Chapter 13 : Jalin
Hendra tidak terburu-buru.
Ia berjalan di atas papan basah dengan langkah orang yang sudah tahu ujung kalimat sebelum diucapkan. Di tangan kirinya, sebuah perangkat pipih seukuran telapak menampilkan layar redup. Cahaya biru dari layar itu memantul di kacamatanya, dan di setiap langkahnya, garis-garis di layar itu bergerak sedikit lebih cepat.
“Darto,” katanya ringan, “kamu bilang anak ini bersih.”
“I—iya, Pak.” Pak Darto menelan ludah, rokoknya jatuh dari bibir. “Dia… dia cuma buruh biasa. Saya sudah periksa.”
“Diperiksa dengan apa?”
Pak Darto tidak menjawab.
Hendra berhenti dua meter dari Vernanda. Dua penjaga besar di sisi kanan dermaga bergerak setengah langkah mendekat, tangan mereka turun ke pinggang.
“Nanda.” Hendra tersenyum seperti orang yang menemukan barang hilang di saku jasnya sendiri. “Aku tidak suka jadi orang yang bilang ‘sudah kubilang’. Tapi malam itu perangkatku menandai sesuatu, dan malam ini…” Ia mengangkat layar kecil itu sedikit. “Lihat sendiri.”
Di layar, sebuah titik merah berdenyut di tengah grafik: tepat di posisi Vernanda berdiri.
“Entitas tak terdaftar,” lanjut Hendra pelan. “Modul ketiga puluh dua. Hidup. Dan menempel di kepalamu.”
Tidak ada yang bergerak.
Di dalam kepala Vernanda, suara Liyun datang dingin dan sangat cepat.
“Nanda. Rencana pertama sudah mati. Tiga penjaga bersenjata. Satu orang di belakang peti kayu, bersenjata juga. Jarak peti ketiga dari tepi dermaga: lima meter. Jarak Jamal: dua puluh meter. Aku tidak punya cukup waktu untuk menjelaskan semuanya. Kamu harus mengucapkan kata itu.”
Vernanda menarik napas.
Sekarang.
Lampu di ujung dermaga padam.
Bukan berkedip. Padam total, seperti ada yang menarik kabelnya dari akar. Layar di tangan Hendra mati dalam satu detik, diikuti dua perangkat yang tergantung di sabuk penjaga. Bunyi elektronik sekecil apa pun lenyap, dan yang tersisa hanya suara ombak.
Keningnya menyala.
Bukan hangat. Bukan panas. Sesuatu yang lebih besar dari itu, seperti ada yang menuang air mendidih ke dalam kepalanya. Garis-garis emas meledak keluar dari balik ikat kepala, menjalar ke pelipis, ke pipi, ke leher, terang sampai wajah Hendra terlihat jelas oleh cahayanya sendiri. Oval merah di antara kedua alisnya berdenyut seperti jantung yang baru bangun.
“Liyun,” kata Hendra, hampir tak terdengar.
Ia tahu namanya.
Sebelum Vernanda sempat bereaksi, dunia berubah.
Bukan gelap. Bukan terang. Seperti seseorang membuka lapisan kedua di atas penglihatannya. Papan dermaga tetap tampak seperti papan, tapi di atasnya muncul garis-garis tipis berwarna biru dan putih, jaringan sinyal yang berdenyut dari tubuh penjaga, dari kunci peti, dari tiang lampu mati. Di setiap orang, titik-titik panas bergerak: detak jantung, aliran darah, pergeseran otot.
Dan ia tahu, tanpa diberi tahu, siapa yang akan bergerak lebih dulu.
“Jalin,” bisik Liyun, suaranya bergetar. “Tahap kedua. Aku tidak memicunya. Tekanan tubuhmu yang memicunya. Kamu bisa melihat apa yang kulihat, Nanda. Jangan—”
Penjaga di sebelah kanan sudah bergerak.
