Chapter 39: Dua Pintu di Satu Kapal
Vernanda
Kapal Wira bernama Tata Samudra, dan dari dekat ia jauh lebih besar dari yang tampak dari kejauhan.
Lambung baja abu-abu, tiga dek menjulang di atas permukaan air, dan di haluannya terpasang satu lampu sorot putih yang menyapu laut tanpa henti, seperti mata raksasa yang tidak pernah berkedip. Perahu kecil yang mengantar Vernanda dan Muktar merapat di tangga samping, dan dua lelaki berjas hitam sudah menunggu di atasnya dengan tangan di samping tubuh.
Tidak ada senjata yang terlihat. Tapi Vernanda merasakan tongkat-tongkat perak di pinggang mereka seperti bau logam di udara.
“Nanda,” bisik Liyun. “Enam detak jantung di dek utama. Dua puluh sembilan di seluruh kapal. Dan satu… lebih tenang daripada yang lain. Di dek tengah.”
Wira.
“Ya. Detaknya tujuh puluh. Stabil.”
Muktar menaiki tangga di belakang anaknya dengan langkah ringan seorang lelaki yang sudah lama terbiasa di atas tali dan papan licin. Garis-garis emas di punggung tangannya berdenyut pelan, dan dua penjaga di atas menatapnya dengan sorot yang tidak bisa mereka sembunyikan sepenuhnya: waspada, dan sedikit gentar.
“Diperiksa,” kata salah satu dari mereka.
“Silakan,” jawab Vernanda, mengangkat kedua tangan.
Pemeriksaan itu cepat dan sopan. Tidak ada yang menyentuh keningnya, tidak ada yang meminta ikat kepalanya dilepas. Hanya tangan kosong yang menepuk saku dan pinggang, lalu mundur.
“Ikut kami.”
Ruang pertemuan itu sebuah kabin lebar di dek tengah, dengan dinding panel kayu gelap, satu meja bundar dari jati, dan empat kursi kulit yang tampak lebih tua dari kapalnya. Lampu gantung kuning menerangi ruangan dengan hangat yang tidak cocok untuk kapal perang. Di atas meja ada teko teh dari porselen putih, tiga cangkir kecil, dan sepiring kue kering yang tidak tersentuh.
Wira duduk di sisi seberang pintu, jaket hitamnya tersampir di sandaran kursi dan lengan kemeja digulung sampai siku. Tanpa lencana, tanpa tongkat. Di sampingnya, di atas meja, terbuka sebuah map tipis yang tidak Vernanda kenali.
“Duduk,” katanya.
Vernanda duduk. Muktar duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa, dengan satu tangan terletak di atas lutut dan mata yang tenang menatap Wira.
Wira menatap Muktar lama.
“Sembilan tahun,” katanya akhirnya.
“Sembilan tahun,” balas Muktar.
“Kamu tidak mati.”
“Kamu tidak menembak.”
Wira tersenyum, sangat tipis. “Aku tidak ada di kapal itu. Aku baru bergabung dengan dewan tahun berikutnya.”
“Begitu.” Muktar mengangkat cangkirnya dan menyesap. “Maka kamu belum berutang apa pun padaku.”
“Aku berutang pada banyak orang,” jawab Wira, datar. “Tapi bukan padamu.”
Ia menuang teh ke cangkir Vernanda, dengan tangan yang mantap, tanpa gemetar.
“Minumlah. Tidak ada racun. Aku bukan orang yang suka cara itu.”
Vernanda meraih cangkir itu, menyesap sedikit, dan menurunkannya pelan.
“Detak jantungnya tujuh puluh satu,” bisik Liyun. “Tidak ada kebohongan.”
“Jadi,” kata Vernanda. “Kamu mau bicara.”
“Iya.” Wira mengetuk map di depannya dengan satu jari. “Aku akan mulai dari yang paling penting. Anak itu.”
“Nisa.”
