak membawa pulang yang terakhir. Tapi kita membawa pulang yang kedua belas.”
Vernanda memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya ke dinding bak truk yang dingin. Di kejauhan, di belakang mereka, siluet bangunan abu-abu itu tampak mengecil di balik kabut tipis yang masih menggantung di atas tebing, dan di puncaknya, satu jendela di lantai tiga menyala sekali, putih dan terang, sebelum padam.