Vernanda melihat bahunya turun setengah detik sebelum tinjunya naik. Ia melangkah mundur. Tinju itu menghantam angin. Penjaga kedua dari kiri, garis hangat di lengannya, menunjukkan tangan menuju pistol di balik jaket.
“Jangan tembak!” bentak Hendra. “Jangan rusak apa pun!”
Vernanda menunduk, mengambil sabuk baja peti, dan menarik dengan seluruh beratnya. Peti itu bergeser. Pak Darto menjerit sesuatu yang tidak jelas. Penjaga ketiga melompat dari belakang.
“Kiri. Tiga detik.”
Vernanda merunduk ke kiri. Tangan besar menyambar ruang kosong. Ia memutar tubuh, menggunakan tenaga dari kaki dan bahunya, dan menghantam rusuk penjaga itu dengan sikut. Lelaki itu terhuyung. Vernanda merasakan staminanya menyala dari dalam: tubuh Akar yang sudah terlatih lelah, yang sekarang menolak berhenti.
Peti itu berada di tepi dermaga.
“Nanda!”
Suara Jamal dari bawah, rendah dan kasar. Perahu kecil itu muncul dari bayang tiang pancang tanpa lampu, bergoyang di atas ombak.
Penjaga pertama sudah kembali. Ia menerjang dari kanan.
Vernanda tidak punya waktu. Ia mendorong peti itu dengan seluruh tubuhnya, dan benda hitam itu terlepas dari papan, jatuh ke air dengan bunyi dentuman berat.
Lalu ia melompat setelahnya.
Air laut malam itu dingin sampai menusuk tulang.
Gelembung udara menutup telinganya, rasa asin memenuhi mulut, dan ia merasakan peti itu mengapung beberapa jengkal dari tubuhnya. Garis-garis di keningnya masih menyala di dalam air, memberi cahaya remang ke segala arah. Ia meraih sabuk baja itu.
“Kiri atas! Jaring!”
Sebuah jaring melayang jatuh tepat di sebelahnya. Tangan Jamal menarik dari atas. Vernanda mengaitkan sabuk baja ke simpul tali, dan dengan satu tarikan besar, peti itu mulai terangkat.
Suara tembakan pecah di atas dermaga.
Bukan satu. Dua. Peluru menghantam air beberapa meter dari mereka, memuncratkan air garam ke wajahnya.
“Jangan tembak!” teriak Hendra lagi, sekarang lebih keras. “Bodoh, kalian bisa menghancurkannya!”
Tembakan berhenti.
Vernanda memanjat tepi perahu dengan tangan gemetar, dibantu Jamal yang menyeretnya naik dengan kasar. Napasnya tersengal, dadanya terbakar. Peti itu tergeletak di lantai perahu, air menetes dari sabuk bajanya.
“Pegangan!”
Jamal menyalakan mesin. Perahu kecil itu meraung dan melesat menjauh dari dermaga, meninggalkan buih putih di belakangnya.
Dari atas papan yang kini jauh, Vernanda melihat siluet Hendra berdiri di tepi, kedua tangan di saku jasnya. Lampu di tiang kembali menyala satu per satu, memantulkan cahaya kuning ke wajahnya.
Ia tidak tampak marah.
Ia tampak… kagum.
Suaranya terbawa angin, samar tapi jelas.
“Selamat datang, Nanda.”
Vernanda tidak mengerti. Tapi ia merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya, lebih dingin dari air laut.
Di tengah teluk yang gelap, Jamal mematikan mesin dan membiarkan perahu terombang-ambing. Di kejauhan, lampu pelabuhan tampak seperti titik-titik kecil di tepi laut.
“Kita aman,” katanya terengah. “Untuk sementara.”