“Dia aman.” Wira menatapnya lurus. “Dia di kabin dua puluh dua, dua dek di bawah kita. Ada perawat. Ada mainan. Ada coklat yang kutemukan di gudang. Tidak ada yang menyentuhnya, dan tidak akan.”
“Kamu tahu ayahnya?”
“Aku tahu.” Wira mengangguk pelan. “Darto bukan orang yang kukagumi. Tapi dia bukan orang yang pantas kehilangan anaknya karena kesalahan kami.”
“Jadi kenapa dia di sini?”
“Karena dewan memintanya.” Suara Wira turun. “Mereka bilang: cadangan. Aku bilang: tidak. Mereka bilang: perintah. Aku…” Ia berhenti, lalu berkata dengan nada yang jauh lebih pelan. “Aku menahan perintah itu. Beberapa hari. Tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama.”
Sunyi.
“Kenapa kamu cerita ini padaku?” tanya Vernanda.
“Karena aku tidak punya orang lain untuk diceritakan.” Wira tersenyum, pahit dan kering. “Dua puluh tahun aku menjalankan perintah Aksa. Aku tidak pernah memikirkan apa yang kuperintahkan pada orang lain. Aku pikir itu bukan tugasku.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku membaca surat yang tidak seharusnya kubaca.” Ia mendorong map itu pelan ke arah Vernanda. “Dan aku berpikir… mungkin aku selama ini bukan menjalankan perintah. Mungkin aku hanya… menghindari pertanyaan.”
Hendra
Ruang mesin kapal Tata Samudra bau oli, panas, dan debu logam.
Hendra merunduk di balik tumpukan drum bekas, satu tangan di bahu kirinya yang berdenyut, napas teratur dan pendek. Di sampingnya, Dirga berjongkok dengan wajah pucat dan jas kusut, tangan menggenggam gagang kecil pintu servis yang mereka masuki lewat lambung kapal dua menit lalu.
Kabut Embun masih menempel di pakaian mereka, dingin dan lembap. Di luar, di dek, terdengar suara-suara tertahan: perintah, langkah kaki, dengungan perangkat penekan sinyal yang kehilangan arah.
“Dua orang,” bisik Dirga, menunjuk dengan dagu. “Di depan pintu tangga ke dek bawah. Yang berkumis itu bernama Bram. Aku pernah mengajarinya.”
“Kamu mengajari semua orang di kapal ini,” gumam Hendra.
“Hampir.”
“Dan kamu mau aku—”
“Jangan sakiti mereka.” Dirga menatapnya. “Bram punya dua anak.”
Hendra menarik napas pelan, melepasnya, dan mengangguk.
Embun bekerja dari kejauhan. Garis perak di tengkuk Viona, di atas kapal mereka, pasti sedang menyala terang, dan kabut yang merembes ke ruang mesin ini makin tebal. Lampu-lampu di langit-langit berkedip. Salah satu penjaga mengumpat dan mengetuk senter di telapak tangannya.
“Sekarang,” bisik Dirga.
Mereka bergerak.
Tidak ada tinju. Tidak ada tembakan. Hanya tangan Dirga yang tiba-tiba muncul dari kabut, menekan titik tertentu di leher Bram dengan dua jari yang terlatih bertahun-tahun di ruang kontrol, dan lelaki berkumis itu merosot pelan ke lantai dengan mata membelalak kaget. Penjaga kedua berbalik, dan Hendra sudah ada di belakangnya, menutup mulutnya dengan satu telapak tangan dan menekan bahunya ke dinding sampai ia lemas.
Hening. Hanya dengung mesin.
“Dia pingsan,” bisik Dirga, melihat tangan sendiri dengan sedikit ngeri. “Dia pingsan. Aku nggak pernah—”
“Jalan,” kata Hendra.
Kabin dua puluh dua berada di ujung koridor sempit di dek bawah, di balik pintu kayu dengan plat nama kuningan yang sudah buram.
Hendra berdiri di depannya, tangan di gagang pintu, tidak bergerak. Dirga di sampingnya menahan napas.
“Kamu buka,” bisik Hendra.
“Kenapa aku?”
“Karena aku nggak mau dia lihat wajahku dulu. Aku terlalu… kasar.”
Dirga menatapnya heran, lalu tersenyum tipis, dan membuka pintu perlahan.
Kabin itu kecil, hangat, dan jelas diatur dengan sengaja untuk terasa seperti rumah: kasur kecil dengan selimut bergambar kelinci, rak buku dengan beberapa komik anak, lampu tidur berbentuk bulan sabit yang menyala redup, dan di meja kecil, sebuah gelas susu yang masih setengah penuh.
Seorang anak perempuan duduk bersila di lantai di antara kasur dan meja, memegang pensil warna dan selembar kertas gambar. Kuncirnya dua, rambutnya sedikit kusut, giginya sudah mulai tumbuh sebagian di tempat yang dulu ompong. Ia mengangkat wajah ketika pintu terbuka, dan matanya, besar, hitam, sangat jernih, tidak menunjukkan ketakutan.
Hanya rasa ingin tahu.
“Halo,” katanya.
Dirga berlutut pelan di ambang pintu, supaya matanya sejajar. “Halo. Kamu Nisa?”
“Iya.”
“Aku Om Dirga. Ini Om Hendra.”
“Om Hendra jelek mukanya.”
Hendra membeku. Dirga menahan tawa dan terbatuk.
“Maaf,” kata Nisa cepat, “bukan jelek. Cuma… capek.”
“Benar,” kata Hendra pelan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, sudut bibirnya benar-benar terangkat. “Om capek.”
“Om mau ambil aku?”
Dirga menelan ludah. “Iya, Nisa. Kami mau ajak kamu ke tempat yang aman. Ada orang yang—”
“Bapak?”
“Bukan— bukan Bapak. Belum. Tapi nanti.”
Nisa menunduk sebentar menatap gambarnya, lalu mengangkatnya dengan dua tangan.
“Ini.”
Gambar itu sederhana, dengan garis pensil yang goyah dan warna yang tidak rata. Tapi bentuknya jelas: sebuah kapal dengan layar besar berwarna emas, lambung perak, dan banyak titik kecil berwarna biru terbang di sekelilingnya seperti burung.
Hendra dan Dirga saling pandang.
“Kamu gambar ini?” bisik Dirga.
“Iya. Dari mimpi.” Nisa mengusap hidung. “Setiap malam aku mimpi kapal ini. Ada yang bisik-bisik. Namanya… Pelita. Dia takut. Aku bilang jangan takut. Dia bilang kamu bisa dengar aku?”
Tidak ada yang bernapas.
“Aku bilang iya,” lanjut Nisa. “Dia senang.”
Di suatu tempat jauh di atas, di dek kapal berlayar cahaya, sebuah cahaya biru kecil bergetar, dan suara Embun terdengar di kepala Viona dengan nada yang terlalu halus untuk disebut kaget.
“Dia mendengar Pelita.”
Hendra menelan ludah, berlutut di samping Dirga, dan mengulurkan satu tangan yang besar dan kasar dengan sangat hati-hati.
“Nisa,” katanya pelan. “Kamu mau ikut?”
Nisa menatap tangan itu sebentar, lalu menaruh pensilnya, memeluk gambar itu di dada, dan menggenggam jari Hendra dengan tangan mungil yang hangat.
“Mau. Tapi bawa gambarnya.”
Ruang kontrol berada satu dek di bawah.
Mereka menemukannya dengan mudah, karena Dirga tahu persis di mana semua pintu di kapal itu berada, dan karena Embun, dari jauh, menutup setiap kamera yang mungkin merekam mereka. Pintunya terbuka sedikit, dan dari balik celahnya terdengar dengung rendah, seperti seribu serangga yang bernyanyi dalam satu nada.