Vernanda terbaring di lantai perahu, dada naik turun, seluruh tubuhnya bergetar. Keningnya masih panas, garis-garis emas meredup pelan seperti bara yang kehabisan udara. Rasa lapar menyerangnya seperti pukulan di perut, dan di balik rasa itu ada sesuatu yang lain: pusing, demam, rasa terbakar dari dalam.
“Nanda.” Suara Liyun lembut, sangat lembut. “Jangan bergerak. Tubuhmu menjalani tahap Jalin dan harganya mahal. Aku akan menjaga kesadaranmu sebisaku.”
“Peti…”
“Ada. Utuh. Dia… bangun.”
Jamal sudah menyalakan senter kecil dan memotong sabuk baja dengan gunting besi yang ia bawa. Tutup peti terangkat dengan bunyi logam yang dingin. Di dalamnya, terbungkus kain hitam tebal, terbaring sebuah kristal.
Bukan merah. Bukan emas.
Keperakan, putih pucat seperti embun beku, dengan garis-garis perak tipis di dalamnya yang berkelok dan bercabang, persis seperti pola di batu Liyun, tapi lebih redup dan lebih patah. Beberapa garis sudah retak. Beberapa putus di tengah. Satu garis, di tepi bawah, berkedip pelan, seperti napas yang hampir habis.
Viona muncul dari balik kabut, perahu cadangannya menyusul pelan. Ia melompat ke perahu Jamal tanpa suara, menatap kristal itu, dan wajahnya berubah.
“Dia hidup,” bisiknya.
Vernanda menggeser tubuh perlahan sampai ia bisa menyentuh tepi kristal dengan ujung jari. Saat kulitnya menyentuh permukaannya, keningnya berdenyut sekali.
“Nanda…” Suara Liyun nyaris lenyap. “Aku bisa mendengarnya.”
Kristal itu bersinar.
Cahaya perak tipis menembus kain hitam, berdenyut selaras dengan garis emas di kening Vernanda. Lalu dari dalam kristal, bukan suara, bukan sinyal, hanya sesuatu yang lembut dan sangat jauh, muncul satu kalimat yang terputus-putus seperti pita rekaman rusak.
“…selama masih ada… yang memanggil…”
Vernanda menahan napas.
Di dalam kepalanya, Liyun menjawab. Tanpa disuruh. Tanpa sadar. Kata-kata itu keluar seperti sesuatu yang sudah lama menunggu untuk dilengkapi.
“…pintu belum boleh tertutup.”
Kristal itu berdenyut lagi, lebih terang.
“…sebelum yang terakhir… pulang…”
Sunyi.
Hanya suara ombak yang memukul lambung perahu dan napas empat orang yang menahan diri.
“Liyun,” kata Vernanda lirih. “Kamu… kenal dia?”
“Tidak.” Suara Liyun nyaris tak terdengar. “Aku tidak kenal namanya. Aku tidak kenal wajahnya, jika ia punya wajah. Tapi aku tahu kalimat itu. Itu bukan hanya milikku, Nanda. Itu milik kami berdua.”
Viona menutup mulutnya dengan tangan. Jamal menurunkan senter perlahan, seolah takut cahaya akan mengganggu sesuatu yang rapuh.
Di pelukan malam, di tengah teluk yang gelap, di atas perahu kecil yang terombang-ambing, empat orang menatap dua suara yang saling memanggil dari dua ujung dunia yang sama.
Lalu, tanpa peringatan, dunia di mata Vernanda menyempit.
Tepi pandangannya menghitam, panas dari keningnya meluas ke seluruh tubuh, dan suara-suara di sekitarnya menjauh seperti air yang ditarik dari telinga.
“Nanda—”
“Nda!”
Tangan Jamal menangkap bahunya sebelum kepalanya menghantam lantai perahu.
Gelap datang pelan-pelan.
Dan di antara semua suara yang memudar, satu yang tetap tinggal, kecil dan hangat di balik tulang keningnya:
“Aku di sini. Aku di sini, Nanda. Tidurlah.”