Dirga masuk lebih dulu. Hendra di belakangnya, dengan Nisa di punggungnya, tangan mungil melingkar di leher lelaki besar itu.
Ruangan itu bulat, dengan dinding hitam yang dipenuhi layar dan kabel yang merambat seperti urat. Di tengahnya berdiri dua kursi baja tinggi, masing-masing dengan sandaran kepala berlubang-lubang dan kabel tebal yang menjuntai ke langit-langit. Salah satunya kosong. Di yang lain, duduk seorang pemuda.
Bayu Pranata.
Sembilan belas tahun. Tinggi, kurus, wajah halus dan serius dengan kacamata persegi dan rambut dipotong rapi. Ia mengenakan kemeja putih bersih dan celana kain gelap, tangan terlipat tenang di pangkuan. Di pelipisnya sudah menempel dua sensor kecil berwarna perak, dan matanya, yang tadi menatap layar di depannya, kini menoleh pelan ke arah pintu.
“Pak Dirga,” katanya.
Suaranya tenang. Sama sekali tidak terkejut.
“Bayu.” Dirga melangkah maju satu langkah. “Lepaskan sensor itu.”
“Tidak.”
“Bayu—”
“Saya sukarela, Pak.” Bayu tersenyum tipis, sopan, dan sedikit sedih. “Dan saya tahu Bapak datang untuk menghentikan saya. Tapi… saya tidak bisa.”
Hendra menurunkan Nisa pelan ke sisi dinding, memberi isyarat agar ia tetap diam, dan melangkah mendekat.
“Kamu tahu apa yang terjadi pada orang yang disambungkan seperti ini?” tanyanya. “Aku lihat adikku lima tahun.”
“Saya tahu.” Bayu mengangguk. “Saya sudah membaca semua catatan. Semua kegagalan. Semua kemungkinan.” Ia menarik napas. “Dan saya tahu risikonya. Tapi saya juga tahu bahwa kalau saya tidak melakukan ini, dewan akan menyuruh orang lain. Orang yang tidak sadar. Orang yang tidak punya pilihan.”
“Jadi kamu mengorbankan diri?” bisik Dirga.
“Saya memilih, Pak.” Bayu menatapnya lurus. “Bapak yang mengajari saya itu. Bahwa dunia ini bisa diperbaiki. Bahwa tidak ada yang lebih kuat dari seseorang yang mau mencoba.”
Dirga memejamkan mata. Bahunya merosot, seperti seseorang yang baru saja dihantam dari dalam.
“Aku salah,” katanya pelan. “Aku mengajarkanmu hal yang salah, Bayu. Aku—”
“Saya belum tahu itu salah.”
“Kamu bisa mati.”
“Mungkin.” Bayu tersenyum lagi, kecil, tulus. “Tapi mungkin juga berhasil. Dan kalau berhasil, ribuan orang tidak perlu kehilangan upah dan obat dan—” Suaranya tersendat. “Dan nyawa. Saya— saya pernah lihat ibu saya dipecat karena sakit. Saya ingin dunia yang tidak begitu.”
Hening.
Hendra menatap pemuda itu lama. Ia ingat adiknya, lima tahun tidur dengan senyum di wajah yang tidak ia kenal. Ia ingat sepuluh ribu kata yang tidak sempat ia ucapkan.
Dan ia tahu, dengan kejelasan yang menyakitkan, bahwa tidak ada kalimat di dunia ini yang akan mengubah pikiran lelaki muda di depannya.
“Kamu boleh pilih,” katanya akhirnya, pelan. “Aku nggak akan paksa. Tapi aku boleh minta satu hal?”
“Apa, Pak?”
“Kalau kamu mulai merasa— kalau kamu merasa terlalu dalam— kalau ada yang berbisik bahwa kamu nggak bisa kembali—” Hendra menelan ludah. “Kamu panggil. Ada orang yang akan mendengar.”
Bayu menatapnya bingung.
“Siapa?”
“Mereka yang sudah pernah ada di tempat itu.” Hendra menoleh ke arah dinding, ke anak kecil yang menunggu dengan gambar di dada. “Dan mereka… lebih banyak dari yang kamu kira.”
Bayu terdiam. Matanya berkedip pelan, dan untuk pertama kalinya sesuatu di balik ketenangan itu retak, sangat sedikit, sangat tipis.
“Terima kasih, Pak,” bisiknya.
Dirga melangkah maju, mengulurkan tangan, dan menyentuh bahu pemuda itu sekali. Hanya sekali. Sentuhan yang tidak mengatakan apa pun.
“Jaga dirimu,” katanya.
“Saya akan, Pak.”
Mereka keluar tanpa menoleh lagi. Tapi di ambang pintu, Hendra mendengar suara kecil di belakangnya, pelan, nyaris tidak terdengar.
“Om.”
“Iya, Nisa?”
“Kakak itu… takut.”
Hendra berhenti.
“Dia bilang dia nggak takut. Tapi dia takut.” Nisa menggenggam tangannya lebih erat. “Kasihan.”
Vernanda
Wira menutup map di depannya dengan satu gerakan pelan.
“Jadi begini,” katanya, “aku akan memberimu Nisa. Sebentar lagi. Sudah kuatur supaya dua orangmu bisa masuk lewat ruang mesin tanpa menimbulkan alarm.”
Vernanda terdiam.
“Kamu— tahu.”
“Aku tahu kamu tidak datang sendirian dengan tangan terbuka.” Wira tersenyum tipis. “Dan aku tahu Dirga. Dia terlalu rapi dalam membuat kabut. Aku menyuruh penjaga di ruang mesin hanya dua orang, dan salah satunya Bram, yang bisa dipingsankan dengan dua jari.”
“Nanda,” bisik Liyun, tegang. “Dia— membiarkan mereka.”
“Kenapa?” tanya Vernanda, suaranya pelan.
“Karena aku tidak bisa melakukan ini sendiri.” Wira menatap kosong ke tengah meja. “Aku tidak bisa mengkhianati dewan. Tidak di depan mereka. Tidak di atas kapal ini. Itu bukan kemampuanku. Tapi… aku bisa menutup mata.”
Hening.
“Anak muda yang di ruang kontrol itu,” lanjutnya. “Bayu. Dia sukarela. Aku tidak bisa menyelamatkannya. Itu pilihannya.” Suaranya tiba-tiba lebih tua. “Dan aku benci itu.”
Muktar menyesap tehnya perlahan.
“Dan kamu?” tanyanya pada Wira. “Apa pilihanmu?”
“Aku?”
“Kamu duduk di sini. Menunggu sesuatu. Apa?”
Wira diam lama. Lalu, sangat pelan, ia berkata sesuatu yang membuat Vernanda menatapnya dengan sudut mata yang aneh.
“Aku menunggu seseorang memberitahuku bahwa aku tidak harus menghentikan kalian di Pintu.”
Sunyi.
“Tapi tidak ada yang memberitahuku itu,” lanjutnya. “Dan aku masih akan menjalankan perintahku. Aku masih akan mencoba menghentikanmu.”
“Aku tahu,” kata Vernanda.
“Dan kamu akan melawan.”
“Iya.”
“Bagus.” Wira tersenyum, sedih dan jujur. “Aku tidak mau melawan seseorang yang tidak melawan.”
Ia berdiri, mengambil jaketnya dari sandaran kursi, dan memakainya perlahan, seperti seseorang yang kembali memasang baju zirah yang sudah terlalu berat.
“Pembicaraan selesai,” katanya. “Kamu bebas pergi. Dan Nak—”
“Iya?”
“Di Pintu, aku tidak akan mengampunimu.” Ia menatapnya lurus. “Aku hanya ingin kamu tahu… aku akan memberi sedikit waktu sebelum mulai.”
Vernanda berdiri. Ia menatap Wira lama, seorang lelaki lima puluhan yang menghabiskan separuh hidupnya menjalankan perintah, dan untuk pertama kalinya melihatnya bukan sebagai musuh. Melainkan seseorang yang terjebak di tengah sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
“Terima kasih,” katanya.
“Jangan.” Wira berbalik membelakangi. “Pergilah sebelum aku berubah pikiran.”
Di dek perahu kecil yang meluncur kembali ke kapal pelayar cahaya, Vernanda duduk di samping ayahnya dengan tangan di lutut dan wajah menghadap angin laut.
“Kamu tahu dia akan melepaskan Nisa,” kata Muktar pelan, bukan sebagai pertanyaan.
“Aku curiga.”
“Dan kamu tetap masuk.”
“Iya.”
“Karena kamu percaya padanya?”
“Karena Liyun bilang detak jantungnya jujur.” Vernanda menoleh. “Dan karena Ayah nggak berkomentar waktu aku bilang dua rencana. Jadi kupikir… Ayah juga curiga.”
Muktar tersenyum miring.
“Kamu belajar cepat.”
“Aku punya guru yang baik.”
“Dia berkata begitu juga tentang aku,” bisik Liyun, dan suaranya hangat dan agak bangga. “Aku mencatatnya.”
Perahu itu merapat ke lambung kaca perak kapal pelayar. Di dek, semua orang sudah menunggu: Viona, dengan wajah pucat dan tengkuk merah, dipapah Jamal; Laras di kursi rodanya, memeluk lengannya sendiri; Hendra dan Dirga di tangga tali, dengan seorang anak kecil di punggung yang menggenggam gambar kapal di dada.
Nisa melihat kapal itu, dan matanya membulat.
“Itu,” bisiknya. “Itu kapal dari mimpiku.”
Satu per satu, cahaya-cahaya biru kecil melayang mendekat, berputar pelan di sekelilingnya. Pelita, yang paling takut, paling dekat.
“…kamu… nyata…”
“Iya,” kata Nisa, tersenyum lebar. “Aku bilang aku bisa dengar.”
Viona menutup mulut dengan tangan, air matanya jatuh. Laras tertawa kecil, patah. Dan di haluan, Muktar menunduk, menyeka matanya dengan punggung tangan yang penuh garis emas.
Air mulai surut menjelang tengah malam.
Bukan surut biasa. Dari dek kapal pelayar, Vernanda menyaksikan laut di sekeliling Anak Krakatau menarik diri pelan-pelan, bukan ke pantai, tapi ke arah tertentu, seperti ditarik oleh tangan raksasa dari dasar. Permukaan air berubah, dari hitam menjadi kelabu kehijauan, lalu menjadi sesuatu yang aneh: lapisan tipis yang tembus pandang, memperlihatkan dasar laut yang tidak seharusnya terlihat.
Dan di dasar itu, tiga kilometer dari pulau, sebuah lingkaran cahaya mulai menyala.
Emas.
Sebesar lapangan sepak bola. Dengan pola berkelok yang sangat dikenalnya, pola utuh yang tidak pernah putus, berdenyut pelan seperti jantung yang baru bangun dari tidur lebih dari seratus tahun.
Pintu.
“Nanda,” bisik Liyun, dan suaranya sangat kecil, sangat dalam, sangat jujur. “Aku ingat. Semuanya. Bukan sebagian. Semuanya.”
Vernanda menoleh pelan, tidak berani bernapas.
Apa?
“Aku bukan hanya yang terakhir yang memanggil.” Liyun berhenti, dan di antara kata-katanya terdengar sesuatu yang bergetar: bukan takut, bukan harapan, tapi kemungkinan yang terlalu besar untuk muat dalam satu kalimat. “Aku… adalah yang pertama.”
Di kejauhan, di atas tujuh kapal yang berderet mengelilingi lingkaran cahaya, lampu-lampu sorot menyala serentak, dan dari kapal utama terdengar bunyi sirene panjang yang mengumumkan bahwa waktu untuk bicara sudah selesai.
